Muslim in Suffer

Bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem. Assalamu\’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh!

Bisakah Tiada Dusta Diantara Kita (1)

Posted by musliminsuffer on January 14, 2008

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

From: akbar muzakki <akbar_jatim@yahoo.com
Subject: [INSISTS] Ahmadiyah, Ulil Versus Amran

Bisakah Tiada Dusta Diantara Kita (1)

Sikap Inggris melindungi Ahmadiyah, bukan karena kue kebebasan Barat dan Eropa, itu karena utang moral penjajahan. [jawaban untul Ulil Abshar bagian pertama]

Pengantar

Tulisan saudara Amran Nasution berjudul “Dari Moshaddeq Sampai Mount Carmel” (www.hidayatullah.com, Jumat, 23 November 2007) ditanggapi Ulil Abshar Abdallah di beberapa milis Islam juga dimuat disitus Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan judul, “Amran dan Beberapa Kekeliruan” (dimuat, 27 November 2007).

Tulisan ini cukup menarik, sebab tak beberapa lama, Amran langsung membalasnya lagi dengan tulisan berjudul “Yang Sembrono dari Ulil Abshar” (dimuat di situs www.hidayatullah.com, Rabu, 5 Desember 2007). Saling adu argumen itu sempat menjadi polemik yang menghiasi berbagai milis di Indonesia.

Polemik kedua dimulai kembali dengan jawaban Ulil di beberapa milis dengan judul “Ulil: “Kerancuan atas ‘Yang Sembrono dari Ulil Abshar’”. Sayangnya, karena di Indonesia banyak isu –masalah kunjungan cendekiawan Indonesia ke Israel, banjir & lonsor di mana-mana, isu Ahmadiyah dan mantan Presiden Soeharto sakit­membuat redaksi menahan diri memuat jawaban Amran Nasution “babak dua”. Akibatnya, tentusaja, jawaban Amran Nasution ini tak bisa langsung dinikmati pembaca.

Kali ini, redaksi menurunkan jawaban itu agar pembaca bisa membaca kembali lanjutan polemik yang sebenarnya sudah usai (karena beberapa jawaban Ulil mengakui saudara Amran, red). Mohon maaf & selamat menikmatinya.

***
Oleh: Amran Nasution *

Komisi HAM PBB bilang kefanatikan dan prasangka terhadap Islam sedang berkembang di sejumlah negara Eropa. Anehnya, Ulil Abshar-Abdalla tetap berpendapat kebebasan beragama paling hebat di sana. Bukti sudah menumpuk. Orang di seluruh dunia juga sudah tahu. Namun Presiden George W. Bush tetap yakin, seyakin-yakinnya, bahwa di Iraq ada senjata pemusnah massal. Bahwa Saddam Hussein punya hubungan dengan jaringan teroris al-Qaeda, yang kemudian merontokkan menara kembar WTC di New York. Itulah yang ditulis wartawan Robert Draper di dalam Dead Certain. The Presidency of George W.Bush (Free Press, 2007).

Setelah mewawancarai Bush – Draper mendapat 6 kali wawancara khusus untuk buku biografi ini – Februari 2007, Draper sampai pada kesimpulan bahwa orang ini tak pernah berubah. ‘’Apa yang pernah dia percayai, tetap dia percayai,’’ tulisnya. Padahal waktu itu, Partai Republik sudah dikalahkan Partai Demokrat dalam Pemilu sela. Dan itu terjadi terutama karena rakyat Amerika marah pada kinerja Bush dalam Perang Iraq. Rakyat tahu, senjata pemusnah massal cuma igauan Bush, Dick Cheney, para Neocon, lobi Israel, dan pendeta Evangelical, di sekelilingnya. Begitu pula kaitan Saddam dengan Al-Qaidah.

Hal yang mirip, saya lihat pada Ulil Abshar-Abdalla, setelah membaca tulisannya di Milist KMNU yang dikirimkan teman, 20 Desember lalu. Mula-mula Ulil mengakui datanya memang tak akurat, sebagaimana saya tunjukkan dalam artikel di www.hidayatullah.com, 5 Desember 2007.

Tapi itulah, dia masih bisa membela diri dengan dalih tulisannya cuma sebuah posting di internet, bukan kolom di koran atau majalah. Bedanya apa? Kalau datanya salah, mau di internet, mau di koran, mau di majalah, atau di mana saja yang bisa dibaca orang lain, mudharatnya tetap sama: menyesatkan orang yang membacanya. Di dalam tulisan tadi, Ulil tak membantah satu pun dari sekian banyak fakta yang saya sodorkan. Mulai dari Mormon yang berdarah-darah, terpanggangnya David Koresh oleh serangan FBI, masjid yang dibakar di Francis, Jerman, dan Belanda, sampai sulitnya mendirikan masjid di sejumlah negara Eropa.

Maka tulisannya diwarnai penyataan: terima kasih atas ’’kecermatan’’ Sdr Amran untuk meneliti titik-koma, … terima kasih pada Sdr Amran mengoreksi data saya, … saya tak menolak adanya sejarah kelam itu, … saya sepakat atas kritik-kritik seperti dikemukakan oleh Amran itu….

Dengan demikian, semestinya polemik ini sudah selesai. Namun ternyata, seperti halnya Presiden Bush, Ulil tetap saja pada pendapatnya semula bahwa kebebasan beragama terjamin dengan sistem sekuler di Eropa Barat dan Amerika saat ini. Karena itulah, kata Ulil, ribuan ummat Islam hijrah ke Eropa. Di negerinya sendiri tak ada kebebasan. Sebagai bukti lain, Ulil menunjukkan bagaimana Mitt Romney seorang Mormon bisa menjadi Gubernur Massachusetts, dan kini malah jadi calon Presiden Amerika Serikat.

Alasan pertama, jelas salahnya. Orang berduyun-duyun ke Eropa bukan untuk mencari kebebasan beragama. Itu tak lain karena hukum besi ekonomi: persediaan dan penawaran (supply and demand). Itu sama saja dengan jutaan TKW Indonesia yang merantau ke Malaysia atau Timur Tengah. Di Indonesia terjadi pengangguran besar-besaran (supply), sementara Malaysia atau Arab Saudi membutuhkan TKW (demand), klop. Itu saja. Makanya yang merantau ke Barat bukan monopoli orang Islam. Ada Hindu, ada Budha, ada Kong Hucu, dan lain-lainnya. Saya menduga Ulil berpendapat begitu hanya karena satu-dua orang semacam Ayaan Hirsi Ali yang mengaku mencari kebebasan beragama ke Belanda.

Padahal kalau diikuti ceritanya, perempuan asal Somalia itu sama saja dengan perantau lainnya, ingin mencari dollar. Bedanya, mereka bermodalkan otak atau keringat, sedang Hirsi dengan cara yang culas (lihat Dari Moshaddeg Sampai Mount Carmel, www.hidayatullah.com, 23 dan 24 November 2007). Dimakamkan di Kashmir Lagi pula, secara moral negara kolonialis di Eropa, terutama Inggris, memang harus bertanggung jawab terhadap kemiskinan di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Lebih 300 tahun zaman kolonialisme dan perbudakan menjadikan Eropa dan Amerika kaya-raya, sementara negeri jajahan dan negeri budak, jatuh miskin dan terbelakang. Nanti saya uraikan masalah perbudakan itu lebih jauh.

Alasannya yang kedua, bahwa walau pun sejarahnya berdarah-darah, Mitt Romney yang Mormon bisa menjadi Gubernur dan calon Presiden. Kata Ulil, itu membuktikan betapa hebatnya kebebasan beragama di Amerika. Kalau itu alasannya, saya malah bisa menambahinya. Bukan cuma Romney, masih ada beberapa yang lain, termasuk mantan gubernur dan sejumlah profesor di universitas terkemuka. Senator Partai Demokrat dari Nevada, Harry Reid, pimpinan mayoritas di Senat, juga seorang Mormon. Tapi tetap saja alasan ini sama salahnya, karena terlalu menyederhanakan masalah. Bandingkan dengan cerita ini. Di Pakistan tak sedikit orang Ahmadiyah menduduki jabatan penting. Muhammad Zafrullah Khan pernah menjadi Menteri Luar Negeri. Marsekal Zafar Chaudhry menjabat Kepala Staf Angkatan Udara, dan Jenderal Abdul Malik menjadi panglima pasukan Pakistan dalam perang melawan India pada 1965. Lalu, Naseer Ahmad Faruqi, menjabat Ketua Komisi Pemilihan Pakistan 1991.

Mengikuti logika Ulil, berarti Ahmadiyah bebas di Pakistan? Ya jelas salah. Sejak 1973, Pakistan menetapkan undang-undang yang menyatakan Ahmadiyah berada di luar Islam. Dan setelah kerusuhan anti-Ahmadiyah yang sempat mengambil korban jiwa pada 1984, kantor organisasi itu terpaksa dipindah ke Southfield, London. Memang bagi banyak orang Pakistan, Ahmadiyah bukan hanya menyimpang dari Islam, juga berkhianat: bekerjasama dengan kolonialis Inggris untuk melumpuhkan perjuangan kemerdekaan. Sejumlah surat dari Mirza Ghulam Ahmad, pendiri Ahmadiyah yang mengaku nabi dari Qadian, Punjab, India itu, kepada Ratu Inggris dan kepada Letnan Gubernur British India, menunjukkah hal itu.

Surat-surat itu sekarang menjadi bukti yang sulit dibantah. Apalagi di antara surat itu, isinya bukan cuma urusan kerja sama Ahmadiyah dengan Inggris untuk melawan para ulama pembangkang, ada pula yang melaporkan sejumlah ulama agar segera ditangkap serdadu Inggris. Artinya, Ghulam berfungsi pula sebagai ’’intel’’ kolonial Inggris. Selain itu, Ghulam banyak menerbitkan buku dalam bahasa Urdu, Arab dan Parsi, yang diedarkan tak cuma di India, juga ke negeri jajahan Inggris lainnya. Isinya, antara lain, berupa fatwa bahwa jihad melawan Inggris yang difatwakan sejumlah ulama batal alias tak sah. Sebaliknya, pemberontakan (mutiny) kepada Inggris, bisa dilawan meski dilakukan seorang Muslim.

Tak mengherankan bila Ahmadiyah mendapat fasilitas dan keleluasaan berkembang di zaman kolonialisme Inggris. Meski sebenarnya para pendeta Kristen di India masa itu juga marah kepada Ahmadiyah. Soalnya, Ghulam Ahmad, selain mengaku Mahdi, juga Messiah (juru selamat). Menurut versi Ghulam, Jesus berhasil menyelamatkan diri dari penyaliban, melarikan diri ke India dan meninggal dalam usia tua, lalu dimakamkan di suatu tempat di Kashmir. Entah bagaimana caranya, Ghulam mengaku sebagai orang yang mendapat kekuatan Yesus.

Dalam sebuah essei berjudul The British Empire and the Muslim World yang kemudian diterbitkan di dalam The Oxford History of the British Empire (Oxford University Press, 2001), Profesor Francis Robinson, ahli sejarah dari University of London, menguraikan bahwa sampai awal abad 20, Inggris menguasai begitu banyak negeri muslim yang penghuninya mencakup lebih dari separuh penduduk muslim dunia. Tapi imperium itu sedang menghadapi tantangan dari munculnya gerakan Pan Islamis, yang mengkampanyekan perlawanan Islam untuk menumbangkan imperialisme Inggris.

Di Mesir tampil Ikhwanul Muslimin (the Muslim Brotherhood). Di Malaysia ada gerakan reformasi Kaum Muda. Di India pun – saat itu Pakistan merupakan bagian dari negeri jajahan di dalam British India – gerakan protes Islam terhadap Inggris meningkat. Gerakan khilafat mencapai puncaknya pada 1919 sampai 1924. Di Afrika, ada pemuka Islam yang memfatwakan jihad melawan imperialisme Inggris. Tak aneh, dalam kebijakannya pemerintah Inggris bekerja sama dengan sejumlah tokoh atau sekte minoritas, seperti Nizari Ismailis pimpinan Aga Khans atau Ahmadiyah pimpinan Ghulam Ahmad. Menurut Profesor Francis Robinson, perkembangan Ahmadiyah tak lepas dari budi baik Inggris.

Adalah Pemerintah Inggris yang mensponsori Ahmadiyah untuk go international, dengan misi dakwah ke negeri jajahan Inggris di Afrika Timur dan Afrika Barat. Kini, dengan segala tentangan kaum Muslimin di mana-mana, Ahmadiyah ada di 120 negara. Diduga pengikutnya mencapai 10 juta. Jadi kalau Pemerintah Inggris sekarang melindungi Ahmadiyah, tentu tak ada hubungannya dengan kebebasan beragama. Ini urusan utang moral zaman penjajahan. Atau untuk mensukseskan war on terror (perang melawan teror) dari Presiden Bush, sebagai proyek adu domba untuk memperlemah ummat Islam. War on terror adalah perang yang terbukti memporak-porandakan negeri muslim seperti Afghanistan dan Iraq. Sekarang perang itu sedang mengincar Iran dan Suriah.

Lihatlah pengalaman organisasi dakwah asal Pakistan, Jamaah Tabligh, yang ingin membangun masjid di Newham, London Timur. Sampai sekarang rencana itu terkatung-katung karena belum juga dapat izin, meski 24% penduduk Newham, penganut Islam. Alasan penolakan macam-macam. Mula-mula ukuran masjid dianggap terlalu besar. Disebutkan, masjid mampu menampung 12.000 jemaah. Bila jadi dibangun kelak, ia merupakan masjid terbesar di Eropa. Kemudian dipermasalahkan letaknya yang strategis. Belakangan, aparat keamanan menyebutkan, dua di antara teroris yang terlibat pengeboman jaringan transportasi London, 2005, pernah menghadiri pengajian Jamaah Tabligh (the New York Times, 4 November 2007). Nah, begitulah model kebebasan beragama di Inggris, yang dipuja-puji Ulil.

Mestinya Ulil menyimak pernyataan Komisi Tinggi HAM PBB Louise Arbour, pertengahan September lalu, bahwa saat ini di Eropa, kefanatikan dan prasangka terhadap Islam sedang berkembang di publik. Pernyataan Arbour, perempuan yang pernah menjadi Hakim Agung Kanada itu, didasari laporan investigator PBB yang menemukan tumbuhnya sikap tak toleran – khususnya phobi terhadap Islam – di berbagai negara Eropa. ’’Eropa kaget mengetahui laporan bahwa kefanatikan, prasangka, stereotype, masih hadir dalam sikap mereka kepada orang lain,’’ ujar Louise Arbour (Reuters, 17 September 2007). Apakah Ulil tak mempercayai kebenaran laporan Komisi HAM PBB itu, hanya karena Inggris melindungi Ahmadiyah dan anggota Mormon bisa menjadi Gubernur? [berlanjut ke tulisan berikutnya.. www.hidayatullah.com]

* Penulis adalah mantan Redaktur GATRA dan TEMPO.
Kini, bergabung dengan IPS (Institute for Policy Studies) Jakarta

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: