In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful
===
WAJAH RAMAH MUSLIM ‘FUNDAMENTALIS’
Inilah kisah tentang citra atau kesan dari wajah Muslim fundamentalis. Banyak orang memiliki kesan umum, bahwa Muslim fundamentalis atau Muslim radikal atau Muslim garis keras (*hard-liner*)begitu biasa mereka menyebut kelompok Islam yang lantang menyerukan penerapan syariahadalah orang yang berwajah garang, tidak argumentatif, doktriner, bodoh dan tidak bisa diajak dialog.
Beberapa tahun silam ada seorang wartawati mengaku stres, semalaman tidak bisa tidur karena membayangkan esok paginya harus bertemu dengan Jubir HTI, M. Ismail Yusanto, untuk sebuah wawancara. Ketika itu Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), bersamaan dengan momen Sidang Umum MPR tahun 2002, memang
tengah gencar melakukan berbagai aksi untuk menyerukan penerapan syariah dalam tajuk, “Selamatkan Indonesia dengan Syariah.” Aksi *long march* dari Silang Monas menuju gedung DPR/MPR yang diikuti oleh sekitar 20 ribu orang, tak pelak menarik perhatian banyak pihak, termasuk tentu saja para pewarta. Inilah aksi terbesar di sepanjang Sidang MPR, yang turut mewarnai panasnya suasana persidangan yang tengah membicarakan agenda amandemen UUD 45. Nah, wartawati tadi, persis seperti *stereotype* (kesan umum) tentang wajah tokoh fundamentalis, juga membayangkan akan bertemu dengan orang yang seram, berjenggot lebat, berwajah kusam dan sebagainya. Malam itu, kepada suaminya ia mengungkapkan kegelisahan hatinya.
Ia tidak sendiri. Hampir semua wartawan, dosen, peneliti dan para diplomat khususnya dari luar negeri atau siapapun yang mengenal kelompok-kelompok Islam dan para tokohnya hanya dari media, pasti memiliki pandangan serupa. Singkatnya, di mata mereka, wajah Muslim fundamentalis itu sangat buruk dan menakutkan. Karena itu, tidak semua orang memiliki kekuatan hati untuk datang bertemu dengan para “ekstremis” itu. Ini pula yang dirasakan oleh Dr. Hisanori Kato (35), peneliti dari Jepang yang mendapat gelar Ph.D-nya dari Sydney University, Australia, tahun 2000 tentang peran agama Islam dalam pembentukan masyarakat demokratis di Indonesia, dan kini menjadi profesor tamu di Universitas Nasional Jakarta. Sudah lama ia tertarik pada HTI, dan ingin mengenal lebih dekat. Namun, ketika hendak datang ke kantor HTI, ia
sering dibuat ragu oleh sejawatnya, karena katanya, “Kalau Anda datang ke sana berarti keselamatan Anda terancam.” Lalu ketika suatu saat para sejawatnya itu tahu ia suka bolak-balik datang ke kantor HTI, berjam-jam duduk berdialog, melakukan wawancara sambil minum teh, dan pulang dengan selamat, mereka terheran-heran. Kok, bisa?
Demikianlah citra yang telah terlanjur melekat pada kelompok Islam yang disebut fundamentalis. Pencitraan semacam ini tentu tidak lahir dengan sendirinya. Ia merupakan hasil dari sebuah kerja panjang yang sistematis oleh media massa yang saat ini memang didominasi oleh media Barat. Pencitraan semacam ini jelas sangat merugikan karena orang bisa menjadi *mis-leading *(keliru) dalam menilai. Kalau sudah keliru, sebagus apa pun yang dibawa atau disampaikan akan tetap cenderung ditolak oleh khalayak.
Dalam teori pemasaran, sebuah produk akan laku di pasar jika ia memiliki apa yang disebut *product selling point*. Jika tidak punya maka harus dibantu dengan *corporate selling point*, yakni disebutkan bahwa produk tersebut dari sebuah perusahaan bonafid. Kalau ini juga tidak maka Anda harus menyewa orang lain yang telah memiliki *personal selling point*; bisa artis top atau publik figur. Itulah mengapa, iklan produk biasa disesaki oleh wajah-wajah yang sudah dikenal masyarakat.
Demikian juga dengan syariah. Ibarat produk, syariah adalah ide yang akan dipasarkan. Supaya berhasil mendapat dukungan masyarakat, ia harus memiliki *product selling point* (pada keunggulan dan keagungan syariah itu sendiri), *corporate selling point* (pada lembaga atau kelompok yang membawakannya) dan tentu saja *personal selling point* (pada orang atau para aktifis atau para tokoh yang mengkampanyekan). Coba bayangkan, bagaimana jadinya jika *personal selling point *dan *corporate selling point*-nya, bahkan juga *product selling point-*nya sudah dibombardir dengan kesan atau citra buruk bahwa syariah itu kejam, tidak manusiawi, kuno dan sebagainya; sementara kelompok dan aktifisnya dicitrakan sebagai tidak toleran, seram, bodoh, suka pada kekerasan dan sebagainya? Tentu upaya untuk menarik dukungan dari masyarakat
menjadi semakin sulit dilakukan.
Namun, sepandai-pandai orang membuat citra buruk tentang syariah Islam, juga tentang kelompok-kelompok Islam dan tokoh-tokoh dari kelompok Islam itu, ada saja jalan untuk menunjukkan kebenaran yang sesungguhnya. Di antaranya melalui orang-orang yang tidak mudah percaya begitu saja pada citra yang dibuat oleh media serta ingin melihat dan mendengar langsung dari sumber utama. Itulah orang-orang semacam Dr. Kato, Dr. Greg Fealy dari ANU (Australian National University) yang juga sudah pernah beberapa kali datang ke kantor HTI, dan banyak lainnya.
Maka, setelah akhirnya bertemu Jubir HTI, sang wartawati tadi itu akhirnya bisa tersenyum. Dia sempat kaget, karena yang dia lihat sama sekali jauh dari bayangan sebelumnya; tidak tergambar sama sekali wajah seram. Merasa geli dengan dirinya sendiri, keluarlah cerita bagaimana ia semalaman stres tidak bisa tidur, cemas menghadapi wawancara siang itu.
Pernah seorang wartawati dari koran *The Washington Post,* mungkin saking kecelenya, setelah selesai wawancara panjang dengan Jubir HTI tentang syariah dan Khilafah, berucap, *”You are too smart to be moslem*.” Jangan dikira merasa tersanjung. Ucapan itu sesungguhnya adalah ejekan sarkastis; disangkanya aktifis Islam itu bodoh. Ketika ditanyakan mengapa begitu, rupanya ia juga adalah korban *stereotype* tadi.
Bukan hanya cerdas dan argumentatif, Dr. Kato bahkan merasa sangat nyaman berada di tengah-tengah aktifis Hizbut Tahrir Indonesia. Sama sekali dia tidak merasa terancam. Ia geli dengan kekhawatiran teman-temannya itu. Memang, ia sering dengan terus terang diajak untuk masuk Islam. Namun, ia tidak merasa terganggu, apalagi menganggap itu sebagai ancaman. Ia justru menangkap ajakan itu sebagai kejujuran dan ketulusan.
Ia mengaku sangat tersentuh ketika berada di kantor Jubir HTI. Ia sempat bertanya kepada orang-orang yang ada di situ, mengapa mereka sering mengajaknya masuk Islam. Dijawab, “Inilah cara kami menolong Anda. Ini adalah wujud kasih-sayang kami kepada Anda. Ketika di akhirat (*here after*) nanti Anda mendapatkan balasan buruk dari Tuhan, kami sudah tidak bisa lagi membantu Anda.”
Ia mengaku terus terang, baru sekali itu mendengar penjelasan yang sangat tulus. Selama ini ajakan masuk Islam dirasakannya sebagai tekanan dan ajakan yang kadang tidak masuk akal. Namun, kali ini ia merasakan sentuhan manusiawi yang sangat mengharukan; sama mengharukannya ketika ia mendengar jawaban dari pertanyaan dia, “Mengapa saya yang bukan Islam ini diterima dengan ramah di sini, di kantor HTI ini?” Dijawab, *”Adalah kewajiban kami, sesuai tuntunan syariah Islam, untuk menyambut setiap tamu dengan
sebaik-baiknya*.”
Ia juga melihat, aktifis Islam adalah orang-orang yang *pious* (salih); ramah, hangat, terbuka, dan tepat janji. Ia dengan terus terang mengungkapkan kekecewaan terhadap aktifis Islam liberal yang sering menyerang kelompok fundamentalis karena tidak sesuai dengan kenyataan yang dia lihat dan dia pahami. Sebaliknya, ia melihat justru hidup sebagian dari mereka tidaklah sebaik orang-orang yang mereka kritik. Bahkan dengan nada masygul dia mengungkapkan kekesalan kepada seorang tokoh Islam liberal yang sangat terkenal, yang berulang-ulang ingkar janji. Pasalnya, sudah lebih dari 2 tahun artikel yang dijanjikannya sampai sekarang tidak kunjung selesai. Ia sangat sebal karena itu sangat mengganggu penyelesaian buku penting tentang Islam di Indonesia yang sekarang sedang digarapnya. Sementara itu, semua tulisan dari orang-orang yang disebut fundamentalisyang sering dinilai macam-macam itumalah sudah masuk dan sangat bagus, melampaui apa yang dia harapkan sebelumnya. [Kantor Jubir HTI - Jakarta]
From: “abdul rahman” <Inspiring.Rahman@gmail.com>
Subject: [INSISTS] Wajah Ramah Muslim ‘Fundamentalis’
===
-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW






