Muslim in Suffer

Bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem. Assalamu\’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh!

Archive for December 15th, 2007

Bahaya Liberalisasi Islam

Posted by musliminsuffer on December 15, 2007

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

Bahaya Liberalisasi Islam

Oleh : Rifqi Fauzi

Mahasiswa Jurusan Hadis, Universitas Al Azhar Kairo, Mesir

Kamis, 13 Desember 2007

Memperhatikan tema-tema yang disajikan pada perhelatan Annual Conference on Islamic Studies (ACIS) in Indonesia VII yang dilaksanakan di Pekanbaru pada 21-24 November lalu, seperti yang disebutkan Henri Sholahuddin di koran ini (01/12/2007) , terlihat indikasi kuat gencarnya gerakan liberalisasi Islam. Kehadiran Nasr Hamid Abu Zayd dalam acara tersebut memperkuat Indikasi tersebut.

Kita telah ketahui bersama bahwa gerakan kritik teks suci, kritik syariah agama, dan gerakan liberalisasi lahir dari kebudayaan Barat. Gerakan ini bertujuan untuk menemukan kehidupan yang lebih maju dan lebih baik, karena mereka merasa bahwa dalam agama mereka banyak hal yang bertentangan dengan fitrah manusia dan ilmu pengetahuan.

Begitu pun teks suci, dalam pandangan mereka banyak yang bertentangan satu sama lain. Lalu apa yang menjadi alasan umat Islam ikut-ikutan mengritik teks suci Alquran, Al Hadis, mempertanyakan kembali konsep tafsir Alquran atau malah mendekontruksi ajaran-ajaran Islam yang telah mapan dan dipegang teguh oleh umat Islam selama berabad-abad? Mengapa kita tidak melihat apa dampak gerakan liberalisasi terhadap eberagamaan masyarakat Barat dan bagaimana bahaya yang ditimbulkan jika hal ini dilakukan dalam ajaran Islam?

Keberagamaan di Barat

Ketika pihak gereja memimpin Eropa selama berabad-abad, keadaan Eropa waktu itu mengalami keterpurukan yang lebih dikenal dengan dark age. Lalu sejak abad ke-15 banyak kritik terhadap kekangan gereja. Bangsa Eropa mulai sadar bahwa banyak kerancuan dalam ajaran gereja. Dari mulai konsep akidah, kitab suci, juga ajarannya, banyak yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan alam.

Di antara yang berani menghadirkan kritik itu adalah pendeta Nicolaus Copernicus (1543 M) mencetuskan teori heliosentris. Teori tersebut menentang kebijakan gereja yang selama ini mempunyai paham filsafat Ptolemaeus yang mengatakan bahwa bumi sebagai pusat tata surya. Perjuangan Copernicus diikuti oleh Gardano Bruno (1594), fisikiawan Jerman Johannes Kapler (1571-1630), Galileo Galilei (1564-1642), dan pada Tahun 1642 bertepatan dengan meninggalnya Galileo lahirlah ilmuan baru Isaac Newton.

Dia adalah seorang penemu teori gravitasi bumi, sehingga dengan penemuanya dia berhasil mendobrak kerancuan berpikir gereja serta mengubah world view baru bagi Eropa dalam memahami agama. Newton bukan saja mengritik gereja dalam masalah sains akan tetapi dia juga mengkritik paham trinitas. Pada tahun 1670 M dia mengumumkan bahwa ajaran trinitas dibawa oleh Athanasius untuk mencari muka orang-orang pagan yang baru masuk agama Kristen sekaligus Athanius sendiri yang memberikan tambahan-tanbahan terhadap Injil (Karen amstrong:2004).

Kritik terhadap gereja diusung pula oleh John Lock (1704 M) dengan mencetuskan liberalisme dalam politik, di mana dia membentuk ideologi baru yang memberikan kebebasan masyarakat dari kekangan pemerintahan gereja pada masa itu. Adam Smith (1790 M) mengusung liberalisme dalam ekonomi, yang memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk menjalankan perekonomiannya tanpa intervensi dari pemerintahan gereja.

Ketika otoritas Gereja runtuh, bangsa Eropa terbagi menjadi dua aliran dalam menyikapi Agama. Pertama, Aliran Deisme, di mana aliran ini masih mempercayai akan adanya Tuhan tapi tidak mempercayai akan ayat-ayat Tuhan.

Tokoh-tokohnya antara lain, Rene Decrates (1596-1650 M), Martin Luther(1483-1556 M), Huldrych Zwingli (1483-1556 M), John Calvin (1509-1564 M), Isaac Newton (1642-1724 M), John Lock (1632-1704), Immanuel Khan (1724-1804 M), dan sebagainya.

Aliran kedua adalah ateisme atau materialisme. Tokoh yang pertama meluncurkan gagasan ini adalah George Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831 M) dan muridnya Ludwig Feuerbach (1804-1872 M). Selanjutnya Karl Marx (1818-1883 M), menulis dalam buku Economic and Philosophical Manuscript, bahwa agama merupakan gejala masyarakat yang sakit. Agama adalah candu masyarakat yang bisa menerima sistem sosial yang rusak. Agama menghilangkan keinginan untuk menemukan obat dengan mengalihkan perhatian dari dunia ini kepada akhirat.

Ketidakpercayaan atas Tuhan diusung pula oleh Charles Darwin (1809-1882 M), dalam buku kontroversialnya The Origin of Species by Means Natural Selection (1859). Dengan teori evolusinya, Darwin mencoba memisahkan intervensi Tuhan dalam penciptaan alam dan kehidupan mahluk hidup di dunia ini. Ateisme berpuncak pada deklarasi kematian Tuhan pada tahun 1882 oleh Friedrich Nietzsche (1844-1900 M) melalui bukunya The Gay Science. Dengan jelas kita bisa lihat bahwa gerakan liberalisasi yang selama ini diusung oleh Barat adalah untuk keluar dari kekangan ajaran yang bermasalah, dan konsekuensi dari gerakan ini adalah mengantarkan bangsa Barat menjadi ateis atau sedikitnya mereka mempercayai Tuhan tapi tidak dengan ajaran-Nya (deisme).

Bahaya liberalisasi Islam

Agama Islam lahir ke dunia membawa konsep ajaran yang mapan dan sempurna. Konsep akidah, kitab suci dan syariahnya tidak ada yang bertentangan dengan fitrah manusia juga ilmu pengetahuan. Sehingga dengan kesempurnaannya itu Islam sejak lahir langsung bisa menjadi solusi bagi kebudayaan jahiliyah bangsa Arab.

Selanjutnya, dengan memegang teguh ajaran yang termaktub dalam Alquran dan Al Hadis, umat Islam bisa mencapai zaman kegemilangan selama berabad-abad dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa harus meninggalkan esensi ajarannya. Agama Islam mempunyai pengalaman dan esensi ajaran yang berbeda dengan agama Barat. Adalah suatu yang tidak adil dan tidak masuk akal mensejajarkan Islam dengan pengalaman keberagamaan Barat, sehingga Islam harus menerima proyek liberalisasi seperti halnya yang terjadi di Barat. Perlu diingat bahwa gerakan liberalisasi Barat telah mengantarkan mereka menjadi seorang yang ateis atau deisme. Jadi tidak menutup kemungkinan jika dampak dari liberalisasi Islam pun mempunyai dampak yang sama seperti Barat.

Sumber :
http://republika.co.id/kolom_detail.asp?id=317041&kat_id=16

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Co-Chair of Congressional 9/11 Inquiry and Former Head of Senate Intelligence Committee Confirms White House Cover Up

Posted by musliminsuffer on December 15, 2007

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

Co-Chair of Congressional 9/11 Inquiry and Former Head of Senate Intelligence Committee Confirms White House Cover Up

Thursday, December 13, 2007

The Co-Chair of the Congressional Inquiry into 9/11 and former Head of the Senate Intelligence Committee, Bob Graham, revealed that the White House refused to let the 9/11 inquiry interview one of the most important witnesses imaginable:

Senator Bob Graham, the Florida Democrat who is a former chairman of the Senate Intelligence Committee, accused the White House on Tuesday of covering up evidence that might have linked Saudi Arabia to the Sept. 11 hijackers.* * *

The accusation stems from the Federal Bureau of Investigation’s refusal to allow investigators for a Congressional inquiry and the independent Sept. 11 commission to interview an informant, Abdussattar Shaikh, who had been the landlord in San Diego of two Sept. 11 hijackers.

In his book “Intelligence Matters,” Mr. Graham, the co-chairman of the Congressional inquiry with Representative Porter J. Goss, Republican of Florida, said an F.B.I. official wrote them in November 2002 and said “the administration would not sanction a staff interview with the source.” On Tuesday, Mr. Graham called the letter “a smoking gun” and said, “The reason for this cover-up goes right to the White House.”

This isn’t some fresh-face kid talking. This is a consummate insider: the former head of senate intelligence and co-chair of the congressional 9/11 inquiry.

If the White House refused to allow an interview of a government informant who was landlord to two of the hijackers — one of the most valuable leads it could possibly pursue — what other investigations did it spike? And if the White House killed an investigation to, allegedly, protect its Saudi friends, how much more motivated would the White House have been to kill investigations into areas which implicated elements of the U.S. government itself?

The full story in
http://georgewashington.blogspot.com/2007/12/co-chair-of-congressional-911-inquiry.html

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

We (US) Are All Tortures Now!

Posted by musliminsuffer on December 15, 2007

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

We (US) Are All Tortures Now!

The U.S. Government has engaged in Extraordinary Rendition, an unlawful practice in which numerous persons have been illegally detained and secretly flown to third countries, where they have suffered additional human rights abuses including torture and enforced disappearance.

These prisoners have been transported through many countries with the knowledge of their governments. By permitting the U.S.to use its territory, these countries are in effect endorsing torture of the most vile nature in what the U.S. call its “war on terror”.

This video provides some evidence of the type of torture engaged in by by our allies. As citizens of the U.S. each of us is responsible for the actions of our government. We are complicit in the torture, distance from the tools used to inflict pain in no way reduces our part in these disgusting acts of barbarity.

Warning

This video contains graphic images and audio of torture and should only be viewed by a mature audience.

This is only a small part of what the word “torture” means

 

See also : Kidnap and Torture American Style: Video: Kidnap and Torture American Style follows the stories of terror suspects. Click to viewSee Also: Outlawed: Torture and Disappearances in the “War on Terror” Testimony from another victim of Extraordinary Rendition.

See also: “I Was Tortured” – By Sister Dianna Ortiz, OSU : Sister Ortiz relates her personal experiences and tell us that U.S. personnel were present in interrogation and torture rooms,” in Guatemala in 1989 when she was kidnapped, taken to a secret prison and repeatedly raped and tortured by troops commanded by General Hector Gramajo (a CIA asset and graduate of the U.S. Army School of the Americas).

The full story in
http://www.informationclearinghouse.info/article15740.htm

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Iraqi Resistance Report for events of Friday, 14 December 2007

Posted by musliminsuffer on December 15, 2007

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

Iraqi Resistance Report for events of Friday, 14 December 2007

Translated and/or compiled by Muhammad Abu Nasr, member, editorial board, the Free Arab Voice. http://www.freearabvoice.org

resistenza345666.jpg

  • US admits American soldier killed in bomb attack in southern Baghdad.

  • Bomb targets US, puppet army patrol in Baghdad Friday.

  • US admits American soldier shot to death in southern Baghdad Thursday.

  • British soldier reportedly dies of injuries received in traffic accident in al-Basrah.
  • Iraqi puppet regime imposes curfew on Hit starting at dawn Friday morning.
  • Car bomber targets puppet police station in al-Kubaysah early Friday morning.
  • Bomb targets US, puppet army patrol in Baghdad Friday.
  • Resistance bombards puppet army camp in Tikrit Thursday night.
  • Bomb targets puppet police in Friday Market in Tikrit.
  • US forces blockade city of al-Mada’in in preparation for mass raids, searches.
  • US artillery kills woman, four children in al-Miqdadiyah Thursday night.
  • British soldier reportedly dies of injuries received in traffic accident in al-Basrah.

The full story in
http://uruknet.info/?p=m39224&hd=&size=1&l=e

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Gregory Schulte – the US ambassador to the IAEA: “US wants nuclear-free Middle East.” How About Zionist Israel, Sir?

Posted by musliminsuffer on December 15, 2007

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

Gregory Schulte – the US ambassador to the IAEA: US wants nuclear-free Middle East

How About Zionist Israel, Sir?

AFP News brief


© 2007 AFP – Joe Klamar
Gregory Schulte — the US ambassador to the International Atomic Energy Agency — has said the United States favours a de-nuclearisation of the Middle East — provided that a global peace has been reached there and control is imposed on Iran’s nuclear capacity.

3/12/07 12h55 GMT+1

The United States favours denuclearisation of the Middle East in principle, provided that a global peace has been reached there and control is imposed on Iran’s nuclear capacity, the US ambassador to the International Atomic Energy Agency told a debate in Dubai.

Israel, Washington’s main ally in the region, is believed to be the only nuclear-armed state in the Middle East with an estimated 200 nuclear warheads. It has, however, never formally acknowledged having an atomic arsenal.

US ambassador Gregory Schulte told the Gulf Studies Centre on Wednesday that “Israel never signed the (nuclear) Non-Proliferation Treaty, so never violated the NPT.”

He added: “That said, the USA, Germany and other countries have called upon Israel to join the NPT as a non-nuclear weapon state.”

Washington, he said, supported the “vision of a Middle East free of nuclear weapons. We agree on that in principle.”

The full story in
http://www.france24.com/france24Public/en/administration/afp-news.html?id=071213115524.npf5puga&cat=null

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Komentar Serius Untuk Ulil

Posted by musliminsuffer on December 15, 2007

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

From: lasykar5 <efikoe@gmail.com>
Subject: [INSISTS] Komentar Serius Untuk Ulil oleh Husni Muadz, Univ Mataram

Komentar Serius Untuk Ulil

oleh: Husni Muadz <p2bkunr@mataram.wasantara.net.id>

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

*Ini saya* forward dari penulisnya langsung HM. HUSNI MUADZ Ph.D. (PGA – IAIN – Linguist/Arizona Univ. Kelompok Diskusi Al-Ukhuwwah Mataram) Beliau juga Putra Kyai di Praya Lombok Timur. Tanggapan silahan arahkan kepada beliau:
p2bkunr@mataram.wasantara.net.id dan enhapi@mataram.wasantara.net.id*

Bismillahirrahanirrahim

Mengikuti perkembangan diskusi pemikiran Islam liberalnya Ulil, baik yang pro maupun yang kontra, saya mendapat kesan ada sesuatu yang serius yang hilang, sehingga dasar-dasar penilaian yang muncul menjadi lebih berdasarkan selera dari pada pertimbangan pemikiran yang serius dan produktip. Untuk memperjelas apa yang saya maksud, ada baiknya saya mulai dari pembicaraan tentang fenomena Chomsky, baik sebagai aktivis kemanusiaan, maupun sebagai *linguist*, terutama yang menyangkut cara berpikir dia sebagai ilmuan dan sebagai intelektual. Setelah itu, saya akan kaitkan dengan fenomena Ulil, semoga bisa menjadi renungan kita bersama.

Noam Chomsky <http://media.isnet.org/etc/maling/Penulis.html>, yang oleh *The Nation* dikatakan sebagai ” *a major scholarly resource. Not to read (him) is to court genuine ignorance*,” dan oleh *The Guardian* sebagai “*ranks with Marx, Shakespeare, and the Bible as one of the ten most quoted sources in the humanities*,” adalah orang yang dalam kapasitasnya sebagai intelektual tidak banyak memberikan opini (sekalipun ia sangat cerdas), dan lebih banyak membiarkan data-data dan informasi yang ia berikan berbicara sendiri. Dalam tulisan-tulisannya yang banyak itu (30an buku lebih tentang politik, demokrasi, *human rights*, *international policy*, dll., dan ratusan artikel lainnya) kita bisa lihat bahwa hampir setiap statement yang dia buat di back up dengan dan merupakan kesimpulan logis dari data-data yang sangat kaya, dan detail. Kita sebagai pembaca tidak merasa dihina dengan jejalan opini-opini pribadi tanpa justifikasi logis dan empiris yang memadai (bandingkan dengan tulisan-tulisan Emha atau Ulil yang nanti kita bahas). Lihat, misalnya, *resource* dan *notes* dia dalam bukunya “*Understanding Power, The Indispensable Chomsky*’ (2002), yang jumlah halamannya 500 halaman lebih, jadi lebih tebal dari teks atau isi buku itu sendiri (400 hal lebih). Dalam memberikan data-datanya, ia hampir-hampir tidak percaya pada sumber-sumber sekunder atau commentary dari orang kedua. Ia terutama selalu merujuk pada sumber-sumber asli. Tidak heran bila dialah yang pertama (setahu saya) yang membongkar misrepresentasi atau misinterpretasi (yang agaknya disengaja) tentang posisi Adam Smith oleh para ekonom kapitalis tentang konsep-konsep *division of labor*, tentang *free market*, *equality*, dll. Dia membandingkan teks asli dengan misalnya “*the bicentennial edition of The Wealth of Nations*” Univ, of Chicago Press yang ternyata, menurut Chomsky “*it is diametrically opposes to Smith’s text on point after point*.” Agaknya ini terjadi karena text aslinya ternyata “*all the exact opposite of capitalism*” ( Chomsky (200) p 221). Berapa banyak para ekonom (lebih-lebih para ekonom kita) yang telah membaca teks asli Adam Smith? *You bet*, sebahagian besar hanya membaca tentang dia dari buku-buku teks *economics theory* saja dulu ketika mereka masih kuliah ditingkat-tingkat awal!

Sebagai bentuk tanggung jawab moralnya sebagai intelektual (beda dengan dia sebagai ilmuan *linguistics*) dalam karya karya *non-linguistics*nya itu ia hanya ingin mengatakan tentang kebenaran (bukan berpendapat tentang kebenaran atau berteori tentangnya) dan membongkar kebohongan-kebohongan, baik itu yang berkaitan dengan demokrasi, human rights, kapitalisme, media, kekuasaan, dll, terutama yang berkaitan dengan pemerintah Amerika dan counterpartnya yairu korporat-korporat besar yang mengatur dunia itu. Di dalam *Manufacturing Consent*nya, kita bisa tersentak membaca praktik-praktik media besar dunia yang hanya berfungsi sebagai propaganda dari interest-interst kelompok tertentu saja. Opini lain yang bertentangan dengan interest-interest itu tidak akan banyak mendapatkan pemberitaan. Ini yang tidak banyak diketahui, terutama bagi mereka yang hanya membaca secara dangkal “adanya kebebasan berpendapat” yang ia baca di pers Barat/Amerika. Misalnya, seperti yang diceritakan Chomsky, ada sebuah buku yang menjadi pembicaraan hangat di Amerika beberapa tahun yang lalu oleh Joan Peters “*From Time Immemorial*.” Buku yang menjadi pembicaraan setiap kampus dan mendapat *review* positip dari kalangan ilmuan sosial itu berbicara tentang warga Palestina sebagai bukan penduduk asli wilayah itu. Mereka kira-kira sama dengan Yahudi sebagai pendatang baru di tempat itu.

Buku itu kelihatan sangat ilmiah dengan *footnote* dan referensi yang lengkap. Seorang Mahasiswa Ph.D di Princeton tertarik dengan buku itu, dan mencoba mengecek referensi dan notesnya satu persatu yang ternyata semuanya *fake*! Ia menulis artikel panjang tentang itu dan mengirimkannya kesemua media yang telah membuat review positip tentang buku itu. Apa yang terjadi? Tidak ada media yang mau memuatnya. Oleh Profesornya (ingat ini di Princeton, lho, tempat magangnya Arief Budiman dulu waktu menjadi mahasiswa) menawarkan *deal* padanya asal tidak mensirkulasikan temuannya itu, yaitu ia akan aman untuk menyelesaikan Ph.D-nya dan akan mendapatkan pekerjaan yang *secure*. Mahasiswa tersebut tidak menghiraukan himbauan dosennya, bahkan ia mengambil cuti satu semester untuk memperdalam kajiannya tentang buku itu. Akhirnya Norman Finkelstein, nama mahasiswa itu, harus pindah jurusan karena di Dept.nya tidak ada lagi dosen yang mau berbicara dengannya. Di jurusan baru pun ia mendapatkan *nightmare*, tidak bisa ujian disertasi karena tidak ada komite yang mau membaca disertasinya! Akhirnya karena malu, fihak universitas memberikan dia Ph.D tanpa ujian. Setelah itu ia tidak pernah mendapatkan pekerjaan sesuai disiplinnya karena tidak ada dosen yang mau memberikan dia rekomendasi.

Itulah salah satu contoh kecil nasib siapa saja yang mau berbicara tentang kebenaran yang tidak sesuai dengan the mainstream interest. Tidak ada sensor? Buku Chomsky bersama Edward Herman “*The Washington Connection and Third World Fascism*” yang sudah tercetak 20.000 oleh Warner Modular Publication Inc. (anak perusahaan *Warner Communications and entertainment Conglomerate*) tidak jadi disirkulasikan, dan bahkan perusahaan tersebut akhirnya dilikuidasi karena terlanjur membuat kontrak untuk menerbitkan buku seperti itu! Akhirnya dua volume buku tersebut diterbitkan oleh *South End Press*, Boston, sebuah percetakan kecil yang tidak terkait dengan *the mainstream media* Amerika. Terlalu banyak contoh seperti ini, tapi tidak mudah terbaca oleh publik, apalagi oleh mereka yang telah terlanjur kepincut dengan demokrasi Amerika. Media yang *powerful* seperti itu bisa berbuat apa saja dengan berbagai cara, termasuk misalnya dengan tidak berbuat apa-apa. Menurut Chomsky, karena interest tertentu, media besar Amerika bisa berbuat yang berbeda. Misalnya, sekalipun dengan korban kemanusiaan yang relatif sama tetang kejadian di Timtim dengan di Kamboja, *The New York Time*memberikan perhatian pemberitaan yang sangat berbeda. Chomsky mencatat bahwa dari th 1975 – 1979, pemberitaan koran ini tentang Timtim hanya 70 *column inches*, sementara Kamboja mendapatkan porsi 1,175 *column inches*! Kenapa? Ya, karena Amerika memiliki *interest* yang berbeda di kedua tempat itu, sebagaimana kita sudah sama maklumi.

Contoh di atas sengaja saya kemukakan untuk menunjukkan bagaimana Chomsky dengan gigih ingin berkata tentang kebenaran, bukan dengan cara membuat *sweeping statement* yang bombastis, melainkan dengan statement-statement yang muncul secara alamiah berdasarkan data dan informasi yang ia kumpulkan dengan sangat serius. Ia berkata dengan merendah bahwa apa yang ia lakukan yang menyangkut *human affairs* bukanlah teori ilmiah, tapi ia melakukannya dengan analisa *common sense* biasa, dan yang diperlukan hanyalah kemauan mencari dan mendapatkan informasi yang cukup untuk menggambarkan realita. Ia sangat percaya bahwa manusia tidak bisa diyakinkan semata-mata dengan opini yang didasarkan oleh data yang dipilih atau didapatkan berdasarkan selera.

Oleh karenanya, sekalipun oleh pemerintah Amerika ia selalu berada dalam *black list* sejak Kennedy, ia tidak pernah gentar karena ia sangat yakin akan kelengkapan dan keakuratan data yang ia miliki sehingga siapapun yang ingin dengan kepala dingin membacanya akan memahami posisinya. Ia juga tidak pernah marah menerima cacian apapun, termasuk permintaan banyak orang agar dia hengkang dari Amerika, karena ia tidak pernah bisa diyakinkan oleh opini semata, apalagi opini yang emosional. Ia tidak pernah reaktif terhadap kejadian-kejadian; ia selalu, dengan data yang ia kumpulkan (bila bicara tentang Pelestina, ia sering merujuk koran-koran lokal dengan bahasa lokal), mencari pola (*pattern*) atau struktur yang melatari kejadian-kejadian. Ia adalah *systems thinker*, yang tugasnya *to tell the truth and to expose lies* dengan analisis sistemik yang sangat kaya akan detail. Ini bedanya dengan para pengamat kita, yang sudah puas dengan kepopuleran semata-mata hanya berbekalkan opini sebagai orang yang dianggap memiliki otoritas. Mereka sangat miskin akan data, terutama kelihatan sekali ketika mereka memberikan pendapat! Sumber-sumber kita sebagian besar dari orang, koran atau media lain yang juga sebagaian besar berkaitan dengan opini-opini. Jadi yang banyak adalah komentar dari komentar, atau komentar dari komentar dari komentar. Bung Ikra betul, ketika mengatakan kritikus seperti *spirit*metodologis Chomsky tidak kita miliki di Indonesia. Ya, yang banyak adalah pemikir *celebrities*, yang memang diundang untuk berpendapat, bukan untuk *to tell the truth* dengan fakta lengkap yang dicari dengan sungguh-sungguh.

Chomsky sebagai *linguist* adalah Chomsky yang tidak sama dengan ketika dia sebagai intelektual atau aktivis kemanusiaan. Bila sebagai intelektual ia adalah kritikus, sebagai *linguist* ia adalah perambah jalan yang sangat revolusioner, yang telah membangun paradigma baru dalam linguistik sejak tahun 50-an, dan telah terjadi 5 – 6 kali penyempurnaan radikal sejak itu. Chomsky telah meruntuhkan dominasi aliran behaviorisme Skinnerian hanya dengan sebuah artikel riview saja. Metodologi Chomsky di bidang ini mungkin baik untuk disimak, sebagai bandingan dengan bagaimana Ulil dan gerakannya mencoba merambah jalan, agar tidak terjebak kedalam onani rasio (apalagi ini menyangkut masalah Agama) yang sebenarnya tidak lebih dari justifikasi rasional dari selera (*the sphere of taste*) kegenitan saja.

Yang bisa memahami Chomsky di bidang lingistik, berbeda dengan tulisan-tulisannya di luar bidang itu, hanyalah mereka yang spesialis, terutama spesialis aliran Chomskyan. Semua konsep, terminologi dan exposisinya sangat teknis, karena memang dihajatkan untuk pembaca yang memiliki spisialisasi di bidang itu.Oleh karenanya untuk keperluan e-mail ini saya akan mencoba menyederhanakannya dengan memakai istilah teknis seminimal mungkin dan dengan paparan sesingkat mungkin. Ini tidak mudah memang, tapi *let’s see*.

Menurut Chomsky, kemampuan berbahasa manusia adalah *innate* (terutama yang menyangkut sistem bahasa), bukan sepenuhnya dipelajari dari lingkungan. Itu sebabnya tidak seorangpun (yang normal) gagal menguasai bahasa ibunya. Kompleksitas sistem bahasa yang telah dikuasai anak pada umur 10 th, misalnya, lebih kaya dari input linguistik yang pernah ia dengar selama 10 th itu (ini data empiris). Jadi terjadi semacam *the poverty of stimulus*.

Penomena ini hanya bisa dijelaskan, bila kita berasumsi bahwa kemampuan berbahasa itu adalah bawaan secara biologis. Bila logik ini diteruskan, maka impliksinya adalah bahwa sistem bahasa manusia itu, terutama yang berkaitan dengan *the initial state* nya, mestinya sama untuk semua orang. Bila *intial state* dari sistem bahasa itu sama bagi semua, pertanyaannya ialah bagaimana menjelaskan “sistem” bahasa yang begitu banyak di dunia ini? Di sinilah letak tantangannya, baik secara teoritik maupun empirik. Bagaimana Chomsky meng-*address* tantangan ini menarik untuk disimak dan mungkin bisa membantu Ulil dalam merancang metodologi gerakannya.

Pertama yang dilakukan Chomsky adalah membangun model konstruksi teoritik sistem bahasa universal, yang disebut UG (*universal grammar*), yang terdiri atas *system of principles*, bukan *systems of rules* dan beberapa parameter yang sangat sederhana. Prinsip-prinsip ini terdiri atas beberapa sub-teori yang juga sangat sederhana. Interaksi antar prinsip (sub-teori) dengan penerapan parameter tertentu akan melahirkan sistem bahasa tertentu. Jadi di balik semua sistem bahasa yang berbeda-beda itu, terdapat *underlying system * yang sama, dan *underlying system* yang sama ini harus mampu menjelaskan bagaimana dan kenapa muncul sistem bahasa yang berbeda di tingkat *surface system*. Setelah model teoritik dibentuk, tugas selanjutnya adalah pengujian secara emprik dari SEMUA fenomena yang bisa direkam dari data semua bahasa.Yang dilakukan adalah test konsistensi dari setiap data yang didapatkan dengan model teoritik yang telah dibangun. Setiap data baru yang tidak bisa dijelaskan dengan model yang ada mengharuskan adanya modifikasi tertentu pada aspek-aspek tertentu dari model itu, yang selanjutnya the modified model itu akan melahirkan prediksi-prediksi tertentu yang nantinya harus pendapatkan justifikasi empiris juga. Siklik ini berlansung terus menerus yang dilakukan secara kolaboratif oleh semua linguist yang bergerak di bidang ini.

Sekarang teori UG sudah sangat maju, dengan *back up* empirik dari sangat banyak bahasa di dunia. Perlu dicatat bahwa jenis data yang dibutuhkan bukan saja data alamiah, tapi juga data yang dikonstruksi, yaitu berkaitan dengan konstruksi-konstruksi yang tidak pernah muncul dalam bahasa manusia. Model teoretik itu harus mampu menjelaskan kenapa tidak pernah muncul data atau konstruksi seperti itu pada bahasa manusia. Bagi *linguist*, perbedaan antara bahasa Jepang dengan bahasa Inggeris, misalnya, hanya terletak pada perbedaan *parameter setting*, yang satu memilih *head intial language*, yang lainnya *head-final language*, sehingga melahirkan konstruksi di level permukaan seperti sangat berbeda. Tapi perbedaan ini memang diprediksi oleh UG yang dibangun.

Sekarang untuk menilai kesahehan teori atau model kita memiliki kriteria yang obyektip, yaitu dengan melihat konsistensi dan koherensi antara semua data dan fenomena empirik yang ada dengan model teoritik yang dibangun. Di sini unsur selera tidak banyak berperan. Silahkan orang tidak setuju dengan model teoritik tersebut, tapi tanggung jawabnya ia harus mampu membuat model aternatif yang mampu menjelaskan semua data dan fenomena yang telah bisa dijawab dengan baik oleh model yang dikritik, plus mampu menunjukkan fenomena baru yang bisa dijawab oleh model baru tersebut tetapi yang tidak bisa diterangkan oleh model lama yang di kritik. Kurang dari itu tidak bisa, karena akan berarti penolakan model itu tidak berdasarkan kriteria obyektip tapi berdasarkan selera suka atau tidak suka. Dan ktitik dengan cara seperti ini bisa diabaikan. Tanpa *framework*, atau model teoritik universal, yang akan muncul hanya deskripsi, atau penjelasan-penjelasan yang bersifat *ad hoc*, yang kelihatannya ilmiah, tapi *we are not getting anywhere*, seperti yang kita dapatkan pada banyak kajian-kajian antropologi. Sebaliknya berteori tetapi hanya di-*back up* oleh *highly selected data* adalah spekulasi filosofis yang banyak dilakukan oleh perenung-perenung keagamaan (nanti akan kita lihat apa yang saya maksudkan dengan data keagamaan). Di antara keduanya adalah pendapat-pendapat atau opini atau komentar yang sangat banyak kita lihat sehari-hari, tapi orang menganggapnya ilmiah, apalagi kalau tulisan-tulisannya sudah laku keras di koran-koran.

Dengan ancang-ancang di atas, saya ingin masuk ke pembicaraan tentang fenomena Ulil dan gerakannya (termasuk juga gerakannya Cak Nur). Melihat *state of the art* dari gerakan Islam liberal, sebenarnya belum banyak yang bisa dikomentari, sekalipun belum apa-apa sudah ribut. Saya bisa memaklumi (tetapi belum tentu setuju) sikap kontra yang muncul, karena paling tidak mereka telah memiliki referensi tentang apa yang “standar” dan mereka bisa membandingkannya dengan beberapa contoh statemen yang hanya bersifat opini dari tulisan Ulil, seperti yang menyangkut potong tangan, jilbab, negara Islam, perkawinan, budaya arab, dll. Yang gagal saya fahami adalah sikap pro yang muncul, yang belum saya lihat ada dasarnya sama sekali, kecuali karena alasan di luar substansi diskusi seperti karena keharusan memberikan kebebasan pada setiap orang untuk berpendapat. Untuk yang ini tentu tidak ada persoalan, bahkan Tuhan sendiri membiarkan DIRINYA untuk ditentang oleh setan (dan manusia), padahal apa susahnya Tuhan untuk membuat setan tidak mampu (bahkan terlintas dalam benaknya) untuk menentangNYA? Jadi persetujuan karena alasan kebebasan berpendapat, bukan alasan obyektip untuk bersikap pro, kecuali. kembali lagi, karena adanya kebebasan untuk bersikap pro itu sendiri. Atau karena adanya rasa bahwa ada sesuatu yang harus diperbuat dalam Islam sehingga kita tidak jumud seperti sekarang. Munculnya Ulil dengan gerakan menimbulkan harapan akan sesuatu yang harus diperbuat itu.

Alasan seperti ini juga bukan alasan yang terkait dengan kesahehan substansi diskusi. Alasan intrisik dan obyektip untuk bersikap pro saya melihat belum ada dasar sama sekali, karena apa yang telah dilakukan Jil baru berbentuk *statement of intent*, baru berbentuk keinginan untuk meliberalkan Islam, tentu karena kecintaannya pada Islam, kemudian ia meloncat memberikan opini tentang beberapa *case* sebagai contoh yang sepenuhnya baru bersifat opini atau selera, belum ada justifikasi semacam alur berfikir seperti diatas.(Semangat bung Ikra dalam menyikapi gerakan ini saya bisa fahami, tapi tidak Arief Budiman)

Meliberalkan Islam adalah satu keinginan Ulil dan kelompoknya. Berhasil tidaknya nanti akan sangat tergantung pada ada tidaknya kriteria keberterimaan yang ia bangun. Yang pertama yang harus ia lakukan adalah membangun model teoritik tentang Islam, yang berisi *a system of principles*, dengan beberapa parameter tertentu, khususnya yang berkaitan dengan model teoritik sistem sosial yang didealkan, bila dalam benak Ulil dkk. ada sistem sosial yang diidealkan itu. Masing-masing prinsip atau sub-teori memiliki “*working conditions*” tertentu sebagai syarat kapan dan bilamana ia berlaku atau bekerja. Bila syarat itu belum terpenuhi, maka prinsip tersebut belum bisa diterapkan pada item nilai tertentu yang sedang di uji. Kemudian asumsi-asumsi tentang *human nature* yang akan digunakan juga harus diekspresikan secara eksplisit. Bila dalam benak Ulil Islam tidak memiliki model sistem sosial yang bisa di idealkan, karena, katakanlah ia beranggapan seperti *F A Hayek* tentang *the grown social order*, sehingga yang perlu ada adalah perlindungan tertentu akan kebebasan individual oleh *whatever the existing social system* atau negara seperti, misalnya, yang diidealkan oleh *Robert Nozick*, ia harus ekpilisitkan ini dalam model teoritik yang ia bangun. Bila sistem sosial yang diidealkan adalah *spontaneous order* ala libertarian klasik, atau ala *anarcho-syndicalism*, atau apapun yang *in line* dengan konsep liberal murni, ia harus membuat model teoritik tentang hakekat-hakekat dasar manusia (*human natures*) dan model ideal kesempurnaan individu, dan *social order* yang seperti apa yang diperlukan dan yang kondusif untuk kesempurnaan individu itu. Apapun asumsi dan modelnya, liberal, konservatif, atau *communitarian*, atau asumsi yang dibuat sendiri berdasarkan *insight* barunya tentang Islam, model teoritiknya harus ada secara ekplisit, karena model ini nantinya akan dipakai menjelaskan data Islam yang ada. Tanpa *move* ini, proyek liberalisme Islam akan terjebak pada proyek selera/opini yang hanya akan melahirkan reaksi-reaksi emosional, baik pro maupun kontra, bukan proyek yang bisa meransang pemikiran jernih, kritis dan obyektip, karena *the criteria of acceptability* tidak dibangun sejak awal.

Langkah berikutnya adalah menginventarisasikan SEMUA data yang berkaitan dengan nilai-nilai dan konsep Islam yang ada dalam Al-Qur’an dan Al-Sunnah, sebagai data yang akan digunakan sebagai “*the empirical testing ground*” dari model yang dibangun. Semua data, atau lebih tepatnya, semua interpretasi tentang data tersebut harus bisa dilihat memiliki *internal coherency* and *consistency* dengan model teoritik yang ditawarkan itu. Misalnya, bila model yang ditawarkan itu, katakanlah mirip dengan liberalisme murni, dimana individu-individu harus berada dalam *equality of opportunity*, dan memiliki kebebasan individual selama kebebasan itu tidak mengganggu kebebasan orang lain, bagaimana ini konsisten dengan konsep-konsep keadilan, ukhuwah, zakat, waris dll. yang ada dalam teks? Yang akan dilakukan bukan lansung mereinterpretasi data teks satu persatu sesuai keinginan sendiri, tapi masing masing data harus dilihat konsistensinya dengan *the sistem of principles* (sub-teori – sub-teori) yang ada dalam model, dan akhirnya semua data (semua item nilai) harus mampu dilihat memiliki sinergi menuju atau mengarah pada model teoritik yang ditawarkan, atau tergantung *parameter setting* yang dipilih, setiap pilihan parameter akan mampu memprediksikan bentuk “*emergent properties*” akibat interaksi dan *interplay* dari dan antar nilai – nilai, yang juga konsisten dan diprediksikan oleh model teoritik itu.

Mari kita lihat *case* ijtihad atau interpretasi Saidina Umar tentang ganimah perang sebagai ilustrasi. Praktik yang dilakukan Nabi yang berkaitan dengan pampasan perang ialah dengan membagi, sesuai aturan tertentu, hasil rampasan perang tersebut kepada para mujahid yang ikut berperang. Ini juga ada teksnya dalam Al-Quran (jadi tentang ini informasinya ada di Al-Qur’an dan Sunnah). Nah, ketika tentara Islam memenangkan perang di Irak, Saidina Umar tidak mau membagi-bagikan tanah yang begitu luas di Irak itu kepada bala tentara Islam. Saat itu terjadi perdebatan seru yang pro dan kontra, antara mengikuti praktik Nabi atau S. Umar, yang akhirnya debat dimenangkan oleh Saidina Umar. Alasan S. Umar r.a. ialah bahwa tidak *fair* membagi tanah yang begitu luas hanya kepada sekelompok kecil tentara saja, sementara penduduk Irak yang telah menyerah dan telah masuk Islam akan di biarkan tidak memiliki apa-apa. Singkatnya, Saidina Umar tidak mau menciptakan kelompok kecil baru dimana semua kekayaan beredar (konglomerat baru) pada mereka. Ini juga bertentangan dengan semangat Qur’an. Teks eksplisit tentang ini juga ada dalam Al-Quran. Nah, bila salah satu prinsip (sub-teori) yang ditawarkan dalam model teoritik itu berkaitan dengan prinsip keadilan dengan difinisi dan kondisi keberlakuan tertentu yang telah dielaborasi dalam model, maka kedua contoh teks yang kelihatan bertabrakan itu hanya akan nampak bertabrakan dipermukaan saja (*surface structure*), tapi tidak ada tabrakan sama sekali bila dilihat pada level *deep structure* atau level *underlying system*. Nabi membagi bagikan rampasan perang itu kepada tentara Islam karena mereka waktu itu memang membutuhkannya, karena mereka semua relatif miskin. Sebaliknya, S. Umar tidak mau membagikannya karena si penerima akan menjadi terlalu kaya, sedangkan yang lainnya akan menjadi sangat miskin. Bila kedua perlakuan ini kita hadapkan dengan teks yang berlawanan secara literal, maka akan terjadi interpretasi yang aneh dan jangal: tindakan S. Umar berlawanan atau melanggar teks yang dipakai Nabi, dan sebaliknya, lebih janggal lagi, tindakan Nabi berlawanan atau melanggar teks yang dipakai S. Umar.

Ini bahayanya kalau interpretasi tidak berdasarkan model teoritik tertentu, pasti akan menimbulkan fitnah yang akan sangat merugikan, persis seperti apa yang sedang dilakukan oleh Ulil dan kawan-kawan sekarang ini: menolak pemberlakuan ayat-ayat tertentu yang sebenarnya sangat eksplisit, baik interpretasinya secara literal atau non-literal. Ulil bukanlah S. Umar yang mampu memenangkan argumentasi; ia bahkan belum mulai berargumentasi; ia baru hanya mengatakan ayat ini dan ayat itu sudah tidak berlaku lagi karena tidak sesuai dengan zaman modern! Ini bukan argumentasi, tapi opini. Ini kira-kira sama dengan orang yang tidak mau mempraktekkan ajaran agamanya, tapi belum seekstrim mengatakan secara eksplisit bahwa ayat-ayat itu tidak berlaku lagi. Ulil mengatakan bahwa agama itu urusan individu dengan Tuhan, *a very sweeping claim* tanpa merasa bertanggung jawab secara intelektual, apalagi moral, untuk menjelaskan *how come*! Tidak perlu harus bisa bahasa arab, dengan membaca terjemahan Al-Qur’an saja anak SD akan berkesimpulan bahwa Al-Qur’an sarat dengan pesan-pesan kemanusiaan. Anak saya yang masih SD sudah hafal ayat dan terjemahan surat Al Maun: “Tahukah kamu orang yang mendustakan Agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin….” Coba perhatikan ayat pertama, disitu kata agama disebut, kan? Lantas, darimana datangnya *claim* yang mengatakan bahwa agama itu hanya urusan individu dengan Tuhan? Kecuali kalau Ulil menganggap bahwa ayat ini adalah juga ayat yang termasuk tidak berlaku lagi! Inilah metodologi Islam liberalnya Ulil, sebagai pembaharu Islam: metodologi semaunya, yaitu *interpretation by deletion*!

Kembali pada contoh kasus Saidina Umar. Dengan prinsip keadilan dengan difinisi tertentu dan dengan kondisi keberlakuan tertentu yang menjadi salah satu komponen sistem atau model teoritik, ke dua tipe teks di atas tidak ada yang bertabrakan sama sekali. Kedua-duanya merujuk pada prinsip yang sama, yaitu prinsip keadilan! Perbedaan terletak pada kondisi keberlakuan ayat sesuai dengan kondisi yang dipersyaratkan oleh prinsip keadilan. Prinsip keadilan memiliki kondisi keberlakuan A, B, C, misalnya. Ayat atau Sunnah yang berhubungan dengan ganimah, karena ayat ini berkaitan dengan keadilan, maka ia berlaku bila kondisi A, B, dan C terpenuhi. Praktik yang dilakukan Nabi telah memenuhi syarat A, B, dan C itu. Sebaliknya, dalam kasus Saidina Umar, Saidina Umar tidak menerapkan ganimah karena beliau melihat kondisi A, B, atau C belum terpenuhi. Jadi Ayat atau Sunnah yang berkaitan dengan ganimah tidak bisa diterapkan karena belum memenuhi syarat konsisi keberlakuan prinsip keadilan. Justru prinsip keadilan sedang dihormati dengan cara tidak menerapkan ayat atau Sunnah tersebut. Dengan pendekatan seperti ini, tidak ada ayat yang perlu “dibuang” atau dilikuidasi karena dianggap tidak sesuai dengan zaman (memangnya siapa saya dan anda sehingga merasa memiliki otoritas untuk bisa berbuat begitu?). Isunya sentralnya berkaitan dengan metodologi, bukan esensi kebenaran semua ayat. Yang terakhir ini berkaitan dengan iman; bila mengimani semuanya atau sebahagian saja dan sebahagiannya lagi dimasukkan kedalam tong sampah budaya arab seperti yang ditawarkan Ulil, ya apa mau dikata. Bahkan untuk tidak mengimani semuanya juga tidak ada yang akan memaksa. Tapi kalau kita ingin berbuat karena kecintaan yang sama terhadap agama kita, saya ingin mengatakan bahwa problem kita adalah problem metodologis, bukan problem keimanan, yaitu tentang kebenaran intrinsik Al-Qur’an dan Sunnah. Jangan sampai niat baik kita untuk berbuat yang terbaik untuk agama dan umat, tapi karena kebodohan kita, kita justru terjebak pada problem keimanan itu. Hidup kita ini singkat; sangat sayang kalau waktu kita kita habiskan untuk bergenit-genitan. Ya, sekali lagi problem sentralnya adalah metodologis, dan ini belum selesai bahkan belum dimulai digarap dengan serius, termasuk oleh gerakan pembaharuan senior kita Cak Nur.

Kalau kita serius mau berbuat untuk pembaharuan Islam, mari kita diskusi yang serius tentang ini dan membuat agenda program kegiatan yang sistematis. Mohon tanggapan dari semua!

Husni Muadz
Pusat Penelitian Bahasa dan Kebudayaan,
Universitas Mataram.
*moderator Media-Isnet

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Kesalahan Metodologi Kelompok Liberal **

Posted by musliminsuffer on December 15, 2007

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

From: lasykar5 <efikoe@gmail.com>
Subject: [INSISTS] Kesalahan Metodologi Kelompok Liberal oleh Yahya Abdurahman

Kesalahan Metodologi Kelompok Liberal **

Yahya Abdurrahman

*Munculnya kelompok liberal di Indonesia diangap sebagai tanggapan otentik dalam mengapresiasi gagasan-gagasan liberalisme Barat. Kelompok liberal ini berkembang menjadi jaringan yang siap menjalar ke seluruh daerah dan ke setiap bagian tubuh kaum Muslim di Indonesia. Ibarat sel kanker, kelompok ini telah tumbuh membentuk jaringan yang siap menjangkiti seluruh tubuh kaum Muslim. Tulisan ini akan mengurai beberapa keganjilan metodologi kelompok liberal itu.*

*Ideologi Kapitalisme Sekular Sebagai Pijakan *

Satu hal yang menonjol dari kelompok liberal adalah keyakinan mereka atas ideologi kapitalis yang berpangkal pada akidah sekularisme. Menurut Luthfi Assyaukanie, kontributor JIL, dengan sekularisme—istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh George Jacob Holyoake (1817-1906)—masing-masing agama dan negara memiliki otoritas sendiri-sendiri: negara mengurusi politik sedangkan agama mengurusi gereja.*1 <http://mail.google.com/mail/?shva=1#catatankaki1>

* Jadi, sekularisme intinya adalah pemisahan agama dari kehidupan. Dari akidah ini lahir ide liberalisme (kebebasan: kebebasan beragama [*freedom of believe*]; kebebasan berpendapat [*freedom of opinion*]; kebebasan kepemilikan [*freedom of ownership*]; dan kebebasan berperilaku/berekspresi [*personal freedom*]), pluralisme, relativitas kebenaran, dan sebagainya.

Akidah ini juga memberikan landasan pada demokrasi dan sistem Kapitalisme. Keyakinan mereka atas sekularisme dengan seluruh pemikiran turunannya itu dapat kita lihat secara jelas dari ungkapan mereka sendiri. Di antara misi

Jaringan mereka (JIL) adalah *mengembangkan penafsiran Islam yang liberal *sesuai dengan prinsip-prinsip yang mereka anut. Di antaranya: mereka mempercayai kebenaran yang relatif, terbuka, dan plural (pluralisme); meyakini kebebasan beragama; memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik. Mereka yakin bahwa kekuasaan keagamaan dan politik harus dipisahkan dan bentuk negara yang sehat bagi kehidupan agama dan politik adalah negara yang memisahkan kedua wewenang tersebut. Agama adalah sumber inspirasi yang dapat mempengaruhi kebijakan publik, tetapi agama tidak punya hak suci untuk menentukan segala bentuk kebijakan publik. Agama berada di ruang privat dan urusan publik harus diselenggarakan melalui proses konsensus—demokrasi.*2 <http://mail.google.com/mail/?shva=1#catatankaki2>

*
Bagi kelompok liberal, sekularisme sudah menjadi keyakinan (*qanâ’ah*) yang mereka yakini kebenarannya. Tampak jelas bahwa mereka telah menjadikan sekularisme dan ideologi Kapitalisme sebagai pijakan. Kenyataan ini sungguh bertolak belakang dengan ciri seorang Muslim. Seorang Muslim sejatinya meyakini kebenaran akidah Islam berikut sistemnya dan menjadikannya sebagai pijakan.

*Menilai Islam dengan Pandangan Barat *

Sebagai keyakinan mereka, sekularisme mereka fungsikan sebagai standar (* maqâyis*), yakni sebagai standar untuk menilai dan menimbang ide, konsep, dan pemikiran yang lain. Terhadap ide, konsep, dan pemikiran Islam, maka mereka menilainya dengan standar sekularisme dan ide-ide turunannya itu.

Mereka menafsirkan teks-teks syariat dengan standar sekularisme-liberalisme. Tidak aneh jika mereka kemudian menggagas metode penafsiran liberal, pluralis, kontekstual, dan sebutan lainnya; yang pada intinya adalah menafsirkan teks dengan standar sekularisme dan turunannya. Misalnya, Allah Swt. berfirman:

*Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam) *. (*QS al-Baqarah [2]: 256*).

Ayat di atas mereka tafsirkan dengan ‘kebebasan beragama’. Artinya, siapapun berhak memilih agama apapun, bahkan untuk tidak beragama sekalipun; juga bahwa seorang Muslim berhak untuk pindah agama, karena setiap orang bebas untuk memilih keyakinannya sendiri. Padahal ayat tersebut hanya menjelaskan tidak bolehnya kita memaksa non-Muslim agar masuk Islam, tidak lebih.

Penafsiran mereka itu muncul tidak lain karena mereka telah meyakini kebebasan beragama khas ideologi Kapitalisme sekular. Ulil Abshor Abdalla, koordinaor JIL, juga pernah menyatakan bahwa Muhammad saw. bukan hanya seorang nabi dan rasul, tetapi juga seorang politikus, namun kebijakan beliau tidak harus ditiru. Ia beralasan, “Bagaimanapun contoh Nabi saw. di Madinah sangat dikondisikan oleh konteks sosial dan sejarah yang spesifik pada saat itu.”*3 <http://mail.google.com/mail/?shva=1#catatankaki3>

* Kesimpulan Ulil ini adalah kesimpulan khas sekularisme, yang ‘mengharamkan’ agama berperan formal di ruang publik. Perbuatan dan kebijakan Nabi saw. dalam wilayah publik tidak dianggap sebagai bagian dari tuntunan kenabian yang bersumber dari wahyu, tetapi hanya dianggap sebagai buah kejeniusan beliau.

*Fakta dan Sejarah Sebagai Sumber Hukum *

Yang tidak kalah ganjilnya adalah metode berpikir mereka yang menjadikan fakta dan sejarah sebagai sumber hukum. Menurut mereka, fakta dan sejarah adalah faktor determinan yang menentukan hukum. Ini jelas keliru dan sekaligus secara telanjang menunjukkan pola berpikir Barat yang mereka gunakan dalam memandang kaitan fakta dengan hukum. Sebab, dalam falsafah hukum Barat, realitas sosial masyarakat dipandang sebagai ‘ibu kandung’ yang melahirkan nilai dan norma hukum. Salah satu prinsip falsafah hukum Barat adalah: undang-undang adalah anak kandung yang lahir dari situasi dan kondisi sosial masyarakat. *4 <http://mail.google.com/mail/?shva=1#catatankaki4>

*
Inti pandangan mereka adalah mengembalikan hukum pada akal manusia. Padahal keputusan akal tidak pernah permanen. Jika hukum dikembalikan pada akal, akan lahir sekian banyak hukum yang bertentangan satu sama lain. Pandangan akal sangat bergantung pada faktor waktu, tempat, pengetahuan, kedewasaan, watak, lingkungan, emosi, dan lain sebagainya. Penilaian akal bisa bertentangan antara satu orang dengan yang lain, antar tempat dan masa. Di samping itu, akal tidak bisa menjangkau pahala dan siksa akhirat. Semestinya, fakta dan sejarah harus dijadikan obyek yang akan dinilai dan dihukumi dengan standar baku dan benar yang berasal dari Allah. Di sinilah Allah memerintahkan kita untuk menghukumi sesuatu (fakta sosial dan sejarah) dengan apa yang diturunkan-Nya (QS al-Maidah [5]: 48). Artinya, Allah memerintahkan kita menjadikan wahyu (al-Quran dan as-Sunah) sebagai sumber hukum (*mashdar al-hukm*) dan menjadikan fakta sosial dan sejarah sebagai obyek yang dihukumi (*manâth al-hukm*).

*Menolak Syariat, Tetapi Mencari Pembenaran Lewat Syariat *

Dalam upaya mereka menolak syariat, tidak jarang mereka mencari pembenaran lewat syariat, yaitu dengan mengutip teks syariat dan ucapan para ulama, termasuk kaidah ushul fikih, namun setelah mereka pelintir, untuk mendukung dan membenarkan pendapat mereka. Deny JA menunjukkan semangat ini. “Oleh karenanya, sudah saatnya kita mengembangkan satu teologi negara sekular demokratis yang langsung mendapat justifikasi dari prinsip-prinsip Islam.”
Sikap seperti ini ‘terpaksa’ harus ditempuh karena yang menjadi target adalah kaum Muslim yang masih merujuk pada syariat. Jika tidak menggunakan pembenaran lewat syariat, ide-ide mereka akan tertolak, bahkan sebelum menyentuh sasaran.

*Sering Stereotip dan Tidak Adil dalam Menilai Islam *

Mereka meyakini ide pluralisme bahwa semua agama adalah benar, artinya juga semua syariat agama-agama itu adalah benar. Akan tetapi, mereka sering mengecualikan Islam dan syariatnya. Luthfi Assyaukanie, ketika membela sekularisme menulis, “Alangkah tidak *fair *jika kita mengecam sekularisme semata-mata karena kita merujuk pada praktik sekularisme yang salah.” Di sisi lain kita dapati mereka selalu menggunakan penerapan Islam yang buruk/salah (*isâ’ah at-tathbîq al-islâm*) sebagai alasan mengecam syariat Islam. Semestinya sebuah konsep/ide dinilai dari konsepsi ideal yang bersumber dari rujukan sahnya. Masalahnya, hal ini tidak bisa dilakukan terhadap sekularisme, karena sangat sulit menunjuk secara tegas konsepsi ideal sekularisme, karena ketiadaan sumber rujukan sah atas itu. Sebaliknya, kita akan sangat mudah menunjuk konsepsi ideal dan sumber rujukan Islam yang sah, yaitu al-Quran dan as-Sunnah.

Begitu juga tuduhan mereka yang mengecam penafsiran literal atas teks dan lebih mengedepankan penafsiran kontekstual. Akan tetapi, tidak jarang pula mereka menggunakan penafsiran literal teks jika sekiranya itu bisa dipelintir untuk mendukung pendapat liberal mereka. Ambil contoh penolakan mereka akan Daulah Islam hanya karena dalam al-Quran tidak ada kata *dawlah *(negara) ­ sebuah alasan yang sangat literal/tekstual.

*Sering Memelintir Teks dan Pendapat Para Ulama *

Kelompok liberal sering mengutip teks atau pendapat ulama, yang telah mereka pelintir maknanya agar sesuai dengan ide sekularisme yang mereka yakini. Misal, mereka sering mengutip *maqâshid asy-syarî’ah *-nya Imam asy-Syathibi, tetapi mereka pelintir maknanya. *Pemeliharaan *mereka maknai dengan *kebebasan *. *Hifzh al-‘aql *(pemeliharaan akal) mereka maknai dengan kebebasan berpendapat, *hifzh ad-dîn *(pemeliharaan agama) mereka artikan dengan kebebasan beragama, *hifzh al-mâl *(pemeliharaan harta) mereka samakan dengan kebebasan kepemilikan, *hifzh al-‘irdh *(penjagaan kehormatan) mereka maknai dengan kebebasan individu. Walhasil, Imam asy-Syathibi dan *maqâshid asy-syarî’ah *-nya hanya mereka catut untuk medukung pendapat sekular-liberal mereka. Agaknya, bukan hanya asy-Syathibi yang mereka perlakukan demikian. Begitu pula mereka sering mengutip ungkapan *ad-dîn wâhid wa asy-syarî’ah mukhtalifah *(agama itu satu, sedangkan syariat beragam) yang mereka katakan pendapat Ibn ‘Aqil dan dikutip ath-Thabari. Pendapat itu mereka gunakan untuk menolak syariat dan membenarkan pendapat mereka yang liberal dan plural. Imam ath-Thabari mengutip ungkapan itu bukan dari Ibn Aqil, tetapi dari Ma’mar yang menuturkan ungkapan Qatadah dalam menafsirkan surat al-Maidah ayat 48: *Untuk tiap-tiap umat di antara kalian, Kami memberikan syariat dan jalan yang terang*. 5 <http://mail.google.com/mail/?shva=1#catatankaki5> Ibn Abi Hatim dan Abu Syaikh menuturkan dari Qatadah maksud tafsir ayat tersebut: Maksudnya adalah jalan dan sunnah-sunnah ­ bagi Taurat ada syariat, bagi Injil (ada syariat bagi) orang yang menaatinya dan yang bermaksiyat. Akan tetapi, agama adalah satu, yang hanya menerima tauhid dan ikhlas, inilah yang dibawa oleh Rasul. *6 <http://mail.google.com/mail/?shva=1#catatankaki6>

*
Maksud ayat tersebut memberitahu kita bahwa bagi setiap agama samawi, Allah memberikan syariat yang tidak sama. Akan tetapi, dalam nash-nash lain dijelaskan bahwa sejak Muhammad diutus, syariat selain Islam sudah tidak berlaku lagi dan tidak akan diterima di sisi Allah. Hanya syariat Islamlah yang berlaku dan diterima di sisi Allah. (QS Ali Imran [3]: 85).

*Menjadi Perpanjangan Tangan Barat *

Melihat kemiripan ide, konsep, dan perjuangan kelompok liberal, hal itu menyiratkan bahwa mereka tidak lebih merupakan perpanjangan tangan dan aktor yang disutradari oleh Barat. Proyek Barat sebelumnya untuk mengobok-obok dan menyimpangkan Islam tidak berhasil gemilang. Sebab, aktornya adalah kalangan Barat sendiri yang notabene non-Muslim. Akibatnya, ide dan konsep mereka sulit memasuki ruang pemikiran kaum Muslim. Di sinilah sesungguhnya posisi kelompok liberal itu, yakni untuk melempangkan jalan Barat untuk mempengaruhi kaum Muslim, baik mereka sadar atau tidak. Misi mereka sudah barang tentu mem-Barat-kan kaum Muslim. *Wallâh a’lam bi ash-shawâb. *

Catatan Kaki:
1. *Islamlib.com *, editorial 11/04/2005, Luthfi Assyaukanie, “Berkah Sekulerisme”
2. Lihat: Islamlib.com.
3. Lihat: Ulil Abshar Abdalla, *”Muhamamd: Nabi dan Politikus,” *Media Indonesia, 4/5//2004, hlm. 1.
4. Mufti & Al-Wakil, *At-Tasyrî’ wa Sann al-Qawanîn fi ad-Dawlah al-Islâmiyyah *, hlm. 10, 1992
5. Imam ath-Thabari, *Tafsîr ath-Thabari, *vi/270, Dar al-Fikr, Beirut . 1405; Ibn al-Manzhur, *Lisân al’Arab *, viii/176, Dar al-Fikr, Beirut; Abd ar-Razaq Humam ash-Shan’ani, *Tafsîr ash-Shan’ani *, ed. Dr. Mushthafa Muslim Muhamamd, i/192, Maktabah ar-Rusyd, Riyadh, cet I. 1410.
6. As-Suyuthi, *ad-Durr al-Mantsûr, *iii/96, Dar al-Fikr, Beirut . 1993.

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

*Membebaskan Belenggu JIL*

Posted by musliminsuffer on December 15, 2007

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

From: lasykar5 <efikoe@gmail.com>
Subject: [INSISTS] Membebaskan Belenggu JIL oleh Fahmi Amhar

*Membebaskan Belenggu JIL*

Fahmi Amhar, pengajar Pascasarjana Universitas Paramadina

JARINGAN Islam Liberal (JIL) adalah sebuah fenomena menarik di Indonesia karena dianggap mendobrak kemapanan dan kejumudan berpikir. Hal itu bisa dimengerti karena rata-rata aktivis JIL memiliki latar belakang Islam tradisional, yang berorientasi masalah ubudiyah dan tradisi yang dogmatis, yang praktis harus diikuti tanpa diskusi. Padahal, aturan-aturan itu sering tidak relevan dengan pembebasan umat Islam dari kemiskinan, kebodohan, ataupun penindasan.

Di sisi lain, kelompok-kelompok Islam revivalis, yang ingin menyelamatkan umat dengan syariat sering bersikap simplistis, misalnya menekankan syariat sekadar kewajiban mengenakan jilbab pada muslimah, atau hukum-hukum hudud pada kasus pidana, namun mereka jarang memiliki konsep yang komprehensif dan rasional tentang mekanisme pembebasan manusia dari berbagai keterpurukannya. Bahkan, cita-cita memunculkan Islam sebagai *rahmatan lil alamin* terkadang diwujudkan dengan cara-cara kekerasan, dan inilah *trade mark* Islam radikal yang menjadi salah satu pendorong sehingga JIL merasa perlu bersuara lebih lantang.

Dengan demikian, saya melihat JIL sebagai suatu antitesis atas latar belakang jumud dan alternatif radikal yang miskin konsep. Ini suatu hal yang bisa dimengerti, namun tidak boleh dibiarkan.

*JIL terbelenggu*

Saya setuju dengan pendapat Ulil bahwa Islam itu semacam organisme dan bukan monumen yang mati. Untuk itulah, realitas sejarah Islam di masa awal membuka pintu ijtihad yang membuat peradaban Islam berkembang pesat.

Namun, ‘paradigma organisme’ ini jangan menjadi belenggu baru bagi kita, bila kenyataannya memang ada yang tidak memberi kesempatan ijtihad, karena sudah begitu terang (*qath’i*). Andai paradigma organisme ini begitu menonjol, Islam tidak akan tersisa lagi. Salat, puasa, atau haji bisa-bisa dianggap aktivitas mubazir yang tidak relevan dengan pembebasan manusia dari keterpurukannya.

Demikian juga dengan ‘paradigma nonliteral’. Sesungguhnya, teks-teks Islam (Quran dan hadis) memiliki makna literal dan makna *syar’i* (hukum).

Makna *syar’i* memang harus dipahami dalam konteks pelaksanaan syariat lain yang lebih luas, namun juga bisa lebih terbatas. Istilah salat, yang bermakna literal doa, memiliki makna *syar’i* aktivitas tertentu yang dimulai dari takbiratulihram dan diakhiri dengan salam. Justru JIL saya lihat lebih sering memakai makna literal untuk ditafsirkan sesuka hawa nafsunya.

Dalam kejumudannya, umat Islam di Indonesia memang sering melakukan suatu ritual yang sebenarnya hanya budaya, tanpa dasar syar’i. Namun, dalam masyarakat tradisional, hal-hal seperti itu (seperti memakai jubah), atau bahkan yang termasuk TBC (tahayul-bidah-churafat), bisa disakralkan. Dan inilah (sesuai latar belakang JIL) yang pantas dikaji ulang. Namun, bukan hal-hal yang memang bukan tradisi, bahkan di Arab sendiri. Jilbab, misalnya, bukanlah tradisi Arab di masa Nabi. Kalau sekarang di sana menjadi semacam tradisi, apa salahnya kalau Islam yang dulu memulai tradisi itu?

Konsep Ulil tentang adanya ‘nilai-nilai universal’ yang mewajibkan umat Islam tidak memandang dirinya terpisah dari umat manusia yang lain, seperti nilai ‘kemanusiaan’ atau ‘keadilan’ pada tataran praktis akan menemui jalan buntu. Manusia di mana pun memang diciptakan Tuhan untuk memiliki berbagai sifat yang sama, misal suka diperlakukan adil. Namun, bagaimana adil itu diciptakan ternyata tidak bisa berhenti pada dataran filosofis, namun harus turun ke dataran yuridis, bahkan pada beberapa hal harus turun lagi ke dataran aritmetis (misalnya pada pengenaan pajak progresif atau juga pembagian warisan).

Karena itu, kalau Ulil usul untuk mengamendemen aturan yang membedakan muslim dan nonmuslim (karena konon melanggar prinsip kesederajatan), konsekuensinya mestinya salat id boleh diimami oleh nonmuslim, atau kalau yang agak kurang ritual ya nonmuslim harus ikut bayar zakat.

Tentunya banyak hal-hal yang lalu menjadi absurd.

Cita-cita bahwa agama adalah urusan pribadi, sedangkan pengaturan kehidupan publik sepenuhnya hasil kesepakatan masyarakat melalui proses demokrasi, realitasnya justru sering dilanggar para penganjurnya sendiri, begitu Islam yang keluar sebagai pemenang proses itu. Ketika jilbab dikenakan muslimah profesional secara sukarela, yang mengemuka bukanlah kebebasan pribadi untuk beragama, melainkan kecurigaan atas fundamentalisme, bahkan terorisme.

Bahwa Islam pada tataran praktis hanya akan terealisasi jika kekuatan real-politis di masyarakat sepakat menerapkannya, ya. Kalau ini disebut proses demokrasi, silakan. Namun, kalau pada tataran ide umat Islam memperjuangkan agar syariat Islam yang diterapkan, apanya yang salah?

Bukankah ada kekuatan-kekuatan lain yang juga ingin menerapkan ide-ide yang lain?

Tentang Rasul Muhammad SAW, memang benar kita tidak diwajibkan mengikuti secara harafiah. Dalam kajian ushul fiqh kita tahu, ada perbuatan Rasul yang jibilliyah (wajar sebagai manusia Arab abad VI M), misalnya makan kurma atau pakai jubah. Orang kafir pun saat itu demikian. Ada juga perbuatan Rasul yang khas untuk beliau, tak boleh diikuti umatnya, misalnya boleh berpuasa tanpa berbuka, atau menikahi sampai sembilan istri. Namun, selebihnya adalah dalil syar’i. Tentunya dalil ini ada yang sifatnya fardu, mustahab, atau mubah. Tidak semua yang dikerjakan Rasul itu fardu. Di sinilah pentingnya belajar ushul fiqh. Namun, Ulil menggeneralisasi, menganggap Islam yang dibawa Rasul hanya *one among others*, salah satu jenis Islam di muka bumi. Kalau begitu, Islam yang lain mencontoh siapa?

Memang kebenaran bukanlah milik satu golongan saja. Namun, peradaban ataupun disiplin ilmu mana pun pasti memiliki suatu *frame*. Islam, tentu saja, hanya layak dipahami atau ditafsirkan oleh orang yang percaya bahwa dia *frame* yang sah untuk dijadikan pandangan hidup. Akan *absurd* mengikuti penafsiran Quran dari nonmuslim yang tidak percaya bahwa Quran adalah wahyu Ilahi, se*absurd* mengikuti pendapat tentang sains dari paranormal yang tidak percaya sains.

Saya setuju bahwa misi Islam yang terpenting adalah menegakkan keadilan, terutama di bidang politik dan ekonomi. Dan tentu ada syariat yang mengatur masalah ini, dan itu memang bukan syariat jilbab, memelihara jenggot, atau hal-hal *furu’iyah*, melainkan syariat yang mengatur masalah kepemilikan, muamalah, sistem moneter, dan hubungan luar negeri.

Namun, kembali *absurd* ketika Ulil mengatakan upaya menegakkan syariat adalah wujud ketidakberdayaan umat Islam atau mengajukan syariat Islam adalah sebentuk kemalasan berpikir.

Memang kalau melihat ‘habitat’ Ulil dari kalangan tradisional yang jumud atau menghadapi kalangan radikal yang miskin konsep, pemahamannya adalah refleksi pengalamannya yang terbatas. Namun, generalisasinya tadi sungguh tidak ilmiah.

Fakta, ada kelompok-kelompok yang berupaya menegakkan syariat namun bukan sebagai wujud ketidakberdayaan ataupun malas berpikir. Gerakan Ikhwanul Muslimin ataupun Hizbut Tahrir, misalnya, banyak menerbitkan buku-buku yang memuat ide-ide tentang pengentasan kemiskinan (sistem ekonomi Islam) atau mengatasi kezaliman (sebagai lawan ketidakadilan) secara syariat. Mereka berjuang tanpa kekerasan.

Dan kalau Ulil keberatan dengan pandangan bahwa syariat adalah suatu ‘paket lengkap’ untuk menyelesaikan masalah di dunia di segala zaman, selain barangkali ini karena keterbatasan pemahaman Ulil atas syariat itu sendiri, juga keterbatasan dia memahami apa itu ideologi.

Ideologi adalah suatu ide dasar yang di atasnya dibangun suatu paket lengkap sistem untuk solusi problematik manusia.

Maka, kalau Ulil mengkritik orang-orang yang memahami Islam sebagai ideologi yang mengajukan syariat sebagai paket lengkap solusi, mengapa dia tidak melakukan kritik yang sama atas ideologi sekulerisme, yang juga mengajukan paket solusi yang sama hanya atas dasar yang berbeda?

Sesungguhnya ide liberalisme JIL hanyalah salah satu unsur dalam paket sekulerisme, yang unsur lainnya adalah demokrasi, kapitalisme, dan *last but not least*: imperialisme. Di sinilah, saya katakan, kawan-kawan di JIL harus melepaskan belenggu mereka dulu. Dalam bahasa ESQ perlu *zero mind process*dulu.***

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »