Muslim in Suffer

Bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem. Assalamu\’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh!

Khilafah dan Imamah Menurut si Ulil

Posted by musliminsuffer on March 11, 2008

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

Khilafah dan Imamah Menurut si Ulil

M. Shiddiq Al-Jawi

Istilah Khilafah dan Imamahsebetulnya sinonim; maknanya adalah sistem pemerintahan Islam. Namun,oleh segelintir orang, kedua istilah itu dianggap berbedapengertiannya. Ulil Abshar Abdalla, bekas Koordinator JIL (JaringanIslam Liberal), misalnya, memandang ada perbedaan antara Khilafah danImamah; begitu juga istilah turunannya seperti imam dan khalifah. Ulilmenyatakan, “Imam di sini adalah penguasa dalam pengertian umum.”Dalil-dalil agama tentang wajibnya mengangkat imam, menurut Ulil, hanyamenegaskan saja hukum sosial yang sudah berlaku berabad-abad. Salahsatu hukum sosial itu adalah bahwa setiap masyarakat selalu akanmengangkat seorang pemimpin yang mengatur dan menyelenggarakankepentingan mereka. Pemimpin itu, kata Ulil, “Bisa kepala suku, lurah,camat, bupati, raja, sultan, khalifah, presiden, CEO, manager, dan lain-lainnya.” (www.harianbangsa.com).

Walhasil bagi Ulil, Imamah itu berarti kepemimpinan yang bersifat umum. AdapunKhilafah adalah kepemimpinan yang lebih khusus, yang kata Ulil,berdasarkan sejarah Islam bentuknya adalah kerajaan. Khilafah sepertiini, menurut Ulil, hanyalah suatu kebetulan sejarah (historical coincidence).Karena itu, sistem itu dapat diganti sesuai dengan asas rasionalitasyang, bagi Ulil, adalah aplikasi doktrin Ahlus Sunnah bahwa penentuanimam bukanlah berdasarkan teks agama (seperti pendapat golongan Syiah),melainkan berdasarkan ijtihad dan pilihan (ikhtiyâr). Ujung-ujungnya, Ulil ingin menegaskan bahwa sistem republik (bukankerajaan) saat ini yang berdasarkan demokrasi adalah sudah final danmerupakan sistem paling ideal hingga saat ini. (www.harianbangsa.com).

Pengertian Khilafah dan Imamah

Pendapatdi atas memang harus diakui, tetapi bukan diakui sebagai pernyataanilmiah, melainkan sebagai dagelan yang cukup menggelikan. Betapa tidak,karena kalau pendapat itu dibandingkan dengan pendapat para ulama fikihsiyâsah dan ulama bahasa Arab, akan terbukti Ulil hanyalah orang awam. Kita harus maklum, orang awam itu kadang bicaranya ngawur dan aneh. Dalam konteks seperti inilah, tepat sekali pernyataan Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani, “Idza takallama al-mar’u fi ghayri fannihi atâ bi hadzihi al-‘aja’ib (Jika seseorang berbicara di luar bidang keahliannya, dia akan mengucapkan kalimat yang ajaib).” (Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari, III/683).

Coba, kita lihat pendapat Imam Ar-Razi mengenai istilah Imamah dan Khilafah dalam kitab Mukhtâr ash-Shihâh hlm. 186:
ÇáÎáÇÝÉ Ãæ ÇáÅãÇãÉ ÇáÚÙãì¡ Ãæ ÅãÇÑÉ ÇáãÄãäíä ßáåÇ íÄÏí ãÚäì æÇÍÏÇð¡ æÊÏá Úáì æÙíÝÉ æÇÍÏÉ æ åí ÇáÓáØÉ ÇáÚíÇ ááãÓáãíä
Khilafah,Imamah al-‘Uzhma, atau Imarah al-Mukminin semuanya memberikan maknayang satu (sama) dan menunjukkan tugas yang juga satu (sama), yaitukekuasaan tertinggi bagi kaum Muslim. (Lihat: Muslim al-Yusuf, Dawlah al-Khilâfah ar-Râsyidah wa al-‘Alaqât ad-Dawliyah, hlm 23; Wahbah a-Zuhaili, Al-Fiqh a-Islâm wa Adillatuhu, VIII/270).

Mari kita lihat juga pendapat serupa dari Imam Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah hlm. 190:
æÅÐ ÞÏ ÈíøóäøóÇ ÍÞíÞÉ åÐÇ ÇáãäÕÈ æÃäå äíÇÈÉ Úä ÕÇÍÈ ÇáÔÑíÚÉ Ýí ÍÝÙ ÇáÏíä æÓíÇÓÉ ÇáÏäíÇ Èå ÊÓãì ÎáÇÝÉ æÅãÇãÉ æÇáÞÇÆã Èå ÎáíÝÉ æÅãÇã
Telahkami jelaskan hakikat kedudukan ini (khalifah) dan bahwa ia adalahwakil dari Pemilik Syariah (Rasulullah saw.) dalam menjaga agama danmengatur dunia dengan agama. (Kedudukan ini) dinamakan Khilafah danImamah dan orang yang melaksanakannya (dinamakan) khalifah dan imam.(Lihat Ad-Dumaiji, Al-Imâmah al-‘Uzhma ‘Inda Ahl as-Sunnah wa al-Jamâ‘ah, hlm. 34).

Wahbah Az-Zuhaili dalam kitabnya, Al-Fiqh al-Islâmi wa Adillatuhu (VIII/418) menyatakan pendapat serupa:
ÇáÎáÇÝÉ (Ãæ ÇáÅãÇãÉ Ãæ ÅãÇÑÉ ÇáãÄãäíä) Ãæ Ãí äÙÇã ÔæÑí íÌãÚ Èíä ãÕÇáÍ ÇáÏäíÇ æÇáÂÎÑÉ ßáåÇ ÐÇÊ ãÏáæá æÇÍÏ
Khilafah(atau Imamah atau Imarah al-Mukminin) atau yang berarti sistemberdasarkan musyawarah yang menghimpun kemaslahatan dunia dan akhirat,semuanya mempunyai pengertian yang sama. (Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islâmi wa Adillatuhu, VIII/418).

Dhiyauddin ar-Rays dalam kitabnya, An-Nazhariyât as-Siyâsiyah al-Islâmiyyah hlm. 92 juga mengatakan:
íáÇÍÙ Ãä ÇáÎáÇÝÉ æÇáÅãÇãÉ ÇáßÈÑì æÅãÇÑÉ ÇáãÄãäíä ÃáÝÇÙ ãÊÑÇÏÝÉ ÈãÚäì æÇÍÏ
Patutdiperhatikan bahwa Khilafah, Imamah al-Kubra, dan Imarah al-Mu’mininadalah istilah-istilah yang sinonim dengan makna yang sama. (LihatWahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islâmi wa Adillatuhu, VIII/465).

Semua kutipan ulama di atas menyatakan bahwa istilah Imamah dan Khilafah (juga Imaratul Mukminin) maknanya sama, tidak berbeda.

Kutipan-kutipan yang menunjukkan kesamaan makna Khilafah dan Imamah itu masih banyaksekali. Silakan cek pendapat yang sama dari: Rasyid Ridha dalamkitabnya, Al-Khilâfah aw al-Imâmah al-‘Uzhma, hlm. 101; Prof. Dr. Ali as-Salus dalam kitabnya, ‘Aqîdah al-Imâmah ‘Inda asy-Syî‘ah al-Itsnâ ‘Asyariyah (terj.) hlm. 16; Zainal Abidin Ahmad dalam bukunya, Membentuk Negara Islam, hlm. 30; dan Hasbi ash-Shiddieqy dalam bukunya, Islam dan Politik Bernegara, hlm. 42-43.

Silakan cek juga pendapat para ulama bahasa Arab (ahli kamus) yang menyamakanarti Imamah dan Khilafah, misalnya: Rawwas Qal‘ah Jie dan Hamid ShadiqQunaibi dalam Mu‘jam Lughah al-Fuqahâ’, hlm. 64, 150, dan 151; Ibrahim Anis dkk dalam Al-Mu‘jam al-Wasîth, 1/27 dan 251.

Jika Imamah dan Khilafah pengertiannya sama, demikian juga istilah Imam danKhalifah. Keduanya sama-sama berarti pemimpin tertinggi dalam negaraKhilafah, tidak berbeda. Ini sebagaimana pernyataan Ibnu Khaldun yangtelah dikutip di atas. Imam Nawawi dalam Rawdhah ath-Thâlibîn (X/49) menegaskan hal yang sama:
íÌæÒ Ãä íÞÇá ááÅãÇã :ÇáÎáíÝÉ¡ æÇáÅãÇã¡ æÃãíÑ ÇáãÄãäíä
Boleh saja Imam itu disebut dengan Khalifah, Imam, atau Amirul Mukminin. (Lihat: ad-Dumaiji, Al-Imâmah al-‘Uzhmâ, hlm. 34).

Nah, setelah kita bentangkan pendapat para ulama yang ahli seperti di atas,lalu kita bandingkan dengan pendapat Ulil yang dangkal dan sembrono,bagaimana pendapat Anda? Bukankah pendapat Ulil itu betul-betulmenggelikan dan terkesan seenaknya sendiri?

Mengapa Imamah dan Khilafah Semakna?

Pertanyaanyang kemudian muncul adalah, atas dasar apa para ulama menyamakanpengertian Imamah dan Khilafah? Di sinilah Imam Taqiyuddin an-Nabhanimemberi penjelasan yang gamblang dalam kitabnya, Asy-Syakhshiyah al-IslâmiyahJuz 2. Imam An-Nabhani berkata, “Telah terdapat hadis-hadis sahihdengan dua kata ini [Khilafah dan Imamah] dengan makna yang satu. Tidakada makna dari salah satu kedua kata itu yang menyalahi makna kata yanglain, dalam nas syariah mana pun, baik dalam al-Quran maupun dalamas-Sunnah, karena hanya dua itulah yang merupakan nas-nas syariah.Tidaklah wajib berpegang dengan kata ini, yaitu Khilafah atau Imamah,tetapi yang wajib ialah berpegang dengan pengertiannya.” (Taqiyuddinan-Nabhani, Asy-Syakhshiyah al-Islâmiyyah, II/13).

Jadi,Khilafah dan Imamah memiliki arti yang sama karena nas-nas syariah,khususnya hadis-hadis sahih, telah menggunakan dua kata itu, yaitu kata “imam” atau “khalifah” secara bergantian namun dengan pengertian yang sama. Sebagai contoh, kadang Rasulullah saw. menggunakan kata “khalifah” seperti sabdanya:
ÅöÐóÇ ÈõæúíöÚó áöÎóáöíúÝóÊóíúäö ÝóÇÞúÊõáõæúÇ ÇáÂÎöÑó ãöäúåõãóÇ
Jika dibaiat dua orang khalifah maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya. (HR al-Bazzar dan ath-Thabrani dalam Al-Awsâth. Lihat Majma’ az-Zawâ’id, V/198). Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim. Lihat: Syarh Muslim oleh Imam Nawawi, XII/242).

Namun, kadang Rasulullah saw. juga menggunakan kata “imam” seperti sabdanya:
ãóäúÈóÇíóÚó ÅóãóÇãðÇ ÝóÃóÚúØóÇåõ ÕóÝúÞóÉó íóÏöåö æóËóãúÑóÉó ÞóáúÈöåöÝóáúíõØöÚúåõ ãóÇ ÇÓúÊóØóÇÚó¡ ÝóÅöäú ÌóÇÁó ÂÎóÑõ íõäóÇÒöÚõåõÝóÇÖúÑöÈõæúÇ ÚõäõÞó ÇúáÂÎóÑö
Siapa saja yang membaiat seorang imam, lalu ia memberikan genggaman tangannya dan buah hatinya kepadanya, hendaklah ia menaati imam itu sekuat kemampuannya. Kemudian jika datang orang lain yang hendak merebut kekuasaan imam itu maka penggallah leher orang lain itu. (HR Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, an-Nasa’i, dan Ahmad).

Kata“khalifah” dan “imam” dalam kedua hadis di atas mempunyai pengertianyang sama, yaitu pemimpin tertinggi dalam Negara Islam. (Lihat: RawwasQal’ah Jie dan Hamid Shadiq Qunaibi, Mu‘jam Lughah al-Fuqahâ, hlm.64 dan 151). Jika “khalifah” dan “imam” sama pengertiannya maka sistempemerintahan yang dipimpinnya, yaitu “Khilafah” dan “Imamah”, juga samamaknanya; tidak berbeda.

Antara Khilafah dan Imarah

Dalambanyak hadis shahih memang ada pembahasan kepemimpinan dalam pengertianumum. Kepemimpinan dalam arti umum ini disebut dengan istilah Imârah, Qiyâdah, atau Ri’âsah.Imam Taqiyuddin An-Nabhani menerangkan, “Imarah (kepemimpinan) itulebih umum, sedangkan Khilafah itu lebih khusus, dan keduanya adalahkepemimpinan (ri’âsah). Kata Khilafah digunakan khusus untuk suatu kedudukan yang sudah dikenal, sedangkan kata Imarah digunakan secara umum untuk setiap-tiap pemimpin (amir).” (Taqiyuddin an-Nabhani, Asy-Syakhshiyah al-Islâmiyyah, II/125).

Hadis tentang Imarah, misalnya, sabda Nabi saw.:
ÅöÐóÇ ÎóÑóÌó ËóáÇóËóÉñ Ýöí ÓóÝóÑò ÝóáúíõÄóãøöÑõæÇ ÃóÍóÏóåõãú
Jika keluar tiga orang dalam sebuah perjalanan, hendaklah satu orang dari mereka menjadi pemimpinnya. (HR Abu Dawud).

Dengandemikian, jelaslah bahwa kepemimpinan dalam arti yang umum, memang jugaditerangkan dalam Islam, namun istilahnya bukan Khilafah atau Imamah,seperti khayalan dan tipuan Ulil, melainkan Imarah. Imarah inilah yang bersifat umum sehingga mencakup kepala suku, lurah, camat, bupati, raja, sultan, khalifah, presiden, CEO, manager, dan sebagainya.

Daftar Pustaka

  • Ad-Dumaiji, Abdullah bin Umar bin Sulaiman, Al-Imâmah al-‘Uzhmâ ‘Inda Ahl as-Sunnah wa Al-Jamâ‘ah, (www.saaid.net), 1987.
  • Ahmad, Zainal Abidin, Membentuk Negara Islam, (Jakarta : Penerbit Widjaya), 1956.
  • Al-Yusuf, Muslim, Dawlah al-Khilâfah ar-Rasyîdah wa al-‘Alaqât ad-Dawliyah, (www.saaid.net).
  • An-Nabhani, Taqiyuddin, Asy-Syakhshiyah al-Islâmiyyah, Juz 2, (Beirut: Darul Ummah), 2002.
  • Anis, Ibrahim dkk, Al-Mu’jam al-Wasîth, (Kairo: Tanpa Penerbit), 1972.
  • As-Salus, Ali, Imamah dan Khilafah dalam Tinjauan Syar’i (Aqidah Al-Imamah ‘Inda Asy-Syi’ah Al-Itsna ‘Asyariyah), Penerjemah Asmi Salihan Zamakhsyari, (Jakarta: Gema Insani Press), 1997.
  • Ash-Shiddieqy, Teungku Muhammad Hasbi, Islam dan Politik Bernegara, (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra), 2002
  • Az-Zuhaili, Wahbah, Al-Fiqh al-Islâmi wa Adillatuhu, Juz 8, (Maktabah Syamilah).
  • Qal’ah Jie, Rawwas, & Qunaibi, Hamid Shadiq, Mu‘jam Lughah al-Fuqahâ’ (Beirut: Dar an-Nafa’is), 1988.

=======================================

( ) “….Kemudian akan ada khilafah rasyidah yang sesuai dengan manhaj kenabian (HR. Imam Ahmad)
( ) Download gratis kitab2 B. Arab dari Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam
Syaukani, Imam Suyuthi dll di www.saaid.net atau www.almeshkat.net
( ) Alhamdulillah akhirnya punya blog juga (fadhliyafas.blogspot.com)
( ) Beragam aplikasi untuk PPC dan Cellular (segalarupa.blogspot.com)

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 42 other followers

%d bloggers like this: