Muslim in Suffer

Bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem. Assalamu\’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh!

Archive for April 17th, 2008

Siapa Theo Van Gogh ?

Posted by musliminsuffer on April 17, 2008

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

Minggu, Februari 10, 2008

Siapa Theo Van Gogh ?

Theo van Gogh lahir ialah sutradara film Belanda kontroversial, produser televisi, wartawan dan aktor. Keturunan saudara pelukis Belanda terkenal Vincent van Gogh, ia meninggal pada 2 November 2004 dibunuh oleh Mohammed Bouyeri.

Van Gogh dilahirkan di Den Haag 23 Juli 1957. Moyangnya adalah pedagang barang-barang seni, Theo van Gogh, saudara pelukis terkenal Belanda, Vincent van Gogh.

Setelah keluar dari sekolah hukum, Van Gogh bekerja sebagai seorang penyelia pentas. Film pertama yang diarahkannya adalah Luger pada tahun 1981. Untuk film yang berjudul Blind Date (1996) dan In het belang van de staat (“Dalam Kepentingan Negara”, 1997) dia menerima anugerah Gouden Kalf (versi Belanda untuk penghargaan Oscar). Sebagai seorang aktor, Van Gogh pernah bermain dalam film berjudul De Noorderlingen (“Orang Utara”, 1992). Setelah itu, dia bekerja dalam industri televisi sambil menulis ulasan untuk harian Metro dan surat kabar-surat kabar yang lain.

Buku terakhirnya (2003) adalah ALLAH WEET HET BETER (“Allah Lebih Mengetahui”) merupakan buku yang menghina Islam yang disampaikan dengan cara yang sangat sinis dan menyindir. Van Gogh dikenal sebagai seorang pengkritik Islam yang vokal (terutama sekali setelah kejadian serangan 11 September 2001). Dia juga menyokong kuat pencalonan seorang perempuan yang berhaluan liberal, Ayaan Hirsi Ali (asal Somalia) untuk menjadi anggota parlemen Belanda.

Bersama Hirsi Ali, dia membuat sebuah film kontroversial, SUBMISSION. Film ini mengisahkan tentang “penganiayaan” yang konon sering dialami oleh wanita Islam di tangan suaminya. Ia memaparkan empat orang wanita yang telah ‘dianiaya’, dengan pakaian tembus cahaya yang dihiasi dengan ayat-ayat Al Quran. Setelah film ini diedarkan, Van Gogh dan Hirsi Ali menerima ancaman mati. Van Gogh tidak menganggap serius ancaman tersebut dan menolak perlindungan apapun.

Pada awal pagi hari Selasa, 2 November 2004, Van Gogh didapati tewas di depan kantor Amsterdam East di sudut jalan Linnaeusstraat dan Mauritskade. Dia telah ditikam dan ditembak tujuh kali dan langsung meninggal. Polisi Belanda menangkap 8 orang yang dicurigai terlibat dalam pembunuhan Van Gogh. Enam dari mereka berasal dari Maroko, satu dari Aljazair dan satu lagi berkebangsaan Spanyol-Maroko.

Theo van Gogh, Ayaan Hirsi Ali dan Geert Wilders adalah tiga orang yang memiliki citra sangat buruk di mata umat Muslim Belanda. Kali ini Wilders membuat film yang nampaknya lanjutan film SUBMISSION 2004, yang disutradarai sineas Theo van Gogh dan Ayaan Hirsi Ali. Theo van Gogh mati terbunuh dan sedangkan Ayaan Hirsi Ali, mantan anggota partai liberal VVD, pindah ke Amerika dengan bayang-bayang kematian yang masih menghantuinya.

RA

source: http://arana-arana.blogspot.com/2008/02/siapa-theo-van-gogh.html

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

SUBMISSION

Posted by musliminsuffer on April 17, 2008

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

Minggu, Februari 10, 2008

SUBMISSION

Submission adalah film pengjinaan terhadap Islam yang berdurasi 10 menit dalam bahasa Inggris yang disutradarai oleh Theo van Gogh dan penulis naskah adalah Ayaan Hirsi Ali (mantan Tweede Kamer anggota Partai Demokarsi dan Kebebasan Belanda). Film ini pertama kali diputar di Belanda pada 29 Agustus 2004 oleh The Dutch Public Broadcasting Network (VPRO).

Film ini bercerita tentang perlakuan buruk terhadap perempuan Islam. Digambarkan dengan seorang wanita yang menggunakan jubah hitam, wajah tertutup layaknya wanita arab tapi kain dibagaian tubuh transparan sehingga terlihat jelas tubuhnya yang telanjang dengan ayat Al-Quran di perut dan dadanya. Di gambarkan juga seorang wanita setengah telanjang tertelungkup dengan punggung terbuka, tubuh penuh memar dengan luka bekas cambukan di punggung dan tangan. Ayat-ayat yang ditampilkan semuanya ditulis diatas tubuh wanita, yakni surat An-Nisaa : 34, Al-Baqarah : 222 dan An-Nuur : 2.

Film ini menuai kritikan dari dalam dan luar negeri Belanda. Pada 2 Nopember 2004 Theo van Gogh tewas terbunuh di tempat umum oleh seorang muslim Belanda keturunan Maroko bernama Mohammed Bouyeri. Sebuah surat ditemukan ditubuhnya yang menghubungkan pembunuhan tersebut dengan Film kontroversial yang dibuatnya “Submission” dan pandangan-pandangan van Gogh yang menghina Islam. Setelah kematian Van Gogh ketegangan antara Islam dan Kristen memuncak terjadi di Amsterdam. Masjid dan sekolah-sekolah muslim menjadi sasaran bom dan aksi pembakaran. Selain Bouyeri ada sebelas muslim lain yang ditangkap dan dituduh berkonspirasi untuk membunuh Hirsi Ali.

RA
Sumber : wikipedia.com, youtube.com

source: http://arana-arana.blogspot.com/2008/02/submission.html

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Hirsi Ali, Pembohong Besar

Posted by musliminsuffer on April 17, 2008

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

Minggu, Februari 10, 2008

Hirsi Ali, Pembohong Besar

Kabinet Belanda benar-benar jatuh. Sebuah kejatuhan yang tidak terhormat akibat terlalu percaya pada pendusta. Pendusta itu bernama Ayaan Hirsi Ali, imigran Somalia yang kini hengkang ke Amerika Serikat (AS) setelah kewarganegaraan Belanda-nya dicabut penyusul pengakuannya bahwa ia mengajukan permohonan suaka dengan identitas palsu. Bagaimana sistem di Belanda bisa dibobol oleh seorang wanita yang selalu mengkampanyekan adanya penyiksaan terhadap wanita dalam Islam? Hirsi Ali meminta suaka politik pada 1992. Tahun ini, 14 tahun sejak itu, tingkahnya membuat krisis politik di Belanda berujung pada jatuhnya kabinet.

Dusta Hirsi Ali sendiri, sekalipun sudah diketahui publik sebelumnya, namun baru menemukan momentumnya ketika program televisi Zembla menyelidiki jejak perjalanannya.

Agustus 1997 atau 5 tahun sejak menyandang status pengungsi, Hirsi Ali mendapat kewarganegaraan Belanda. Saat itu Belanda percaya pada klaim-klaim wanita berkulit gelap itu bahwa dirinya menjadi korban penyiksaan karena berkelamin wanita.

Pada September 2002, Hirsi Ali mengaku dalam programa televisi Barend en Van Dorp bahwa ia berdusta mengenai identitasnya saat mengajukan permohonan suaka. Ia sepertinya begitu percaya diri bahwa pengakuannya tak akan berakibat apa-apa, meski dalam praktik normal penipuan identitas bisa berakibat dibatalkannya suaka.

Hirsi kian percaya diri karena namanya melambung dan menjadi pusat perhatian akibat pernyataan-pernyataannya yang menyudutkan Islam. Sebulan kemudian, partai liberal VVD mencium potensi besar pada diri Hirsi Ali dan menempatkannya di daftar kandidat pada Pemilu.

Immigratie en Naturalisatiedienst/IND (Dinas Imigrasi dan Naturalisasi Belanda) melakukan pemeriksaan pada Hirsi Ali, namun tidak menemukan hal-hal yang menyimpang dalam dokumen. Hasil yang berbeda disimpulkan oleh Algemene Inlichtingen en Veiligheidsdienst/AIVD atau Dinas Interiljen dan Keamanan Belanda. AIVD menemukan sesuatu yang tidak beres pada Desember dan memberitahu Ketua Partai VVD saat itu, Bas Eenhoorn, mengenai kemungkinan dampak yang bisa ditimbulkan akibat naturalisasi Hirsi Ali yang tidak sah.

Pada 2003, Hirsi Ali secara terbuka menghina Nabi Muhammad. Menyakiti Muslim, namun Hirsi Ali menangguk keuntungan. Namanya makin meroket dan dia terpilih menjadi anggota parlemen untuk partai liberal VVD. Pernyataan dan kolom-kolomnya di koran semakin dipenuhi isu agama. Dia sukses memanaskan suhu politik dan sosial di Belanda. Dan, tabu yang dibobolnya menyebar ke Eropa.

Pada 2004, Hirsi Ali merangkul sineas Theo van Gogh untuk membantu mewujudkan film Submission tentang apa yang diklaimnya sebagai nasib wanita di dunia Islam. Hirsi Ali yang menyiapkan naskahnya sekaligus voice-over atas film yang menampilkan wanita Islam salat dengan tubuh telanjang, hanya dibalut kain tembus pandang.

Adegan selanjutnya dia menjalani tindakan kekerasan. Tubuhnya yang diwarnai tulisan ayat-ayat Alquran dipenuhi luka-luka bekas kekerasan.

Pengamat film dan politik mengkritik Submission sebagai provokasi berbahaya dan bisa memicu polarisasi. Dan benar. Tidak lama kemudian, Theo van Gogh dibunuh. Hirsi Ali mendapat pengawalan negara.

Pada 2007, Programa Zembla menyiarkan jejak perjalanan Hirsi Ali. Pengakuan tentang kawin paksa, nama dan tanggal lahir, dalam programa itu dikupas tuntas sebagai kebohongan Hirsi Ali belaka. Politik di Belanda langsung mencapai titik didih.

Menteri Rita Verdonk mengirim surat ke parlemen dengan isi bahwa Hirsi Ali dianggap tidak pernah menerima kewarganegaraan Belanda. Hirsi Ali diberi waktu enam pekan untuk menanggapi Hirsi Ali menanggapinya dengan menggelar konferensi pers pada 16 Mei yang menyatakan mundur dari parlemen. Hari itu juga terungkap bahwa dia telah menyiapkan sekoci untuk hengkang ke AS dan diterima di lembaga think tank kaum neokonservatif, American Enterprise Institute.

Selasa (27/6) Verdonk berbalik menyatakan Hirsi Ali boleh tetap memiliki kewarganegaraan Belanda. Ia boleh tetap memakai nama Ali, dengan demikian dia dianggap tidak pernah berbohong. Sehari kemudian, krisis politik memuncak. Siangnya pada pukul 14.00 sidang pleno digelar dan berlangsung secara maraton hingga Kamis (29/6) pukul 06.00. Beberapa politisi nampak kuyu akibat tidak tidur. Sorenya sidang dilanjutkan lagi hingga tadi malam. Hasilnya, D-66 menyampaikan mosi tidak percaya kepada Verdonk dan menarik diri dari koalisi. Langkah ini disusul dengan pengunduran diri para menteri D-66. Kabinet Belanda jatuh, sementara Hirsi Ali menonton dari seberang Atlantik seakan tak pernah melakukan apa-apa. (ins)

source: http://arana-arana.blogspot.com/2008/02/hirsi-ali-pembohong-besar.html

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Betulkah HAMKA pluralis?

Posted by musliminsuffer on April 17, 2008

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

TOLERANSI, SEKULERISME, ATAU SINKRETISME

Dari Hati ke Hati – HAMKA

Tahun 1968 yang baru kita lalui adalah tahun yang luar biasa. Di tahun 1968 kita berhari raya Idul Fitri samapai dua kali, yaitu 1 Januari 1968 dan 21 Desember 1968.

Maka timbullah inspirasi pada beberapa orang Kepala Jawatan dan juga pada beberapa orang Menteri Kabinet Pembangunan, dan keluarlah perintah supaya peringatan halal bi halal Idul Fitri dan hari Natal digabungkan jadi satu. Diadakan pertemuan serentak disatu tempat, biasanya biasanya dijawatan-jawatan, dan departemen-departemen; “Lebaran-Natal”. Maka tersebutlah perkataan bahwasannya bapak Kepala Jawatan atau bapak Menteri atau bapak Jenderal memulai sambutan beliau, bahwa demi kesaktian Pancasila yang wajib kita amalkan dan amankan, dalam “Lebaran-Natal” ini kita menananmkan dalam hati kita, sedalam-dalamnya, apa arti toleransi. Dan diaturlah acara mula-mula membaca Al Quran, oleh seorang pegawai yang pandai ‘mengaji’, kemudian itu diiringi oleh seorang pendeta atau pastor yang sengaja diundang, dengan membacakan ayat-ayat injil, terutama yang berkenaan dengan kelahiran ‘Tuhan’ Yesus. Yesus Kristus Juru Selamat Dunia, Anak Alah Yang Tunggal, tetapi Dia sendiri adalah Alah Bapak juga, menjelma menjadi ke dalam tubuh Santa Maria yang suci, untuk kemudian lahir sebagai manusia.

Tentu saja yang lebih banyak hadir dalam pertemuan “Lebaran-Natal” itu adalah orang-orang Islam dari pada orang-orang yang beragama Kristen. Si orang Islam diharuskan mendengarkan dengan khusyu’ bahwa Tuhan Alah beranak, dan Yesus ialah Alah. Sebagaimana tadi orang-orang Kristen disuruh mendengar tentang Nabi MUhammad Saw dengan tenang, padahal mereka diajarkan oleh pendetanya bahwa Nabi Muhammad bukanlah Nabi, melainkan penjahat. Dan Alqur’an bukanlah kitab suci, melainkan buku karangan Muhammad saja.

Kedua belah pihak, baik orang Kristen yang disuruh tafakur mendengarkan Alqur’an, atau orang Islam yang disuruh mendengarkan bahwa Tuhan Alah itu ialah satu ditambah dua sama dengan satu, semuanya disuruh mendengarkan hal-hal yang tidak mereka percayai dan tidak dapat mereka terima. Kemudian datanglah komentar dari protokol, bahwa semuanya itulah yang bernama toleransi, demi kesaktian Pancasila!.

Dan sebagai penutup disuruh kemuka seorang Kyai membaca do’a. Seluruh hadirin yang Islam membaca amin. Pihak Kristen duduk berdiam diri, dan kita tahu apa yang terasa dalam hatinya, yaitu muak dan mual. Kemudian naik pula yang pendeta menyebut do’a-do’a hari Natal, dan semua orang Islam berdiam diri saja, dan kitapun tahu apa yang ada dalam hati mereka.

Pada hakikatnya mereka itu tidak ada yang toleransi. Mereka kedua belah pihak hanya menekan perasaan, mendengarkan ucapan-ucapan yang dimuntahkan oleh telinga mereka. Jiwa, raga, hati sanubari, dan otak tidak bisa menerima. Kalau keterangan orang Islam bahwa Nabi Muhammad Saw adalah Nabi akhir zaman, penutup sekalian Rasul. Jiwa raga orang Kristen akan mengatakan bahwa keterangan orang Islam ini harus ditolak, sebab kalau diterima kita tidak Kristen lagi. Dalam hal kepercayaan tidak ada toleransi.

Sementara sang Pastor dan Pendeta menerangkan dosa waris Nabi adam, ditebus oleh Yesus Kristus di atas kayu palang, dan manusia ini dilahirkan dalam dosa, dan jalan selamat hanya percaya dan cinta dalam Yesus. Telinga orang Islam muntah mendengarkan.

Bertambah mendalam orang-orang yang beragama itu meyakini agamanya, bertambah muntah telinganya mendengar kepercayaan-kepercayaan yang bertentangan dengan akidah agamanya. Barulah mereka menerima semuanya itu dengan toleransi kalau agama itu tidak ada yang dipegangya lagi.

Lantaran itu maka kalau dengan menggabungkan Lebaran dengan Natal, Muhammad Saw menjemput syari’at sembahyang, lalu turun lagi ke bumi menyampaikan perintah itu, jika misalnya pula berdekatan tanggalnya dengan Mi’raj Nabi Isa, yang menurut kepercayaan Kristen, bangkit dari kuburnya setelah tiga hari, lalu naik ke langit dan kini duduk di sisi kanan Alah, Bapaknya yang disurga; kalau hal-hal seperti ini diadakan untuk toleransi, demi kesaktian Pancasila, atau demi mengamalkan dan mengamankan Pancasila, dengan sungguh-sungguh kita katakan bahwa, ini bukan toleransi, melainkan memaksa kedua belah pihak jadi orang munafik, mengangguk-angguk menerima hal yang tak masuk diakal; dengan sengaja dan diatur, supaya membuktikan toleransi.

Baru-baru ini Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, sudah menjelaskan bahwasanya do’a bersama dalam hari-hari peringatan, tidaklah dibolehkan dalam ajaran Islam. Do’a demikian pun tidak akan dapat diterima, karena do’a adalah ibadah dan ada sendiri ketentuannya. Orang Islam meminta kepada Tuhan Allah Yang Satu, yang tidak ada syarikat bagi-Nya, sedangkan Pastor dan Pendeta akan berdo’a meminta kepada Alah Bapak, Alah Putera, dan Alah Roh Kudus.

Semangat toleransi yang sejati, yang logis, yang masuk akal ialah, ketika orang Islam berdo’a, orang Kristen meninggalkan tempat berkumpul. Dan ketika Pastor berdo’a kepada Tiga Tuhan orang Islam keluar.

Zaman akhir-akhir ini sudah ada gejala toleransi paksaan itu, dalam hal-hal resmi atau tidak resmi. Untuk tenggang menggang, seorang Kyai disuruh baca do’a dan untuk menunjukkan Pemerintah berlapang dada, ditambah lagi dengan do’a Katholik. Sesudah itu dengan doa’ Protestan, sesudah itu dengan do’a Hindu-Bali. dan dengan do’a secara Budha.

Orang tidak memperhitungkan bagaimana perasaan dari pemeluk agama itu sendiri, atau orang yang tekun utuh dalam agama yang dipeluknya. Terutama orang Islam yang 85% bangsa Indonesia ini terdiri dari mereka.

Yang menganjurkan do’a bersama, atau perayaan ‘Lebaran-Natal’, atau barangkali nanti Natal-Maulid, bukanlah orang yang mempunyai kesadaran agama, melainkan orang-orang sekuler, yang baginya masa bodoh, apakah Tuhan satu atau beranak, sebab bagi mereka agama hanya iseng! Atau orang-orang sinkritisme, yang mencari segala persesuaian diantara yang berbeda, lalu dari segala yang sesuai itu mereka membuat sesuatu yang baru.

Gejala seperti ini yang kita lihat sekarang. Dengan setengah paksaan dianjurkan do’a bersama, beribadat bersama, kebaktian bersama diantara orang-orang yang berlainan kepercayaan, dan dikatakan itu semangat Pancasila! Sehingga disadari atau tidak, Pancasila boven alles diatas dari semua agama, dan orang-orang yang sama sekali tidak mengamalkan satu agama, merasa dirinya pemimpin tertinggi, melebihi ulama dan pendeta, kyai dan pastor. Dan barangsiapa yang tidak menyetujui, dituduh anti Pancasila dan tidak toleransi, dan tidak menunjukkan ‘kepribadian’ Indonesia.

Selama pena ini masih bisa menulis dan mulut ini masih bisa berkata, kita katakan terus terang : “Bukan begitu yang toleransi”!

Bahkan itu adalah merusak agama, memaksa orang menelan sesuatu yang berlawanan dengan inti kepercayaannya. Dan pemuka-pemuka agama yang sadar akan tetap menolaknya. Kita bukanlah menolak Pancasila. Sejak Pancasila diasaskan pada 25 tahun yang lalu, kita sudah menyatakan tidak keberatan.

Tetapi kita tegaskan bahwasannya keselamatan dan keamanan Pancasila itu hanya akan terjamin, apabila umat yang beragama, khususnya umat Islam taat setia melaksanakan agamanya, bukan disuruh pindah dari agamanya menuju suatu kekaburan yang namanya Pancasila. Dan bukan disuruh membuat suatu macam upacara, kebaktian, do’a dan sebagainya bersama-sama dengan pemeluk agama lain yang berlainan akidah dan kepercayaan.

Orang agma lain pun tidak akan dapat menerima suatu upacara baru yang tidak ada dalam agama itu. Dan ini hanya akan akan bisa dilakukan oleh pemeluk-pemeluk agama yang tidak punya pendirian, yang lupa tanggung jawabnya di hadapan Tuhan, karena hendak mengambil muka kepada atasan.

Sehingga pernah terjadi, seorang pembicara di dalam pertemuan besar mengatakan bahwa “Nabi Isa disalib” padahal dia pemuka Islam. Dan pernah terjadi seorang Kyai membaca do’a dihadapan umum, dan do’a itu diambilnya dari “khutbah gunung”, pidato Yesus Kristus dalam Injil yang beredar sekarang. Demi toleransi, Kyai tidak membaca lagi do’a yang warid dari ajaran Rasulullah Saw.

Tentu orang-orang seperti itu dapat pujian atasan, dan disambut dengan tepuk tangan oleh orang-orang Kristen, tetapi dia tidak sadar bahwa dengan apa yang dinamainya “toleransi” itu dia telah mengorbankan akidah agamanya. ***

Catatan :
Sikap almarhum Buya Hamka mengenai Natal dan Idul Fitri bersama ini berlanjut menjadi fatwa Majelis Ulama, yang Buya Hamka sendiri sebagai ketuanya; “Natal dan Idul Fitri bersama hukumnya haram”. Pemerintah melalui Menteri Agama, Alamsyah Ratuprawiranegara meminta supaya fatwa itu dicabut. Buya Hamka kemudian memilih sikap meletakkan jabatan sebagai Ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia).

sumber :
Dari Hati ke Hati, tentang : Agama, Sosial-Budaya, Politik Oleh Prof.DR.Hamka. Cetakan I, Penerbit Pustakan Panjimas, Jakarta 2002.

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Kebebasan Mengacak-acak Agama (Islam)?

Posted by musliminsuffer on April 17, 2008

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

Kebebasan Mengacak-acak Agama (Islam)?

Artikel dari Republika online tgl.15 April 2008

Tanggal 15 Januari lalu, dalam rapat Badan Koordinasi Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem), Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia (PB JAI) menyampaikan 12 poin penjelasan. Bakorpakem menyatakan ajaran itu akan dievaluasi tiga bulan. Apa dan bagaimana sebenarnya Ahmadiyah dan Mirza Ghulam Ahmad, berikut bagian kedua dari tiga tulisan.

”Katakanlah (wahai Mirza Ghulam Ahmad) jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku niscaya Allah mencintaimu. Mudah-mudahan Tuhanmu melimpahkan rahmatnya kepadamu dan sekiranya kamu kembali kepada kedurhakaan niscaya Kami kembali (mengazabmu) dan Kami jadikan neraka jahannam bagi orang-orang kafir. Dan Kami tidak mengutusmu (wahai Mirza Ghulam Ahmad) melainkan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Katakanlah beramallah menurut kemampuanmu, sesungguhnya aku juga beramal. Kelak kamu akan mengetahui.”

Umat Islam tentu tak asing dengan redaksi ayat di atas. Redaksi ayat tersebut memang ada di QS Ali Imran ayat 31, QS Alanbiyaa ayat 107, dan QS Alan’am ayat 135. Oleh Mirza Ghulam Ahmad (MGA), ketiga ayat tersebut digabungkan, dipotong sedikit, dimodifikasi–seperti memasukkan namanya dalam tanda kurung–kemudian diklaim sebagai wahyu. Ayat gabungan itu ditulisnya di kitab Haqieqatul Wahyi hlm 82.

‘Wahyu-wahyu’ itu lalu dikumpulkan dalam Tadzkirah. Tadzkirah yang lebih tebal dibanding Alquran itu dipenuhi ayat-ayat Alquran yang dijiplak, diklaim, dan diputarbalikkan. Juga berisi kata-kata MGA seperti: ”Engkau bagi-Ku seperti anak-anak-Ku. Engkau dari Aku, Aku dari engkau” (hlm 436); ”Ketahuilah bahwa istrinya Ahmad dan kerabatnya, mereka adalah keluarga-Ku” (hlm 138); ”Wahai Ahmadku. Engkau adalah tujuan-Ku. Kedudukanmu di sisi-Ku sederajat dengan Kemahaesaan-Ku.” (hlm 579). Lihat pula klaimnya: ”Alquran itu kitab Allah dan kalimah-kalimah yang keluar dari mulutku” (Istisfa, hlm 81); ”Engkau wahai Mirza bagiku adalah anakku” (Istisfa’ hlm 82); ”Apabila engkau wahai Mirza menghendaki sesuatu apa saja, cukup engkau katakan: jadilah maka jadilah ia” (Istisfa’ hlm 88); ”Isa telah membiasakan perbuatan keji dan lancang lidah …. Semua berita-berita yang diakuinya bahwa berita-berita tersebut menceritakannya dalam kitab Taurat adalah tidak pada umumnya.” (Ruhani Khazain, hlm 289).

Dalam 12 poin penjelasannya pada rapat Bakorpakem tiga bulan lalu, Amir Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia (PB JAI), Abdul Basit, membantah Tadzkirah sebagai kitab suci. ”Melainkan catatan pengalaman rohani Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad yang dikumpulkan dan dibukukan serta diberi nama Tadzkirah.” Bahkan, pada lembar pertama Tadzkirah sudah tertulis ”Tadzkirah yakni wahyu yang suci.”

Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) telah meneliti dan menerbitkan sejumlah buku yang menyandingkan ayat-ayat Tadzkirah dengan Alquran. Salah satunya Ahmadiyah dan Pembajakan Alquran. Tapi, seberapa banyak ayat Alquran yang dibajak, LPPI tetap sulit menghitungnya. ”Pokoknya banyak,” kata Ketua LPPI, Amin Djamaluddin, kepada Republika, beberapa waktu lalu.

Berdasar pemeriksaan teliti atas fakta-fakta tersebut, Amin mempertanyakan dalih kebebasan untuk melegitimasi eksistensi Ahmadiyah, apalagi menggunakan pasal-pasal konstitusi. ”Kebebasan beragama tidak sama dengan kebebasan mengacak-acak agama. Seharusnya para ahli hukum bisa membedakan itu,” katanya. Dia menilai umat Islam yang mayoritas lebih patut dilindungi akidahnya oleh hukum, konstitusi, dan pemerintah.

Ahmadiyah kali pertama masuk Hindia Belanda pada 1925. Mulanya baik-baik saja. Tapi, setelah nyata bahwa mereka bukan seperti ormas Islam pada umumnya, tapi membawa ajaran baru, mulai timbul penolakan. Muhammadiyah, misalnya, sejak 1930-an telah menyatakan: ”Yang mempercayai Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi adalah kafir.”

Dalam artikel ’75 Tahun Jemaat Ahmadiyah Indonesia’ di situs web JAI, ahmadiyyah.org dituliskan; ”… para ulama Indonesia, baik tradisional maupun modernis, terus menyerang dan menentang. Banyak perdebatan resmi terjadi antara Ahmadiyah dan ulama Islam lainnya, dan yang terbesar dilaksanakan di Jakarta pada tahun 1933.”

PB Ahmadiyah didirikan pada 1932 dengan R Muhyidin sebagai ketua pertamanya. Pada 1953, Ahmadiyah mendapatkan status badan hukum resmi dari Departemen Kehakiman nomor J.A.5/23/137, 3 Maret 1953. Namun, persoalan tak lantas selesai.

Sejak 1953 sampai dengan 2008, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan dua fatwa, PBNU menyatakan Ahmadiyah menyimpang, sejumlah kejaksaan negeri dan kejaksaan tinggi telah melarang Ahmadiyah, dan dibahas dalam rapat-rapat lintas menteri.

Saat kontroversi berlangsung, JAI memindahkan markasnya ke Parung, Bogor. Di atas tanah tiga hektare, dibangun Kampus Mubarak. Mulanya warga mengira Ahmadiyah sama dengan ormas-ormas lain seperti Muhammadiyah. ”Ternyata berbeda. Mereka kalau shalat Jumat sendiri,” kata Ismat, ketua RT 03 Kp Babakan, Desa Pondok Udik, Kec Kemang, Kab Bogor.

Juli 2005, warga menyerang Kampus Mubarak pada Juli 2005. Sejak itu, Kampus Mubarak ditutup. Saat Republika mengunjungi Kampus Mubarak, Februari lalu, seorang petugas keamanan bernama Nasir Ahmad menunjukkan pengumuman bahwa hanya yang mendapat rekomendasi pimpinan JAI yang diperbolehkan masuk. Namun, warga sekitar menyatakan tempat itu masih kerap didatangi, antara lain, untuk shalat Jumat.

Menyusul peristiwa penyerangan, Tim Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Pakem) membahas soal Ahmadiyah pada 2005. Rekomendasinya meminta Ahmadiyah–baik Qadian maupun Lahore–dilarang dan dibubarkan. ”Secara politik dan hukum, masalah Ahmadiyah seharusnya sudah selesai. Tapi, hasil rapat Tim Pakem tidak pernah ditindaklanjuti pemerintah,” sesal kuasa hukum Forum Umat Islam, Munarman.

Dari Tim Pakem, kata Munarman, rekomendasi itu mestinya disampaikan kepada Presiden untuk dibuatkan keppres pembubaran Ahmadiyah. Tapi, Adnan Buyung Nasution selaku tim pembela Ahmadiyah melobi Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh. Dari situ, rekomendasi kemudian berbelok ke Departemen Agama. Tapi, Adnan Buyung membantah.

”Saya hanya memimpin persidangan. Peserta sendirilah yang membuat rekomendasi. Dan, saya menerima sebagai wakil dari Wantimpres (Dewan Pertimbangan Presiden) sebagai masukan untuk nanti masih disidangkan lagi oleh Wantimpres. Bagaimana nanti Wantimpres mengambil keputusan akhir untuk dijadikan nasihat kepada Presiden. Ada prosesnya. Tidak serta-merta,” kata Buyung.

Mengendap dua tahun, masalah Ahmadiyah mencuat lagi pada 2007, menyusul insiden Manis Lor. Masalah itu pun dibahas serius dalam tujuh putaran dialog. Kepala Balitbang Depag, Atho Mudzhar, mengatakan ditawarkan tujuh opsi. Antara lain: pembubaran JAI oleh pemerintah, pembubaran JAI oleh pengadilan, warga Ahmadiyah dikategorikan non-Muslim, dan diterima sebagai salah satu aliran dalam komunitas Muslim Indonesia. JAI memilih yang terakhir.

Karena itu pilihannya, Atho mengatakan pemerintah menyarankan JAI menjelaskan posisi keyakinan dan kemasyarakatannya. Lahirlah 12 poin penjelasan. ”Tapi, itu bukan kesepakatan antara Depag dan JAI, melainkan pernyataan JAI sendiri untuk direspons dengan segala konsekuensinya ,” kilah Atho. Lalu, akankah masalah Ahmadiyah akan dibiarkan berlarut-larut atau diselesaikan?
(osa/lis/run )

From: “H. M. Surya Alinegara” <ms_alinegara@hotmail.com>
Subject: [anggotaicmi] Kebebasan Mengacak-acak Agama..?

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Waspadai “Injilisasi” Umat Islam (2)

Posted by musliminsuffer on April 17, 2008

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

Waspadai “Injilisasi” Umat Islam (2)

Teka-teki Problem Bible

Sebagaimana diakui oleh umat Kristen sendiri bahwa Bible dijadikan sebagai Kitab Suci pasca-kematian Musa dan Yesus Kristus. Dengan begitu, Bible tidak terlepas dari berbagai interes manusia (penulisnya). Bahasa asli Bible (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) saja tidak mampu diselamatkan oleh orang Kristen sendiri. Maka wajar jika mereka mengakui “keagungan” Al-Quran yang secara keseluruhan merupakan wahyu Allah (Kalamullah). Ia bukan fifty-fifty (ucapan Allah sekaligus ucapan selain Allah) sebagaimana halnya Bible.

Michael Keene dalam bukunya The Bible mencatat bahwa kitab-kitab yang menyusun Kitab Suci Ibrani dan, dengan variasi-variasi kunci dalam susunannya, Perjanjian Lama disusun selama 900 tahun. (Michael Keene, Alkitab: Sejarah, Proses Terbentuk, dan Pengaruhnya, terj. Y. Dwi Koratno, Yogyarkarta: Kanisius, 2006, hlm. 68). Untuk menyususn Gospel (Injil, PB), umat Kristen membutuhkan empat tahap.

Pertama, surat-surat yang dikirim ke berbagai gereja pada pertengahan abad pertama oleh para rasul dikumpulkan dan diedarkan secara luas, sementara surat-surat Paulus diletakkan bersama dalam suatu kumpulan terpisah.

Surat kepada jemaah Efesus bisa jadi merupakan pendahuluan editorial pada kumpulan ini karena meringkaskan seluruh pewartaan Paulus yang paling penting.

Kedua, tradisi lisan tentang Yesus sungguh-sungguh bernilai tinggi dan, pada waktunya, banyak yang dimasukkan ke dalam empat Injil yang tertulis. Ketiga, Perjanjian Baru diterbitkan oleh Marcion, dikenal sebagai seorang bidah, tahun 140 M berisi Injil Lukas dan sepuluh surat Paulus, tidak seperti kitab yang sudah diedarkan secara luas dalam Gereja. Dan keempat, daftar kitab dalam Fragmen Muratorian (190 M) memasukkan keempat Injil, Kisah Para Rasul, 13 surat Paulus, surat Yohanes dan Yudas, dan Kitab Wahyu, tetapi menghilangkan surat Ibrani, Yakobus, dan dua surat Petrus. Klemens dari Aleksandria (… 215 M) memasukkan Ibrani, sedangkan Eusebius (… 340 M) meragukan nilai Kitab Wahyu. (ibid., hlm. 78 & 79). Masalah bahasa Bible pun menjadi problem.

Karena tidak bisa mempertahankan bahasa asli Bible (Ibrani dan Arami), umat Kristen terpaksa menjadikan bahasa Yunani sebagai lingua-franca kitab suci mereka. Keene mengakui hal ini dan menyatakan bahwa menjelang akhir abad ke-4 SM bahasa Yunani telah menjadi sarana komunikasi utama di banyak dunia yang telah dikenal.

Di kalangan masyarakat Yahudi yang secara luas tersebar melintasi Mediterania dan Timur Tengah hanya sedikit orang yang berbicara bahasa Ibrani, sehingga masyarakat secara keseluruhan tidak bisa membaca kitab suci mereka sendiri. Dalam suatu dunia yang didominasi oleh budaya dan bahasa Yunani, kebutuhan untuk menterjemahkan kitab suci Ibrani ke dalam bahasa Yunani mendesak dilakukan. Pekerjaan ini dimulai pada abad ke-3 SM. (ibid., hlm. 70).

Tidak sampi di situ, terjemahan itu pun menjadi masalah. Pasalnya, terjemahan tersebut tidak menjadi terjemahan “paten” dan “final”. Semuanya bersifat temporal. Karena Bible –disebabkan tidak memiliki bahasa aslinya lagi­harus disesuaikan dengan roda perkembangan zaman. Karena terjemahan Bible tidak bisa dilakukan “sekali” untuk selamanya. V. Indra Sanjaya Pr., seorang imam diosesan Keuskupan Agung, Semarang dalam bukunya Tentang Alkitab mengakui problem ini.

Dalam sub-judul “Sekali untuk Selamanya?” dia menjawab pertanyaan tersebut: “Pertanyaan di atas menyangkut ‘nasib’ terjemahan yang kita miliki. Apakah Alkitab yang kita miliki –yang merupakan terjemahan itu­bisa berlaku sepanjang segala abad sehingga tidak setiap saat kita harus ganti dan beli yang baru? Sayang sekali, jawabannya negatif. Alkitab kita tidak bisa berlaku untuk selama-lamanya. (Lihat: V. Indra Sanjaya Pr., Tentang Alkitab, Yogyakarta: Kanisius, 2003, hlm. 41. Lihat juga: Christopher D. Hudson, Carol Smith dan Valerie Weidemann, Buku Pintar Alkitab: Cara Terlengkap, Termudah, dan Menyenangkan untuk Memahami Firman Allah, terj. Michael Wong, Jakarta: PT. Bethlehem Publisher, 2008).

Belum lagi Kristen Katolik dan Kristen berbeda pendapat tentang jumlah kitab suci. Sehingga muncullah istilah “Apokripa” (Injil-injil rahasia). (Lihat lebih detil: Deshi Ramadhani, sj, Menguak Injil-injil Rahasia, Yogyakarta: Kanisius, 2007). Maka wajar sekali jika mereka “stress” dan kecewa dengan Kitab Suci mereka sendiri. Sehingga, pada tahun 1927, Alphonse Mingana, pendeta Kristen asal Iraq, orientalis dan mantan guru besar di Universitas Birmingham, Inggris, mengumumkan bahwa “sudah tiba saatnya sekarang untuk melakukan studi kritis terhadap teks Al-Quran sebagaimana telah kita lakukan terhadap kitab suci Yahudi yang berbahasa Ibrani-Arami dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani (The time has surely come to subject the text of the Kur’an to the same criticism as that to which we subject the Hebrew and Aramaic of the Jewish Bible, and the Greek of the Christian scriptures)” (Lihat: Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, Jakarta: GIP, 2008, hlm. 3).

Mereka menyadari bahwa kitab suci mereka tidak lagi “asli”. Sehingga, atas dasar kebencian terhadap autentisitas dan orisinilitas Al-Quran mereka mencoba untuk meruntuhkan keagungannya lewat berbagai cara. (Lihat kajian kritis tentang usaha misionaris-orientalis dalam mengobok-obok Islam dan Al-Quran: Adnin Armas, Metodologi Bibel dalam Studi Al-Quran: Kajian Kritis, Jakarta: GIP, 2005).

Bahkan, untuk menolak kenabian (nubuwwah) Nabi Muhammad s.a.w. mereka berani melakukan manipulasi dan memutarbalikan ayat-ayat Bible yang meramalkan kehadirannya sebagai “nabi pamungkas”. (Lihat: Prof. David Benjamin Keldani (Abdul Ahad Dawud), Menguak Misteri Muhammad s.a.w., Jakarta: Sahara Intisains, 2006).

Image

Bagaimanapun Al-Quran akan tetap “agung” dan “berdiri tegar” di depan para penghujat dan para musuhnya. Pintu tantangan dari Al-Quran masih terbuka lebar bagi siapa yang ingin ‘menguji’ kebenaran dan keabsahan The Last Testament ini. Allah pun telah berjanji untuk senantiasa menjaga dan memelihara wahyu terakhir-Nya ini,

“Sesungguhnya, Kamilah yang menurunkan al-Dzikra (Al-Quran) ini. Dan Kami pulalah yang memelihara (menjaga)nya.” (QS. Al-Hijr [15]: 9). Inilah yang membuat mereka “putus asa” dari keagungan Islam. “Pada hari ini orang-orang kafir telah berputus asa untuk (mengalahkan) agama kalian. Sebab itu janganlah kalian takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 3).

Meski demikian, upaya “injilisasi” secara halus terhadap umat Islam –baik terang-terangan atau rahasia­ tidaklah sesuatu yang boleh diabaikan. Bahkan tetap harus diwaspadai. Wallahu a‘lamu bi al-shawab.

[Qosim Nursheha Dzulhadi, penulis adalah peminat Studi Al-Quran- Hadits dan Kristologi. Penulis tinggal di Medan/www.hidayatullah.com]

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Waspadai “Injilisasi” Umat Islam (1)

Posted by musliminsuffer on April 17, 2008

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

Waspadai “Injilisasi” Umat Islam (1)

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani “tidak akan pernah” ridha (membiarkan engkau bebas bergerak menjalankan aqidah dan rutinitas agamamu) sampai engkau mengikuti ‘millah’ mereka
[QS. Al-Baqarah [2]: 121]

ImageHidayatullah.com–Pada tahun 1930, seorang missionaris, Samuel Zwemer pada Konferensi Misionaris di Kota Yerussalem menyatakan: “Misi kolonialisme dan misionaris terhadap Islam bukanlah menghancurkan kaum Muslimin. Namun mengeluarkan seorang Muslim dari Islam, agar dia menjadi orang Muslim yang tidak berakhlak. Dengan begitu akan membuka pintu bagi kemenangan imperialis di negeri-negeri Islam.”

Samuel Zwemmer yang juga orientalis-Yahudi ini bahkan mendirikan “Jurnal the Muslim World”. Tapi jangan keliru. Isinya bukan untuk membela Islam. Sebaliknya, ia ingin melemahkannya.

Pada tahun 1978 di Colorado, tepatnya di Green Area, Amerika Serikat (AS) seluruh pendeta dunia berkumpul untuk membicarakan strategi melumpuhkan umat Islam. Salah satu caranya adalah “pengiriman roh jahat” ke dalam jiwa orang-orang Islam. Karena mereka meyakini bahwa Yesus Kristus –sebagaimana tercatat dalam Injil­mampu mengusir “roh jahat”. Maka banyak terjadi kaum Muslim yang “kesurupan” tiba-tiba, bahkan ada yang sampai menyebut nama Yesus Kristus –ini pernah terjadi kepada seorang teman penulis sendiri.

Fenomena dan fakta di atas menegaskan bahwa firman Allah dalam QS. 2: 121 itu adalah “benar”. Di mana-mana umat Islam dirongrong dan diincar aqidahnya. ‘Pencurian’ dan ‘penjambretan’ aqidah terjadi dimana-mana. Bahkan, orang Yahudi-Kristen tidak segan-segan untuk melakukan tindakan amoral, hanya untuk mengeluarkan seorang Muslim (Muslimah) dari aqidah dan agamanya. Isu “Germil” (Gerakan Hamilisasi) bukan hanya isapan jempol belaka. Kasus-kasus semacam itu semakin meyakinkan dan menyadarkan umat Islam bahwa mereka harus ekstra hati-hati dan waspada dalam menjaga dan memelihara aqidahnya.

Sebelumnya, isu adanya Injil berbahasa Arab sempat membuat heboh umat Islam. Abu Sangkan dalam bukunya Energi Cahaya Ilahi (2007) mencatat bahwa awalnya, seorang dai internasional yang berasal dari Afrika bernama Ahmad Deedat beberapa kali tampil di layar televisi Eropa dan Amerika. Beliau berdebat secara terbuka dengan para pastor. Hasilnya sempat mencengangkan jutaan umat manusia di dunia, mereka menjadi mengerti bahwa Al-Quran sesuai dengan logika kebenaran, sementara kesalahan-kesalahan dan kontradiksi dalam Injil semakin terungkap.

Seorang pastor yang terlibat dalam debat tersebut, ketika cermin debat telah berlalu, ia mengatakan, “Kamu wahai umat Islam, berbahagialah dengan Al-Quran yang kamu miliki. Kami mengakui gaya bahasanya memang tinggi, rapi, dan mempunyai daya pikat tersendiri. Sedangkan Injil kami ditulis dengan gaya bahasa yang lemah tanpa pesona. Tetapi tunggulah sebentar lagi, kami akan menyusun kembali penulisan Injil seperti bentuk Al-Quran mu. Pada saat itu seorang Muslim yang awam tak akan dapat lagi mengklaim bahwa Injil kami lebih rendah kedudukannya dalam bahasa dan makna.”

Selang beberapa hari kemudian setelah pastor berkata demikian, di luar dugaan sebuah tim khusus telah merampungkan “proyek besar” tersebut. Oleh karena itu, Rabithah Al-‘Alam Al-Islami kala itu berseru mengingatkan umat Islam agar hati-hati terhadap buku yang diterbitkan oleh pihak Kristen di Cyprus dengan judul Shirathul Masih bi Lisanin ‘Arabiyyin Fasih (Perjalanan Al-Masih dengan Bahasa Arab Fasih).

Injil dalam format baru ini disarikan dari beberapa Injil yang ada, yaitu: Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Ciri-ciri Injil tersebut persis seperti format Al-Quran, baik penjilidannya maupun urutan-urutannya. Bagi orang awam Injil tersebut akan dianggapnya Al-Quran, karena setiap pasal diletakkan dalam bingkai yang dihiasi ornamen sebagaimana yang ada dalam bentuk Al-Quran. Begitu pula letak setiap nama surat. Lebih parahnya lagi, mereka menggunakan kalimah Bismillahirrahmanirrahim pada setiap pasal surat (awalnya). Padahal, kata tersebut hanya ada dalam Kitab Suci umat Islam.

Buku itu mereka kelompokkan dalam pasal demi pasal sebanyak 30 bab. Hal tersebut mereka lakukan dengan tujuan untuk menyamai Al-Quran yang terdiri dari 30 juz. Untuk memisahkan kalimat demi kalimat, mereka pergunakan penomoran sebagaimana ayat dalam Al-Quran. Bahkan dipergunakan pula penulisan waqaf (tanda berhenti), dan gaya tulisannya pun persis tulisan Khat Utsmani seperti yang ada dalam Al-Quran. (Lihat: Abu Sangkan, Energi Cahaya Ilahi: Aktualisasi Spirit Shalat Khusyuk dalam Kehidupan Nyata, 2007, hlm. 35-36 & 38).

Harus diakui bahwa “Injilisasi” terhadap umat Islam terus gencar dilakukan. Bahkan sejak tahun 90-an, usaha-usaha semacam itu semakin drastis. Dr. Anis Shoros, salah seorang Kristen Arab yang pernah menjadi lawan debat Ahmad Deedat, pernah menulis satu buku yang menyerupai Al-Quran dengan judul The True Furqan (Al-Furqan al-Haq).

Buku ini juga sempat membuat gempar dan heboh umat Islam. Betapa tidak! Dia diformat mirip Al-Quran. Bahkan, salah satu nama suratnya adalah surat al-Zina (Surah Perzinaan). Surat itu berbicara tentang dibolehkannya praktet perzinaan. Sebelum The True Furqan nya Shoros, sudah beredar juga lima surat palsu. Diantaranya: Surah Al-Moslemoon, Al-Washaya, dll.

Contoh Kamus al-Munjid
Image

Apa yang mereka usahakan adalah perpanjangan dari usaha Musailamah al-Kadzdzab. Musailamah sempat membuat beberapa surat tandingan terhadap Al-Quran, seperti: Surah al-Difda‘ (Surat Katak), Surah al-Fiil (Surat Gajah) dan surah tentang wanita hamil (al-Hubla). Sayangnya, semuanya gugur di depan kemukjizatan Kitabullah, Al-Quran Al-Karim.

Salah satu kamus terkenal dan menjadi salah satu rujukan di berbagai pondok pesantren, Kamus al-Munjid, juga tak terlepas dari usaha “Injilisasi”. Maklum saja, karena penulisnya, Louis Ma’luf adalah seorang Kristen. Bahkan, cetakan ke-14 dicetak oleh percetakan Katolik (al-Mathba‘ah al-Katsulikiyyah).

Sebagai contoh, al-Munjid mencatat tentang Adam: Dalam kamus itu ditulis, bahwa setelah turunnya Adam dan Hawa akan dinjikan sang “juru selamat.” Sesuatu yang sangat bertolak bekalang dalam Islam.

Huwa al-Insan al-awwal wa Abu al-jins al-basyariy. Khalaqahullahu ‘ala shuratihi wa wadha‘ahu fi Firdausi ‘Adn wa khalaqa Hawwa’ min dhal‘ihi wa ja‘alaha imra’atahu. Wa ‘asha Adam wa Hawwa’ awamira Allahi fa thuridaa min jannah al-firdaus, wa lakinnahuma wa‘adaa bimukhallishin huwa Al-Masih.” (Adam adalah manusia pertama dan nenek moyang jenis manusia. Dia diciptakan oleh Allah menurut bentuk-Nya dan menempatkannya di Firdaus Eden. Dan Allah menciptakan Hawa dari tulang rusuknya (Adam) dan menjadikannya sebagai istrinya. Kemudian Adam dan Hawa melanggar perintah-perintah Allah, sehingga mereka diusir dari Firdaus. Tetapi, mereka menjanjikan seorang ‘juru selamat’; Kristus). (Lihat, al-Munjid, cet. XXI, 1973, hlm. 31, dalam entri alif bagian al-A‘lam).

Adam dalam Al-Quran memang bermaksiat (tidak menaati perintah) kepada Allah. Tetapi dia langsung bertobat kepada Allah, dan tobatnya diterima (Qs. Al-Baqarah [2]: 37). Dia tidak ada menjanjikan seorang “juru selamat”, yaitu Yesus Kristus, seperti yang dicatat oleh al-Munjid.

Tentang nabi Nuh a.s. al-Munjid juga mencatat, “Min aqdami rijal al-Tawrah. Naja wa ahlu baytihi min al-thufan wa tasalsala minhu al-jins al-basyariy al-jadid” (Nuh adalah salah seorang tokoh lama (klasik, terdahulu) Taurat. Dia dan keluarganya selamat dari “banjir bah” dan darinya lahir keturunan jenis manusia yang baru). (ibid., hlm. 579). Tentu saja ini bertentangan dengan teks Al-Quran yang menyatakan istri dan anaknya tidak selamat. Karena istrinya dan anaknya durhaka dan tidak mau menaati perintah suaminya (Lihat analisis menarik tentang ini: Ibnu Sahid as-Sundy, Duri di Ranjang Nabi: Kisah Kedurhakaan Istri Nabi Nuh dan Luth a.s., Yogyakarta: Media Insani, 2007).

Dan ketika menjelaskan tentang Nabi Muhammad s.a.w., al-Munjid mencatat: “Muhammad (570-632 M/11 H): al-nabiyyu al-‘arabiyyu. Da‘a ila al-Islam…” (Muhammad (570-632 M/11 H): seorang Nabi Arab, yang menyeru kepada Islam…). (ibid., hlm. 522).

Nabi Muhammad s.a.w. itu ia sebuat bukan “nabi Islam”, melainkan “Nabi orang Arab”. Dan masih banyak lagi contoh-contoh yang perlu mendapat perhatian banyak kalangan.

Boleh jadi, ini bentuk lain dari “injilasiasi” secara halus. Mungkin sudah saatnya, pondok-pondok pesantren untuk menggunakan kamus-kamus yang Islami, seperti Lisan al-‘Arab karya Ibnu Manzhur. Atau al-Qamus al-Muhith, Mukhtar al-Shihhâh; al-Mu‘jam al-Wasith, dll. Bahkan, contoh-contoh yang ada di dalam kamus-kamus tersebut sangat Islami, karena pengarangnya adalah Muslim dan memiliki keilmuan Islam yang sangat luas.

[Qosim Nursheha Dzulhadi, penulis adalah peminat Studi Al-Quran- Hadits dan Kristologi. Penulis tinggal di Medan/www.hidayatullah.com]

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »