Muslim in Suffer

Bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem. Assalamu\’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh!

Bisakah Tiada Dusta diantara Kita [2]

Posted by musliminsuffer on January 14, 2008

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

From: akbar muzakki <akbar_jatim@yahoo.com
Subject: [INSISTS] Ahmadiyah, Ulil Versus Amran

Bisakah Tiada Dusta diantara Kita [2]

Jika pemerintah Inggris melindungi Ahmadiyah, itu bukan karena “kue kebebasan” tapi karena utang moral penjajahan. [jawaban untul Ulil Abshar bagian Kedua]

Ulil Perlu Menoleh Ku Klux Klan

Lagi pula kalau soalnya jabatan publik, kenapa Ulil tak menyinggung J.F.Kennedy, penganut Katolik satu-satunya yang pernah terpilih menjadi Presiden Amerika di tahun 1960. Dengan asumsi Ulil, berarti Katolik tak didiskriminasikan di Amerika. Apakah itu benar?

Banyak buku dan artikel bisa dibaca, bagaimana penderitaan yang dialami pengikut Katolik sebagai kelompok minoritas. Sejarah Katolik di Amerika Serikat juga berdarah-darah. Bacalah The New Anti-Catholicism: The Last Acceptable Prejudice (Oxford University Press, 2003) yang ditulis Philip Jenkins, profesor sejarah dan studi agama dari Pennsylvania State University.

Kisah gerakan anti-Katolik di Amerika, menurut Profesor Jenkins, sudah dimulai di zaman negeri itu masih dikuasai kolonialis Inggris, dibawa orang-orang puritan. Di zaman perang revolusi, gerakan itu sempat pingsan, untuk mulai muncul kembali di tahun 1830-an, saat imigran Jerman, dan terutama Irlandia yang Katolik, berimigrasi secara besar-besaran ke Amerika. Pada awalnya, mereka bekerja sebagai buruh kasar pada pembangunan rel kereta api. Gerakan itu mencapai puncaknya pada 1850-an, untuk kemudian menurun, tapi muncul lagi di akhir abad ke-19.

Pada 1940-an dan 1950-an, terjadi perubahan. Ada sikap positif dari kelompok mayoritas dalam memandang minoritas Katolik. Pada masa itu juga orang Katolik mengasimilasikan diri dengan mayoritas Protestan. Pada periode inilah, di tahun 1960, J.F. Kennedy, calon Partai Demokrat, terpilih menjadi Presiden, mengalahkan Richard Nixon dari Partai Republik. Setelah itu, menurut Jenkins, muncul apa yang disebutnya gerakan anti-Katolik yang baru dengan pengikut baru dan dengan karakteristik yang berbeda dengan gerakan tradisional yang sudah disebut. Tapi menurut Jenkins, di mana dulu gerakan tradisional tampil kuat, sekarang gerakan anti-Katolik yang baru juga tampil kuat.

Hasil dari riset Jenkins menunjukkan gerakan itu muncul setelah Katolik menentang banyak pandangan dan sikap kaum sekuler dan liberal, terutama yang berhubungan dengan aborsi, gay, dan isu seksual lainnya. Sejak itu, lawan-lawannya menganggap Katolik tak bisa mendapat perlindungan yang sama sebagai agama. Artinya, ia boleh didiskriminasikan. Segala pra-anggapan, kecurigaan, dan stereotype, bisa dihunjamkan kepada kelompok ini.

Misalnya, ada pastor terlibat homoseksual, menurut Jenkins, adalah fakta. Tapi media hiburan membuat kesan seakan semua pastor melakukannya (stereotype). Menurutnya, itu sama saja dengan gerakan anti-semit yang menyama-ratakan semua orang Yahudi adalah lintah darat. Dalam gerakan ini, media massa – termasuk film atau buku yang jumlahnya cukup banyak — menurut Jenkins, sangat berperan menyebarluaskan serangan kaum gay yang sangat kasar, berlebihan, tak proporsional. Contohnya, media massa membesar-besarkan serangan seksual oleh sementara pastor kepada anak altar, yang selalu dihubungkan dengan kehidupan mereka yang berpantang kawin (selibat).

Padahal, menurut Profesor ini, kasus serupa terjadi pada pendeta agama lain yang ditugaskan dekat dengan anak-anak. Bedanya, pemberitaannya tak dibesar-besarkan. Maka berita skandal anak altar, menurut pandangan Jenkins, menumbuh- kembangkan retorika anti-Katolik di tengah masyarakat Amerika. Dalam soal gay, aborsi, dan isu seksual, sebenarnya sikap para pendeta Kristen Evangelical sama saja, dan itu terpublikasikan di media massa secara luas. Tapi, kata Jenkins, kenapa serangan hanya dilakukan terhadap Gereja Katolik? Jawabannya: itulah gerakan anti-Katolik baru di masyarakat Amerika.

Dengan cerita ini, tak berarti gerakan tradisional telah sirna sama sekali. Di mana-mana secara sporadis, ia masih muncul. Ketika Paus mengunjungi Amerika Serikat, 1993, Les Balsiger, seorang aktivis Gereja Advent, asal Portland, Oregon, menyambutnya dengan memasang papan reklame (billboard) ukuran besar di berbagai tepi jalan raya di Portland dan Medford (Oregon), Denver (Colorado), serta berbagai negara bagian lain. Ada 21 billboard dia pesan kepada sebuah perusahaan reklame. Isinya: menuduh Paus sebagai anti-Christ, salah satu retorika yang selalu digunakan kelompok anti-Katolik selama ini.

Papan reklame yang dipasangnya di tepi jalan raya di Medford, sempat terpajang sampai tahun 2002, saat kontraknya habis. Selain itu, Balsiger, bekas penjaja mobil itu, bersama kelompoknya menerbitkan majalah The Protestant yang isinya menyerang Katolik dengan kasar.

Yang paling mengerikan tentulah Ku Klux Klan (KKK).

Pada tahun 2002, KKK sempat dikabarkan telah bubar. Ternyata dua tahun belakangan gerakan ultra-kanan itu eksis kembali. Itu diketahui dari laporan The Jewish Anti-Defamation League, kelompok pembela orang Yahudi di Amerika Serikat, pada 2006. Ku Klux Klan kini diduga memiliki 5000 pengikut terorganisir di Texas, Oklahoma, Arkansas, Louisiana, dan beberapa negara bagian di selatan. Organisasi ini pertama kali berdiri sehabis Perang Saudara (civil war). Awalnya mereka menyerang orang Negro dan Yahudi. Tapi kemudian organisasi kulit putih paling rasis ini juga menyerang pengikut Katolik. Korbannya tak sedikit. Dilaporkan, Juli 2005, KKK yang ditandai dengan seragam jubah dan topeng khas itu, membakar rumah seorang Hispanik di Hamilton, Ohio, karena dituduh memperkosa seorang gadis kulit putih.

Ulil yang senang sekali mengutip cerita preman berjubah di Indonesia, untuk memojokkan kelompok tertentu, agaknya perlu menoleh sedikit kepada KKK. Kalau kebebasan beragama di sini jelek dengan adanya preman berjubah, bagaimana pula kebebasan di Amerika dengan Ku Klux Klan yang terorganisir, rasis, amat kejam dan menakutkan, dan sudah eksis selama ratusan tahun? Kalau pun misalnya kisah preman berjubah nyata adanya, itu tak ada arti apa-apa dibanding Ku Klux Klan. Itu seperti membandingkan seekor gajah dengan kuman.

Sejarahwan terkemuka dari Harvard University, Arthur M. Schlesinger Sr – meninggal pada 2003 – suatu kali pernah mengatakan bahwa prasangka karakter terhadap orang Katolik merupakan prasangka terparah dalam sejarah Amerika. Pendapat itu tak berlebihan. Profesor Richard Jensen dari University of Illinois, Chicago, di dalam Journal of Social History (2002) menuliskan temuannya bahwa slogan No Irish Need Apply –populer disingkat NINA– memang pernah ada dalam konteks orang Katolik Irlandia di Amerika.

Slogan itu artinya, mengharamkan orang Irlandia untuk melamar sebuah lowongan kerja. Dengan kata lain, siapa saja boleh melamar lowongan itu, kecuali orang Irlandia yang Katolik. Jensen menemukan setidaknya tiga iklan untuk mencari pekerja dengan mencantumkan NINA di koran The New York Times dari tahun 1851 sampai 1923. Iklan serupa ditemukan di The Washington Post dan The Chicago Tribune. Meski jumlahnya sedikit, tapi coba bayangkan kondisi masa itu, sehingga iklan yang begitu SARA dimuat di koran terkemuka.

Ternyata memang hubungan kelompok minoritas Irlandia yang Katolik dengan kelompok mayoritas kulit putih Protestan yang menyebut dirinya pribumi (native), saat itu dalam kondisi ‘’perang’’. Orang-orang Katolik Irlandia sedang terancam oleh serangan kelompok mayoritas.

Di Philadelphia, hanya karena Uskup Francis Kenrick memohon agar murid Katolik diberi pelajaran Bible versi Katolik di sekolah – bukan versi Kristen – menyebabkan terjadi huru-hara besar pada 3 Mei 1844, mengakibatkan puluhan orang tewas, sejumlah rumah dan gereja dibakar.

Kerusuhan terjadi sampai berbulan-bulan, dan menjalar ke daerah sekitar. Banyak orang kulit putih yang menempelkan kertas bertuliskan ‘’pribumi’’ (native) di depan rumah, khawatir rumahnya dibakar karena disangka milik orang Irlandia. Ini mirip dengan apa yang terjadi di Jakarta dalam kerusuhan Mei 1998. Tapi huru-hara yang lebih besar terjadi di Louisville, Kentucky, Agustus 1855. Korban yang tewas lebih 100 orang, belum dihitung gereja atau rumah dibumi- hanguskan, toko-toko dan kompleks bisnis dijarah, perkantoran dan fasilitas umum dirusak. Kerusuhan itu kemudian merembet ke Chicago, St Louis, Columbus, Cincinnati, dan New Orleans. Karena peristiwa ini dimulai pada hari Senin, ia dijuluki bloody Monday atau Senin berdarah.

Peristiwa berpangkal dari pemilihan Walikota yang dimenangkan James S. Speed, seorang Protestan yang pindah agama menjadi Katolik karena perkawinan. Isu segera berhembus bahwa kemenangan itu karena campur tangan orang asing yang dikirim Paus dari Roma. Jelas itu cuma kabar bohong, tapi dari situlah ‘’pertempuran’’ dimulai. Dan lihatlah, pengadilan kemudian membatalkan kemenangan Speed.

Banyak lagi peristiwa serupa, di berbagai tempat di Amerika, termasuk serangan penculikan, pembunuhan, dan pembakaran oleh Ku Klux Klan. Di Birmingham, Alabama, James Coyle, seorang Pastor dibunuh karena menikahkan pengantin yang pindah agama menjadi Katolik, Agustus 1921. Tapi pengadilan membebaskan pelakunya, hanya karena campur tangan Ku Klux Klan. Sudah tentu semua fakta ini tak bisa dinafikan cuma karena Kennedy pernah menjadi Presiden Amerika Serikat atau Rudy Giuliani, seorang Katolik yang lain, pernah menjabat Walikota New York dan kini menjadi calon Presiden Amerika. [berlanjut ke tulisan berikutnya.. www.hidayatullah.com]

* Penulis adalah mantan Redaktur GATRA dan TEMPO.
Kini, bergabung dengan IPS (Institute for Policy Studies) Jakarta

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: