Muslim in Suffer

Bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem. Assalamu\’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh!

Archive for May 7th, 2008

Dont be afraid to say of this group (ahmadiyya) “Thou art kafir”

Posted by musliminsuffer on May 7, 2008

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

Dont be afraid to say of this group (ahmadiyya) “Thou art kafir”

MMN Note: It is most important to speak out against those who call themselves Ahmadiyya and the followers of the apostate Mirza Ghulam Qadiani. This group has for years attempted to gain legitimacy in the Muslim community(and most recently in Indonesia) but it is important to study what they really teach. Every major scholar of Islam rejects this group and procalims them non-Muslim (see: http://alhafeez.org/rashid/scholars.html). Please refer to the following links for tons of background information on this cult. Don’t be fooled by the big beards, Muslim sounding names and Indo-Pak so called “Sunnah” dress-code.

Study and learn:
Qadianism Exposed: Mirza Ghulam Qadiani (the founder of the Ahmadiyya cult)
http://www.irshad.org/exposed.php

And tons more of information exposing this cult:
http://www.irshad.org/other/ext_res.php

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Posted in Uncategorized | 16 Comments »

‘Dosa’ Pendiri NU dan Muhammadiyah Atas Masuknya Ahmadiyah di Indonesia

Posted by musliminsuffer on May 7, 2008

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

‘Dosa’ Pendiri NU dan Muhammadiyah Atas Masuknya Ahmadiyah di Indonesia

Keterlibatan tokoh-tokoh pendiri NU dan Muhammadiyah yang masih bersaudara sepupu di dalam mendirikan Ahmadiyah Lahore di Indonesia, ini menunjukkan bahwa ormas NU dan Muhammadiyah punya dosa sejarah turut melahirkan aliran dan paham sesat di Indonesia. Kalau NU bisa dimengerti, karena sejak awal lahirnya memang ditujukan untuk melestarikan hal-hal yang menjadi tradisi masyarakat (kalau ditinjau dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman salafus shalih tradisi-tradisi yang menyimpang dari Islam biasanya disebut bid’ah, takhayul dan khurafat, bahkan kemusyrikan) maka mudah saja bagi NU untuk membiarkan berdirinya Ahmadiyah. Bagaimana dengan Muhammadiyah yang sejak awal kelahirannya dimaksudkan untuk melawan tiga penyakit di atas (TBC: takhayul, bid’ah, dan khurafat), namun dalam perjalanan berikutnya, setelah tujuh belas tahun berkiprah justru sebagian tokohnya mendirikan Ahmadiyah Lahore. Artinya, Muhammadiyah tidak konsisten pada usia yang relatif muda di dalam memurnikan ajaran Islam. Kalah telak dengan NU yang konsisten dengan upayanya menghidupkan tradisi-tradisi seperti tersebut. Jadi artinya, pemberantasnya sudah loyo duluan, sedang pengobarnya tetap bersemangat. Arahnya tampak berbeda, namun sejatinya sama, menuju kepada negative semua, plus kini telah digerogoti dan disusupi oleh dedengkot-dedengkot kemusyrikan dengan label baru yakni pluralisme agama yakni menyamakan semua agama. Pembusukan telah terjadi di sana.

Terbukti, pada zaman modern saat ini pun, Muhammadiyah selalu mengekor NU. Misalnya, setelah kalangan muda NU melahirkan paham Islam Liberal, beberapa tahun kemudian generasi Muhammadiyah pun turut melahirkan paham Islam Liberal. Dalam hal tahlilan alias upacara bid’ah peringatan orang mati, misalnya, yang selama ini diposisikan bid’ah oleh Muhammadiyah, namun tidak jarang petinggi Muhammadiyah saat ini ikut-ikutan tahlilan. Artinya, Muhamamdiyah memang kalah dari NU, baik dari jumlah massanya, main hantam kromo dalam politiknya, maupun dalam mempertahankan garis ‘perjuangannya’.

Kembali kepada tulisan Asvi –yang membingungkan dirinya sendiri dan pembaca yang tidak kritis– untuk menyelesaikan masalah Ahmadiyah ditempuh dengan jalan persaudaraan (kekeluargaan) mengingat tokoh-tokoh pendiri NU, Muhammadiyah, SI, dan Ahmadiyah berasal dari rumpun keluarga yang sama, ini jelas saran yang tidak mendidik dan dapat menjadi preseden buruk.

Misalnya, seandainya perusahaan konglomerasi yang didirikan oleh Liem Sioe Liong itu para tokoh pendirinya masih berasal dari rumpun keluarga yang sama dengan Gus Dur, Amien Rais, SBY dan JK, kemudian perusahaan konglomerasi itu melakukan kesalahan di dalam menerima dan menyalurkan dana BLBI yang nilainya ratusan triliun rupiah, apakah dapat diselesaikan secara kekeluargaan saja? Tentu tidak bisa. Kesalahan mereka harus dilihat dari hukum perdata, dan UU perbankan yang berlaku. Bukan pendekatan sejarah atas tokoh-tokohnya.

Begitu juga dengan Ahmadiyah, harus dilihat dari sudut pandang Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kalau terbukti menyimpang, dan jelas-jelas sesat, bahkan menodai Islam, meski pendirinya ada kaitan persaudaraan dengan founding fathers RI atau tokoh pendiri ormas, Ahmadiyah tetap harus dinyatakan sesat, telah menodai Islam secara tegas. Dan dibubarkan. Pengikutnya disuruh bertobat dan kembali kepada Islam.

Kalau tidak, apa mau di neraka nanti gigi geraham sampeyan lebih besar dari gunung Uhud? (haji/tede)

sumber : http://www.nahimunkar.com/?p=45#more-45

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Posted in Uncategorized | 38 Comments »

Menengok Kembali Kasus di Sarang Ahmadiyah

Posted by musliminsuffer on May 7, 2008

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

Menengok Kembali Kasus di Sarang Ahmadiyah
Puluhan Senjata Ditemukan dalam Markas Aliran Sesat Ahmadiyah
Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Setelah terjadi pengepungan massa umat Islam terhadap Pusat Ahmadiyah di Kampus Mubarok di Parung Bogor Jawa Barat ba’da Jum’at 15 Juli 2005M/ 8 Jumadil Akhir 1426H, dan berakhir dengan keputusan Pemda Bogor untuk menutup pusat aliran sesat Ahmadiyah itu, maka orang-orang Ahmadiyah di dalamnya dievakuasi dengan 4 bus dan 4 truk polisi.

Bentrokan massa antara Muslimin anti aliran sesat Ahmadiyah dengan orang Ahmadiyah di pusatnya itu sudah sejak berdirinya sarang Ahmadiyah itu tahun 1980-an, setelah adanya fatwa Munas II Alim Ulama MUI 1980 yang memfatwakan Ahmadiyah adalah di luar Islam, sesat menyesatkan. Juga telah adanya surat edaran Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji Departemen Agama, agar ulama menjelaskan sesatnya Ahmadiyah.

Ahmadiyah dan Muhammadiyah dalam sejarah

Ahmadiyah sendiri menyusup dan datang ke Indonesia sejak 1925, semula digandeng oleh Muhammadiyah karena dianggap sebagai pembaharu, namun di tahun 1930-an kemudian Muhammadiyah baru tahu bahwa Ahmadiyah itu lain, bukan pembaharu sebagaimana yang semula difahami. Maka Muhammadiyah tidak lagi menjadikan Ahmadiyah sebagai kawan sejak 1930 itu.

Menurut sejarah, ada tokoh-tokoh Muhammadiyah yang masuk ke Ahmadiyah dan kemudian mendirikan organisasi Ahmadiyah. Berikut ini kutipan dari seorang dari LIPI:

Tahun 1928, tokoh Muhammadiyah Raden Ngabehi HM. Djojosoegito, saudara sepupu dari Hasyim Asy’ari -kakek Abdurrahman Wahid (Gus Dur)- dan Wahab Chasballah, mendirikan Ahmadiyah Indonesia. Hasyim Asy’ari dan Wahab Chasballah yang juga bersaudara sepupu adalah pendiri NU (Nahdlatul Ulama) tahun 1926. Tahun 1930, pemerintah Hindia Belanda mengakui Ahmadiyah. Selain ketua Djojosoegito, terdapat nama Erfan Dahlan sebagai pengurus. Erfan Dahlan adalah putra H Achmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) yang belajar tentang Ahmadiyah di Lahore dan kemudian mengembangkan aliran tersebut di Thailand. Selain Erfan Dahlan, ada beberapa pemuda lain yang juga belajar tentang Ahmadiyah di Lahore. Yang satu setelah kembali ke Indonesia bergabung dengan PKI (Partai Komunis Indonesia). Yang lain, Maksum, keluar dari Muhammadiyah, bergabung dengan Persatuan Islam (Persis) yang dipimpin A. Hassan di Bandung.

Polemik Panjang

Seperti kita ketahui, polemik panjang mengenai ajaran Islam juga terjadi antara A. Hassan dan Soekarno. Maksum beberapa puluh tahun kemudian ikut gerakan DI/TII yang dipimpin Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan. Djojosoegito kemudian memindahkan kegiatannya ke Purwokerto dan di kota ini didirikan masjid pertama Ahmadiyah di Indonesia. Hubungan antara Ahmadiyah dan SI (Sarekat Islam) pada mulanya cukup erat. Pemimpin SI, HOS Tjokroaminoto, menerbitkan tafsir Alquran pada 1930. Kata pengantar diberikan pimpinan Ahmadiyah di Lahore, India. Ketika ketepatan terjemahan kitab suci itu banyak dikritik, terutama dari kalangan Muhammadiyah, dukungan diberikan pimpinan Ahmadiyah. Namun, hubungan Ahmadiyah dengan SI kemudian menjadi renggang karena sikap politik SI yang radikal terhadap penjajah Belanda. Sedangkan Ahmadiyah tetap loyal kepada pemerintah. HOS Tjokroaminoto yang menjadi mertua Soekarno, menurut KH Abdurrahman Wahid, sebetulnya juga saudara sepupu dari Hasyim Asy’ari dan Wahab Chasballah.

(selanjutnya dikemukakan):

Pada 1925, Haji Rasul, ulama terkenal dari Sumatera Barat, ayahanda HAMKA, mengunjungi putrinya, Fatimah, yang menikah dengan A.R. Sutan Mansyur, pimpinan Muhammadiyah di Pekalongan. Dari Pekalongan, dia singgah di Jogja dan Solo serta bertemu dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah dan Ahmadiyah. Terjadilah perdebatan seru. Haji Rasul mengatakan bahwa keyakinan Ahmadiyah itu menyimpang dari ajaran Islam. Dalam kongres Muhammadiyah di Solo pada 1929, hubungan antara organisasi itu dan Ahmadiyah menjadi putus. Majelis Tarjih Muhammadiyah menyatakan bahwa barang siapa yang memercayai adanya nabi setelah Muhammad dianggap kafir, walaupun tidak eksplisit menyebut Ahmadiyah. Sebelumnya sudah ada larangan bagi warga Muhammadiyah untuk mendengarkan ceramah tentang ajaran Ahmadiyah.

Dr Asvi Warman Adam, sejarawan di LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Jakarta. (Belajar dari Sejarah Ahmadiyah, Indo Pos, Kamis, April 24, 2008)

Meskipun tahun 1930 pimpinan Muhammadiyah sudah pidato resmi bahwa Ahmadiyah yang selama ini dijadikan teman ternyata bukan teman, namun sampai tahun 2000 masih ada petinggi Muhammadiyah, Dawam Rahardjo, yang mengatas namakan Muhammadiyah mengundang Khalifah IV Ahmadiyah, Thahir Ahmad, di London untuk hadir ke Indonesia di masa Presiden Gus Dur / Abdurrahman Wahid. Kedatangan penerus nabi palsu yang diundang oleh orang yang memalsu atas nama Muhammadiyah itu disambut pula oleh bekas ketua Muhammadiyah yang sedang jadi ketua MPR, Amien Rais dengan berangkulan di Gedung DPR/MPR. Sementara itu yang memalsu atas nama Muhammadiyah, Dawam Rahardjo, mengalungkan bunga kepada penerus nabi palsu Thahir Ahmad di Bandara Cengkareng. Semua itu kemudian disiarkan oleh media Ahmadiyah. Maka seorang pakar dari Pakistan, Manzhur Ahmad Chinioti Pakistani, penulis buku Keyakinan Al-Qadiani , sengaja hadir ke Indonesia kemudian berpidato di Masjid Al-Azhar Jakarta. Pakar dari Pakistan ini memprotes keras, agar Dawam Rahardjo diadukan ke pengadilan, karena telah mengatas namakan Muhammadiyah, mengundang penerus nabi palsu ke Indonesia. (Setelah Thahir Ahmad mati, maka kekhalifahan Ahmadiyah alias penerus nabi palsu itu digantikan oleh Mirza Masroor Ahmad Khalifatul Masih V sejak April 2003).

Ketika saya (Hartono Ahmad Jaiz) bersama Ahmad Haryadi mantan Ahmadiyah, Farid Okbah- Al-Irsyad, dan Abu Yazid- Persis masuk ke kampus Mubarok Parung Bogor saat Thahir Ahmad Khalifah Ahmadiyah ada di sana, saat itu kami ingin bertamu kepada teman Ahmad Haryadi, namun kami ditangkap. Lalu saya berbincang-bincang dengan sebagian mereka, ketika pihak keamanan Ahmadiyah sedang mengusut teman-teman saya yang bertamu tapi ditangkap ini. Saya tanyakan, kenapa Dawam Rahardjo datang ke London mengundang Thahir Ahmad? Dijawab, karena Ahmadiyah membiayai Dawam Rahardjo.

Pantaslah, di saat ada desakan dari umat Islam sekitar kampus Mubarok Pusat Ahmadiyah agar Ahmadiyah dan kampusnya dibubarkan, maka Dawam Rahardjo menjadi “pehlawan” kesiangan. Dawam berbicara di konperensi pers di PBNU yang diselenggarakan oleh Johan Effendi yang memang anggota resmi Ahmadiyah selaku ICRP yang didanai lembaga kafir The Asia Foundation berpusat di Amerika. Dawam mengecam MUI, FPI, dan LPPI. Masih kurang puas, Dawam pun menuils di Koran Indo Pos, berjudul Teror terhadap Ahmadiyah. Dawam tampak gusar, dengan dalih HAM (Hak Asasi Manusia) maka dia tudingkan telunjuknya yang sudah menua renta itu dengan berteriak bahwa FPI (Front Pembela Islam) dan LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) berada di balik terror itu.

Anak muda Muhammadiyah pun ada yang ketinggalan kereta, lalu tergopoh-gopoh mengadakan konperensi pers di kantor Pusat Muhammadiyah untuk membela Ahmadiyah. Sukidi yang memang kadernya Dawam Rahardjo ini dalam keadaan luka karena baru saja JIMM (Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah, nama Muhammadiyah ini diusulkan di Muktamar dilarang untuk dipakai JIMM) terjengkang di Muktamar Muhammadiyah di Malang 3-8 Juli 2005. Sebagaimana Dawam Rahardjo, Amin Abdullah, dan Abdul Munir Mulkan dan para tokoh liberal berfaham pluralisme agama alias menyamakan semua agama (kemusyrikan) telah terjengkang di Muktamar; maka Sukidi mengambil kesempatan untuk membela Ahmadiyah. Kontraslah. Muhammadiyah jelas sudah berpisah dengan Ahmadiyah sejak 1930, dan menyesali kenapa dulunya berteman; tetapi Dawam dan Sukidi masih berkasih mesra atas nama Muhammadiyah sambil mengecam-ngecam MUI, FPI, LPPI, dan umat Islam hanya dengan dalih HAM. Padahal justru yang telah mengoyak-koyak aqidah Islam dan Al-Qur’an adalah Ahmadiyah itu, yang bukan sekadar melanggar HAM tetapi menodai kitab suci Umat Islam sedunia. Benar-benar pahlawan kesiangan.

Kasus bentrokan

Ahmadiyah didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad di India. Mirza lahir 15 Februari 1835 M. dan meninggal 26 Mei 1908 M di India.

Ahmadiyah masuk di Indonesia tahun 1935 (mereka mengklaim datang ke Indonesia tahun 1925, hingga pada tahun 2000 masa Presiden Gus Dur mereka mendatangkan Khalifah mereka dari London, Thahir Ahmad dengan alasan 75 tahun Ahmadiyah di Indonesia). Kini sudah mempunyai sekitar 200 cabang, terutama Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Barat, Palembang, Bengkulu, Bali, NTB dan lain-lain. Basis-basis Ahmadiyah di Kuningan Jawa Barat dan Lombok telah dihancurkan massa 2002/2003 karena mereka sesumbar dan mengembangkan kesesatannya.

Kehadiran Khalifah Ahmadiyah Thahir Ahmad walau tidak langsung memicu bentrokan, namun diam-diam akan menumbuhkan gesekan yang sudah lama memanas. Apalagi ada rencana dari Ahmadiyah yang sangat mengentak.

Rencana Ahmadiyah Internasional di Indonesia

Sebagai sebuah gerakan keagamaan yang meng-internasional, Jemaat Ahmadiyah yang berpusat di India ini berencana ingin menjadikan Indonesia sebagai pusat Ahmadiyah Dunia di masa mendatang (Abad ini).

Rencana besar mereka ini dipublikasikan dalam terjemahan Majalah Mingguan Ahmadiyah berbahasa urdu, “Al Fadl Internasional”, No. 7, tanggal 13 Juli 2000. Memuat tentang berbagai kegiatan dan aktifitas Hazrat Amirul Mukminin Khalifah Al Masih ke 4 Thahir Ahmad selama berkunjung ke Indonesia zaman Presiden Gus Dur tahun 2000.

Pusat Ahmadiyah di Parung Bogor Jawa Barat, mempunyai gedung yang mewah, perumahan para pimpinan/ pegawai di atas tanah seluas 15 ha. Terletak di pinggir jalan raya Jakarta Bogor lewat Parung.

Pusat Ahmadiyah di Parung Bogor Jawa Barat ini digrebeg umat Islam sekitar untuk kesekian kalinya sejak 1985-an, terakhir 3000-an massa umat Islam sekitar mendatangi lokasi yang dinamai Kampus Mubarok ini hingga terjadi bentrokan, Sabtu 9 Juli 2005. Massa umat Islam di luar pagar kampus Mubarok bentrok saling lempar dengan ribuan jemaat Ahmadiyah yang sedang mengadakan jalsah salanah (pertemuan tahunan) ke-46 secara nasional dan bahkan khabarnya mengundang pimpinan Ahmadiyah dari pusatnya di London.

Pertemuan tahunan secara nasional di pusat Ahmadiyah di Parung Bogor Jawa Barat itu menjadikan marahnya umat Islam sekitar, karena:

1. Sudah ada keputusan Munas Alim Ulama se-Indonesia tahun 1980: bahwa Ahmadiyah adalah kelompok di luar Islam, sesat dan menyesatkan. (Keputusan No 05/Kep/ Munas II/ MUI/ 1980 di Jakarta pada tanggal 17 rajab 1400H/ 1 Juni 1980M, ditandatangani olehKetua MUI Prof. Dr. Hamka dan Sekretaris sidang Drs H kafrawi MA, juga Ketua Dewan Pertimbangan MUI Menteri Agama RI Alamsyah R. Prawiranegara).

2. Surat Edaran Dirjen Bimas Islam dan Urusan haji Departemen Agama No D/B4.01/5099/84, tgl 20 September 1984, yang berisi penegasan supaya ulama menjelaskan tentang seatnya jemaat Ahmadiyah.

3. Adanya keputusan untuk melarang Ahmadiyah (Qodiyan dan Lahore) secara nasional tahun 1996, namun ditunda saat pelarangannya setelah pemilu (pemilihan Umum) 1997. Sampai pemilu telah selesai pun belum ada pelarangan, maka menurut sumber, MUI mengirimkan surat kepada Jaksa Agung RI, 6 Mei 1998, untuk melaksanakan keputusan 31 Oktober 1996 tentang pelarangan Ahmadiyah (Qodiyan dan Lahore) secara nasional.

4. Jangka waktu sudah sedemikian lama, sampai 2005 justru ahmadiyah tetap mengadakan kegiatan bahkan mengadakan jalsah salanah ke 46 (pertemuan tahunan) secara nasional di pusat Ahmadiyah di kampus Mubarok di Parung Bogor Jawa Barat. Padahal keberadaan pusat Ahmadiyah itu telah menimbulkan keresahan umat Islam sekitar bahkan bentrokan sejak 1985-an.

Akibatnya, umat Islam berdialog dengan pimpinan Ahmadiyah dihadiri camat setempat dan para punggawa. Umat islam meminta agar tidak diadakan jalsah salanah, namun pihak Ahmadiyah ngotot. Tidak ada kesepakatan. Maka umat Islam menyatakan akan membela haknya, karena Ahmadiyah telah menodai dan memperlakukan kitab suci Al-Qur’an semau Ahmadiyah, yaitu dibajak-bajak, diputar balik di kitab suci Ahmadiyah yaitu Tadzkirah yang dianggap sebagai wahyu Tuhan kepada nabi mereka, Mirza Ghulam Ahmad. Karena Ahmadiyah telah menodai kitab suci al-Qur’an namun mengaku sebagai Muslim, bahkan yang tidak percaya kepada nabi mereka maka dinyatakan sebagai musuh dalam kitab Tadzkirah itu, maka umat Islam tidak terima. Hingga terjadilah sekumpulan massa ummat Islam mengepung kampus Mubarok pusat Ahmadiyah, Sabtu 9 Juli 2005. Aksi pengepungan itu terjadi bentrok saling lempar batu, hingga kedua belah pihak dari luar pagar dan dalam pagar masing-masing ada sejumah yang luka-luka. Sebagian bangunan di pinggir pagar rusak.

Aksi itu mengakibatkan jalsah salanah ditutup lebih awal, hari ahad 10 Juli 2005 tidak berlangsung lagi pertemuan itu. Meskipun demikian bukan berarti masalahnya selesai.

Jumat berikutnya, 15 Juli 2005, massa umat Islam dari 2 kecamatan sejumlah 5000-an orang mengepung kembali kampus Mubarok pusat Ahmadiyah, ba’da Jumat. Aksi ini dipimpin Habib Abdurrahman, diberi aba-aba jangan sampai merusak. Pimpinan itu menegaskan, kalau sampai jam 4 sore kampus itu tidak ditutup oleh pemerintah, maka massa tidak akan membubarkan diri. Akhirnya pihak Pemda Bogor disertai DPRD dan pihak keamanan mengumumkan ditutupnya kampus Mubarok Pusat Ahmadiyah di Parung Bogor ini. Dengan serempak para petugas keamanan merubuhkan plang-plang Ahmadiyah yang bediri di depan kampus Ahmadiyah ini. Kemudian massa pun membubarkan diri di saat hujan mengguyur saat itu. Jema’at Ahmadiyah yang berada di dalam kampus Mubarok ini dievakuasi dengan 4 bus dan 4 truk polisi. Di dalam kampus Mubarok Pusat Ahmadiyah ini terdapat senjata-senjata tajam. Menurut Koran Pos Metro, orang-orang Ahmadiyah yang telah dinyatakan sesat menyesatkan oleh MUI ini akan membantai umat Islam yang berdemo, namun karena kalah banyak jumlah massanya, maka tidak berani. Pos Metro menulis dengan judul Puluhan Senjata Ditemukan dalam Markas Aliran Sesat Ahmadiyah Parung. Di antara isi beritanya ketika terjadi pembubaran Ahmadiyah di Parung sebagai berikut:

…Sedangkan suasana dalam Gedung Tabligh Center Jemaat JAI (Jemaat Ahmadiyah Indonesia) yang terletak persis di tengah kampus, terlihat berantakan. Buku-buku, poster, batu kerikil, kelereng dan puluhan senjata tajam berupa pedang, clurit, pisau dan besi runcing masih berserakan.

Senjata-senjata itu menurut informasi sengaja ditimbun aliran sesat JAI. Senjata itu hendak digunakan untuk membantai warga yang mendemo markas JAI. Namun karena jumlah massa yang berdemo lebih banyak dan polisi lebih dulu mendatangi kampus, senjata itu tak jadi digunakan. (Pos Metro, Minggu 17 Juli 2005).

Ahmadiyah Dilarang di Berbagai Daerah

Di beberapa daerah, ajaran dan kegiatan Ahmadiyah telah dilarang, yaitu:

a. Kabupaten Subang (Jawa Barat) berdasarkan SK Kajari Subang No Kep. 01/1.2. JBK-1.312/PAKEM/3/1976 tanggal 8 Maret 1976.

b. Propinsi Sulawesi Selatan berdasarkan SK Kajati Sulsel No. Kep. –02/K.1.1/3/1977 tanggal 21 Maret 1977.

c. Kabupaten Lombok Timur (NTB) berdasarkan SK Kajari Selong No. Kep. –11/IPK.32.2/1-2-III.3/11/1985 tanggal 21 November 1985.

d. Kabupaten Sidenreng Rappang (Sulsel) berdasarkan SK. Kajari Sidenreng Rappang No. Kep.-172/N.3.16.3/ Dsk.3/2/1986 tanggal 25 Februari 1986.

e. Kabupaten Kerinci (Jambi) berdasarkan SK Kajari Sungai Penuh No. Kep. –01/ J.5.12.3 /Dks.4/4/1989 tanggal 1 April 1989.

f. Kabupaten Tarakan Kaltim berdasarkan SK Kajari Tarakan No. Kep. -11/M-4-12.3/Dks.3/12/1989 tanggal 11 Desember 1989.

g. Kabupaten Aceh Barat (DI Aceh) berdasarkan SK Kajari Meulaboh No Kep.-002/J-1.13/Dks.3/10/1990 tanggal 29 Oktober 1990.

h. Propinsi Sumatera Utara berdasarkan SK Kajati Sumut No, Kep. -07/0.2/Dsb.1/2/1994 tanggal 12 Februari 1994.

MUI dan Ormas Islam Desak Pelarangan Ahmadiyah Secara Nasional

Aliran sesat Ahmadiyah sudah banyak dilarang secara lokal/daerah, tetapi belum secara nasional. LPPI dan Majelis Ulama Indonesia serta organisasi-organisasi Islam tingkat pusat sudah mengirim surat kepada pemerintah cq. Kejaksaan Agung RI tapi belum berhasil dan masih memerlukan perjuangan yang lebih intensif lagi.

1. Surat dari Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) Nomor : 035/LPPI/6/1994 tanggal 10 Juni 1994, pada prinsipnya mengusulkan agar Jemaat Ahmadiyah Indonesia dilarang secara nasional.

2. Forum Ukhuwah Islamiyah Indonesia (FUUI) yang terdiri atas organisasi-organisasi Islam dalam lingkup nasional diantaranya Persatuan Islam (PERSIS), Muhammadiyah, Nadhlatul Ulama, Ittihadul Muballighin, Syarikat Islam (SI), Al-Irsyad Al-Islamiyah, Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) serta Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), dengan suratnya Nomor: 16/FUUI/X/94 tanggal 20 Oktober 1994, berkesimpulan sebagai berikut:

a. Ajaran dan faham Ahmadiyah tentang kenabian dan kerasulan Mirza Ghulam Ahmad adalah sudah keluar dari akidah Islamnya, dan karenanya sesat dan menyesatkan.

b. Ajaran dan faham Ahmadiyah ditemukan dalam berbagai kitab/terbitan Ahmadiyah ; di antara isinya menodai kitab suci Al-Quran dengan cara memberi tafsiran dan memutar balikkan serta menyisipkan di dalam kitab/buku tersebut kata-kata yang bukan Al-Quran sebagaimana terdapat dalam kitab “Tadzkirah, Haqiqatul Wahyi dan Al-Istifta serta kitab/buku lainnya”.

Dan meminta agar Jaksa Agung RI melarang kegiatan dan penyebaran ajaran Ahmadiyah dan kitab suci Tadzkirah di seluruh wilayah hukum Indonesia.

Kalau ditelusuri ternyata sudah ada keputusan untuk melarang Ahmadiyah (Qodiyan dan Lahore) secara nasional tahun 1996, namun ditunda saat pelarangannya setelah pemilu (pemilihan Umum) 1997. Sampai pemilu telah selesai pun belum ada pelarangan, maka menurut sumber, MUI mengirimkan surat kepada Jaksa Agung RI, 6 Mei 1998, untuk melaksanakan keputusan 31 Oktober 1996 tentang pelarangan Ahmadiyah (Qodiyan dan Lahore) secara nasional.

sumber : http://www.nahimunkar.com/?p=50#more-50

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Posted in Uncategorized | 2 Comments »

Akibat Pelarangan Ahmadiyah Ditunda-tunda

Posted by musliminsuffer on May 7, 2008

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

Akibat Pelarangan Ahmadiyah Ditunda-tunda

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Sebenarnya sudah ada keputusan untuk melarang Ahmadiyah (Qodiyan dan Lahore) secara nasional tahun 1996, namun ditunda saat pelarangannya setelah pemilu (pemilihan Umum) 1997. Sampai pemilu telah selesai pun belum ada pelarangan, maka menurut sumber, MUI mengirimkan surat kepada Jaksa Agung RI, 6 Mei 1998, untuk melaksanakan keputusan 31 Oktober 1996 tentang pelarangan Ahmadiyah (Qodiyan dan Lahore) secara nasional.

Selama 12 tahun setelah adanya keputusan pelarangan Ahmadiyah (Qodiyan dan Lahore) secara nasional –tetapi kenyataannya tidak dilaksanakan dan yang dilaksanakan barulah penundaan keputusan itu, dari setahun menjadi bertahun-tahun; entah sudah berapa kali terjadi kasus bentrokan. Kasus-kasus itu kemudian menjadi amunisi bagi orang-orang tertentu untuk mengecam-ngecam umat Islam dengan garangnya.

Ada yang menulis dengan ngawur-ngawuran, misalnya Professor Ahmad Syafii Maarif dengan judul Kekerasan Atas Nama Agama (Republika Selasa 29 April 2008 halaman 12). Bekas ketua umum Muhammadiyah ini tanpa ilmu hadits sama sekali namun berani menulis: “jika Isa masih harus turun kembali, berarti misi Muhammad gagal.”

Ahmad Syafii Maarif perlu pula membaca hadits, di antaranya:


93
حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَكَمًا مُقْسِطًا فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ وَيَفِيضُ الْمَالُ حَتَّى لَا يَقْبَلَهُ أَحَدٌ *

93 Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Demi Allah! Sesungguhnya telah hampir masanya Nabi Isa bin Mariam turun kepada kamu untuk menjadi hakim secara adil. Dia akan mematahkan salib, membunuh babi serta tidak menerima cukai dan harta akan melimpah, sehinggalah tidak ada seorang pun yang ingin menerimanya * (Hadits Muttafaq ‘alaih).

Hadits-hadits tentang turunnya Nabi Isa ‘alaihis salam ini menurut ahli Hadits seperti Al-Albani, tingkatnya mutawatir. Kenapa Ahmad Syafii Maarif membantahnya tanpa dilandasi ilmu, cukup mengatakan: “jika Isa masih harus turun kembali, berarti misi Muhammad gagal.”

Klaim Ahmadiyah mengenai Isa alaihis salam yang dikaitkan dengan Mirza Ghulam Ahmad memang dusta, tetapi tidak berarti kita perlu membatalkan hadits, apalagi tanpa ilmu. Tulisan tanpa ilmu ini intinya pun membela Ahmadiyah, dianggapnya mereka itu dizalimi, dan seolah secara implicit dianggap sebagai masih tunduk pada UUD (Undang-undang Dasar). Di situlah curangnya Ahmad Syafii Maarif, tidak mau melihat bahwa Ahmadiyah itu telah menodai kitab suci Umat Islam namun mengaku Islam, sedang orang Muslim malah dinyatakan kafir lagi musuh. Lihat pernyataan Ahmadiyah:

Ketika Pahlawan Agama – Rasul Akhir Zaman tersebut datang (Hz. Mirza Ghulam Ahmad a.s.), tiba-tiba kaum-kaum yang tadinya saling mengkafirkan antara satu sama lainnyatiba-tiba bersatu kembali dan serempak memalingkan seluruh perhatian dan daya upayanya menyerang Pendiri Jemaat Ahmadiyah yang datang untuk memutuskan perselisihan mereka.

Benarlah Firman Allah subhanahu wata’ala: “Dan secara demikian telah Kami jadikan musuh bagi setiap nabi, orang-orang durhaka diantara manusia dan jin. Sebagian mereka membisikan kepada sebagian lainnya perkataan yang dibuat-buat untuk menipu; dan jika dikehendaki Tuhan engkau, sekali-kali mereka tidak akan mengerjakannya; maka biarkanlah mereka dengan apa yang mereka ada-adakan” (Al An’am, 113). (Majalah Bulanan resmi Ahmadiyah “Sinar Islam” edisi 1 September 1986 (Tabuk 1365 HS) Halaman 41.

Itulah contoh menodai agama Islam dengan cara membajak Al-Qur’an namun untuk mengkafirkan umat Islam sekaligus mengangkat Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi. Apakah itu tidak melanggar UUD, wahai Tuan Ahmad Syafii Maarif?

Yang tak kalah memalukannya, dalam kasus Ahmadiyah ini, tulisan A Mustofa Bisri yang dikenal sebagai mertua dedengkot JIL Ulil Abshar Abdalla. Mustofa Bisri menulis:

Yang Sesat dan Yang Ngamuk Oleh A. Mustofa Bisri

Karena melihat sepotong, tidak sejak awal, saya mengira massa yang ditayangkan TV itu adalah orang-orang yang sedang kesurupan masal. Soalnya, mereka seperti kalap. Ternyata, menurut istri saya yang menonton tayangan berita sejak awal, mereka itu adalah orang-orang yang ngamuk terhadap kelompok Ahmadiyah yang dinyatakan sesat oleh MUI.

Saya sendiri tidak mengerti kenapa orang -yang dinyatakan- sesat harus diamuk seperti itu? Ibaratnya, ada orang Semarang bertujuan ke Jakarta, tapi ternyata tersesat ke Surabaya, masak kita -yang tahu bahwa orang itu sesat- menempelenginya. Aneh dan lucu. (Indo Pos, Rabu, 23 April 2008)

Betapa anehnya A Mustofa Bisri yang dikenal sebagai tokoh atau bahkan kiyai di NU -Nahdlatul Ulama ini, membandingkan Ahmadiyah yang menjadi pengikut nabi palsu dan menodai Al-Qur’an, mengkafirkan dan menyatakan musuh terhadap semua yang bukan pengikut Ahmadiyah; kok diibaratkan orang yang tersesat jalan.

Kalau membela itu mestinya membela yang benar. Ini sudah membela yang sesat, masih pula memakai pemikiran yang membabi buta.

Apakah mereka itu sudah tidak punya malu ya? Yang satu membantah sabda Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wasallam tanpa ilmu. Ditambah lagi dengan menyembunyikan dosa, dusta, dan penodaan Ahmadiyah terhadap Islam, sekaligus membelanya sebagai orang-orang yang dizalimi.

Yang satunya lagi membela Ahmadiyah dengan alasan yang direka-reka, tanpa ada juntrungannya.

Makin lama keputusan larangan itu tidak dikeluar-keluarkan dan tak dilaksana-laksanakan, makin bertambah pula masalah.

sumber : http://www.nahimunkar.com/?p=47#more-47

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Ngawurnya A. Mustofa Bisri dalam Membela Ahmadiyah

Posted by musliminsuffer on May 7, 2008

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

Ngawurnya A. Mustofa Bisri

dalam Membela Ahmadiyah

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Masih ingat pembela goyang ngebor Inul Daratista? Pembelanya banyak, tetapi yang khas membela dengan lukisan yang melecehkan dzikir, berjudul Dzikir Bersama Inul, itu hanya satu, yakni A. Mustofa Bisri.

Kemudian di saat kaum sepilis (sekulerisme, pluralisme agama, dan liberalisme) disengat MUI dengan fatwanya tentang haramnya sepilis itu dalam Munas VII di Jakarta, Juli 2005, muncul pula A. Mustofa Bisra mertua dedengkot JIL Ulil Abshar Abdalla ini dengan suara aneh, membela sepilis dan menghantam fatwa MUI.

Belakangan di saat gonjang-ganjing Ahmadiyah yang direkomendasikan Bakor Pakem Kejagung pada 16 April 2008 agar Ahmadiyah menghentikan kegiatannya karena terbukti menyimpang dari pokok-pokok agama Islam, maka A. Mustofa Bisri pun bertandang untuk membela Ahmadiyah.

Berikut ini saya kutip tulisan A. Mustofa Bisri yang dimuat Koran Indo Pos, Rabu, 23 April 2008 berjudul Yang Sesat dan Yang Ngamuk. Kutipan ini satu persatu saya tanggapi atau saya komentari.

Kutipan:

Yang Sesat dan Yang Ngamuk

Oleh A. Mustofa Bisri

Karena melihat sepotong, tidak sejak awal, saya mengira massa yang ditayangkan TV itu adalah orang-orang yang sedang kesurupan masal. Soalnya, mereka seperti kalap. Ternyata, menurut istri saya yang menonton tayangan berita sejak awal, mereka itu adalah orang-orang yang ngamuk terhadap kelompok Ahmadiyah yang dinyatakan sesat oleh MUI.

Saya sendiri tidak mengerti kenapa orang -yang dinyatakan- sesat harus diamuk seperti itu? Ibaratnya, ada orang Semarang bertujuan ke Jakarta, tapi ternyata tersesat ke Surabaya, masak kita -yang tahu bahwa orang itu sesat- menempelenginya. Aneh dan lucu.

Komentar kami:

Kyai NU yang mertua Ulil Abshar Abdalla ini tidak dapat membedakan antara yang tersesat di jalan dengan Ahmadiyah yang sesat karena mengikuti nabi palsu dan memiliki kitab suci sendiri, Tadzkirah, serta mempunyai tanah suci sendiri yaitu Qadyan dan Rabwah, namun justru mereka mengklaim bahwa itu yang benar Islamnya, dan yang lain kafir lagi musuh; serta kesesatannya itu disebarkan untuk membujuk manusia agar ikut sesat, sebagaimana syetan membujuk manusia agar sesat dan kelak menjadi temannya di neraka.

Jadi masalahnya, kalau mau diibaratkan, mereka membuat plang petunjuk jalan dan dipasang agar orang mengikuti, namun plang itu menyesatkan (misalnya dari Semarang ke Surabaya mestinya ke timur, tapi malah ke barat, maka menyesatkan; bukannya sampai Surabaya tapi malah ke Jakarta); maka wajar kalau plang yang menyesatkan itu dirusak orang, agar tidak menyesatkan. Selama plang itu masih dipasang maka tetap akan menyesatkan orang, merugikan banyak orang. Bila kita tahu tetapi diam saja, maka berarti ikut merugikan banyak orang. Maka yang aneh justru orang yang mendukung adanya plang yang menyesatkan itu tetap dipasang dan tidak boleh dirusak. Lebih buruk lagi, sudah mendukung yang menyesatkan itu, masih mengecam orang yang ingin memberantas kesesatan. Betapa buruknya itu, namun anehnya justru bangga dengan keburukannya hingga mengecam orang lain sambil mengajak ke jalannya yang buruk itu.

Kutipan:

Konon orang-orang yang ngamuk itu adalah orang-orang Indonesia yang beragama Islam. Artinya, orang-orang yang berketuhanan Allah Yang Mahaesa dan berkemanusiaan adil dan beradab. Kita lihat imam-imam mereka yang beragitasi dengan garang di layar kaca itu kebanyakan mengenakan busana Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam.

Kalau benar mereka orang-orang Islam pengikut Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam, mengapa mereka tampil begitu sangar, mirip preman? Seolah-olah mereka tidak mengenal pemimpin agung mereka, Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam.

Kalau massa yang hanya makmum, itu masih bisa dimengerti. Mereka hanyalah mengikuti telunjuk imam-imam mereka. Tapi, masak imam-imam -yang mengaku pembela Islam itu- tidak mengerti misi dan ciri Islam yang rahmatan lil ‘aalamiin, tidak hanya rahmatan lithaaifah makhshuushah (golongan sendiri). Masak mereka tidak tahu bahwa pemimpin agung Islam, Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam, adalah pemimpin yang akhlaknya paling mulia dan diutus Allah untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Masak mereka tidak pernah membaca, misalnya ayat Ya ayyuhalladziina aamanuu kuunuu qawwamiina lillah syuhadaa-a bilqisthi…al-aayah_ (Q.S 5: 8). Artinya, wahai orang-orang yang beriman jadilah kamu penegak-penegak kebenaran karena Allah dan saksi-saksi yang adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu kepada suatu kaum menyeret kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah; adil itu lebih dekat kepada takwa. Takwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kau kerjakan.

Komentar:

Gambaran sangar, tidak berlaku adil dan semacamnya serta perilaku itu dinisbatkan kepada umat Islam dan imam-imamnya, itu juga belum menunjukkan sikap yang adil. Sikap yang adil adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya. Untuk itu harus diketahui lebih dulu duduk soalnya, dan siapa mereka itu, baik yang melakukan apa yang disebut mengamuk maupun yang sesat dalam kasus ini Ahmadiyah. Lha kalau melihat televise berupa gambar sepotong pada buntutnya, lalu bertanya kepada isterinya yang menonton tayangan berita tivi itu dari semula, lalu menulis kecaman ini dan itu; apa itu adil? Padahal yang namanya berita di leveisi itu sendiri untuk dijadikan landasan atau sumber untuk mengomentari suatu peristiwa, dalam kasus ini justru yang dikomentari bahkan dikecam adalah umat Islam, perlu ditelusuri dulu; seberapa akurasi berita itu dalam hal menayangkan kejadian sebenarnya. Ketika melihat berita sepenuhnya di televise itupun belum tentu kita dapat langsung melontarkan komentar dengan ditulis panjang lebar apalagi kecaman. Karena berita itu sendiri juga tidak sepi dari aneka hal yang melingkupi, termasuk belum tentu akurat, dan ada maksud-maksud tertentu, misalnya dalam rangka membela Ahmadiyah. Sehingga sangat tidak adil ketika Tuan A Mustofa Bisri begitu bersemangatnya untuk menulis kecaman hanya berlandaskan sepotong tayangan televise (entah televise mana, tanggal berapa jam berapa, kasus di mana) lalu bertanya kepada isterinya yang menonton berita tivi itu sejak awal.

Menyuruh orang lain agar adil, bahkan mengecamnya, namun tidak menyadari kepada dirinya sendiri apakah memang sudah adil, itu justru lebih baik diam, karena tidak akan menjatuhkan kedzaliman kepada orang lain. Menimpakan ayat untuk orang lain tetapi untuk dirinya sendiri dilupakan, itu justru telah dikecam oleh Allah subhanahu wata’ala, yang dilontarkan kepada orang-orang yang sudah dikenal licik yaitu kaum Yahudi:

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ(44)

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?” (QS Al-Baqarah: 44).

Bagaimana pula kalau memang mereka yang mengamuk itu hanya merupakan akibat dari suatu sebab yang sebabnya itu sendiri tidak ditayangkan dalam berita tivi yang memang biasanya mengejar batasan waktu yang sangat singkat? Padahal kalau Tuan A Mustofa Bisri mau membaca tentang kejahatan-kejahatan Ahmadiyah terhadap Islam, di antaranya memalsu kenabian, memutar balikkan dan membajak-bajak kitab suci Al-Qur’an; maka seharusnya muncul ghirah Islamiyahnya, kalau memang masih hidup ghirah Islamiyah itu, akibat Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam dan kitab suci Al-Qur’an dipalsu dan dibajak oleh Mirza Ghulam Ahmad.

Coba dibandingkan, mana yang lebih dulu menjahati dan buruk perlakuannya: Ahmadiyah yang memalsu kenabian dan memalsu kitab suci Al-Quran, membajaknya dan memutarbalikkanya itu, ataukah tiba-tiba orang yang Tuan kecam sebagai sangar itu tanpa ada sebab ini dan itu langsung mengamuk? Dan mana yang lebih berharga, Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam yang dipalsu serta kitab suci Al-Qur’an yang dibajak atau tempat “ibadah” pemalsu dan pembajak yang diamuk orang itu?

Coba, sudah adilkah Tuan dalam bersikap?

Kenapa kejahatan Ahmadiyah yang sangat tinggi Tuan sembunyikan, sedang kejahatan yang hanya sebagai akibat dan tingkatnya tidak sebanding dengan penyebabnya, justru Tuan kecam lebih dulu sambil seolah tak ada masalah tentang kejahatan Ahmadiyah? Ada apa sebenarnya.

Kutipan:

Apakah mereka tidak pernah membaca kelembutan dan kelapangdadaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam atau membaca firman Allah kepada beliau, wabimaa rahmatin minallahi linta lahum walau kunta fazhzhan ghaliizhal qalbi lanfaddhuu min haulika... al-aayah_ (Q.S 3: 159). Artinya, maka disebabkan rahmat dari Allah-lah engkau berperangai lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau kasar dan berhati kejam, niscaya mereka akan lari menjauhimu…_

Komentar:

Ayat lain juga perlu Tuan baca. Fatwa ulama juga perlu Tuan baca. Ahmadiyah (baik Qadyan maupun Lahore) itu telah dinyatakan kafir oleh Mujamma’ al-Fiqh Al-Islami (Akademi Fiqh Islam) Organisasi Konferensi Islam . Teks Keputusannya sebagai berikut:

إِنَّ مَاادَّعَاهُ مِيرْزَا غُلاَم أَحْمَد مِنَ النُّبُوَّةِ وّالرِّسَالَةِ وَنُزُوْلِ الْوَحْيِ عَلَيْهِ إِنْكَارٌ صَرِيْحٌ لِمَا ثَبَتَ مِنَ الدِّيْنِ بِالضَّرُوْرَةِ ثُبُوْتًا قَطْعِيًّا يَقِيْنِيًّا مِنْ خَتْمِ الرِّسَالَةِ وَالنُّبُوَّةِ بِسَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، وَأَنَّهُ لاَيَنْزِلُ وَحْيٌ عَلَى أَحَدٍ بَعْدَهُ، وَهذِهِ الدَّعْوَى مِنْ مِيرْزَا غُلاَم أَحْمَدَ تَجْعَلُهُ وَسَائِرَ مَنْ يُوَافِقُوْنَهُ عَلَيْهَا مُرْتَدِّيْنَ خَارِجِيْنَ عَنِ اْلإِسْلاَمِ، وَأَمَّا الَّلاهُوْرِيَّةُ فَإِنَّهُمْ كَالْقَادِيَانِيَّةِ فِي الْحُكْمِ عَلَيْهِمْ بِالرِّدَّةِ، بِالرَّغْمِ مِنْ وَصْفِهِمْ مِيرْزَا غُلاَم أَحْمَدَ بِأَنَّهُ ظِلٌّ وِبُرُوْزٌ لِنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ.

Sesungguhnya apa yang diklaim Mirza Ghulam Ahmad tentang kenabian dirinya, tentang risalah yang diembannya dan tentang turunnya wahyu kepada dirinya adalah sebuah pengingkaran yang tegas terhadap ajaran agama yang sudah diketahui kebenarannya secara qath’i (pasti) dan meyakinkan dalam ajaran Islam, yaitu bahwa Muhammad Rasulullah adalah Nabi dan Rasul terakhir dan tidak akan ada lagi wahyu yang akan diturunkan kepada seorangpun setelah itu. Keyakinan seperti yang diajarkan Mirza Ghulam Ahmad tersebut membuat dia sendiri dan pegikutnya menjadi murtad, keluar dari agama Islam. Aliran Qadyaniyah dan Aliran Lahoriyah adalah sama, meskipun aliran yang disebut terakhir (Lahoriyah) meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad hanyalah sebagai bayang-bayang dan perpanjangan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam “. (Keputusan Mujamma’ al-Fiqh al-Islami –Akademi Fiqih Islam– Organisasi Konferensi Islam (OKI) Nomor 4 (4/2) dalam Muktamar II di Jeddah, Arab Saudi, pada tanggal 10-16 Rabi’ al-Tsani 1406 H / 22-28 Desember 1985 M).

Orang kafir itu satu sama lain berteman, bantu membantu atau bela membela. Allah swt berfirman:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ(73)

Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (Qs Al-Anfaal: 73).

Ketika sudah diingatkan bahwa orang kafir itu satu sama lain saling melindungi, sedang Ahmadiyah termasuk kafir, maka sebagai orang Islam mestinya Tuan A Mustofa Bisri paling kurang adalah menyelamatkan diri lebih dulu jangan sampai kecemplung dalam lingkaran yang termasuk melindungi Ahmadiyah alias melindungi orang kafir sebagaimana para kafirin melindunginya. Kalau sudah selamat dari itu, kemudian betapa bagusnya kalau menuntun umat ini agar menyikapi masalah itu sebaik-baiknya. Bagaimana agar terwujud masyarakat yang sesuai dengan yang disifati dengan baik oleh Allah subhanahu wata’ala:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا(29)

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku` dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS Al-Fat-h: 29).

Kutipan:

Tak Mengerti

Sungguh saya tidak mengerti jalan pikiran atau apa yang merasuki pikiran mereka sehingga mereka tidak mampu bersikap tawaduk penuh pengayoman seperti dicontoh-ajarkan Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam di saat menang. Atau, sekadar membayangkan bagaimana seandainya mereka yang merupakan pihak minoritas (kalah) dan kelompok yang mereka hujat berlebihan itu mayoritas (menang).

Sebagai kelompok mayoritas, mereka tampak sekali -seperti kata orang Jawa- tidak tepa salira. Apakah mereka mengira bahwa Allah senang dengan orang-orang yang tidak tepo saliro, tidak menenggang rasa? Yang jelas Allah, menurut Rasul-Nya, tidak akan merahmati mereka yang tidak berbelas kasihan kepada orang.

Saya heran mengapa ada -atau malah tidak sedikit- orang yang sudah dianggap atau menganggap diri pemimpin bahkan pembela Islam, tapi berperilaku kasar dan pemarah. Tidak mencontoh kearifan dan kelembutan Sang Rasul, pembawa Islam itu sendiri. Mereka malah mencontoh dan menyugesti kebencian terhadap mereka yang dianggap sesat.

Apakah mereka ingin meniadakan ayat dakwah? Ataukah, mereka memahami dakwah sebagai hanya ajakan kepada mereka yang tidak sesat saja?

Atau? Kelihatannya kok tidak mungkin kalau mereka sengaja berniat membantu menciptakan citra Islam sebagai agama yang kejam dan ganas seperti yang diinginkan orang-orang bodoh di luar sana. Tapi…

*A. Mustofa Bisri, pengasuh Pesantren Roudlatut Thalibin, Rembang

(Indo Pos, Rabu, 23 April 2008)

Komentar:

Ada hal-hal yang belum jelas, namun kemudian dikomentari dengan ketidak mengertian pula. Siapa pelaku-pelaku itu belum jelas, sudah dilontari bahwa itu orang Islam dan imam-iamamnya. Padahal di Indonesia yang orang Muslimnya 200-an juta orang ini tidak dapat langsung disebut orang Islam dengan imam-imamnya. Tempatnya di mana, dalam keadaan bagaimana dan penyebabnya apa, itu semua harus jelas.

Dalam ketidak jelasan itu kemudian dilontarkan tanda tanya- tanda tanya yang tidak jelas pula. Lalu dikaitkan dengan pengandaian mayoritas- minoritas, kalah-menang, dan dakwah. Masalahnya lebih tidak jelas lagi.

Yang namanya kebenaran itu tidak tergantung dengan mayoritas dan minoritas. Demikian pula kejahatan dan kesesatan, sekalipun Ahmadiyah itu minoritas, maka kejahatan (memalsu kenabian dan membajak-bajak Al-Qur’an dan merusak aqidah Islam) tetap merupakan kejahatan yang amat besar.

Apakah karena mereka minoritas, kemudian tidak boleh diberantas kejahatannya? Apakah ada orang Ahmadiyah yang ditelanjangi lalu disunduti api seluruh tubuhnya? Dan kalau ada, apakah sudah dtelusuri siapa pelakunya dan apa sebabnya serta apa maksud di balik itu dan aneka rangkaiannya?

Sebenarnya justru kekerasan lewat kata-kata yang ditulis secara serampangan oleh Tuan A Mustofa Bisri itu lebih keras ketimbang perilaku mereka yang Tuan A Mustofa Bisri kecam itu. Karena skalanya hanya terbatas, dan sudah jelas sasarannya yaitu benda orang Ahmadiyah di tempat tertentu, yang Ahmadiyah itu sendiri kejahatannya dalam agama sudah jelas. Sementara itu kecaman Tuan A Mustofa Bisri ini melontar tak keruan ke mana-mana, skalanya tak terbatas, sasarannya pun melebar luas, tidak ditujukan kepada orang-orang tertentu secara terbatas.

Seandainya niatnya untuk memperbaiki umat Islam, tampaknya niat itu tinggal niat. Dan seandainya ada maksud-maksud lain, Allah lah yang lebih tahu.

Yang jelas lontaran yang ditulisnya itu bukan pula sikap tawadhu’ seperti yang dia sendiri sarankan, karena sasarannya tidak terbatas dan masalahnya pun belum jelas. Adapun sikap adil yang sejak awal dia sarankan, justru dari awal pula telah dia langgar. Maka benarlah nasihat nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam:

30 حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

30 Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, maka hendaklah dia berkata hanya perkara yang baik atau diam_ (HR Muttafaq ‘alaih).

Untuk mendapatkan gambaran bagaimana sikap A Mustofa Bisri dalam menghadapi masalah yang berkaitan dengan Islam, mari kita tengok di antara ungkapan A Mustafa Bisri ketika diwawancarai untuk menanggapi sebelas fatwa hasil Munas VII Majelis Ulama Indonesia (MUI) akhir bulan Juli 2005:

Bagaimana pandangan Anda tentang haramnya pluralisme, liberalisme, dan

sekularisme agama?

Paham itu kan gagasan (ide) dan isme itu pemikiran. Saya kira,

menghukumi pemikiran, selain tidak lazim, juga sia-sia. Itu sama saja dengan

melarang orang berpikir. Mestinya, pemikiran harus dilawan dengan

pemikiran juga. Kecuali bila pemikiran itu diejawantahkan dalam tindakan yang

merusak dan merugikan orang banyak. Kalau sudah demikian, yang

berwenang mengambil tindakan adalah pemerintah.

Jadi, kalau pemikirannya sendiri, gagasan-gagasan, tidak bisa

diharamkan. Kalau Sampean punya gagasan akan menzinahi bintang film, ia baru

haram kalau Anda laksanakan. Kalau masih gagasan, tidak apa-apa. (Novriantoni

dari Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) mewawancarai pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang, KH Mustofa Bisri, Kamis (4 Agustus 2005) lalu mengenai dampak fatwa itu).

Itulah ungkapan A Mustofa Bisri, dalam rangka membela sepilis (sekulerisme, pluralisme agama, dan liberalisme) dia berani berkata:

Kalau Sampean punya gagasan akan menzinahi bintang film, ia baru haram kalau Anda laksanakan. Kalau masih gagasan, tidak apa-apa.

Perkataan A Mustofa Bisri itu coba kita bandingkan dengan sabda Nabi shallallahu ‘alahi wasallam :

1550 حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنَ الزِّنَا أَدْرَكَ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ فَزِنَا الْعَيْنَيْنِ النَّظَرُ وَزِنَا اللِّسَانِ النُّطْقُ وَالنَّفْسُ تَمَنَّى وَتَشْتَهِي وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ *

1550 Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Nabi shallallahu ‘alahi wasallam bersabda: Allah subhanahu wata’ala telah mencatat bahwa anak Adam cenderung terhadap perbuatan zina. Keinginan tersebut tidak dapat dielakkan lagi, di mana dia akan melakukan zina mata dalam bentuk pandangan, zina mulut dalam bentuk pertuturan, zina perasaan yaitu bercita-cita dan berkeinginan mendapatkannya manakala kemaluanlah yang menentukannya berlaku atau tidak * (Muttafaq ‘alaih).

Dari hadits yang shahih ini maka benarlah sabda Nabi saw, dan dustalah A Mustafa Bisri yang berani mengatakan: “Kalau Sampean punya gagasan akan menzinahi bintang film, ia baru haram kalau Anda laksanakan. Kalau masih gagasan, tidak apa-apa.”

Kalau dia mau berfikir sedikit saja, tentu akan tahu. Misalnya orang menulis-nulis atau menyiarkan kepada umum bahwa mencuri harta orang ataupun isteri orang itu boleh-boleh saja. Karena harta dan wanita itu ibarat air dan rumput, siapa saja boleh mengambil dan menggunakannya. Gagasan yang disiarkan kepada umum seperti itu apakah tidak apa-apa selagi belum dipraktekkan? Apakah itu tidak boleh dihukumi haram, tidak boleh dilarang karena baru berupa gagasan yang diedarkan, belum dilaksanakan? Apakah baru salah ketika dilaksanakan dengan menzinai isteri Tuan? Kalau baru gagasan berupa bujukan untuk menzinai isteri Tuan, maka walau disiarkan bolehnya menzinai, tidak Tuan apa-apakan, asal tidak dilakukan zina betulan, baru penyebaran bolehnya dizinai?

Yang dilakukan kaum sepilis bukan sekadar gagasan terpendam dalam batin yang tak dikeluarkan dan tak disiarkan. Tetapi adalah gagasan-gagasan busuk yang menjeru-muskan dan merusak aqidah Islam diwujudkan dalam propaganda yang luar biasa lewat aneka sarana.

Perkataan dusta A Mustofa Bisri (Kalau Sampean punya gagasan akan menzinahi bintang film, ia baru haram kalau Anda laksanakan. Kalau masih gagasan, tidak apa-apa.”) itupun masih pula untuk menohok fatwa MUI yang mengharamkan sepilis (sekulerisme, pluralisme agama, dan liberalisme) demi membela sepilis yang merusak aqidah Islam itu.

Rupanya bukan hanya angan-angannya yang jorok, namun angan-angan itupun diwujudkan dengan nyata yaitu membela Inul Daratista yang dipersoalkan umat karena ulahnya yang erotis, yaitu yang disebut joget goyang ngebor. Pembelaan A Mustofa Bisri itu diujudkan dengan membuat lukisan dinamai BERZIKIR BERSAMA INUL, sebuah bentuk pembelaannya atas GOYANG NGEBOR INUL. Yaitu lukisan perempuan berjoget goyang-goyang dengan menonjolkan (maaf) pantatnya di tengah lingkaran lelaki yang berdzikir.

Demikianlah adanya. Ahmadiyah dibela, sepilis pun dibela, goyang maksiat juga dibela, sedang fatwa MUI dibantah-bantah sekenanya. Pemimpin pesantren kok seperti itu lakonnya. Mudah-mudahan saja lekas sadar.

sumber : http://www.nahimunkar.com/?p=49#more-49

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Langkah-langkah “Perjuangan” Seorang Profesor Pendukung Kesesatan

Posted by musliminsuffer on May 7, 2008

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

Langkah-langkah “Perjuangan”

Seorang Profesor Pendukung Kesesatan

Seorang profesor yang sudah cukup tua tampak turun gunung. Itu pertanda suasana agak gawat. Kalau beliau tidak turun tangan maka akan dianggap tidak mau cawe-cawe (berpartisipasi). Maka dia keluarkanlah jurus-jurusnya, baik lewat televisi maupun majalah, untuk membela “”cucunya”” (Ulil Abshar Abdalla kordinator JIL/ Jaringan Islam Liberal) yang akan dipites[1] orang gara-gara tulisannya (di koran Katolik, Kompas, 18 November 2002, berjudul “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam”) yang lancang dan mengusik kebenaran Islam.

Sang Profesor berupaya keras untuk meyakinkan khalayak ramai bahwa ‘”cucunya”‘ tidak bersalah, hanya beda pendapat belaka, dan itu sah-sah saja. Untuk membela “cucunya” itu dia tuding orang yang mau memites “cucunya” itu sebagai kelompok Islam radikal, garis keras, ekstrem, fundamentalis, militan, bahkan dia ambil pula istilah dari orang walan tardho yaitu skripturalis yang artinya injili.

Dia katakan, kelompok Islam fundamentalis itu ingin melaksanakan “hukum Tuhan”[2], termasuk hukum potong tangan bagi pencuri, rajam bagi pezina, atau qishash bagi pembunuh. Sementara itu cucu dia yang tergabung dalam Islam Liberal berani menafikan hukum Tuhan itu. Maka akan dipites orang. Tentu saja Sang Profesor perlu turun gunung membelanya.

Dalam hal bela membela, Sang Profesor ini memang sudah banyak pengalamannya.

1. Ketika Pak Munawir Sjadzali (Menteri Agama 1983-1993) melontarkan gagasan reaktualisasi ajaran Islam dengan mengemukakan bahwa hukum waris Islam tidak adil, dan Pak Munawir berpidato di IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Syarif Hidayatullah Jakarta bahwa ada beberapa ayat Al-Qur’an yang kini tidak relevan lagi; maka Sang Profesor membela Pak Munawir. Sang Profesor berpidato di hadapan 200-an ahli syari’at di Kaliurang Jogjakarta. Lalu dengan ilmu sebatas kemampuannya, Sang Profesor ingin membela gagasan Pak Munawir. Kata Sang Profesor, kalau bagian warisan itu lelaki dua kali lipat bagian perempuan, maka bagaimana cara membaginya? Maka meledaklah tertawa para hadirin yang kebanyakan tenaga ahli syari’ah di Pengadilan-Pengadilan Agama berbagai kota yang sudah biasa memberi fatwa waris. Mereka sepontan menertawakan Sang Profesor yang tampak terlalu tidak menguasai materi pembahasan ini. Saat itu pula mendadak sontak Sang Profesor ini turun dari podium, langsung balik klepat[3] ke Jakarta bersama seorang pendampingnya. Bagaikan orang yang nglurug (datang dengan menantang bertanding) tiba-tiba jatuh tersungkur, maka bangkit langsung mlayu nggendring (lari tunggang langgang). Kalau dikaitkan dengan tarikh/ sejarah, mungkin seperti kasus jagoan jahiliyah di Pasar Ukadz di wilayah Makkah menantang khalayak, tahu-tahu dijotos Umar bin Khotthob langsung nggledak (jatuh tersungkur). Jotosan para ahli syari’at di Kali Urang Jogjakarta itu cukup hanya dengan tertawa bersama, lantas podium pun goyang hingga Sang Profesor yang berdiri di podium itu tidak kerasan lagi, langsung turun dan lari.

2. Di kesempatan lain lagi, Sang Profesor ketiban sampur (berperan) untuk menjadi pembicara dalam acara syukuran atas lulusnya Azyumardi Azra dari Universitas Columbia, Amerika. (Azyumardi Azra kemudian jadi Rektor UIN/ Universitas Islam Negeri Jakarta, dahulu bernama IAIN/ Institut Agama Islam Syarif Hidayatullah Jakarta, terakhir dia sebagai direktur Sekolah Pasca Sarjana UIN –Universitas Islam Negeri Jakarta, gantian dengan Qamaruddin Hidayat yang kemudian jadi rektor UIN Jakarta) Syukuran doktor ini diisi oleh Sang Profesor dengan mengemukakan pembelaan terhadap Nurcholish Madjid dalam pembicaraan tentang pembaharuan Islam di Indonesia. Sang Profesor mengatakan, Nurcholish Madjid tidak mengatakan Tiada tuhan (t kecil) selain Tuhan (T besar) seperti yang diberitakan selama ini. Nurcholish Madjid tidak ada makalahnya yang seperti itu. Itu hanya bikin-bikinan seorang wartawan saja. Itu sudah saya tanyakan kepada Pak EBA (Endang Basri Ananda), kata Sang Profesor. Ternyata setelah itu, Sang Profesor jadi kelabakan. Tidak enak kepada Pak EBA, hadirin yang sudah diceramahi yang tentu saja sudah bubar ke tempat masing-masing, dan lebih tidak enak lagi kepada wartawan yang dituduh membikin-bikin berita bohong itu. Masih pula Sang Profesor harus minta copian makalah Nurcholish Madjid kepada wartawan yang telah dituduhnya secara terbuka itu. Namun rupanya nasib Sang Profesor masih beruntung, ketika meminta makalah yang dia anggap tidak pernah ada itu kepada wartawan yang telah ia tuduh itu rupanya benar-benar diberi copian makalah Nurcholish Madjid. Isinya memang ada terjemahan lafal syahadat, menjadi Tiada tuhan selain Tuhan. Anehnya, Sang Profesor tidak mencabut perkataannya, dan tidak minta maaf kepada wartawan yang dituduhnya.

3. Sang Profesor dikenal punya anak buah wanita muda, Wardah Hafidz, tokoh feminisme alumni Barat. Suatu ketika ada polemik yang diarahkan kepada wanita muda itu, dan nama Sang Profesor dibawa-bawa. Saat itu ungkapan lawan berpolemik, Ustadz Abu Ridho, tampaknya menohok pula. Sehingga Sang Profesor yang dikenal selaku “pembela” justru kena tohokan. Tokoh feminisme asuhan Sang Profesor itupun kini terkena badai gara-gara ucapannya di TV-7, Ramadhan 1423H/ 2002M. Wardah Hafidz dalam wawancara TV-7 itu mengatakan: “Saya sudah tidak lagi melakukan ritual konvensional (shalat, pen), tetapi dengan cara saya sendiri. Kemiskinan tidak hanya bisa diselesaikan dengan cara seperti itu. Saya punya cara sendiri. Dengan cara meningkatkan kepedulian untuk mencari solusi kemiskinan.”, ujar Wardah. Di kesempatan lain, Wardah Hafidz sendiri mengaku dinasihati ibunya: “Sampai Ibu mengingatkan, shalatlah kamu. Kalau kamu nanti masuk neraka, Ibu tidak bisa menolong kamu,” ujar Wardah mengutip kalimat ibunya. “Bu, saya telah dewasa, berilah saya hak. Biarlah itu hak dan tanggung jawab saya,” katanya. (Jurnal Islam, 10-16 Januari 2003, halaman 16). Apakah “kampanye” untuk meninggalkan shalat ini akan dibela juga oleh Sang Profesor karena merupakan rekanannya, wallahu a’lam. Yang jelas, kasus itu menuai kecaman pula dari ulama dan masyarakat. Karena Allah SWT telah menegaskan:

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ(42). قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ(43)

Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, (QS Al-Muddatstsir: 42 dan 43).

4. Kasus lain yang tak kalah serunya, yakni Ulil Abshar Abdalla kordinator JIL (Jaringan Islam Liberal) yang menulis di Kompas 18 Nopember 2002 berjudul “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam”, isinya menafikan hukum Tuhan. Kasus Ulil yang oleh FUUI (Forum Ulama Umat Islam) dari Bandung disebut sebagai penghinaan agama itu dibela pula oleh Sang Profesor lewat televisi dan majalah. Ketika membela Ulil Abshar di Metro TV, Sang Profesor dipertanyakan oleh KH Athian Ali Da’i dari Bandung yang diwawancarai lewat telepon, apa maksud Sang Profesor mengatakan bahwa Al-Quran adalah filsafat? Sang Profesor tidak menjawabnya.

5. Satu lagi yang dibela oleh Sang Profesor, yaitu Ahmadiyah, aliran yang menganggap Mirza Ghulam Ahmad (India) sebagai nabi mereka. Sang Profesor kerangkak-rangkak (berpayah-payah pergi) ke London sebagai “duta’ orang Ahmadiyah Indonesia tetapi mengatas namakan Muhammadiyah bersama Habib Hirzin –yang dulunya pemuda Muhammadiyah lalu ke PKB partainya NU—mengundang penerus nabi palsu yaitu Tahir Ahmad yang dianggap Khalifah ke-4 tingkat dunia bagi Ahmadiyah untuk datang ke Jakarta/ Indonesia. Lalu Sang Profesor pun menjemput penerus nabi palsu itu ke Bandara Cengkareng Jakarta dan mengalungi bunga terhadap penerus nabi palsu tersebut. Kehadiran penerus nabi palsu dari London ke Indonesia tahun 2000 masa pemerintahan Gu Dur itu oleh Sang Profesor bisa dimuluskan jalan berbagai upacaranya. Sampai-sampai penerus nabi palsu itu dipertemukan dengan Presiden Gus Dur dan ketua MPR Amien Rais. Dalam catatan perjalanan Tahir Ahmad penerus nabi palsu yang disebarkan lewat majalah khususnya di London, dipujilah perjuangan Sang Profesor yang sangat mengagumkan bagi mereka atas lancarnya seluruh jalannya acara. Namun tidak lama setelah pujian kepada Sang Profesor itu beredar di kalangan Ahmadiyah, tiba-tiba hasilnya sangat mengejutkan. Dengan “perjuangan” Sang Profesor itu, kini hasilnya, banyak rumah-rumah orang Ahmadiyah di berbagai tempat di Indonesia dihancurkan massa, karena orang-orang Ahmadiyah dikomandoi penerus nabi palsunya telah sesumbar, Indonesia akan dijadikan negeri Ahmadiyah terbesar di dunia. Sesumbar itu disambut oleh umat Islam dengan perlawanan, di antaranya terjadilah penghancuran rumah-rumah para pengikut nabi palsu yang makin nglunjak itu. “Nah, lhu!” kata orang Betawi/ Jakarta.

Sekarang Sang Profesor menghadapi banyak sekali masalah. Yang dibela itu ada yang sudah struk berlama-lama di usia tuanya dan tidak jadi petinggi negara lagi. Ada yang dianggap kafir dan murtad karena “mengkampanyekan” untuk tidak shalat, ada yang menafikan hukum Tuhan, ada yang disebut sebagai gatoloco (faham menafsirkan Islam seenak perutnya), ada yang menjadi pengikut nabi palsu namun sesumbar untuk menjadikan Indonesia sebagai negeri terbesar pengikut nabi palsu, hingga rumah-rumah orang-orang sesat yang sesumbar itu dihancurkan massa, dan ada yang diancam mati alias mau dipites orang.

Sang Profesor mestinya tanggap. Ketika berbicara di depan ahlinya, sedang dirinya tidak ahli, lalu ditertawakan, betapa malu dan sakit hati. Lebih-lebih ketika mempertanggung jawabkan pembelaannya di akherat kelak, kepada Allah SWT yang hukum-Nya mau ditegakkan oleh hamba-Nya, tahu-tahu Sang Profesor itu adalah pembela dari para penentang hukum-Nya, maka betapa klimpungannya di hadapan Allah SWT kelak. Tidak sekadar klimpungan seperti menghadapi orang yang dituduh tanpa bukti, lalu malah Sang Profesor minta bukti (makalah) kepada wartawan yang dituduhnya seperti tersebut di atas, lalu diberi bukti yang justru menghantam Sang Profesor sendiri.

Sebelum umur Sang Profesor habis untuk hal-hal yang merugikan umat dan diri sendiri, lebih baik kembali kepada hukum Allah, dan bertaubat dari pembelaan-pembelaan yang menjerumuskan diri dan umat. Inilah sekadar kronologi “perjuangan” Profesor Dawam Rahardjo, bekas rektor Universitas Islam 45 di Bekasi Jawa Barat, Ketua III T Indonesia, dan unsur pimpinan dalam Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Indonesia (belakangan kabarnya dia dipecat dari Muhammadiyah). Selayaknya beliau bertaubat sebelum habis masa edarnya di dunia ini.

Saat Ahmadiyah gonjang-ganjing dia bungkam

Saat ramai-ramainya kasus Ahmadiyah –16 April 2008– dinyatakan oleh Bakor Pakem Kejaksaan Agung bahwa Ahmadiyah menyimpang dari pokok-pokok agama Islam dan direkomendasikan untuk menghentikan kegiatannya, Dawam Rahardjo tidak terdengar suara pembelaannya.

Kenapa?

Kabarnya, Dawam selama setahun belakangan ini sakit-sakitan, hingga sering berobat kepada dukun Lia Eden di dalam penjara –yang selama ini senantiasa Dawam bela–.

Lia Eden semula bernama Lia Aminuddin, wanita dukun, perangkai bunga kering, tokoh murtad. Kenapa murtad? Karena dia mengaku mendapat wahyu, menjadi isteri Malaikat Jibril, tidak percaya akherat, mengaku dirinya unsure Tuhan bersama Jibril, dan menghalalkan daging babi, maka divonis penjara 2 tahun. Perempuan ini senantiasa Dawam bela kesesatannya, maka tak segan-segan Dawam ketika mengidap sakit selama setahun belakangan sering berobat ke Lia Eden di dalam penjara, kabarnya.

Terakhir, kabarnya Dawam menderita sakit ginjal dan harus dioperasi, maka konon akan dibawa ke negeri Cina untuk dioperasi. Makanya tidak terdengar pembelaannya terhadap aliran sesat Ahmadiyah. Padahal biasanya, dia di barisan paling depan untuk membela kesesatan lebih-lebih Ahmadiyah. Mungkin gonjang-ganjing Ahmadiyah kali ini justru menambah derita bagi Dawam. Sudah upayanya selama ini seakan muspra tak bermakna, sekarang pas waktunya harus berteriak justru tak mampu berteriak. Barangkali saja kasus ini menambah-nambah deritanya, apalagi kalau sakitnya harus dibawa-bawa ke negeri orang.

Ini mengingatkan kisah pendahulunya, Nurcholish Madjid. yang meninggal dunia di rumah sakit Pondok Indah Jakarta, Senin 29 Agustus 2005 jam 14.10. Nurcholish sebelumnya, 13 bulan sebelum meninggalnya, hatinya dicangkok (diganti) dengan hati orang Cina di Tiongkok, kemudian dirawat di Singapura selama sekitar 7 bulan. Dua hari menjelang meninggalnya Nurcholish Madjid, Koran Indopos (Sabtu, 27 Agustus 2005) memberitakan, Nadia binti Nurcholish Madjid, dan Akbar Tanjung teman Nurcholish mengatakan bahwa wajah Nurcholish Madjid tampak lebih hitam. “Dibandingkan sebelumnya (wajahnya) kelihatan lebih hitam,” ujar Akbar.

Dawam membela Nurcholish Madjid sampai setelah matinya

Dawam Rahardjo juga membela Nurcholish Madjid sejadi-jadinya. Sehari setelah meninggalnya Nurcholish Madjid, tulisan Dawam di halaman depan harian Media Indonesia 30 Agustus 2005 terpampang judul SANG PEMBARU. Dawam menegaskan, “agar terjadi penyegaran pemikiran, Cak Nur mengusulkan dilakukannya liberalisasi dan sekulerisasi.” Juga menurut Dawam, lahir gagasan Nurcholish Madjid mengenai pluralisme agama. Dawam tidak malu-malu menjunjung Nurcholish Madjid dengan sekulerisasinya, liberalisasi, dan pluralisme agama yang diusung Nurcholish Madjid. Padahal itu semua telah diharamkan oleh Fatwa MUI dalam Munas ke-7 di Jakarta 26-29 Juli 2005, karena paham itu menurut Fatwa MUI bertentangan dengan Islam.

Di antara pembela Nurcholish Madjid adalah Luthfi Assyaukanie yang bekerja di Paramadina Mulia yang rektornya adalah Nurchlish Madjid, setelah itu diganti oleh Anies Baswedan, sedang yang tampil membela Ahmadiyah saat gonjang-ganjing adalah Yudhi Latief dari Paramadina.

Luthfi membela Nurcholish di antaranya kami kutipkan tulisannya sebagai berikut:

Penyakit “mensetankan orang” juga menghinggapi sebagian kaum terpelajar Muslim di Indonesia, yang merasa terkejut dan tak aman karena berhadapan dengan dunia di sekelilingnya yang dianggap mengancam. Dalam sebuah artikel pendek, saya menemukan seorang pelajar Muslim (yang sebetulnya tidak bodoh, karena terbukti telah menggondol gelar PhD), yang membuat tulisan sangat provokatif, berjudul “Diabolisme Intelektual” (Intelektual Pemuja Iblis).

Dalam tulisan itu, ia mengerahkan seluruh energi amarahnya untuk mensetankan siapa saja yang dianggapnya sesat. Dengan memilih potongan-potongan ayat Al-Qur’an (yang pasti diseleksi dengan tidak jujur), dia menganggap para tokoh pembaru Islam seperti Nurcholish Madjid, sebagai setan dan iblis. Tak sampai di sini, dia juga mensetankan beberapa ulama besar Islam seperti Suhrawardi dan Hamzah Fansuri, karena dianggap sebagai orang-orang yang menyimpang dari ajaran Islam. (Demonisasi Oleh Luthfi Assyaukanie Editorial JIL, 20/06/2005).

Cendekiawan Iblis


Luthfi menulis seperti itu gara-gara ada tulisan yang menyoroti tentang adanya cendekiawan Iblis. Cuplikannya sebagai berikut:

Tidak sulit untuk mengidentifikasi cendekiawan bermental Iblis. Sebab, ciri-cirinya telah cukup diterangkan dalam al-Qur’an sebagai berikut.
Pertama, selalu membangkang dan membantah (6:121). Meskipun ia kenal, tahu dan faham, namun tidak akan pernah mau menerima kebenaran. Seperti ingkarnya Fir’aun berikut hulu-balangnya, zulman wa ‘uluwwan, meskipun dan padahal hati kecilnya mengakui dan meyakini (wa istayqanat-ha anfusuhum).

Maka selalu dicarinya argumen untuk menyanggah dan menolak kebenaran demi mempertahankan opininya. Sebab, yang penting baginya bukan kebenaran, akan tetapi pembenaran. Jadi, bukan karena ia tak tahu mana yang benar, tetapi karena ia memang tidak mau mengikuti dan tunduk pada kebenaran itu. Jadi jangan heran bila selalu saja ada cendekiawan yang meskipun nota bene Muslim, namun sifatnya seperti itu. Ideologi dan opini pemikirannya yang liar lebih ia pentingkan dan ia pertahankan ketimbang kebenaran dan aqidah Islamnya. Dalam tradisi keilmuan Islam, sikap membangkang semacam ini disebut juga al-‘inadiyyah (Lihat: Abu Hafs Najmuddin Umar ibn Muhammad an-Nasafi (w. 537 H/1142 M), al-‘Aqa’id, dalam Majmu, min Muhimmat al-Mutun, Kairo: al-Matba’ah al-Khayriyyah, 1306 H, hlm. 19).

Kedua, intelektual diabolik bersikap takabbur (sombong, angkuh, congkak, arrogans). Pengertian takabbur ini dijelaskan dalam hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (no.147): “Sombong ialah menolak yang haq dan meremehkan orang lain (al-kibru batarul-haqq wa ghamtu n-nas)”. Akibatnya, orang yang mengikuti kebenaran sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur’an atau hadis Nabi SAW dianggapnya dogmatis, literalis, logosentris, fundamentalis, konservatif dan lain sebagainya.

Sebaliknya, orang yang berpikiran liberal, berpandangan relativistik dan skeptis, menghujat al-Qur’an maupun Hadis, meragukan dan menolak kebenarannya, justru disanjung sebagai intelektual kritis, reformis dan sebagainya, meskipun terbukti zindiq, heretik dan bermental Iblis. Mereka bermuka dua, menggunakan standar ganda (2:14). Mereka menganggap orang beriman itu bodoh, padahal merekalah yang bodoh dan dungu (sufaha’).

Intelektual semacam inilah yang diancam Allah dalam al-Qur’an (7:146): “Akan Aku palingkan mereka yang arogan tanpa kebenaran itu dari ayat-ayat-Ku. Sehingga, meskipun menyaksikan setiap ayat, tetap saja mereka tidak akan mempercayainya. Dan kalaupun melihat jalan kebenaran, mereka tidak akan mau menempuhnya. Namun jika melihat jalan kesesatan, mereka justru menelusurinya.”

Ciri yang ketiga ialah mengaburkan dan menyembunyikan kebenaran (talbis wa kitman al-haqq). Cendekiawan diabolik bukan tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Namun ia sengaja memutarbalikkan data dan fakta. Yang batil dipoles dan dikemas sedemikian rupa sehingga nampak seolah-olah haq.

Sebaliknya, yang haq digunting dan di-‘preteli’ sehingga kelihatan seperti batil. Ataupun dicampur-aduk dua-duanya sehingga tidak jelas lagi beda antara yang benar dan yang salah. Strategi semacam ini memang sangat efektif untuk membuat orang lain bingung dan terkecoh. Contohnya seperti yang dilakukan oleh para pengasong gagasan inklusivisme dan pluralisme agama. Mereka mengutip ayat-ayat al-Qur’an (2:62 dan 5:69) untuk menjustifikasi pemikiran liarnya, untuk mengatakan semua agama adalah sama, tanpa mempedulikan konteks siyaq, sibaq dan lihaq maupun tafsir bi l-ma’tsur dari ayat-ayat tersebut. Sama halnya yang dilakukan oleh para orientalis Barat dalam kajian mereka terhadap al-Qur’an dan Hadis. Mereka mempersoalkan dan membesar-besarkan perkara-perkara kecil, mengutak-atik yang sudah jelas dan tuntas, sambil mendistorsi dan memanipulasi (tahrif) sumber-sumber yang ada.

Hal ini tidak terlalu mengejutkan, mengingat kebanyakan mereka adalah Yahudi dan Nasrani yang karakternya telah dijelaskan dalam al-Qur’an 3:71, “Ya ahla l-kitab lima talbisuna l-haqq bi l-batil wa taktumu l-haqq wa antum ta’lamun?” Yang sangat mengherankan ialah ketika hal yang sama dilakukan oleh mereka yang zahirnya Muslim.

Karena watak dan peran yang dilakoninya itu, Iblis disebut juga Setan (syaytan), kemungkinan dari bahasa Ibrani ‘syatan’, yang artinya lawan atau musuh (Lihat: W. Gesenius, Lexicon Manuale Hebraicum et Chaldaicum in Veteris Testamenti Libros). Dalam al-Qur’an memang ditegaskan bahwa setan adalah musuh nyata manusia (12:5, 17:53 dan 35:6). Selain pembangkang (‘asiyy), setan berwatak jahat, liar, dan kurang ajar (marid dan marid). Untuk menggelincirkan (istazalla), menjerumuskan (yughwi) dan menyesatkan (yudillu) orang, setan juga memakai strategi. Caranya dengan menyusup dan mempengaruhi (yatakhabbat), merasuk dan merusak (yanzagh), menaklukkan (istahwa) dan menguasai (istah’wadza), menghalang-halangi (yasudd) dan menakut-nakuti (yukhawwif), merekomendasi (sawwala) dan menggiring (ta’uzz), menyeru (yad’u) dan menjebak (yaftin), menciptakan imej positif untuk kebatilan (zayyana lahum a’malahum), membisikkan hal-hal negatif ke dalam hati dan pikiran seseorang (yuwaswis), menjanjikan dan memberikan iming-iming (ya’iduhum wa yumannihim), memperdaya dengan tipu muslihat (dalla bi-ghurur), membuat orang lupa dan lalai (yunsi), menyulut konflik dan kebencian (yuqi’u l-‘adawah wa l-baghda’), menganjurkan perbuatan maksiat dan amoral (ya’mur bi l-fahsya’ wa l-munkar) serta menyuruh orang supaya kafir (qala li l-insani-kfur).

Nah, trik-trik inilah yang juga dipraktekan oleh antek-antek dan konco-konconya dari kalangan cendekiawan dan ilmuwan. Mereka disebut awliya’ al-syaytan (4:76), ikhwan al-syaytan (3:175), hizb al-syaytan (58:19) dan junudu Iblis (26:94). Mereka menikam agama dan mempropagandakan pemikiran liar atas nama hak asasi manusia (HAM), kebebasan berekspresi, demokrasi, pembaharuan, pencerahan ataupun penyegaran. Semua ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru atau pertama kali terjadi, seperti segera diketahui oleh setiap orang yang membaca sejarah pemikiran Islam. Semuanya merupakan repetisi dan reproduksi belaka. History repeats itself, kata pepatah bule. Hanya pelakonnya yang beda, namun karakter dan perannya sama saja. Ada Fir’aun dan ada Musa as. Muncul Suhrawardi al-Maqtul, tetapi ada Ibn Taymiyyah. Lalu lahir Hamzah Fansuri, namun datang ar-Raniri, dan seterusnya. Al-Qur’an pun telah mensinyalir: “Memang ada manusia-manusia yang kesukaannya berargumentasi, menghujat Allah tanpa ilmu, dan menjadi pengikut setan yang durhaka. Telah ditetapkan atasnya, bahwa siapa saja yang menjadikannya sebagai kawan, maka akan disesatkan olehnya dan dibimbingnya ke neraka” (22:3-4). Maka kaum beriman diingatkan agar senantiasa menyadari bahwa “sesungguhnya setan-setan itu mewahyukan kepada kroninya untuk menyeret kalian ke dalam pertengkaran. Jika dituruti, kalian akan menjadi orang-orang yang musyrik” (6:121). Ini tidak berarti kita dilarang berpikir atau berijtihad. Berpendapat boleh saja, asal dengan ilmu dan adab. Wallahu a’lam.

(Syamsuddin Arif, Diabolisme Intelektual, Kamis, 30 Juni 2005, hidayatullah.com, penulis adalah peneliti INSISTS, kini menempuh program doktor keduanya di Universitas Frankfurt, Jerman).

Pembela Nurcholish dibantah


Luthfi yang dari Paramadina rupanya disahut Adian Husaini dari INSIST, cuplikannya sebagai berikut:

Tulisan “Diabolisme Intelektual” sangat bagus, jelas, jernih, dan punya sikap. yang salah katakan salah. Perlu disebut bagian mana dari tulisan itu yang salah. Iblis tidak malu-malu dan bersikap fair menyatakan dirinya sebagai Iblis dan terus terang berjanji akan menyesatkan manusia. Yang repot jika pengikut Iblis justru mengaku sebagai penyeru kebenaran dan kemaslahatan. Tapi, al-Quran sudah mengingatkan dan memberi ciri-ciri yang gamblang makhluk jenis ini yang disebut sebagai “munafik”. Jadi, tidak usah ragu-ragu melakukan demonisasi, meskipun juga harus hati-hati. Saran saya, agar tidak rumit, yang Iblis, ngakulah Iblis, yang memang setan, katakan setan, siapa yang kafir, ngakulah kafir. Tidak usah ragu-ragu, masing-masing sudah ada tempatnya. Yang paling ditakutkan oleh Rasulullah saw adalah “kullu munafiqin ‘aliimul lisaan.” (insistnet@yahoogroups.com, adian husaini <ADIANH@Y…)

Sebenarnya Syamsuddin Arif tidak menulis secara eksplisit nama Nurcholish Madjid. Tetapi justru Luthfi yang menulis nama itu. Adian Husaini pun hanya menyarankan agar mereka mengaku saja, karena iblis juga mengaku akan menyesatkan orang.

Polemik ini cukup sengit di saat Nurcholish Madjid sedang sakit, yang dua bulan kemudian dia meninggal dunia di rumah sakit Pondok Indah Jakarta, Senin 29 Agustus 2005 jam 14.10. Nurcholish sebelumnya, 13 bulan sebelum meninggalnya, hatinya dicangkok (diganti) dengan hati orang Cina di Tiongkok, kemudian dirawat di Singapura selama sekitar 7 bulan. (lihat laporan Abu Qori dalam Mengenang Nurcholish Madjid, di Media Dakwah).

Hendaknya bertaubat

Sepak terjang Proffessor Dawam Rahardjo (dan kawan-kawannya yang masih hidup) yang selama ini mengusung dan membela aneka kesesatan hendaknya ditaubati. Mumpung masih hidup, sebelum menyusul tokoh yang dibela dan sudah meninggal di antaranya Nurcholish Madjid dan Ahmad Wahib (penyebar kesesatan pluralisme agama dalam buku catatannya yang kemudian disunting Djohan Effendi dan Ismet Natsir dan diterbitkan dengan judul Catatan Harian Ahmad Wahib Pergolakan Pemikiran Islam oleh LP3ES Jakarta pimpinan Dawam Rahardjo 1981 dan dinyatakan oleh KH Hasan Basri dari MUI bahwa Ahmad Wahib dengan tulisannya itu murtad).

Imbauan Allah dalam firman-Nya berikut ini perlu disimak:

قُلْ يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لاَ تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ(53).

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Az-Zumar: 53).

وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لاَ تُنْصَرُونَ(54).

Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). (QS Az-Zumar: 54).

وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لاَ تَشْعُرُونَ(55).

Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya, (QS Az-Zumar/ 39: 55).

أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَاحَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ وَإِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ(56).

supaya jangan ada orang yang mengatakan: “Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah). (QS Az-Zumar/ 39: 56).# (Hartono Ahmad Jaiz).[4]


[1] Istilah Jawa dan Betawi/ Jakarta yang artinya dibunuh dengan cara menekan kepala pakai jempol tangan dan jari telunjuk. Yang biasa dipites adalah binatang-binatang kecil seperti belalang, jangkrik dan lain-lain, yaitu dimatikan dengan cara kepalanya ditekan pakai jempol tangan dan jari telunjuk.

[2] rupanya Sang Profesor sudah ragu-ragu tentang hukum Tuhan, sehingga perlu diberi tanda kutip, karena “cucunya”, Ulil Abshar Abdalla pengomando JIL, tidak mempercayai adanya hukum Tuhan.

[3] secara cepat

[4] Makalah ini disebarluas di Daurah Mahasiswa se Jawa Timur tentang Kewaspadaan Ummat, di Surabaya, 15/3 2003; di Tabligh Akbar tentang Sesatnya JIL (Jaringan Islam Liberal) di Masjid Al-Istiqomah Bandung, 16/3 2003; dan dimuat di Majalah Media Dakwah, April 2003. Yang dimuat sekarang ini ditambahi dengan data-data terutama yang baru.

sumber : http://www.nahimunkar.com/?p=53#more-53

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Syafi’iyah Menolak Ahmadiyah

Posted by musliminsuffer on May 7, 2008

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

Syafi’iyah Menolak Ahmadiyah

Oleh Abdul Aziz

Saat ini Dalam khazanah keislaman dikenal ada empat mazhab utama yang dianut oleh umat muslim, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali. Masing-masing mazhab memiliki literatur yang menjabarkan ajaran mazhab masing-masing, sehingga setiap yang ingin mengetahui pendapat sebuah mazhab dalam fiqih dengan mudah akan menemukannya.

Sementara mazhab yang dianut oleh mayoritas muslim Indonesia dan Asia Tenggara pada umumnya adalah mazhab Syafi’i. Maka masyarakat muslim Indonesia sangat berkepentingan untuk mengetahui pendapat mazhab Syafi’i dalam ibadahnya. Terkadang nama besar Imam Syafi’i dan mazhabnya disalahgunakan oleh segelintir orang untuk memperlancar kepentingan dirinya, dengan membawa sebuah ajaran lalu menjual Imam Syafi’i dengan mengatakan ajaran ini adalah bagian dari mazhab Syafi’i padahal bukan.

Hari-hari ini marak perbincangan di media massa tentang pelarangan Ahmadiyah, banyak pihak yang pro dan ada yang kontra. Di antara mereka yang mengecam keras pelarangan Ahmadiyah adalah beberapa Kiai yang disebut oleh situs detikcom tanggal 21 April 2008 dengan kiai kiai sepuh yang tergabung dalam Forum Kyai Peduli Khittah Nahdhatul Ulama 26 [1] menolak rekomendasi Bakorpakem tentang pembubaran Ahmadiyah dengan alasan di antaranya : kesesatan Ahmadiyah masih perlu diteliti ulang, ini diucapkan oleh KH Syarif Usman Yahya, karena, ujarnya: “Nanti jangan-jangan seluruh aliran Islam yang masih ada oleh Bakorpakem dinyatakan sesat”.

Dari nama forum di atas, jelas kita bisa mengidentifikasi Kiai-kiai di atas adalah Kiai yang tergabung dalam organisasi Nahdlatul Ulama, yang mana biasanya Kiai-Kiai NU mengajarkan kitab fiqih mazhab Syafi’i di pesantren.

Apa hubungan fiqih Syafi’i dan Ahmadiyah?

Seluruh kitab fiqih dari empat mazhab Islam memuat bahasan tentang murtad, namun bahasan murtad di hari ini mendapat begitu banyak sorotan di tengah gencarnya wacana demokrasi yang ikut membahas masalah pluralisme agama. Apa saja isi pembahasan kitabur riddah (bab murtad) dalam kitab fiqih?

Bab Murtad membahas tentang definisi murtad, hal-hal yang menyebabkan seorang muslim menjadi murtad dan pembahsan lain yang terkait dengan murtad. Salah satu penyebab murtad yang tercantum dalam kitab-kitab fiqih adalah mendakwakan kenabian, yaitu dengan menyatakan diri sebagai Nabi atau diberi wahyu oleh Allah. seluruh kitab fiqih menyatakan, orang yang mengaku jadi Nabi adalah murtad, alias keluar dari Islam. Masih ada lagi tambahan yaitu orang yang percaya pada pengakuan Nabi palsu juga divonis murtad, karena membenarkan pengakuan si murtad, yang mengaku dirinya adalah Nabi setelah Nabi terakhir Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Si Nabi palsu jadi murtad karena mengaku diberi wahyu oleh Allah, mereka yang percaya juga murtad karena membenarkan pengakuan si nabi palsu yang murtad, artinya membenarkan keyakinan yang menyebabkan murtad, hingga akhirnya juga ikut murtad. Ternyata kalo dipikir lagi lebih dalam, orang yang percaya pada si nabi palsu pada hakekatnya tidak berbeda dengan si nabi palsu, karena sama-sama percaya pada nabi palsu, si nabi percaya dirinya nabi, si pengikut juga percaya, akhirnya semuanya murtad. nabi palsu murtad karena melanggar salah satu materi pokok dalam Islam, yaitu mengenai kenabian, yang mana tergaris dalam Islam bahwa kenabian sudah ditutup dengan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Begitu juga mereka yang percaya pada pengakuan si nabi palsu. Sebagai pengantar, kita nukil dahulu tentang definisi murtad; misalnya dalam kitab Raudhatut Thalibin wa Umdatul Muftin disebutkan:

وهي قطع الإسلام ويحصل ذلك تارة بالقول الذي هو كفر وتارة بالفعل والأفعال الموجبة للكفر

Riddah (murtad) adalah memutus keIslaman, bisa terjadi karena ucapan dan perbuatan yang mengakibatkan orang jadi kafir,

Dalam kitab Al Minhaj, imam Nawawi mendefinisikan murtad sebagai:

هِيَ: قَطْعُ الإِسْلاَمِ بِنِيَّةِ أَوْ قَوْلِ كُفْرٍ أَوْ فِعْلٍ،سَوَاءٌ قَالَهُ اسْتِهْزَاءً أَوْ عِنَادًا أَوْ اعْتِقَادًا.

Memutuskan keislaman dengan niat, ucapan dan perbuatan yang menyebabkan kafir, meskipun dia mengatakan/melakukan hal itu karena bersenda gurau maupun serius karena membangkang.

Sementara dalam kitab Kifayatul Akhyar, murtad didefinisikan sebagai:

وفي الشرع الرجوع عن الإسلام إلى الكفر وقطع الإسلام

Kembali dari Islam kepada kekafiran dan memutus keislaman.

Dalam kitab-kitab Syafi’i, tercantum salah satu perbuatan yang menyebabkan orang jadi murtad yaitu dengan mengaku sebagai nabi, atau percaya pada orang mengaku nabi, seperti dalam Raudhatu Thalibin:

أو ادعى النبوة بعد نبينا صلى الله عليه وسلم أو صدق مدعياً

Atau orang itu mengaku menjadi nabi setelah Nabi Muhammad shallallahi ‘alaihi wasallam.

Juga dalam Hasyiyah Qalyubi wa Umairah jilid:

سَبَّ الْمَلاَئِكَةَ أَوْ صَدَّقَ مُدَّعِي النُّبُوَّةَ

Atau mencela malaikat, atau percaya pada orang yang mengaku nabi. Sementara dalam Kifayatul Akhyar diperjelas lagi tentang definisi Nabi palsu :

وَكَذاَ لوْ ادَّعَى أَنَّهُ أوحي إلَيْهِ وَإِنْ لَمْ يَدَّعِ النُّبُوَّةَ

Begitu juga jika dia mengaku mendapat wahyu walaupun tidak mengaku jadi Nabi…Dalam Mughnil Muhtaj dan juga di kitab Asnal Matholib Syarah Raudhotit Thalibin disebutkan

أَوْ ادَّعَى نُبُوَّةً بَعْدَ نَبِيِّنَا عليه السلام أَوْ صَدَّقَ مُدَّعِيهَا

Atau mengaku jadi nabi atau percaya pada orang yang mengaku jadi nabi.

Rasanya makalah ini tidak mencukupi untuk nukilan tentang murtadnya orang mengaku Nabi dari seluruh kitab fiqih Syafi’iyah. Bahkan nukilan di atas juga menyatakan bahwa dalam masalah nabi palsu ini bukan hanya si pengaku nabi saja yang murtad, tetapi orang yang percaya pada pengakuannya juga ikut murtad. Padahal dia sekedar percaya pada pengakuan si nabi palsu tanpa harus menjadi pengikutnya, juga tanpa tindakan aktif apa pun.

Ustadz Nurzaman, salah satu pengasuh pondok pesantren Kempek di Cirebon Jawa Barat mengatakan: sepakat untuk mengerahkan 20 ribu santri dan banser sebagai bentuk penolakan terhadap rekomendasi dan mensupport warga Ahmadiyah. Demikian seperti dimuat detikcom pada link di atas.

Menolak pelarangan ahmadiyah berarti mengakui legalitas eksistensi Ahmadiyah, apalagi bila dibumbui dengan dalil-dalil yang entah dari mana sehingga seolah-olah Islam malah mendukung Ahmadiyah.

Kita perlu mengkaji ulang lagi bab murtad dalam kajian-kajian kita. #

sumber : http://www.nahimunkar.com/?p=54#more-54

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Pluralisme Agama, Gagasan Orang Dungu

Posted by musliminsuffer on May 7, 2008

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

Pluralisme Agama, Gagasan Orang Dungu

Oleh Nadya Putri Mualka

Gagasan pluralisme agama, yaitu paham yang menganggap semua agama itu sama karena berasal dari Allah, sebenarnya berasal dari faham rusak Ibnu Arabi yaitu Wihdatul Adyan (penyatuan semua agama), yang diikuti secara taklid oleh orang-orang semacam, Gus Dur, Ulil, Abdul Munir Mulkhan, Syafii Maarif dan sebagainya.

Agama Kristen (Katolik dan Protestan) –serta ratusan bahkan ribuan sekte yang berasal darinya– jelas bukan ajaran yang berasal dari Allah melalui Nabi Isa alaihissalam. Tetapi, ajaran agama yang antara lain dibawa oleh Paulus dengan cara merusak ajaran agama yang dibawa Nabi Isa alaihissalam. Begitu juga dengan agama Kong Hucu, Budha, Hindu, Shinto dan sebagainya, bukanlah ajaran agama yang berasal dari Allah.

Mengapa gagasan pluralisme agama disebut sebagai gagasan orang dungu? Cobalah simak kejadian berikut ini:

Seorang pemandu tamu Ma’had Al-Zaytun pimpinan AS Panjigumilang di Indramayu Jawa Barat menjelaskan kondisi pesantren megah itu kepada pengunjung dalam mobil ketika mengelilingi pergedungan dan kawasan pesantren ini. Pemandu mengatakan, pesantren ini menerima juga santri-santri yang non muslim. Lalu seorang bocah keturunan India dalam mobil ini bertanya, “Lho kok menerima santri non Muslim Pak, kan ini pesantren?”

“Ya, kami menerima murid yang non muslim pula, karena semua agama itu sama, semuanya dari Tuhan juga. Jadi semua agama sama,” jawab pemandu.

Mobil pun tetap berjalan pelan-pelan. Pemandu masih sering menjelaskan ini dan itu kepada pengunjung sekitar 10-an orang dalam mobil itu. Lalu mobil lewat di depan deretan kandang yang isinya banyak sapi. Bocah keturunan India itu bertanya lagi:

“Pak, itu banyak sapi, untuk apa pak, sapi-sapi itu?”

“Untuk disembelih, dijadikan lauk bagi para santri,” jawab pemandu.

“Lho, sapi kok disembelih Pak. Tadi bapak bilang, semua agama sama. Lha kok sapi boleh disembelih pak?” Tanya bocah keturunan India yang bagi agama dia sapi tak boleh disembelih itu.

Ditunggu bermenit-menit tidak ada jawaban dari pemandu. Adanya hanya diam. Padahal hanya menghadapi bocah yang dibawa oleh bapak dan ibunya dan belum dapat bepergian sendiri itu.

Baru menghadapi bocah saja, orang yang berfaham pluralisme agama alias menyamakan semua agama ini sudah tidak mampu menjawab. Padahal masih di dunia. Apalagi di akherat kelak.

Di dunia ini sudah ada tuntunannya, bahwa agama yang diridhoi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala hanyalah Islam. Yang lain tidak diridhoi. Maka jelas tidak sama antara yang diridhoi dan yang tidak. Yang bilang sama, itu hanya orang-orang yang tak menggunakan akalnya.


Islam Membantah Pluralisme Agama

Islam sebagai agama satu-satunya yang diridhoi-Nya, bukan pendapat manusia, tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri yang mengatakannya.

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإِسْلاَمُ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. (QS Ali ‘Imran: 19).

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ(85)

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS Ali ‘Imran: 85).

Nabi Muhammad saw menjelaskan secara gambling:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

‘An Abii Hurairota ‘an Rasuulillahi saw annahu qoola: “Walladzii nafsi Muhammadin biyadihi, laa yasma’u bii ahadun min haadzihil Ummati Yahuudiyyun walaa nashrooniyyun tsumma yamuutu walam yu’min billadzii ursiltu bihii illaa kaana min ash-haabin naari.” (Muslim).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bahwa beliau bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, tidaklah seseorang dari Ummat ini yang mendengar (agama)ku, baik dia itu seorang Yahudi maupun Nasrani, kemudian dia mati dan belum beriman dengan apa yang aku diutus dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka.” (Hadits Riwayat Muslim bab Wujubul Iimaan birisaalati nabiyyinaa shallallahu ‘alaihi wassalam ilaa jamii’in naasi wa naskhul milal bimillatihi, wajibnya beriman kepada risalah nabi kita shallallahu ‘alaihi wassalam bagi seluruh manusia dan penghapusan agama-agama dengan agama beliau).

Dalam penerapan agama itu maka tidak ada pilihan lain lagi, apabila Allah dan rasul-Nya telah menentukan sesuatu.

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُبِينًا

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (Al-Ahzaab/33: 36).

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (51 النور)

Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan.” “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (An-Nuur/ 24: 51)

Gagasan pluralisme agama ini terutama disosialisasikan oleh tokoh-tokoh pengajar dari UIN (Universitas Islam Negeri), IAIN (Institut Agama Islam Negeri), STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri), STAIS (Sekolah Tinggi Agama Islam Swasta), bahkan orang liberal di berbagai lembaga. Seharusnya mereka dilarang mengajar apalagi sampai menjabat Rektor di UIN maupun IAIN, karena UIN dan IAIN adalah lembaga pendidikan tinggi agama Islam.

Seharusnya, mereka kalau memang gentle bikinlah UAAIN (Universitas Anti Agama Islam Negeri) dan IAAIN (Institut Anti Agama Islam Negeri). Tetapi ungkapan ini jangan dianggap sebagai suruhan, namun maksudnya adalah suatu peringatan keras, agar jangan sampai merusak Islam, apalagi lewat perguruan tinggi Islam.

Kenyataannya, ketika dirasa pembusukan aqidah lewat perguruan tinggi Islam dan sebagian oraganisasi Islam sudah dapat mereka lakukan, mereka kemudian membuat lembaga pendidikan tinggi dan pesantren yang mereka anggap akan lebih intensip dalam memusyrikkan lagi. Maka bertandanglah mereka, kerjasama antara UIN Jogjakata, UGM (Universitas Gajah Mada) Jogjakarta, dan sebuah universitas Nasrani. Dibuatlah pendidikan tinggi antaragama di Jogjakarta. Sedangkan Gus Dur tak mau ketinggalan, maka dia membuat pula pesantren multiagama di Semarang bersama rekannya yang dulu memimpin gerombolan apa yang disebut pasukan berani mati.

Cuplikan beritanya sebagai berikut:

Forum Keadilan dan Hak Asasi Umat Beragama (Forkhagama) mendirikan pesantren multiagama Bhinneka Tunggal Ika. Bertempat di Pondok Pesantren Soko Tunggal Jl Sendangguwo Raya, Sabtu petang kemarin, pemancangan Prasasti Deklarasi Soko Tunggal ditandatangani Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Tokoh-tokoh agama yang turut menandatangani prasasti berasal dari agama Islam, Hindu, Budha, Kristen, Katolik, dan Khonghucu. Menurut Ketua Forkhagama KH Nuril Arifin atau yang biasa disebut Gus Nuril, pesantren didirikan dengan tujuan menciptakan persatuan di Indonesia. Pesantren multiagama itu akan dibangun di atas tanah seluas 9.000 m2 di Kelurahan Purwosari, Mijen yang merupakan tanah wakaf Gus Nuril. (Suara Merdeka, Semarang, Senin, 19 Desember 2005).

Pluralisme Agama Beda dengan Pluralitas

Pluralisme agama itu beda dengan pluralitas. Pluralitas hanyalah mengakui adanya agama-agama, tidak mengakui sama ataupun benarnya. (Kalau pluralitas dalam satu agama, kami maksudkan dalam tulisan ini adalah kebalikan dari eksklusivitas. Misalnya orang Al-Irsyad, Persis dan lainnya boleh-boleh saja shalat di masjid orang Muhammadiyah; itu pluralitas. Sedang orang LDII hanya ada di masjid mereka dan masjid mereka hanya untuk mereka, itu eksklusif). Sedang pluralisme agama itu mengakui semua agama sama. Jadi pluralisme agama itu faham kemusyrikan, menyamakan semua agama, maka penyembah berhala disamakan dengan penyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pengertian yang mudah difahami umat Islam adalah istilah musyrik. Ketika diganti dengan istilah baru, pluralisme agama, maka umat ini tidak faham. Padahal sebenarnya adalah kemusyrikan, dan termasuk upaya-upaya orang musyrik dalam meneguhkan kemusyrikannya.

Dalam riwayatnya, orang musyrikin Quraisy di Makkah pun meminta Nabi Muhammad saw untuk menyembah berhala selama satu tahun, dan mereka akan menyembah Allah selama satu tahun juga. Kemudian Allah menurunkan surat Al-Kafirun, dan di dalamnya Dia memerintahkan Rasul-Nya untuk melepaskan diri dari agama mereka secara keseluruhan. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, Surat Al-Kafirun ayat 1).

Kalau model kemusyrikan sekarang yang namanya pluralisme agama, bukan masalah penyembahannya yang dipentingkan, namun pemahamannya, dari aqidah tauhid ditarik-tarik ke kemusyrikan yang diganti nama dengan pluralisme agama.

Dari sini jelaslah bahwa pluralisme agama itu faham kemusyrikan, dan merupakan upaya-upaya orang musyrikin dalam propaganda kemusyrikannya. Itu semua telah dibantah oleh Allah swt dalam surat Al-Kafirun.

Sebenarnya masalah pluralitas (mengakui adanya perbedaan, bukan mengakui semua agama sama seperti pluralisme) secara intern di kalangan Islam tidak masalah. Jamaah NU tidak ada hambatan apapun shalat di masjid orang-orang Muhammadiyah dan sebagainya. Begitu juga sebaliknya.

Kalau toh ada eksklusivitas, itu biasanya terjadi di kalangan aliran sesat seperti LDII (Islam Jama’ah), Ahmadiyah Qadian dan Lahore dan sejenisnya. Mesjid mereka tertutup bagi kalangan di luar mereka. Pernikahan pun hanya terjadi di antara sesama mereka.

Yang juga eksklusif adalah agama Kristen. Orang Katholik tidak mau disamakan dengan orang Kristen Protestan, mereka beribadah di gereja masing-masing. Bahkan orang Katholik menyebut dirinya “Katholik” saja tanpa embel-embel Kristen, berbeda dengan “Kristen Protestan” yang masih menempelkan Kristen sebelum sekte Protestannya.

Orang Katholik tidak dibenarkan menikah dengan Kristen Protestan meski sama-sama bertuhankan Yesus. Apalagi dengan agama lain.

Di dalam Kristen terdapat ratusan bahkan ribuan sekte yang masing-masing punya gereja sendiri. Jemaat gereja Bethel tidak beribadah di gereja Nehemia, begitu seterusnya. Bahkan pernikahan pun demikian, sebisa mungkin terjadi di antara jemaat satu gereja.

Berbeda dengan Kristen yang eksklusif, agama-agama kebudayaan seperti Hindu, Budha, Kong Hucu, meski terkesan longgar namun tetap saja berpendirian tidak semua agama sama. Mereka memang tidak keberatan ritual keagamaannya dijadikan objek wisata. Bahkan penganut agama lain pun, bila ingin menikah dengan tatacara (ritual) agama mereka, boleh-boleh saja. Pernah terjadi, Mick Jagger dedengkot The Rolling Stone menikah di salah satu negara Asia dengan menggunakan tatara cara (ritual) agama mayoritas di negeri tersebut. Padahal kedua mempelai bukanlah penganut agama tersebut.

Masih ingat ketika Megawati bersembahyang di Pura? Padahal ia bukan penganut Hindu. Pendeta dan masyarakat Hindu di Bali tidak marah, malahan mereka senang sekali. Sampai-sampai, ketika AM Saefuddin meledek Megawati, orang-orang Hindu bukannya marah kepada Megawati tetapi justru kepada AM Saefuddin. Padahal, seharusnya mereka berterimakasih bukannya malah marah kepada AM Saefuddin.

Tahun 2006, penerbit Media Hindu pernah meluncurkan buku berjudul “Semua Agama Tidak Sama” yang berisi kumpulan tulisan sejumlah tokoh dan cendekiawan Hindu. Intinya, mereka mengkritisi Pluralisme Agama.

Ngakan Made Madrasuta, editor buku tersebut, dalam kata pengantarnya menyanggah paham pluralisme agama yang sering dijajakan kaum Hindu pluralis. Mereka, kaum Hindu pluralis itu, selama ini telah memelintir makna yang tersurat dari Bagawad Gita, yang antara lain berbunyi: “Jalan mana pun yang ditempuh manusia ke arah-Ku, semuanya Aku terima.”

Menurut Madrasuta, itu tidak bisa dijadikan dasar pembenaran atas pluralisme agama (Hindu). Karena, yang disebut “Jalan” adalah empat yoga: Karma Yoga, Jnana Yoga, Bhakti Yoga, dan Raja Yoga. Kesemuanya itu hanya ada dalam agama Hindu. Tidak ada dalam agama lain.

Begitulah faktanya.

Anehnya, kaum liberal justru memaksakan gagasan pluralisme agama ini untuk diterapkan umat Islam, seolah-olah umat Islam begitu eksklusif dan tidak mengenal toleransi serta mengabaikan pluralitas. Padahal, Islam adalah perekat bangsa. Tanpa Islam, masyarakat di kawasan Nusantara ini, terkotak-kotak berdasarkan suku. Artinya, gagasan pluralisme agama yang diusung kaum sepilis bukan saja aneh tapi gagasan orang dungu.

Meniru Orang Kafir dan Tak Percaya Diri

Gagasan pluralisme agama sebagaimana diusung kalangan sepilis, sesungguhnya bukan hal baru. Gagasan sejenis sudah sejak lama diusung oleh pemeluk agama Baha’i –merupakan sempalan paham sesat Syi’ah Imamiah, yang pertama kali diperkenalkan oleh Mirza Ali Muhammad.

Berbeda dengan kaum sepilis yang berpendidikan dan berpenampilan intelek, penganut agama Baha’i ini umumnya berpenampilan ndeso sehingga tidak mampu meyakinkan masyarakat luas termasuk media massa seperti Kompas dan Jawapos untuk mengakomodasi kesesatannya.

Peganut agama Baha’i ini meski mengakui keberadaan Nabi Muhammad, namun bukan sebagai rasul terakhir. Karena Muhamad shallallahu ‘alaihi wasallam sudah meninggal, maka nabi mereka adalah Bahaullah. Di titik ini ada kemiripan dengan paham sesat Ahmadiyah.

Menurut mereka, semua agama itu benar dan sama, tidak ada agama yang salah, karena yang salah cuma orangnya. Meski mengaku bertuhankan Allah, namun penganut agama Baha’i ini memiliki kitab suci sendiri yaitu Al-Aqdas.

Menurut Al-Aqdas, shalat bagi penganut agama Baha’i ini dibagi tiga: ringan, sedang, dan berat. Ibadah ringan hanya sebatas ingat shalat. Ibadah sedang, dengan berdiri beberapa saat. Ibadah berat, bisa berupa shalat sehari semalam. Pelaksanaan ibadah itu hanya satu kali sehari, menghadap kiblat Aka.

Meski ndeso, penganut agama Baha’i ini jauh lebih gentle karena dengan tegas mengatakan Baha’i adalah agama tersendiri, bukan Islam. Ungkapan ini bukan mengurangi nilai sesatnya, tetapi dari segi keterus terangannya bahwa mereka bukan Islam itu satu kenyataan. Bandingkan dengan Ulil, Musdah Mulia, Gus Dur, Syafii Maarif, Syafii Anwar, Abdul Munir Mulkhan dan kawan-kawannya, atau Ahmadiyah, Syi’ah dan LDII yang selain tidak gentle juga tidak percaya diri dengan keyakinan sesatnya, sehingga masih terus menempelkan Islam di depan agama sesatnya itu. (haji/tede)

sumber : http://www.nahimunkar.com/?p=52#more-52

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Posted in Uncategorized | 2 Comments »

Mengidap Pluralisme Agama Pertanda Rusak Akalnya

Posted by musliminsuffer on May 7, 2008

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

Mengidap Pluralisme Agama Pertanda Rusak Akalnya


Untuk membuktikan bahwa faham pluralisme agama itu sangat beda dengan Islam, mari kita ajukan pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawabannya. Agar lebih mudah maka diilustrasikan dengan tiga orang:

  1. Penguji.
  2. Muslim anti pluralisme agama.
  3. Tokoh pluralisme agama.

Pertanyaan 1.

Penguji: Apakah orang muslim yang pemahamannya benar sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah itu sesembahannya hanya Allah?

Jawab Muslim: Ya.

Jawab Tokoh Pluralisme: Ya.

Penguji: Apakah orang kafir dan musyrik sesembahannya hanya Allah?

Jawab Muslim: Tidak.

Jawab tokoh liberal: Tidak. (Karena kalau sesembahannya hanya Alah berarti tidak musyrik).

Penguji: kalau demikian, samakah antara orang Muslim dengan orang kafir dan musyrik; dan apa dalilnya dalam hal sesembahan ini.

Jawab Muslim: tidak sama. Dalilnya:

قُلْ يَاأَيُّهَا الْكَافِرُونَ(1)لاَ أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ(2)وَلاَ أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ(3)وَلاَ أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ(4)وَلاَ أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ(5)لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ(6)

1. Katakanlah: “Hai orang-orang kafir,

2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.

3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah.

4. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,

5. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah.

6. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS Al-Kafirun: 1-6).

Jawab tokoh pluralisme agama: Sama saja, muslim dan kafir ataupun musyrik semuanya sama. Soalnya yang mengetahui benar dan tidaknya itu bukan kita tetapi hanya Allah. Kita tidak boleh mengklaim kebenaran itu.

Sahut penguji: Bodoh kamu. Tadi kamu ditanya, apakah orang Muslim yang benar sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah, sesembahannya hanya Allah, kamu jawab: ya. Kemudian ditanya, apakah orang kafir dan musyrik sesembahannya hanya Allah, kamu jawab tidak. Kok sekarang kamu samakan, yang ya dengan yang tidak?! Apakah ya itu sama dengan tidak? Benar-benar telah rusak akalmu.


Pertanyaan 2:

Penguji: Samakah orang yang sholat dengan orang yang tidak sholat, dan apa dalilnya.

Muslim: Tidak sama. Yang memelihara sholatnya maka kelak masuk surga, sedang yang tidak sholat masuk neraka. Dalilnya:


وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ(
9)أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ(10)الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ(11)

dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi,(ya`ni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. (QS Al-Mu’minun: 9, 10, 11).

Sebaliknya, orang yang tidak sholat masuk neraka:

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ(42)

Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?

قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ(43)

Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, (Qs Al-Muddatstsir: 42, 43).

Jawab tokoh pluralisme agama: Sama. Orang yang sholat dan yang tidak sholat sama. Karena yang tahu kebenaran itu hanya Allah. Para ulama juga tidak tahu kebenaran, makanya ketika menafsirkan Al-Qur’an diakhiri dengan kalimat Allahu a’lam.

Penguji: Bodoh kamu. Anak SD (sekolah dasar) saja tahu, dan dapat membedakan antara orang yang sholat dan tidak sholat. Lha kamu sudah jadi professor, sekaligus tokoh pluralisme agama malahan tidak dapat membedakannya. Lebih memalukan lagi, tidak dapat membedakan pula ungkapan pendek dalam bahasa Arab, yang disebut isim tafdhil (tingkatan lebih). Dalam hal mengetahui kebenaran, para ulama itu tahu, ketika ayatnya jelas, ya ulama tahu. Kemudian ungkapan Allahu a’lam itu artinya Allah yang lebih tahu. Jadi bukan berarti ulama tidak tahu, tetapi ulama tahu, namun Allah lebih tahu. Itu maksud lafal Allahu a’lam. Baru tentang lafal Allahu a’lam saja tidak tahu maksudnya, tetapi berani menetapkan hukum yang sangat bertentangan dengan Islam: Muslim disamakan dengan kafir dan musyrik; lalu orang yang menjaga sholatnya disamakan dengan yang tidak sholat. Ini namanya tidak tahu namun sok tahu, bahkan ketidak tahuannya itu untuk menghukumi perkara yang sangat-sangat besar! Benar-benar bodoh!

(Kejadian mirip ini benar-benar terjadi antara Ustadz Toharo pemimpin Ma’had As-Sunnah di Cirebon Jawa Barat dengan tokoh pluralisme agama seorang professor dari STAIN (IAIN?) Cirebon menjelang Ramadhan tahun lalu dalam acara bedah buku di kota itu. Akibatnya sebagian dari mahasiswa perguruan tinggi Islam negeri itu ada yang sadar dan mengikuti pengajian yang merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman salafus sholih). (Hartono Ahmad Jaiz)

sumber: http://www.nahimunkar.com/?p=51#more-51

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 40 other followers