Muslim in Suffer

Bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem. Assalamu\’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh!

Archive for May 20th, 2008

Mengenal Kitab Dusta Tadzkirah : Ahmadiyah Melaknat dan Memusuhi Ummat Islam

Posted by musliminsuffer on May 20, 2008

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

Mengenal Kitab Dusta Tadzkirah

Ahmadiyah Melaknat dan Memusuhi Ummat Islam

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

“Kitab Suci” Ahmadiyah yang bernama Tadzkirah memang benar-benar sesat menyesatkan, di luar Islam, dan ajarannya sangat bertentangan dengan Islam. Tadzkirah itu disebut sebagai Wahyu Muqoddas (Wahyu yang disucikan) –tertulis di dalam kitab itu sendiri pada halaman pertama–. Sedang menurut sampulnya, tadzkirah itu disebut sebagai kumpulan ilham (majmu’ah ilhaamaat) Hadzrat Masih Mau’ud (Isa yang dijanjikan) alaihis salam, maksudnya adalah Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908M) yang mengaku dan dipercayai oleh pengikutnya sebagai nabi dan rasul sesudah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,.

Kitab kumplan wahyu disucikan yang disebut Tadzkirah ini dikeluarkan tanggal 29 Oktober 1956M, bertepatan dengan 23 Rabiul Awwal 1346H oleh pengedarnya, As-Syirkah Al-Islamiyah.

Kitab Ahmadiyah bernama Tadzkirah ini setebal 840 halaman ukuran quarto, + 3 halaman pengantar berbahasa Urdu, dan diakhiri dengan 4 halaman ralat. (Wahyu disucikan tetapi ada ralatnya, karena dianggap ada yang salah cetak, dan ralatnya itu sampai 4 halaman folio atau tiga halaman lebih).

Tadzkirah ini sampai 31 halaman dari awal berbahasa Urudu, baru kemudian ada sedikit-sedikit Bahasa Arab, lalu selang seling kedua bahasa itu.

Ayat-ayat yang berbahasa Arab kebanyakan diterjemahkan ke bahasa Urdu dengan tulisan Arab Parsi/ Pakistani, dan kadang diberi penjelasan dengan Bahasa Urdu.

Tadzkirah berisi kebohongan dan merusak Islam

Isi Tadzkirah itu benar-benar merusak Islam, karena menegaskan kebohongan yang sangat bertentangan dengan aqidah Islam secara nyata, di antaranya:

  1. Menjajakan kemusyrikan nyata, Mirza Ghulam Ahmad mengaku berkedudukan pada keesaan Allah.
  2. Mengaku berkedudukan sebagai anak Allah.
  3. Mengaku sebagai Rasul.
  4. Mengaku sebagai Nabi.
  5. Mengaku sebagai Isa bin Maryam.
  6. Mengaku dipersilahkan Allah untuk tinggal di surga.
  7. Mengaku diberi khabar gembira Allah sebagai orang yang jadi tujuan Allah.
  8. Mengaku namanya sempurna, sedang nama Allah tak sempurna.
  9. Mengaku kedua bibirnya penuh rahmat.
  10. Menganggap orang yang tidak mengikutinya itu kafir dan terlaknat.
  11. Mengecam orang yang tidak mengakuinya sebagai Rasul itu musuh.

Masih banyak kebohongan yang tertera dalam “Kitab Suci” Ahmadiyah bernama Tadzkirah ini. Mari kita simak cuplikan-cuplikan kesesatannya yang sangat menjerumuskan dan merusak Aqidah Islam sebagai berikut:

Menyebar kemusyrikan dengan mengaku berkedudukan pada keesaan Allah. Ditekankan berkali-kali:

اَنْتَ مِنِّى بِمَنْزِلَةِ تَوْحِيْدِىْ وَتَفْرِيْدِىْ فَحَانَ اَنْ تُعَانَ وَتُعْرَفَ بَيْنَ النَّاسِ

Kamu di hadapanku pada kedudukan tauhid-Ku dan ke-Esaan-Ku, maka waktunya untuk ditolong dan dikenal di kalangan manusia. (Tadzkirah, halaman 246, 276, 395).

Menyebar kemusyrikan dengan mengaku sebagai Anak-anak Allah. Jadi Allah dianggap punya banyak anak:

اَنْتَ مِنِّىْ بِمَنْزِلَةٍ اَوْلاَدِيْ

Kamu disisi-Ku pada kedudukan anak-anak-Ku.(Tadzkirah, halaman 436)

Mengaku bahwa Allah itu berasal dari Mirza Ghulam Ahmad

اَنْتَ مِنِّىْ وَاَناَ مِنْكَ

Kamu berasal dari-Ku dan Aku darimu. (Tadzkirah, halaman 436).

Mengaku berkedudukan sebagai anak Allah. Ini Allah dianggap punya anak:

اَ نْتَ مِنِّى بِمَنْزِلَةِ وَلَدِىْ

Kamu di sisi-Ku pada kedudukan anak-Ku. (636).

Berdusta dengan pengakuan sebagai nabi, pada kedudukan Musa as pada zaman seperti zaman Musa. Mirza mengaku Allah utus sebagaimana Allah utus Musa kepada Fir’aun. Kedustaan itu tertuang dalam Tadzkirah, halaman 651:

يَانَبِىَّ اللهِ كُنْتُ لاَ اَعْرِفُكَ

لاَ تَثْرِيْبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ يَغْفِرُ اللهُ لَكُمْ وَهُوَ اَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ

تَلَطَّفْ بِالنَّاسِ وَتَرَحَّمْ عَلَيْهِمْ

اَنْتَ فِيْهِمْ بِمَنْزِلَةِ مُوْسَى

يَاْتِىْ عَلَيْكَ زَمَنٌ كَمِثْلِ زَمَنِ مُوْسَى

اِنَّا اَرْسَلْنَا اِلَيْكُمْ رَسُوْلاً شَاهِدًا عَلَيْكُمْ كَمَا اَرْسَلْنَا اِلَى فِرْعَوْنَ رَسُوْلاً

Wahai Nabi Allah, aku tidak mengenalmu

Pada hari ini tidak ada celaan terhadap kalian, Allah meng-ampuni kalian, dan Dia Maha Penyayang diantara para penyayang

Bersikap ramahlah kamu ter-hadap manusia dan sayangilah mereka

Kamu dikalangan mereka seperti kedudukan Musa

Akan datang kepadamu suatu zaman yang seperti zamannya Musa

Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kalian seorang Rasul, yang menjadi saksi atas kalian, sebagaimana Kami telah mengutus (dahulu) seorang Rasul kepada Fir’aun

Melaknat orang yang dianggap kafir dan mengangkat diri sebagai Imam yang diberkahi dengan ungkapan berulang-ulang. Yang diberkahi hanyalah orang yang bersama Mirza Ghulam Ahmad dan sekitarnya, sedang yang dilaknat adalah orang kafir. Artinya, orang yang tidak bersama mirza Ghulam Ahmad alias tidak mempercayainya maka dilaknat atas nama laknat Allah, karena dianggap kafir. Ini tertuang dalam Tadzkirah, halaman 748-749:

Laknat Allah ditimpakan atas orang yang kufur

لَعْنَةُ اللهِ عَلَى الَّذِىْ كَفَرَ

Kamu adalah Imam yang di-berkahi, Laknat Allah ditimpa-kan atas orang yang kufur

َانْتَ اِمَامٌ مُّبَارَكٌ لَعْنَةُ اللهِ عَلَى مَنْ كَفَرَ

Kamu adalah Imam yang di-berkahi, Laknat Allah ditimpa-kan atas orang yang kufur

َانْتَ اِمَامٌ مُّبَارَكٌ لَعْنَةُ اللهِ عَلَى مَنْ كَفَرَ

Kamu adalah Imam yang di-berkahi, Laknat Allah ditimpa-kan atas orang yang kufur

َانْتَ اِمَامٌ مُّبَارَكٌ لَعْنَةُ اللهِ عَلَى مَنْ كَفَرَ

Orang yang bersamamu dan orang yang disekitarmu di-berkahi.

بُوْرِكَ مَنْ مَّعَكَ وَمَنْ حَوْلَكَ.

Akhir dari Kitab Tadzkirah ini adalah kutukan kepada orang kafir, dan keberkahan bagi orang yang mengikuti Mirza Ghulam Ahmad. Ini jelas, yang tidak mngikuti, atau tidak beserta Mirza Ghulam Ahmad dinyatakan kafir dan dilaknat. Tidak ada makna lain dari pernyataan itu. Maka sudah jelas, Mirza Ghulam Ahmad melaknat dan mengkafirkan siapa saja yang tidak mengikutinya.

Di samping dianggap kafir, orang yang tidak mempercayai Mirza Ghulam Ahmad sebagai Rasul itu dianggap sebagai musuh. Lihat Tadzkirah halaman 402. Anehnya, para pembela Ahmadiyah mengatakan bahwa orang Ahmadiyah itu sama dengan kita (kaum Muslimin), hanya beda penafsiran. Itu kata Dawam Rahardjo, pembela gigih Ahmadiyah sejak lama. Padahal dalam Kitab Tadzkirah halaman 402 jelas:

سَيَقُوْلُ الْعَدُوُّ لَسْتَ مُرْسَلاً

Musuh akan berkata: kamu bukanlah orang yang diutus (Rasul). (Tadzkirah halaman 402)

Oleh karena itu, semua orang Muslim karena tidak percaya Mirza Ghulam Ahmad sebagai rasul maka dianggap musuh. Maka berbohonglah orang yang membelanya dengan mengatakan bahwa Ahmadiyah itu sama dengan kita, hanya beda penafsiran. Sebab Ahmadiyah dalam kitab suci mereka sendiri telah menyatakan musuh.

sumber : http://www.nahimunkar.com/?p=67#more-67

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Posted in Uncategorized | 1 Comment »

Gus Dur Menggoblog-goblogkan Orang Demi Membela Ahmadiyah

Posted by musliminsuffer on May 20, 2008

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

Gus Dur Menggoblog-goblogkan Orang

Demi Membela Ahmadiyah

Kasus Ahmadiyah ramai dibicarakan, terutama sejak keluarnya keputusan Bakor Pakem Kejaksaan Agung 16 April 2006 bahwa Ahmadiyah menyimpang dari pokok-pokok ajaran Islam dan direkomendasikan agar menghentikan kegiatannya. Keputusan Bakor Pakem itu untuk dijadikan SKB (surat keputusan bersama) tiga menteri: Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri, dan Jaksa Agung. SKB ini penandatangannya dan diumumkannya tampak tertunda-tunda.

Secara procedural, kalau SKB itu telah diumumkan maka perlu dikeluarkan Keppres (Keputusan Presiden) mengenai penghentian kegiatan Ahmadiyah atau pelarangannya. Ini yang ditunggu-tunggu ummat Islam, hingga FUI (Forum Ummat Islam) di Jakarta pimpinan Mashadi yang terdiri dari berbagai unsure Ormas Islam dan lembaga Islam mengancam. Ancama itu di antaranya disuarakan dalam tabligh akbar di Masjid Al-Barkah As-Syafi’iyah Balimatraman Jakarta Selatan, Ahad 4 Mei 2008/ 27 Rabi’ul Akhir 1429H. Yaitu kalau Presiden SBY (Soesilo Bambang Yudhoyono) tidak mengeluarkan Keppres tentang larangan Ahmadiyah maka jangan sampai ummat Islam memilihnya lagi pada pemilu (pemilihan umum) 2009.

Di tengah tertunda-tundanya SKB Tiga Menteri mengenai Ahmadiyah itu banyak suara yang mendukung hasil keputusan Bakor Pakem yang merekomendasikan agar Ahmadiyah menghentikan kegiatannya. Majelis Ulama Indonesia (MUI) berada di barisan depan ummat Islam. Namun suara-suara miring yang mendukung Ahmadiyah dan tampaknya asal bunyi, bahkan sampai kasar dan memalukan, bermunculan di sana-sini. Walaupun orang-orangnya ya sudah ketahuan hanya yang itu-itu juga dan tidak punya pengikut kecuali sedikit, namun karena banyak media yang doyanannya memang menyuarakan anti Islam, maka yang ditampilkan ya suara orang-orang anti Islam atau anti kepentingan Islam walau mengaku diri mereka orang Islam.

Ada yang sampai ditulis di situsnya sendiri dengan kasarnya. Sekadar contoh, Gus Dur dengan situs resminya gusdur.net menampilkan berita suara dirinya. Berikut ini kutipan selengkapnya:

Hanya Orang Goblog yang Mengkavling Surga

Jakarta, gusdur.net

Rapat Badan Kordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan

Masyarakat (Bakorpakem), Selasa (16/4/2008) yang

memutuskan Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) menyimpang

dari ajaran Islam sehingga harus menghentikan seluruh

kegiatan, mendapat kecaman keras dari Presiden Republik

Indonesia (RI) ke-4 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Menurut mantan Ketua PBNU ini, putusan Bakorpakem, yang

didasarkan pada fatwa sesat Majelis Ulama Indonesia

(MUI) itu bertentangan dengan Undang-Undang Dasar (UUD)

1945.

“Kalau perlu tangkap saja yang melanggar Undang-undang.”

Demikian disampaikan Gus Dur saat menjadi narasumber

pada acara Kongkow Bareng Gus Dur bertema Perempuan,

Keragaman, dan Kearifan Lokal di Green Radio, Jl. Utan

Kayu No. 68 H Jakarta, Sabtu (19/04/2008) pagi.

Gus Dur mengakui, dirinya tidak sesuai dan tidak setuju

dengan ajaran yang dibawa Ahmadiyyah. Namun, akunya,

berdasarkan UUD 1945, para penganut Ahmadiyyah memiliki

hak untuk hidup di Tanah Air ini.

“Mau ajaran apa saja terserah,” kata Ketua Dewan Syura

DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.

Cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH. M. Hasyim Asyari

ini menyatakan, Bakorpakem dan MUI telah menafikan fakta

kemajemukan bangsa Indonesia.

Jadi, hanya orang-orang jujur yang bisa mengerti dan

mengawal kemajemukan ini. “Orang-orang yang jujur pada

UUD 1945, yang otomatis mengawal pluralitas yang punya

akar sangat dalam di kehidupan bangsa kita,” terang Gus

Dur.

“Bagaimana dengan aliran kepercayaan?” tanya Zainuddin

dari Jambi.

Gus Dur menyatakan, banyaknya ajaran kepercayaan tidak

perlu diributkan atau dipermasalahkan. Soal ritual

mereka berbeda dengan ummat Islam pada umumnya, itu

urusan lain lagi.

“Kenapa mereka kita paksa supaya sama dengan kita?,”

tanya Gus Dur heran.

Pada kesempatan ini, Gus Dur juga menyatakan, hanya

orang goblog yang menganggap dirinya saja yang benar dan

masuk surga, sementara orang lain yang berbeda salah dan

masuk neraka.

“Kalau kita sudah tahu mereka goblog, ya sudah. Kenapa

pusing-pusing amat sih?,” kata Gus Dur santai.[nhm] (gusdur.net).

Komentar kami:

Kasus yang dibicarakan itu adalah tentang Ahmadiyah yang memiliki nabi palsu, Mirza Ghulam Ahmad. Kitab sucinya wahyu palsu, Tadzkirah. Tempat sucinya palsu, Qadyan dan Rabwah. Dan memiliki sertifikat surga, siapa yang membeli sertifikat kuburan di Rabwah Pakistan dijamin masuk surga. Yang penting punya sertifikat yang harganya mahal itu, maka dijamin masuk surga. Dan siapa yang tidak percaya kenabian Mirza Ghulam Ahmad maka dinyatakan tempatnya di neraka Jahannam.

Yang jadi masalah, kenapa Ahmadiyah yang sangat memalsu Islam, memalsu kenabian, memalsu kitab suci itu justru menganggap bahwa mereka lah yang sah Islamnya. Yang lain adalah kafir dan musuh, dan tempatnya di neraka Jahannam. Sampai-sampai, putera Mirza Ghulam Ahmad bernama Fadhl Ahmad yang dia ini tidak percaya terhadap pengakuan Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, ketika Fadhl meninggal saat ayahnya ini (MGA) masih hidup, maka MGA tidak mau menshalati jenazah anaknya sendiri itu, karena dinilai sebagai kafir. Lantaran tidak mempercayai MGA sebagai nabi. Itulah inti masalahnya.

Dari kenyataan itu maka betapa kelirunya ketika Gus Dur (Abdurrahman Wahid) dengan sangat bersemangat membela Ahmadiyah, yang dalam berita di situs milik Gus Dur sendiri ditulis:

Pada kesempatan ini, Gus Dur juga menyatakan, hanya

orang goblog yang menganggap dirinya saja yang benar dan

masuk surga, sementara orang lain yang berbeda salah dan

masuk neraka.

“Kalau kita sudah tahu mereka goblog, ya sudah. Kenapa

pusing-pusing amat sih?,” kata Gus Dur santai.[nhm] (gusdur.net).

Para pembaca yang budiman, kalau sudah seperti ini, kita mau bilang apa lagi. Aneh sekali. Yang Gus Dur bela itu justru yang palsu, sekaligus menyatakan –dengan agama palsunya itu— hanya merekalah yang masuk surga. Yang lain, tempatnya di neraka Jahannam.

Mestinya, Gus Dur sampai menggoblog-goblogkan orang itu, pertama kali yang jadi sasarannya justru Ahmadiyah. Tetapi anehnya, justru Gus Dur melontarkan kata-kata tak sopan itu demi membela Ahmadiyah. Betapa anehnya.

Itu artinya, Gus Dur baru terima, dan bahkan membelanya, apabila yang mengaku bahwa hanya merekalah yang masuk surga itu dari kelompok yang merusak Islam, memalsu Islam; contohnya Ahmadiyah.

Sebaliknya, kalau ummat Islam yang mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam secara istiqomah, maka dianggap goblog oleh Gus Dur. Padahal sudah jelas dalilnya, yang masuk surga hanya orang Islam. Yang lain masuk neraka semua:

ِ

ِإنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإِسْلاَمُ

ِ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. (QS Ali ‘Imran: 19).

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ(85)

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS Ali ‘Imran: 85).

Nabi Muhammad saw menjelaskan secara tegas:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ ».

Diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, tidaklah seseorang dari Ummat ini yang mendengar (agama)ku, baik dia itu seorang Yahudi maupun Nasrani, kemudian dia mati dan belum beriman dengan apa yang aku diutus dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka.” (Hadits Riwayat Muslim bab Wujubul Iimaan birisaalati nabiyyinaa Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ilaa jamii’in naasi wa naskhul milal bimillatihi, wajibnya beriman kepada risalah nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bagi seluruh manusia dan penghapusan agama-agama dengan agama beliau).

Dalil-dalilnya sudah jelas, berupa firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Mafhum mukholafahnya (pengertian tersiratnya), Allah dan Rasul-Nya telah dilecehkan oleh orang yang tak tahu diri dengan ucapan yang sama sekali tidak kenal sopan santun ini. Betapa kurangajarnya orang itu, dan kekurangajarannya itupun untuk mendukung pengikut nabi palsu. Na’udzubillahi min dzalik (kami berlindung kepada Allah dari yang demikian).

Pelanggaran yang memalukan

Membela Ahmadiyah sambil menggoblog-goblogkan orang itu merupakan pelangga-ran yang memalukan. Ada beberapa hal yang dilanggar:

1. Menggoblog-goblogkan orang, padahal justru dia sendiri yang tidak doyan keyakinan yang benar, hingga membela yang palsu lagi merusak Islam serta sesat. Orang yang macam ini sudah ada peringatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ ءَامِنُوا كَمَا ءَامَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا ءَامَنَ السُّفَهَاءُ أَلاَ إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لاَ يَعْلَمُونَ(13)

Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman”, mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu. (QS Al-Baqarah: 13).

2. Menyuara seakan-akan sebagai orang yang memperbaiki keadaan. Hingga berkata: “Kalau perlu tangkap saja yang melanggar Undang-undang.” Padahal justru dirinya itu lah yang merusak keadaan, membolehkan berlangsungnya perusakan terhadap agama Islam yang dilindungi oleh Undang-undang Dasar. Membolehkan pemalsuan terhadap Agama Islam, padahal Agama Islam itu dilindungi Undang-undang Dasar.

Terhadap kecurangan seperti ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mempe-ringatkan dengan tandas:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لاَ تُفْسِدُوا فِي الأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ(11)أَلاَ إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لاَ يَشْعُرُونَ(12)

11. Dan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi[24]”. mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.”

12. Ingatlah, Sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (QS Al-Baqarah: 11, 12).

[24] kerusakan yang mereka perbuat di muka bumi bukan berarti kerusakan benda, melainkan menghasut orang-orang kafir untuk memusuhi dan menentang orang-orang Islam.

3. Terang-terangan bahkan tanpa mengenal kesopanan dia menggoblog-goblogkan orang demi membela Ahmadiyah yakini pengikut nabi palsu, Mirza Ghulam Ahmad. Sikap semacam itu telah dikecam oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَلاَ تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا(105)

“…dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), Karena (membela) orang-orang yang khianat[347].” (QS An-Nisaa’: 105).

[347] ayat Ini dan beberapa ayat berikutnya diturunkan berhubungan dengan pencurian yang dilakukan Thu’mah dan ia menyembunyikan barang curian itu di rumah seorang Yahudi. Thu’mah tidak mengakui perbuatannya itu malah menuduh bahwa yang mencuri barang itu orang Yahudi. hal Ini diajukan oleh kerabat-kerabat Thu’mah kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mereka meminta agar Nabi membela Thu’mah dan menghukum orang-orang Yahudi, kendatipun mereka tahu bahwa yang mencuri barang itu ialah Thu’mah. Nabi sendiri hampir-hampir membenarkan tuduhan Thu’mah dan kerabat-nya itu terhadap orang Yahudi.

4. Dalam berita di situs resmi gusdur.net itu dinyatakan: Gus Dur mengakui, dirinya tidak sesuai dan tidak setuju dengan ajaran yang dibawa Ahmadiyyah. Namun, akunya, berdasarkan UUD 1945, para penganut Ahmadiyyah memiliki hak untuk hidup di Tanah Air ini.

Ungkapan Gus Dur itu mari kita buktikan, dusta atau tidak Gus Dur itu, kita lihat Undang-undang Dasar:.

UNDANG-UNDANG DASAR

NEGARA REPUBLIK INDONESIA

TAHUN 1945

BAB XA

HAK ASASI MANUSIA

Pasal 28E

(1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya…

BAB XI

AGAMA

Pasal 29

(1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.

(2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Dalam kaitan dengan kasus Ahmadiyah, M Amin Djamaluddin ketua LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) di Jakarta menulis, di antaranya:

TANGGAPAN:

Yang dijamin oleh UUD 1945 Pasal 29 Ayat (1) dan (2) dan Undang-Undang HAM itu adalah masalah kebebasan beragama. Maksudnya adalah, setiap agama yang ada di Indonesia, pengikutnya dijamin bebas menjalankan ajaran agamanya sesuai dengan ajaran agama masing-masing.

Sedangkan Ahmadiyah ini praktek nyatanya bukan masalah kebebasan beragama, tetapi kebebasan mengacak-acak agama Islam serta mengacak-acak dan memutarbalikkan ayat-ayat kitab suci Al Qur’an.

Tidak ada dalam UUD 1945 serta UU HAM, satu pasal atau ayat pun yang membolehkan pemutarbalikan serta perusakan suatu agama yang ada di Indonesia. Sekali lagi saya tegaskan, yang dijamin oleh UUD 1945 serta UU HAM adalah kebebasan beragama dan bukan kebebasan mengacak-acak serta merusak agama Islam. Oleh karena itu, tindakan saudara-saudara orang Ahmadiyah ini telah menodai suatu agama yang ada di Indonesia dan akan dikenai pasal 156A KUHP. (M Amin Djamaluddin, Ketua LPPI).

Pasal 156 a KUHP memberi ancaman pidana lima tahun penjara bagi

mereka yang dengan sengaja dimuka umum mengeluarkan perasaan atau

melakukan perbuatan yang bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau

penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia. Juga bagi

mereka yang dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau

melakukan perbuatan dengan maksud agar supaya orang tidak menganut

agama apapun juga yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Pasal 1 Undang-Undang No. 1/PNPS/1965 tegas menyebutkan larangan

mengusahakan dukungan umum dan untuk melakukan penafsiran tentang

sesuatu agama. Ketentuan pasal ini selengkapnya berbunyi: “Setiap

orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceritakan,

menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum untuk melakukan

penafsiran tentang sesuatu agama yang utama di Indonesia atau

melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai

kegiatan-kegiatan agama itu, penafsiran dan kegiatan mana menyimpang

dari pokok-pokok ajaran dari agama itu“.

Pelanggaran Ahmadiyah sangat jelas

Ahmadiyah telah dinyatakan oleh Bakor Pakem Kejaksaan Agung: menyimpang dari pokok-pokok ajaran Islam. Antara Undang-undang dan keputusan Bakor Pakem tentang Ahmadiyah, telah nyata, melanggar larangan .

Sementara itu pemalsuan dan penodaan nabi palsu Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad, terhadap Islam nyata jelas. Mari kita simak contoh ayat-ayat palsu yang menodai Islam bahkan menganggap ummat Islam ini kafir dan musuh:

Menganggap semua orang Islam yang tidak mempercayai Mirza Ghulam Ahmad sebagai Rasul adalah musuh. Kitab Tadzkirah halaman 402:

سَيَقُوْلُ الْعَدُوُّ لَسْتَ مُرْسَلاً

Musuh akan berkata: kamu (Mirza Ghulam Ahmad) bukanlah orang yang diutus (Rasul). (Tadzkirah halaman 402)

Selain golongannya maka dianggap kafir dan dilaknat.

Tadzkirah, halaman 748-749:

Laknat Allah ditimpakan atas orang yang kufur

لَعْنَةُ اللهِ عَلَى الَّذِىْ كَفَرَ

Kamu adalah Imam yang di-berkahi, Laknat Allah ditimpa-kan atas orang yang kufur

َانْتَ اِمَامٌ مُّبَارَكٌ لَعْنَةُ اللهِ عَلَى مَنْ كَفَرَ

Kamu adalah Imam yang di-berkahi, Laknat Allah ditimpa-kan atas orang yang kufur

َانْتَ اِمَامٌ مُّبَارَكٌ لَعْنَةُ اللهِ عَلَى مَنْ كَفَرَ

Kamu adalah Imam yang di-berkahi, Laknat Allah ditimpa-kan atas orang yang kufur

َانْتَ اِمَامٌ مُّبَارَكٌ لَعْنَةُ اللهِ عَلَى مَنْ كَفَرَ

Memutar balikkan ayat-ayat Al-Qur’an. Contohnya:

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa – Dia itu tidak masuk ke dalamnya (neraka), kecuali dengan rasa takut.

تَبَّتْ يَدَآ اَبِيْ لَهَبٍ وَّتَبَّ مَاكَانَ لَهُ اَنْ يَّدْخُلَ فِيْهَا اِلاَّ خَائِفًا

Di dalam Al-Qur’an, bunyi ayatnya:

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ(1) مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ(2)

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.

Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. (QS Al-Masad: 1, 2).

Setelah kita simak Undang-undang Dasar, serta undang-undang yang ada di Indonesia, dapat kita bandingkan dengan penodaan terhadap Islam yang dilakukan nabi palsu Ahmadiyah yakni Mirza Ghulam Ahmad, ternyata benar-benar sudah melanggar Undang-undang. Kalau Gus Dur istiqamah, maka ucapannya: “Kalau perlu tangkap saja yang melanggar Undang-undang.” Itu mestinya ditujukan kepada orang-orang Ahmadiyah yang telah jelas-jelas melanggar undang-undang karena merusak dan menodai serta menyimpang dari ajaran Islam. Tetapi anehnya, teriakan Gus Dur itu justru untuk membela Ahmadiyah, dan mengecam MUI serta Bakor pakem Kejaksaan Agung. Aneh tenan! (Benar-benar aneh!).

Oleh karena itu betapa bohongnya Gus Dur itu. Sudah membohongi ummat, masih pula berdalih-dalih dengan Undang-undang Dasar, hanya demi membela Ahmadiyah, perusak Islam. Komplitlah sudah kejahatannya. Masih ditambah lagi, menggoblog-goblogkan orang. Itu entah ke mana akhlaqnya.

Bahaya tokoh sesat menyesatkan

Untuk menghadapi tokoh sesat lagi menyesatkan, ada hadits yang cukup jelas:

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِى الأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ ».

Dari Tsauban, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya yang aku takuti (bahayanya) atas ummatku hanyalah imam-imam/ pemimpin-pemimpin yang menyesatkan. (HR Ahmad, rijalnya tsiqot –terpercaya menurut Al-Haitsami, juga dikeluarkan oleh Abu Daud, Ad-Darimi, dan At-Tirmidzi, ia berkata: Hadits Shahih. Al-Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah berkata, isnadnya shahih atas syarat Muslim).

Siapakah imam-imam yang menyesatkan (aimmah mudhillin) itu?

( إنما أخاف على أمتي الأئمة ) أي شر الأئمة ( المضلين ) المائلين عن الحق المميلين عنه . — التيسير بشرح الجامع الصغير ـ للمناوى – (ج 1 / ص 728)

Imam-imam yang menyesatkan (al-Aimmah al-mudhillin) artinya seburuk-buruk imam/ pemimpin, yang menyimpang dari kebenaran dan menyelewengkan darinya. (Al-Munawi, At-Taisir bisyarhil Jami’is Shaghir juz 2 halaman 728).

أئمة مضلين أي داعين إلى البدع والفسق والفجور. — تحفة الأحوذي – (ج 6 / ص 401)

Imam-imam yang menyesatkan, artinya penyeru-penyeru kepada bid’ah-bid’ah, kefasikan (pelanggaran-pelanggaran) dan fujur (kejahatan-kejahatan) (Al-Mubarokafuri, Tuhfatul Ahwadzi, syarah Jami’ At-Tirmidzi juz 6 halaman 401).

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sangat khawatir terhadap pemimpin-pemimpin yang menyesatkan. Sedangkan Nabi saw adalah panutan kita. Itu pasti. Tetapi kenapa kadang kita yang mengaku jadi ummat Nabi Muhammad saw justru membiarkan tokoh sesat menyestakan merajalela. Bahkan lebih dari itu justru memilihnya, mendukungnya, dan mengelu-elukannya, sampai menciumi tangannya segala. Perilaku macam inilah mestinya yang jadi sasaran, kalau mau kau goblog-goblogkan, Gus! (Hartono Ahmad Jaiz)

sumber : http://www.nahimunkar.com/?p=64#more-64

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Posted in Uncategorized | 2 Comments »

Pluralisme Agama Keyakinan Kafir, Fiqih Lintas Agama Dikecam di Mana-mana

Posted by musliminsuffer on May 20, 2008

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

Pluralisme Agama Keyakinan Kafir

Fiqih Lintas Agama Dikecam di Mana-mana

Buku Fiqih Lintas Agama (FLA) dikecam di mana-mana karena isinya menyelisihi ajaran Islam, menyesatkan, bahkan menuju kepada kepercayaan kemusyrikan yang sangat dilarang dalam Islam dan dosa paling besar. Itu semua karena ajaran yang diusung tim penulis Paramadina 9 orang itu adalah aqidah syirik, yaitu pluralisme agama, menyamakan semua agama.

Aqidah yang merusak Islam dan diusung oleh kelompok Paramadina pimpinan Nurcholish Madjid dengan sponsor The Asia Foundation (yayasan orang kafir yang dananya dari Amerika) dalam buku Fiqih Lintas Agama itu telah dibantah dalam perdebatan di UIN –Universitas Islam Negeri– (dahulu IAIN –Institut Agama Islam Negeri) Jakarta, 15 Januari 2004. Kemudian ungkapan-ungkapan wakil Tim Paramdina dalam debat itu yang tampaknya tetap ngotot mempertahankan penyelewengannya dibabat pula dalam buku berjudul Mengkritisi Debat Fikih Lintas Agama karya Hartono Ahmad Jaiz. Kemudian lebih ditegaskan lagi uraian tentang rusaknya pemahaman FLA itu dalam buku Hartono Ahmad Jaiz yang berjudul Menangkal Bahaya JIL (Jaringan Islam Liberal) dan FLA (Fiqih Lintas Agama), terbitan Pustaka Al-Kautsar, Jakarta. Borok-borok FLA dibeberkan, dan juga kerusakan-kerusakan muatannya dan metodologinya.

Buku berbahaya karena mengusung faham kekafiran, pluralisme Agama, yang diterbitkan Paramadina Jakarta itu ternyata kemudian diterbitkan pula dalam bahasa Inggeris oleh ICIP (International Center for Islam and Pluralism) pimpinan Dr. Syafii Anwar di Jakarta. Dalam hal mengusung aqidah yang membahayakan ummat ini, ICIP dengan bukunya itu disoroti tajam oleh Adian Husaini, seorang aktivis anti sepilis (sekulerisme, pluralisme Agama, dan liberalisme) di Jakarta, dengan tulisannya, kami kutip sebagiannya sebagai berikut:

Pandangan dan sikap ICIP terhadap Pluralisme Agama bisa dilihat jelas pada buku yang diterbitkannya, yaitu ”Interfaith Theology: Responses of

Progressive Indonesian Muslims” (Diterbitkan atas dukungan dari The Asia Foundation, 2006). Tim penulis buku ini adalah: Zainun Kamal, Nurcholish Madjid, Masdar F. Mas’udi, Komaruddin Hidayat, Budhy Munawar Rachman, Kautsar Azhary Noer, Zuhairy Misrawi, dan Ahmad Gaus AF. Buku ini

merupakan edisi Bahasa Inggris dari buku Fiqih Lintas Agama, (Jakarta: Paramadina, 2004).

Melihat isinya, buku Fiqih Lintas Agama adalah buku yang secara mendasar membongkar konsep Islam di bidang aqidah dan syariah, khususnya yang berkaitan dengan hubungan Islam dengan pemeluk agama lain. Membaca buku ini, kita menemukan banyak kesalahan, kerancuan epistemologis, dan logika-logika yang rancu. Bisa jadi, itu tidak disengaja (karena ketidaktahuan) atau mungkin karena memang disengaja untuk menutupi jalan kebenaran. Misalnya, ditulis: “Segi persamaan yang sangat asasi antara

semua kitab suci adalah ajaran Ketuhanan Yang Maha Esa.” (hal. 55).

Kita bertanya, benarkah semua kitab suci mengandung ajaran seperti itu?

Berapa kitab suci yang sudah diteliti? Lebih kacau lagi, pernyataan berikut ini: “Sekalipun kaum Ahli Kitab – kecuali yang berbahasa Arab – tidak menggunakan perkataan “Allah: untuk objek sesembahan mereka, Al-Quran menyebutkan bahwa konsep Ketuhanan dalam kitab suci mereka sama dengan yang ada dalam Al-Quran. Hal itu menunjukkan bahwa dalam pengertian yang benar tentang Tuhan, masalah nama bukanlah hal yang asasi; yang asasi ialah pengertiannya.” (Edisi Bahasa Indonesia, hal. 56).

Tentu saja pernyataan dalam buku tersebut ”asbun”, alias tidak berdasar

sama sekali. Konsep ketuhanan dalam Al-Quran jelas berbeda dengan konsep ketuhanan dalam Bibel Yahudi atau Kristen. Juga berbeda dengan konsep ketuhanan dalam kitab agama-agama lain. Al-Quran banyak mengritik konsep ketuhanan kaum Kristen (Lihat, misalnya, QS 5:72-75, 19:88-91). Di sinilah, kita melihat kacaunya logika ICIP yang terlalu memaksakan diri untuk “menyama-nyamakan” konsep ketuhanan agama-agama, yang jelas-jelas berbeda.

Buku ini juga menulis: “Bagi orang-orang Muslim pluralis sejati, (yang

percaya bahwa semua agama, meskipun dengan jalan masing-masing yang

berbeda, menuju satu tujuan yang sama, Yang Absolut, Yang Terakhir, Yang Riil), meminta doa kepada orang-orang non-Muslim adalah mungkin dan,

karena itu, tidak terlarang.” (Ibid, hal. 103).

Jadi, tampaknya, itulah definisi Pluralis sejati, seperti disebarkan ICIP. Yakni, semua agama, agama apa pun – tentunya dengan konsep Tuhannya yang

sangat beragam dan tata cara ibadah yang beragam pula – adalah menuju

Tuhan yang sama. Inilah sebuah konsep Pluralisme yang disebut sebagai

“Kesatuan Transenden Agama-agama”. Dalam konsep ini tidak ada agama yang dianggap sesat atau salah. Mau shalat cara Islam, atau sembahyang gaya Lia Eden atau agama Gatholoco, semuanya dipandang sama-sama akan menuju kepada Tuhan yang sama. (”Pluralisme Agama Model ICIP” , Sabtu, 10 Mei 2008 Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-234 Oleh: Adian Husaini, /www.hidayatullah.com)

Buku FLA telah dibabat di mana-mana

Karena buku FLA terbitan Paramadina ini dipandang membahayakan Islam, maka sorotan tajam terhadapnya digelar di mana-mana. Di antaranya di Aula Al-Irsyad Solo Jawa Tengah dihadiri 1500-an orang, dengan pembicara seorang Ustadz di Solo dengan menghadirkan Hartono Ahmad Jaiz, Ahad 24 Maret 2004. Malam harinya dilanjutkan di satu Masjid di Penumping Solo dihadiri 200-an jama’ah.

Di Bekasi Jawa Barat, masalah buku FLA ini disoroti tajam di Majlis Taklim Al-Hikmah BJI, di Masjid Ummu Umar cabang Al-Huda Bogor, Radio Dakta, dan di Islamic Center Bekasi.

Di Jakarta gugatan terhadap buku FLA keluaran Paramadina itu digelar di Bina Ukhuwah Kelapa Gading dengan menghadirkan pembicara Ustadz Agus Hasan Bashori dan Hartono Ahmad Jaiz, juga di Masjid RS Pertamina Pusat Mayestik Blok M, dan di Pameran Buku Islam Nasional di Balai Sidang/ JCC Senayan dengan membedah buku Mengkritisi Debat Fikih Lintas Agama, menghadirkan seorang pembicara mendampingi Hartono.

Dalam bedah buku bantahan terhadap FLA berjudul Mengkritisi Debat Fikih Lintas Agama karya Hartono Ahmad Jaiz di Pameran Buku Islam Nasional di Senayan, juga di berbagai tempat tersebut dikemukakan plintiran-plintiran tim Paramadina dalam buku FLA-nya. Hingga buku FLA terbitan Paramadina itu terkuak belang ketidak jujurannya serta penyesatannya.

Tidak ilmiah

Di samping itu, buku FLA Paramadina ini sangat tidak ilmiah, memalukan, dan menghina serta melecehkan sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terutama Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu (FLA hal 70), dan juga ulama terutama Imam Syafi’I, serta memutarbalikkan pernyataan Imam Ibnu Taimiyyah.

Seorang Ustadz di Solo menegaskan, buku FLA itu sangat jauh dari metodologi ilmiah, apalagi manhaj dalam memahami Islam dan beristinbath (menyimpulkan hukum).

Bayangkan, untuk membolehkan hadir di upacara-upacara hari besar orang kafir, dalam buku FLA halaman 85 itu landasannya di antaranya adalah hadirnya Yasser Arafat bersama isterinya Suha, di acara misa tengah malam di Gereja Saint Catherine di Bethlehem, dan menghadiri Perayaan Malam Natal di Gereja Kelahiran Kristus di kota yang sama, setelah menghadiri dan mengikuti acara tarawih di masjid dekat gereja itu. (FLA hal 85).

Lalu di halaman 86 dikemukakan, Ketua MPR RI Amien Rais menghadiri perayaan Natal di Gereja Sentrum Tondano, ibukota Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, pada Selasa, 19 Desember 2000.

Komentar Ustadz ini, fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan juga Imam Ibnu Taimiyah dalam Kitab Iqtidho’ush Shirothil Mustaqiem Limukholafati Ashabil Jahim mendasari larangan menghadiri upacara hari besar orang kafir itu pakai ayat, di antaranya ayat:

وَالَّذِينَ لاَ يَشْهَدُونَ الزُّورَ

Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, (QS Al-Furqon: 72).

Azzuur di situ para tabi’in mengartikan hari-hari besar orang musyrikin atau kafir. Jadi tidak menghadiri upacara perayaan orang kafir.

Untuk mengharamkan hadir di perayaan orang kafir dengan memakai ayat seperti itu, itulah cara yang ditempuh oleh ulama, dan sesuai dengan keilmuan Islam. Tetapi kalau model Nurcholish Madjid cs dalam tim 9 orang dari Paramdina di buku FLA ini, untuk membolehkan hadir di perayaan orang kafir kok landasannya Yasser Arafat dan ketua MPR, ini ilmiahnya di mana? Kalau Islam dibangun di atas pelanggaran-pelanggaran orang, maka hak Allah itu di mana? tandas Ustadz yang tinggal di Solo ini.

Kecerobohan dan pemutarbalikan yang semena-mena memang tampak jelas di buku FLA.

Hartono Ahmad Jaiz mencontohkan, buku FLA halaman 167: “Dan logikanya, bila Islam menghargai agama lain dan mempersilahkan pernikahan dengan agama lain, maka secara otomatis waris beda agama diperbolehkan.”

Ungkapan FLA itu mengandung pemlintiran dan bahkan logika talbisul haq bil batil (mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan).

Kata-kata “mempersilahkan pernikahan dengan agama lain” itu jelas bikin-bikinan Tim Paramadina. Karena di dalam Islam justru dilarang menikah dengan orang kafir (lihat Qs Al-Mumtahanah/ 60: 10), yang cakupan orang kafir itu adalah Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) dan musyrikin (lihat QS Al-Bayyinah: 6). Juga ditegaskan larangan nikah dengan musyrikat dan musyrikin (lihat QS Al-Baqarah/ 2: 221). Kemudian hanya ada pengecualian berupa muhshonat (wanita baik-baik yang menjaga diri dan kehormatannya) dari Ahli Kitab (lihat QS Al-Maaidah/5:5).

Sekarang budaya orang Yahudi dan Nasrani bisa dilihat terutama di Barat, bagaimana mereka dalam hal frre love bahkan free seks (kebebasan berzina) sudah terkenal di dunia ini. Apakah mereka masih tergolong muhshonaat, masih perlu diperbincangkan. Tahu-tahu FLA membuat kalimat liar: “Islam menghargai agama lain dan mempersilahkan pernikahan dengan agama lain”. Kalimat liar Paramadina itu sangat menyimpangkan ayat dari makna dan kenyataan.

Memperkosa ayat dan hukum Islam

Setelah “mereka memperkosa” ayat, lalu belum puas, maka “memperkosa” hukum waris Islam, mereka katakan, “maka secara otomatis waris beda agama diperbolehkan.”. Pertanyaan kepada mereka: Bukankah hukum pernikahan itu ada sendiri di dalam Islam, sedang hukum waris juga ada sendiri dengan dalil-dalil masing-masing? Kalau main logika “boleh dinikahi maka otomatis boleh mendapatkan waris” seperti itu, maka kita tanyakan kepada mereka:

Bolehkah kamu menikahi ibumu?

Tentu jawabnya, tidak boleh.

Bolehkah kamu menikahi anak perempuanmu?

Pasti jawabnya, tidak boleh.

Kalau cara berfikir model Paramadina, maka jadinya: Karena ibu dan anak perempuan tidak boleh dinikahi, maka otomatis ibu dan anak perempuan tidak boleh mendapatkan waris.

Logika Paramadina cukup dibalikkan kepada mereka. Biar mereka makan itu logika amburadulnya, karena justru anak dan ibu itu adalah pihak yang mendapatkan waris. Maka jelas sesatlah buku FLA yang ditulis 9 orang dari Paramadina itu.

Dalam menjajakan kesesatan, mereka main babat semaunya begitu saja. Contohnya, mereka menulis:

“Sedangkan hadis yang melarang waris beda agama harus dibaca dalam semangat zamannya, yang mana terdapat hubungan kurang sehat dengan agama lain (kafir). Maka bila hubungan Muslim dengan non-Muslim dalam keadaan normal dan kondusif, secara otomatis matan hadits tersebut tidak bisa digunakan.” (FLA, hal 167).

Hadits yang dimaksud adalah hadits shohih, bahkan muttafaq ‘alaih, diriwayatkan secara sepakat oleh imam hadits terkemuka, Al-Bukhari dan Muslim:

943 حَدِيثُ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ يَرِثُ الْمُسْلِمُ الْكَافِرَ وَلاَ يَرِثُ الْكَافِرُ الْمُسْلِمَ

943 Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid r.a. ia berkata: Nabi s.a.w bersabda: Orang Islam tidak boleh mewaris harta orang kafir dan orang kafir tidak boleh mewaris harta orang Islam. (Muttafaq ‘alaih).

Pertanyaan yang perlu diajukan kepada Tim Paramadina penulis buku FLA: Apakah label kafir itu berubah jadi label muslim bila masanya normal dan kondusif? Apakah otomatis orang kafir jadi muslim bila keadaannya normal dan kondusif?

Semangat zaman tidak menjadi sebab apa-apa dalam hal kekafiran orang maupun kemusliman. Karena hadits itu hanya bicara wujud orangnya, kafir atau muslim. Tidak ada hubungan antara kekafiran orang dengan semangat zaman. Di zaman normal dan kondusif pun orang yang kafir tetap disebut kafir, tidak lantas disebut sebagai muslim.

Yang paling parah dari FLA ini adalah aqidahnya, yaitu aqidah pluralisme agama. Di sana ditulis: “Teologi pluralis tentang agama-agama, yang sering disebut pluralisme, memandang bahwa semua agama, meskipun dengan jalan masing-masing yang berbeda, menuju satu tujuan yang sama: Yang Absolut, Yang Terakhir, Yang Riil.” (FLA, hal 65).

Dalam dialog terbuka di Pameran Buku Islam Nasional di Senayan Jakarta, karena ada peserta yang menganggap bahwa mendebat faham lain seperti itu tidak perlu, maka Hartono Ahmad Jaiz mengemukakan jawaban-jawaban. Di antaranya, justru Allah SWT telah membantah aqidah orang Nasrani dengan menurunkan ayat dari awal Surat Ali Imran sampai hampir ayat ke-90. Sedangkan Nurcholish Madjid cs dengan aqidah pluralisme agama berlandaskan tuduhan terhadap QS Al-Baqarah 62 itu adalah melanjutkan tuduhan orang Nasrani yang menganggap Al-Qur’an menyamakan agama-agama. Dan tuduhan Nasrani itu telah dibantah 700 tahun yang lalu oleh Imam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Daqoiqut Tafsir juz 2 halaman 70. Namun kini faham Nasrani itu justru diusung oleh Nurcholish madjid cs dengan nama pluralisme agama dan sering memlintir ungkapan Ibnu Taimiyyah.

Tuduhan Nurcholish Madjid dan orang-orang pluralisme agama dengan menyelewengkan maksud ayat 62 Surat Al-Baqarah, dan ayat 69 Surat Al-Maidah itu telah dibantah oleh Hartono Ahmad Jaiz, dengan mengemukakan penafsiran ayat tersebut dari empat ulama besar: Ibnu Katsir, As-Sa’di, Ibnu Taimiyah, dan As-Syathibi. Tafsir dari empat ulama yang terpercaya itu dituangkan dalam buku Bunga Rampai Penyimpangan Agama di Indonesia, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2007.

Teologi pluralisme itu kafir

Terhadap aqidah pluralisme agama itu, Hartono membacakan petikan fatwa Lajnah Daimah, dan juga terdapat dalam lampiran disertasi Dr Ahmad Al-Qadhi yang berjudul Da’watut Taqriib bainal Adyan 4 jilid, terbitan Darul Jauzi, Damam Saudi Arabia, 1422H. Inti fatwa Lajnah Daimah itu:


“Dan di antara ushulil Islam (prinsip-prinsip Islam) bahwa wajib yakin kekafiran setiap orang yang tidak masuk Islam, yaitu Yahudi, Nasrani dan lainnya, dan menamakannya kafir, dia adalah musuh bagi Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang Mukmin, dan dia termasuk ahli (penghuni tetap) neraka. Sebagaimana Firman Allah Ta’ala:

لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ(1)

Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, (QS Al-Bayyinah: 1). Dan firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ(6)

Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (QS Al-Bayyinah: 6). Dan ayat-ayat lainnya.

Dalam Kitab Shahih Muslim ada riwayat yang shahih dari Nabi saw:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ * . (رواه مسلم).

‘An Abii Hurairota ‘an Rasuulillahi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam annahu qoola: “Walladzii nafsu Muhammadin biyadihi, laa yasma’u bii ahadun min haadzihil Ummati Yahuudiyyun walaa nashrooniyyun tsumma yamuutu walam yu’min billadzii ursiltu bihii illaa kaana min ash-haabin naari.” (Muslim).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, tidaklah seseorang dari Ummat ini yang mendengar (agama)ku, baik dia itu seorang Yahudi maupun Nasrani, kemudian dia mati dan belum beriman dengan apa (Islam) yang aku diutus dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka.” (Hadits Riwayat Muslim bab Wujubul Iimaan birisaalati nabiyyinaa saw ilaa jamii’in naasi wa naskhul milal bimillatihi, wajibnya beriman kepada risalah nabi kita saw bagi seluruh manusia dan penghapusan agama-agama dengan agama beliau).

Oleh karena itu maka siapa yang tidak mengkafirkan Yahudi dan Nasrani maka dia kafir, bertolak dari kaidah syari’ah: Barangsiapa tidak mengkafirkan orang kafir maka dia kafir (man lam yukaffir al-kafir fahuwa kafir). (Fatwa Lajnah Daimah lilbuhutsil Ilmiyyah wal Ifta’, nomor 19402, tanggal 25/1/ 1418H, Lampiran Kitab Da’watu Al-Taqrib bainal Adyan, Dr Ahmad bin Abdul Rahman bin Utsman Al-Qadhi, Daru Ibnul Jauzi, Damam Saudi Arabia, cetakan 1, 1422H, juz 4, halaman 1663).

Dalam pembahasan tentang buku Fiqih Lintas Agama karya Tim Paramadina, Ustadz di Solo mengingatkan sejarah, ada tokoh namanya Ja’d bin Dirham guru Jahm bin Shofwan pemimpin aliran Jahmiyah. Ja’d bin Dirham itu percaya Al-Qur’an, dan percaya Hadits, hanya saja tidak percaya bahwa Nabi Ibrahim itu khalilullah (kekasih Allah) dan Nabi Musa itu Kalimullah (orang yang pernah diajak bicara Allah). Karena tidak percaya itulah maka kemudian Gubernur Kholid bin Abdullah Al-Qasri berkhutbah di Wasith (wilayah Iraq) pada Hari Raya Adha, dia (Gubernur) berkata:

ارجعوا فضحوا تقبل الله ضحاياكم فإني مضح بالجعد بن درهم فإنه زعم أن الله لم يكلم موسى تكليما ولم يتخذ إبراهيم خليلا تعالى الله عما يقول الجعد علوا كبيرا ثم نزل فذبحه. (الصواعق المرسلة ج: 4 ص: 1396)

“Pulanglah kamu sekalian, lalu sembelihlah qurban, semoga Allah menerima qurban-qurban kalian. Maka sesungguhnya aku akan menyembelih Ja’d bin Dirham, karena dia menyangka bahwa Allah tidak berbicara kepada Musa dan tidak menjadikan Ibrahim itu khalil (kekasih). Maha Tinggi Allah dari apa yang dikatakan Ja’d yang menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.” Kemudian Gubernur Kholid turun (dari mimbar) dan menyembelih Ja’d bin Dirhim. (As-Showa’iqul Mursalah, juz 4, halaman 1396). (Hartono Ahmad Jaiz).

sumber : http://www.nahimunkar.com/?p=66#more-66

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Posted in Uncategorized | 3 Comments »

“Sekali Lagi, Tentang Perkawinan Antar Agama”

Posted by musliminsuffer on May 20, 2008

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

“Sekali Lagi, Tentang Perkawinan Antar Agama”

Friday, 16 May 2008
Para dosen penganjur perkawinan antar-agama berusaha meruntuhkan bangunan hukum Islam dalam soal perkawinan. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-235

Oleh: Adian Husaini

ImageBeberapa hari lalu, saya mendapat hadiah buku kecil yang menarik dari seorang tokoh Islam di Bekasi. Judulnya, ”Perkawinan Antar Pemeluk Agama Yang Berbeda”. Penulisnya seorang guru besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Prof. Dr. Muhammad Daud Ali (alm.). Buku setebal 32 halaman ini ditulis tahun 1992.

Setelah menguraikan pandangannya berdasarkan hukum Islam dan sejumlah peraturan hukum di Indonesia, Prof. Daud Ali menarik beberapa kesimpulan, diantaranya:

(1) Perkawinan antara orang-orang yang berbeda agama dengan berbagai cara pengungkapannya, sesungguhnya tidaklah sah menurut agama yang diakui keberadaannya dalam Negara Republik Indonesia. Dan, karena sahnya perkawinan didasarkan pada hukum agama, maka perkawinan yang tidak sah menurut hukum agama, tidak sah pula menurut Undang-undang Perkawinan Indonesia.

(2) Perkawinan antara orang-orang yang berbeda agama adalah penyimpangan dari pola umum perkawinan yang benar menurut hukum agama dan Undang-undang Perkawinan yang berlaku di tanah air kita. Untuk penyimpangan ini, kendatipun merupakan kenyataan dalam masyarakat, tidak perlu dibuat peraturan tersendiri, tidak perlu dilindungi oleh negara. Memberi perlindungan hukum pada warga negara yang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan Pancasila sebagai cita hukum bangsa dan kaidah fundamental negara serta hukum agama yang berlaku di Indonesia, pada pendapat saya selain tidak konstitusional, juga tidak legal.

Demikianlah kesimpulan Prof. Daud Ali tentang perkawinan antar agama di Indonesia. Penegasan guru besar UI itu perlu kita renungkan, mengingat saat ini sejumlah guru besar liberal yang mengajar di sejumlah kampus Islam, seperti Prof. Musdah Mulia dan Prof. Zainun Kamal, justru aktif membongkar dasar-dasar hukum Islam dalam soal perkawinan, dan menciptakan hukum baru. Buku Fiqih Lintas Agama yang ditulis oleh sejumlah profesor di UIN Jakarta dan aktivis liberal juga terus-menerus disebarkan di tengah masyarakat Indonesia. Seperti kita tulis dalam CAP-234 lalu, buku Fiqih Lintas Agama ini bukan hanya membolehkan perkawinan antar agama, tetapi melangkah lebih jauh lagi dengan menganjurkan masyarakat Indonesia agar melakukan perkawinan antaragama.

Kata buku terbitan Paramadina dan (edisi Inggrisnya oleh) International Center for Islam and Pluralism (ICIP) ini: “Di tengah rentannya hubungan antar agama saat ini, pernikahan beda agama justru dapat dijadikan wahana untuk membangun toleransi dan kesepahaman antara masing-masing pemeluk agama. Bermula dari ikatan tali kasih dan tali sayang, kita rajut kerukunan dan kedamaian.”

Sebagai umat beragama, kita tentu sulit memahami logika macam apakah yang bercokol di otak para guru besar bidang agama ini, sampai tega-teganya menganjurkan umat Islam melakukan perkawinan antar-agama, demi membangun kerukunan umat beragama. Lagi pula apakah mereka juga melakukan hal itu pada keluarga mereka sendiri; pada anak-anak mereka sendiri?

Lihatlah, apakah nama-nama yang tercantum sebagai penulis Buku Fiqih Lintas Agama dan penyebar buku ini — seperti Zainun Kamal, Nurcholish Madjid, Kautsar Azhary Noer, Syafii Anwar, dan sebagainya — juga bersedia menikahkan anak-anaknya sendiri dengan orang yang beragama lain?

Kita patut bertanya-tanya, mengapa sebagian mereka aktif menikahkan orang lain dengan pasangan beda agama, tetapi justru mereka sendiri tidak menerapkannya. Ketika putrinya, Nadia Madjid, akan menikah dengan seorang Yahudi Amerika, Nurcholish Madjid mengirimkan surat keberatannya. Diantara isinya ialah mensyaratkan calon mantunya itu harus masuk Islam. ”Kalau memang jadi, dia mutlak harus masuk agama kita,” tulis Nurcholish Madjid dalam surat bertanggal 13 Agustus 2001.

Bahkan, lebih jauh lagi, Nurcholish memberi syarat yang lebih berat untuk calon mantunya waktu itu: ”Dan yang lebih penting, bahwa pengislaman itu tercatat, dengan surat keterangan/tanda bukti yang mencantumkan nama-nama para saksi resmi (biasanya dua orang, lebih banyak lebih baik) dan tanda tangan mereka. Karena itu, acara pengislaman tersebut harus dilaksanakan di sebuah lembaga yang diakui, seperti Islamic Center setempat, dan dibimbing oleh yang berwenang di situ.”

ImageKita tahu, apa yang kemudian terjadi pada kasus perkawinan antara Nadia Madjid dengan David, seorang Yahudi Amerika. Kita tidak pernah tahu, bagaimana sebenarnya sikap Nurcholish Madjid terhadap buku Fiqih Lintas Agama ini. Yang jelas buku ini diterbitkan sebelum dia meninggal dunia. Namanya tercantum sebagai salah satu Tim Penulis di buku ini. Yang kita tahu kemudian, tahun 2006, ICIP yang dipimpin Dr. Syafii Anwar – sahabat dekat dan pengikut setia Nurcholish Madjid – malah menerbitkan edisi bahasa Inggris dari buku yang jelas-jelas merusak aqidah dan syariat Islam ini. Dalam edisi bahasa Inggris yang diberi judul ”Interfaith Theology” ini, nama Nurcholish Madjid tetap dicantumkan dalam jajaran penulis, setelah nama Zainun Kamal, seorang guru besar UIN Jakarta yang juga berprofesi sebagai ’penghulu swasta’ dalam perkawinan antar-agama.

Kita perlu benar-benar memperhatikan pemikiran dan perilaku para penganjur perkawinan antar-agama dari kalangan dosen-dosen UIN dan aktivis liberal ini. Sebab, sadar atau tidak, melalui pemikiran dan tindakan tersebut, mereka sebenarnya sudah melakukan sebuah tindakan yang merobohkan bangunan masyarakat Islam dari dasarnya, yaitu merusak institusi keluarga Muslim. Padahal, dari keluarga inilah diharapkan akan lahir generasi masa depan yang tangguh, yang tentu saja harus didasari dengan keimanan yang kokoh. Jika di tengah keluarga ini kedua orang tuanya berbeda keimanan, bagaimana mungkin akan terbangun generasi anak yang shalih menurut Islam?

Karena itulah, perkawinan antar-agama bukan hanya menjadi masalah bagi Islam, tetapi juga bagi agama-agama lain. Dalam bukunya, Prof. Daud Ali mengutip ketentuan perkawinan antar-agama pada sejumlah agama di Indonesia. Agama Katolik dengan tegas menyatakan bahwa ”Perkawinan antara seorang Katolik dengan penganut agama lain tidak sah” (Kanon 1086). Namun demikian, bagi mereka yang sudah tidak mungkin dipisahkan lagi karena cintanya sudah terlanjur mendalam, pejabat gereja yang berwenang, yakni uskup, dapat memberi dispensasi (pengacualian dari aturan umum untuk suatu keadaan yang khusus) dengan jalan mengawinkan pemeluk agama Katolik dengan pemeluk agama lain itu, asal saja kedua-duanya memenuhi syarat yang ditentukan dalam kanon 1125 yakni:

1. yang beragama Katolik berjanji (a) akan tetap setia pada iman Katolik, dan (b) bersedia mempermandikan dan mendidik semua anak-anak mereka secara Katolik.

2. Sedangkan yang tidak beragama Katolik berjanji antara lain (a) menerima perkawinan secara Katolik (b) tidak akan menceraikan pihak yang beragama Katolik, (c) tidak akan menghalangi pihak yang Katolik melaksanakannya imannya dan (d) bersedia mendidik anak-anaknya secara Katolik.

Karena akan menimbulkan berbagai konflik dalam keluarga, maka menurut agama Katolik, perkawinan antara orang-orang yang berbeda agama hendaklah dihindari. Demikian kutipan dari buku Prof. Daud Ali.

Dr. Al. Purwohadiwardoyo MSF, dalam bukunya yang berjudul ”Perkawinan Menurut Islam dan Katolik, Implikasinya dalam Kawin Campur”, (Yogyakarta: Kanisius, 1990), menulis sebagai berikut:

“Menurut hukum gereja katolik, perkawinan mereka (kawin campur.pen) itu bukanlah sebuah sakramen, sebab salah satu tidak beriman kristen. Hukum gereja katolik memang dapat mengakui sahnya perkawinan mereka, asal diteguhkan secara sah, namun tidak mengakui perkawinan mereka sebagai sebuah sakramen (sebuah perayaan iman gereja yang membuahkan rahmat berlimpah. Pen). (hal. 18-19).

Lebih jauh dikatakan dalam buku ini:

“Kesulitan lain muncul dalam hal memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka. Pihak Katolik mempunyai kewajiban untuk mendidik anak-anak dalam semangat katolik, bahkan ia harus berusaha sekuat tenaga untuk membaptis mereka secara katolik. Padahal kewajiban yang sama juga ada pada pihak yang beragama Islam.”(hal. 77).

Karena memandang penting dan strategisnya soal perkawinan ini, maka pada awal tahun 1970-an, umat Islam Indonesia telah mengerahkan segala daya upaya untuk menggagalkan RUU Perkawinan sekular yang diajukan pemerintah ke DPR ketika itu. Prof. HM Rasjidi, menteri agama pertama RI, dalam artikelnya di Harian Abadi edisi 20 Agustus 1973, menyorot secara tajam RUU Perkawinan yang dalam pasal 10 ayat (2) disebutkan:

”Perbedaan karena kebangsaan, suku, bangsa, negara asal, tempat asal, agama, kepercayaan dan keturunan, tidak merupakan penghalang perkawinan.”

Pasal dalam RUU tersebut jelas ingin mengadopsi Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia pasal 16 yang menyatakan: ”Lelaki dan wanita yang sudah dewasa, tanpa sesuatu pembatasan karena suku, kebangsaan dan agama, mempunyai hak untuk kawin dan membentuk satu keluarga. Mereka mempunyai hak yang sama dengan hubungan dengan perkawinan, selama dalam perkawinan dan dalam soal perceraian.”

Dalam tulisannya tentang Perbandingan Hak-hak Asasi Manusia Deklarasi PBB dengan Islam, khusus tentang pasal 16 tersebut, Hamka menulis kesimpulan yang sangat tajam: ”Oleh sebab itu dianggap kafir, fasiq, dan zalim, orang-orang Islam yang meninggalkan hukum syariat Islam yang jelas nyata itu, lalu pindah bergantung kepada ”Hak-hak Asasi Manusia” yang disahkan di Muktamar San Francisco, oleh sebagian anggota yang membuat ”Hak-hak Asasi” sendiri karena jaminan itu tidak ada dalam agama yang mereka peluk.” (Hamka, Studi Islam, (1985:233).

Jika kaum sekular di awal 1970-an berusaha meluluskan sebuah RUU Perkawinan sekular yang meninggalkan agama, maka kini sejumlah dosen UIN Jakarta, seperti Prof. Zainun Kamal dan Musdah Mulia, justru berusaha membuat hukum syariat baru, bahwa perkawinan antar agama adalah halal. Lebih jauh, Prof. Zainun Kamal bahkan sering bertindak sebagai penghulu swasta dalam perkawinan antar-agama.

Dengan sokongan lembaga-lembaga donor Barat seperti The Asia Foundation, apa yang dikerjakan oleh para ilmuwan agama dalam merusak hukum Islam ini adalah jauh lebih besar kadar kejahatan dan daya rusaknya. Sebab, yang mereka lakukan adalah merusak konsep kebenaran itu sendiri. Mereka berusaha menciptakan kebingungan dan ketidakpastian dalam hukum Islam.

Seperti kita ketahui, pasal 2 ayat (1) UU Perkawinan tahun 1974 menyatakan: ”Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu.” Dalam penjelasan pasal demi pasal menyatakan dengan tegas, bahwa: ”Dengan perumusan pada pasal 2 ayat (1) ini, tidak ada perkawinan di luar hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu.”

Dengan legitimasinya sebagai guru besar bidang keagamaan di kampus berlabel Islam, maka para dosen penganjur perkawinan antar-agama itu berusaha meruntuhkan bangunan hukum Islam dalam soal perkawinan. Dengan posisinya itu, seolah-olah mereka memiliki otoritas di bidang hukum Islam, sehingga pendapatnya juga dianggap mewakili Islam. Toh selama ini, pimpinan kampus dan pihak pemerintah juga membiarkan saja perilaku para dosen tersebut. Sesuai dengan doktrin liberal, tidak ada penafsiran yang tunggal dalam soal hukum Islam. Mereka menyebarkan paham, perbedaan pendapat dalam soal apa saja adalah sah dan harus dihormati.

Tidak heran, setelah dikawinkan dengan Kalina (Muslimah) oleh Prof. Zainun Kamal, pesulap nyentrik Deddy Corbuzier (Katolik) merasa perkawinannya telah sah menurut agama. Ia berujar, ”Yang penting, kami sah dulu secara agama.” (Tabloid C&R edisi 28 Februari-06 Maret 2005).

Memang, banyak cara merusak Islam. Tapi, kita tidak pernah risau dengan semua tindakan mereka tersebut. Toh, Islam adalah milik Allah. Masing-masing tindakan sudah disediakan balasan yang setimpal. Tindakan merusak Islam pasti akan berdampak kepada pelakunya sendiri. Jika tidak di dunia, pasti di akhirat. Wallahu A’lam. [Depok, 10 Jumadilawwal 1429 H/16 Mei 2008/www.hidayatullah.com]

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com

sumber : http://www.hidayatullah.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=6774&Itemid=1

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Posted in Uncategorized | 6 Comments »

Cukup Sudah “Ken Aroktisme”

Posted by musliminsuffer on May 20, 2008

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

Cukup Sudah “Ken Aroktisme”

Berkaca dari sejarah, Islam di Indonesia ini punya potensi untuk dikembangkan menjadi prototipe masyarakat muslim yang mampu memimpin Karakteristik muslim itu sifatnya universal. Selain memegang iman dengan kuat, tapi juga dibuktikan amalnya. Tentu saja amal yang didasari oleh kerangka berpikir yang linear, dengan kultur syuro.

. Itulah ciri manusia muslim dan masyarakatnya. Meskipun sekarang realitasnya sekarang ada kesenjangan, antara islam sebagai idealita dan islam sebagai realita. Keterpurukan umat Islam sepanjang Asia-Afrika, itu kan tidak bisa dipungkiri. Sehingga memang kita harus melakukan upaya perbaikan kualitas ummat. Baik itu kekuatan internalnya, maupun eksternalnya.

Pokok-pokok pikiran itu terungkap dalam wawancara Diyah Kusumawardhani dari Sabili dengan Mustafa Kamal, sejarawan yang kini duduk sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Jadi, masih menurut Mustafa Kamal, artinya, ilmu itu kan khazanah yang hilang dari umat Islam dan bisa dipungut dimana saja. Itu wilayah netral yang tidak ada larangan dalam Islam, bisa ditumbuh kembangkan secara kreatif. “Ummat Islam di Indonesia itu sebenarnya punya sejarah emas, mereka dikenal sebagai orang-orang yang kreatif,” beber alumnus Universitas Indonesia itu.

Seperti berlian yang memantulkan kilau memukau dari setiap sisinya. Jadi, pola dakwahnya itu sangat bermartabat. Elegan dengan tingkat kualitas peradaban yang tinggi. Maka kita lihat ekspresi kaum muslimin di Indonesia itu sangat beragam. Di setiap beragam itu terdapat keunikan. Dari Sabang sampai Merauke, itu kita lihat ada ekspresi keislaman yang bercampur dengan adat lokal, tapi tetap dalam kerangka dakwah dan nilai-nilai Islam. memang sinkretis tidak terelakkan. Bahkan ada yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. “Tapi itu bisa kita lihat sebenarnya sebagai tahapan menuju perubahan Islam yang kaffah (total) dan syamil (menyeluruh),” simpul alumnus Universitas Indonesia itu.

Islam di Indonesia itu masuk dengan cara yang damai, penuh kreatifitas, bermartabat, punya nilai peradaban tinggi. Sehingga Islam di Indonesia ini punya potensi untuk dikembangkan menjadi prototipe masyarakat muslim yang mampu memimpin.

Berikut petikan wawancaranya dari Nusantara I Lantai 3 gedung DPR RI:

Ummat Islam karena terlalu sering dijajah sehingga muncul mental ‘kalah sebelum bertarung’. Bagaimana caranya keluar dari stereotype seperti itu?

Memang proses kreatif umat Islam itu terjeda oleh penjajahan ratusan tahun. Kemudian membuat keterbelakangan dan keterpurukan umat. Yang menjadi faktor tertentu dari keterpurukan itu adalah mentalitasnya. Itu yang membuat sekarang umat Islam di Indonesia itu semacam sindrom orang terlalu lama dijajah, sehingga bisa membuat tumbuhnya sikap yang kurang wajar dari aspek nilai-nilai Islam yang sesuangguhnya. Misalnya kecenderungan tumbuh sikap militeristik di kalangan sementara ummat islam dalam menyelesaikan persoalan. Kemudian, kecenderungan hitam-putih memandang persoalan. Itu adalah suatu mentalitas yang terbangun karena penjajahan yang begitu lama. Jadi mental orang marjinal yang bergerak dari sudut pandang marjinal dalam memandang sudut pandang persoalan. Sehingga pergerakannya juga menjadi marjinal.

Kita harus keluar dari mental seperti itu, dan menjadi mental orang yang merdeka. Dan itulah hakekat syahadat. Syahadat itu kan kemerdekaan individu, kemerdekaan berpikir, bertindak. Kalau kita sudah menjadi manusia merdeka, bisa bertakbir, mengagungkan asma Allah SWT dengan cara yang wajar, itu justru akan bisa menjadi pertolongan untuk mempercepat tumbuhnya masyarakat Islam secara lebih massif. Dibandingkan kita bergerak dari sudut pandang orang yang kalah, orang yang terjajah, terus melakukan perlawanan. Cara berpikir yang kontradiktif terhadap kekuasaan, perekonomian, kondisi sosial, itu justru membuat kita tidak bergaul bersama masyarakat, menjadi eksklusif. Nah ini yang harus kita terapi menjadi satu legalitas yang Islami. Yang kemudian justru bisa memimpin masyarakat.

Terapinya?

Tarbiyah! Sebetulnya, pendidikan dalam pengertian luas. Tarbiyah dalam pengertian yang luas. Tarbiyah dimulai dari buaian ibu, sampai pendidikan dasar, menengah, sangat menentukan kita menjadi manusia merdeka atau tidak. Karenanya, pendidikan kita itu harus mampu membuka mata anak-anak muslim untuk bergaul dengan berbagai macam agama. Kalau sekarang ini dengan peradaban yang maju. Dengan bekal dasar nilai Islam yang kuat. Makanya sekarang ini adanya sekolah dasar islam terpadu (SDIT), merupakan perpaduan keislaman yang kuat dengan keterbukaan terhadap peradaban yang sedang maju. Dan itu tidak ada persoalan, karena ilmu pengetahuan dan teknologi itu suatu yang harus diraih oleh umat Islam. Sejarah telah membuktikan, ilmu pengetahuan dan teknologi itu pernah diusung oleh peradaban islam.

Sekarang, setelah reformasi, peradaban yang pernah dirasakan di abad 13 sampai abad sebelum penjajahan, kembali muncul marak. Selain demo keras ini, ada nafas bahwa ilmu pengetahuan yang berkembang lebih pesat.

Karakter aktivis muslim ada yang bercara pandang moderat, ada yang hitam putih. Bagaimana menurut Anda?

Sikap yang islami itu adalah sikap yang moderat. Mahzab pertengahan, sikap adil, ummatan wasathon. Nilai-nilai Islam itu semangat bermusyawarah, mencari moderasi antara persoalan di masyarakat, kemudian mencari jalan keluar. Politik adalah salah satu jalan untuk berekspresi. Selain ekspresi dalam bidang lainnya seperti ekonomi, sosial. Politik itu ruang berekspresi yang tidak bisa dipisahkan dari aspek lainnya. Sehingga saya tidak sreg kalau dipisahkan.

Meskipun memang, kita harus punya politisi profesional. Dalam pengertian, dia memahami dalam hal ketatanegaraan. Dia mengetahui seluk beluk persoalan kebangsaan kita. Dia memang jatuh bangun dan berpengalaman di dunia politik. Itu betul. Tetapi dia tidak boleh menjadi hal yang terpisah dari yang lain.

Fenomena perbedaan berpikir antara generasi muda dan tua. Bagaimana menurut Anda?

Yang paling penting adalah, seperti kata Rasulullah saw, kita harus mendidik anak kita itu sesuai dengan semangat zamannya. Jadi tidak boleh ada ego dari generasi tua untuk memaksakan jiwa zamannya kepada anak-anaknya, kepada generasi penerusnya. Harus punya ruang tenggang rasa yang memadai. Agar generasi muda itu bisa tumbuh dengan semangat jamannya. Agar nanti bisa berkompetisi dengan peradaban lainnya.

Kalau tidak ada kelapangan dari generasi tua untuk memberikan ruang kepada generasi muda sesuai dengan semangat zamannya, itu akan terjadi proses regenerasi yang tidak mulus. Ini memang penyakit kronis di Indonesia. Istilahnya ‘Ken Aroktisme’. Artinya, kita lihat dalam sejarahnya itu, antara generasi tua dan mudanya itu bunuh membunuh. Bunuh membunuh ini secara karakter itu bisa terjadi. Bukan hanya secara fisik. Jadi generasi tua melakukan character assasination terhadap generasi muda, tidak percaya. Kemudian yang muda tidak boleh juga melakukan sikap-sikap meremehkan, harus menghormati. Betapapun ada persoalan-persoalan di masa lalu yang mempunyai catatan. Tetapi secara keseluruhan, harus dihormati generasi tua itu.

Artinya, selain generasi tua memberikan kelapangan, generasi muda juga memberikan penghormatan yang wajar. Kalau terjadi pola komunikasi yang baik antara generasi tua dan muda ini maka proses regenerasinya akan mulus. Itu akan sangat maslahat untuk masyarakat luas. Kultur ‘ken aroktisme’ ini bukan hanya di lembaga-lembaga kenegaraan dan umum, tapi sering juga di organisasi-organisasi Islam terjadi. Ini yang kita prihatinkan. Seharusnya dengan nilai islam, itu tidak terjadi, bisa mulus.

Rasulullah saw mengajarkan proses regenerasi, estafet kepemimpinan bisa berlangsung dengan baik. Meskipun ada pengalaman pahit sejak jaman khulafaur rasyidin, mulai tidak mulus. Usman, terus Ali, fitnah yang berkembang. Tapi kita harus belajar, mengambil ibrah dari masa lalu agar tidak terulang lagi.

Cara mengisi ‘ruang tenggang rasa’ itu?

Saling membuka diri dengan hati yang lapang. Masing-masing harus punya hati yang lapang. Di situlah kebersihan hati menjadi faktor utama. Juga keterbukaan pemikiran (open mind). Kemudian terlihat dari bahasa tubuhnya. Bahasa tubuhnya itu agak mencairkan suasana, dari kata-katanynya, dari perbuatannya. Inilah yang kemudian terjadi komunikasi yang baik itu. Yang tua menyayangi yang muda, yang muda menghormati yang tua. Itu memang kaidah yang sangat umum, tapi kadangkala tidak mudah dilaksanakan dalam organisasi. Apalagi organisasi politik.

Bahasa yang lebih umumnya adalah ukhuwah islamiyah. Selama ukhuwah itu terjalin dengan baik, setiap sumbatan-sumbatan komunikasi itu akan terbuka. Sebenarnya organisasi modern itu memberi tawaran yang bagus. Dengan transparansi. Itu artinya semua pihak saling membuka diri, ada trust. Atau dalam bahasa arabnya, tsiqoh. Tsiqoh itu dibangun darimana? Ya dari transparansi itu. Dari situ, maka kesalahpahaman akan ditemukan jalan keluar.

Jadi bagaimana menjadi muslim Indonesia?

Muslim di Indonesia itu harus bisa keluar dari karakter orang terjajah. Itu yang penting. Menjadi manusia yang merdeka, di ‘ilaj atau di terapi melalui tarbiyah. Kalau dia terlepas dari keterbelakangan, kemiskinan dan kebodohan, dia akan terbuka potensi kreatifnya dan akan memberikan banyak kontribusi pada pembangunan peradaban. Dengan iman, kebersihan hati, dan wawasan yang luas yang akhirnya bisa membuat dia memberikan kontribusi. Ketika dia ingin mengekspresikan kontribusinya, harus ada ruang bagi generasi muda Indoesia ini untuk mengekspresikan segala kreatifitasnya.

Eman Mulyatman

sumber : http://sabili.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=2&Itemid=1

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Adnan Buyung Bela Ahmadiyah Mewakili Siapa?

Posted by musliminsuffer on May 20, 2008

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

Adnan Buyung Bela Ahmadiyah Mewakili Siapa?

Satu-satunya anggota Wantimpres (Dewan Pertimbangan Presiden) yang menolak pelarangan Ahmadiyah adalah Adnan Buyung Nasution. Dengan dalih membela konstitusi (HAM dan kebebasan beragama), Buyung habis-habisan membela Ahmadiyah, khususnya JAI (Jemaat Ahmadiyah Indonesia) alias Ahmadiyah Qadiyan yang mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi setelah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Saking semangatnya, Buyung sampai kehilangan akal sehat. Sebagaimana bisa dilihat pada detikcom edisi 06 Mei 2008, Buyung mengatakan, “Mereka itu bukan wakil masyarakat. Segelintir orang saja jumlah mereka semua. Masak rakyat Indonesia mau diam semua? Harus kita bela negara dan konstitusi!”

Mereka yang dimaksud Buyung yang dikatakannya berjumlah segelintir orang itu, adalah masyarakat Islam yang menolak keberadaan Ahmaidyah (baik Lahore maupun Qadiyan) seraya mendesak pemerintah untuk segera menerbitkan SKB tiga menteri (Menteri Agma, Menteri Dalam Negeri, dan Jaksa Agung) tentang pelarangan Ahmadiyah.

Kalau masyarakat Islam yang tampil itu dikatakan Buyung cuma segelintir orang yang tidak mewakili masyarakat, apalagi Buyung. Masyarakat mana yang ia wakili? Khan nggak ada. Buyung cuma mewakili segelintir penganut Ahmadiyah (itu pun cuma yang Qadiyan). Apakah sikap Buyung didukung oleh rakyat Indonesia? Pastinya tidak. Namun, Buyung seolah-olah memposisikan diri mewakili rakyat Indonesia, sehingga ia berujar: “Masak rakyat Indonesia mau diam semua? Harus kita bela negara dan konstitusi!”

Ini menunjukkan bahwa Buyung sudah kehilangan akal sehat. Boleh jadi masyarakat Islam yang tampil itu tidak mewakili seratus persen rakyat Indonesia (terutama yang beragama Islam), tapi Buyung mewakili kelompok masyarakat yang jauh lebih sedikit dibanding anggota dan massa Islam yang tampil menolak Ahmadiyah itu.

Mengapa orang sehebat Buyung bisa kehilangan akal sehat? Kemungkinannya ada dua, pertama kemungkinan karena kepalanya terbentur benda keras. Kedua, kemungkinan karena ada yang bayar!

Pada satu sisi Buyung habis-habisan membela Ahmadiyah, namun pada sisi lain ia menganggap persoalan Ahmadiyah bukan prioritas. Buyung mengatakan, “masalah Jemaat Ahmadiyah bukan prioritas. Masalah yang paling perlu segera ditangani pemerintah adalah mengatasi dampak kenaikan harga-harga yang semakin menambah penderitaan rakyat miskin.”

Persoalan Ahmadiyah menjadi berlarut-larut, penyebabnya karena Buyung menjadi penghalang diterbitkannya SKB Tiga Menteri. Dengan dalih HAM dan kebebasan beragama, Buyung membela Ahmadiyah, namun ia tidak peduli dengan HAM dan kebebasan beragama umat Islam yang Al-Qur’annya dibajak Ahmadiyah, bahkan dinyatakan keluar dari Islam bila tidak mengimani kenabian Mirza Ghulam Ahmad. Ini menunjukan bahwa Buyung yang selama ini dijuluki pakar HAM, sebenarnya masih memiliki pemahaman yang rancu tentang HAM.

Buyung juga mengatakan, “Buat apa sih negara ngurusin yang beginian? Paling penting harga-harga beras, tempe, BBM yang semakin membumbung tinggi menambah berat beban rakyat. Itu dong yang diurusin lebih dulu. Ya nggak?”

Kalau Buyung memang pendekar HAM yang berpihak kepada rakyat banyak, seharusnya ia peduli dengan kenaikan harga-harga, ketimbang membela pengikut Ahmadiyah yang minoritas dan sesat serta telah mengacak-ngacak agama Islam. Sebagai anggota Wantimpres seharusnya ia berani mengatakan bahwa pemerintah telah melanggar hak asasi rakyat banyak yang berhak mendapatkan barang-barang konsumsi seperti tempe dengan harga murah.

Tapi, hal itu tidak dilakukan Buyung, karena rakyat kebanyakan tidak punya uang untuk membayar Buyung agar ia mau menyuarakan aspirasi rakyat soal harga tempe dan lain-lain kepada Presiden dan Wapres. Berbeda dengan Ahmadiyah Qadiyan yang berpusat di London, serta banyak uang karena merupakan antek imperialis, tentu menarik untuk diberi pembelaan oleh Buyung.

Umat Islam sudah sejak lama meminta pelarangan Ahmadiyah kepada pemerintah (lihat Fatwa MUI tahun 1980 dan 2005 yang tetap konsisten mengatakan bahwa ajaran Ahmadiyah sesat dan menyesatkan). Upaya saat ini merupakan proses yang berkesinambungan dari masa-masa sebelumnya. Berbeda dengan keberpihakan Buyung terhadap Ahmadiyah yang terjadi baru-baru saja, itu pun setelah Buyung menduduki kursi Wantimpres, sebuah posisi strategis yang bernilai rupiah bagi yang pandai memanfaatkannya.

Selain memiliki pemahaman yang rancu soal HAM, Buyung juga tidak ngerti agama. Sehingga, ia berani mengatakan, “Mati pun untuk konstitusi nggak apa-apa!_ Bagi yang ngerti agama, tauhidnya lurus dan jernih, rela mati demi konstitusi adalah musyrik. Sedangkan orang yang mati dalam keadaan musyrik (tidak bertaubat benar-benar semasa hidupnya) maka haram masuk surga. Buyung sudah menjadikan konstitusi sebagai tuhan dan agamanya, sehingga ia rela mati untuk itu, dalam rangka membela Ahmadiyah yang sesat pula.

Masih ada satu lagi predikat yang patut disandang Buyung, yaitu tidak profesional. Dulu, pada Pemilu Legislatif 2004 dan Pilkada Depok yang beraroma sengketa itu, Buyung membela PKS (Partai Keadilan Sejahtera). Ternyata, PKS berbeda pendirian dengan Buyung dalam soal Ahmadiyah. Maka Buyung pun mengungkapkan penyesalannya, sebagaimana bisa dibaca pada detikcom (31 Agustus 2005).

Kalau Buyung profesional, maka ketika ia membela PKS dulu, yang menurutnya dizalimi, harusnya berlandaskan etika profesi yang baku. Sehingga tidak perlu ada penyesalan hanya karena PKS yang pernah dibelanya berbeda pendirian soal Ahmadiyah. Selain tidak profesional, terkesan Buyung juga kekanak-kanakan, dan mau memaksakan pendiriannya kepada orang lain.

Keempat faktor –rancu memahami HAM, nggak ngerti agama, tidak profesional dan kekanak-kanakan– itulah yang menyebabkan Buyung membela Ahmadiyah secara membabi-buta, tanpa peduli sedikit pun bahwa Ahmadiyah telah melakukan kebohongan publik. Dengan kata lain, Buyung berhasil dibohongi Ahmadiyah, logika Buyung berhasil dikonversi kemungkinan dalam bentuk rupiah, sehingga ia tidak berpikir logis.

LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) pada Maret 2008 menerbitkan buku berjudul Kebohongan Publik Terbaru Ahmadiyah yang disusun oleh HM Amin Djamaluddin. Misalnya, tentang syahadat. Di depan umat Islam penganut Ahmadiyah mengucapkan syahadat yang secara tekstual tidak berbeda dengan syahadat umat Islam.

Namun, itu cuma bohong-bohongan saja, seperti ber-taqiyah ala Syi’ah, dengan tujuan untuk menipu umat Islam yang awam, sehingga mereka terperosok ke dalam lembah kesesatan Ahmadiyah, karena menyangka paham sesat Ahmadiyah sama saja dengan Islam pada umumnya. Dalam sebuah buku berjudul Memperbaiki Kesalahan yang ditulis oleh H.S. Yahya Pontoh dan diterbitkan oleh Jemaah Ahmadiyah Bandung (1993), dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan Muhammad pada syahadat mereka bukanlah Muhammad bin Abdullah yang lahir di Makkah Al-Mukarramah, tetapi Muhammad alias Mirza Ghulam Ahmad yang lahir di India, yang merupakan nabi para penganut Ahmadiyah Qadiyan.

Bakor Pakem setelah sekian lama memantau JAI (Ahmadiyah Qadiyan) menyimpulkan bahwa Ahmadiyah tetap mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi. Mereka mengingkari ucapan mereka sendiri yang katanya mengakui Nabi Muhammad sebagai nabi, dan Mirza Ghulam Ahmad hanya sebagai mursyid.

Kebohongan seperti itu sebenarnya sudah berlangsung sejak lama. Di tahun 2005, pasca penyerangan markas Ahmadiyah di Parung, Bogor, oleh umat Islam, Abdul Basith pimpinan JAI laris diwawancarai berbagai teve swasta. Antara lain di Metro TV ketika menyebut nama Mirza Ghulam Ahmad, Abdul Basith tidak lupa menambahkan Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ini menunjukkan bahwa mereka berpura-pura mengakui Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai nabi padahal sesungguhnya nabi mereka adalah Mirza Ghulam Ahmad.

Menurut salah seorang aktivis Ahmadiyah Lahore, Abdul Basith sempat dimarahi oleh pimpinan pusatnya di London, karena ketika diwawancarai oleh berbagai media massa, ia menyebut Mirza Ghulam Ahmad hanya sebagai mursyid, bukan nabi. Mirza Ghulam Ahmad itu nabi!_ Begitu mereka memarahi Abdul Basith pimpinan JAI di Indonesia.

Kasihan sekali Buyung Nasution, ia berani pasang badan untuk membela kebohongan dan kesesatan Ahmadiyah. Padahal, masih mending ia membela rakyat yang menjerit karena harga tempe dan tahu kian mahal, bensin kian tinggi harganya, sehingga harga sayur mayur pun melambung tinggi. Daripada menjadi pendekar sesat mendingan jadi pendekar tempe, Yung._ (haji/tede)

sumber : http://www.nahimunkar.com/?p=59#more-59

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Saran Menjerumuskan Ahmadiyah

Posted by musliminsuffer on May 20, 2008

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

Saran Menjerumuskan Ahmadiyah

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Saat gonjang-ganjing Ahmadiyah lantaran direkomendasikan oleh Bakor Pakem Kejaksaan Agung (16 April 2008) agar Ahmadiyah menghentikan kegiatannya karena terbukti menyimpang dari pokok-pokok ajaran Islam –lagi pula memalsu kenabian dan membajak-bajak kitab suci Al-Qur’an–; maka muncul aneka suara. Yang membela Ahmadiyah berbicara ngawur-ngawuran, banyak. Hingga ada yang sampai disomasi karena menghina ulama; yaitu kasus Adnan Buyung Nasution yang dikenal membela Ahmadiyah secara ngawur-ngawuran hingga melontarkan perkataan bahwa KH Ma’ruf Amin salah seorang ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) tidak tahu diri. Suara Buyung itu berbuah reaksi keras dari Alumi (Aliansi Umat Islam) Jawa Barat, akan mensomasi Buyung bila tak mencabut perkatannya yang menghina ulama itu.

Di balik yang membela Ahmadiyah secara ngawur-ngawuran itu banyak pula yang tampak bersemangat untuk membubarkan Ahmadiyah, mendesak pemerintah untuk melarang dan membubarkan Ahmadiyah.

Di sela-sela semangat dan ghirah Islamiyah itu ada pula suara aneh. Tampaknya mendukung pembubaran Ahmadiyah, bahkan tampak memberi solusi, namuan sebenarnya aneh. Yaitu suara yang beredar di masyarakat, tampaknya sebagai saran dan jalan keluar. Misalnya ada yang mengatakan: Silahkan Ahmadiyah membuat agama baru tersendiri, tidak usah membawa-bawa Islam, maka kami akan hidup berdampingan dengan damai di negeri ini. Tidak ada masalah.

Saran itupun masih pula dengan memberikan nama-nama, misalnya: Dirikan saja agama baru dengan nama agama anu atau agama anu. Astaghfirullohal ‘adhiem.

Kalau saran itu keluar dari orang yang sama sekali tidak tahu tentang Ahmadiyah, dan bahkan tidak tahu sama sekali tentang Islam, misalnya, maka masih bisa sedikit dimaklumi, walau orang yang tidak ada ilmu sebenarnya tidak boleh memberi saran. Tetapi yang sangat mengerikan, ketika saran menjerumuskan itu justru datang dari orang yang tampaknya mengerti tentang Islam, dan mengerti pula tentang sesatnya Ahmadiyah. Ini yang jadi persoalan besar.

Kenapa?

Karena saran itu mengandung berbagai macam penjerumusan.

Satu: Ahmadiyah itu aliran sesat, menyangkut aqidah atau keyakinan. Ketika yang jelas sesat itu disuruh untuk mendirikan agama tersendiri, dan nantinya kita akan hidup berdampingan dengan mereka secara damai, itu sangat menbahayakan. Itu lebih buruk ketimbang orang yang bilang: “Kamu kalau mau nyolong (mencuri) silahkan nyolong, asal jangan di rumah saya atau di kampung ini. Dan nanti kita hidup berdampingan dengan damai, tidak ada masalah, asal mencurinya jangan di kampung ini.”

Betapa buruknya saran yang menjerumuskan ini. Padahal masalahnya hanya mencuri harta, tidak sampai mencuri aqidah dan mengubahnya; mengalihkan dari Islam kepada kafir. Maka betapa besar keburukannya ketika yang dicuri itu bukan hanya barang tetapi aqidah atau keyakinan Islam. Jadi saran itu benar-benar menjerumuskan, dan kalau dilaksanakan maka yang memberi saran akan mendapatkan dosanya, na’udzubillahi min dzalik.

Dua: Kalau Ahmadiyah mendirikan agama baru tersendiri akibat saran itu, maka tidak menyelesaikan masalah. Kenapa? Karena Ahmadiyah itu membajak-bajak wahyu Allah dalam Al-Qur’an, kemudian diklaim sebagai wahyu untuk Mirza Ghulam Ahmad, dan dimaknakan sesuai dengan kemauannya, sehingga sangat berubah. Contohnya, surat Al-Fath ayat 29, dibajak oleh Mirza Ghulam Ahmad kemudian diklaim bahwa lafal Muhammad dalam ayat itu maksudnya adalah diri Mirza Ghulam Ahmad. Makanya dalam kasus 12 butir pernyataan JAI (Jemaat Ahmadiyah Indonesia), butir pertama mereka mengaku syahadatnya sama dengan Islam, tetapi sebenarnya dusta, karena lafal Muhammad menurut pengertian mereka adalah Mirza Ghulam Ahmad. Ini buktinya:

Tentang Syahadat Ahmadiyah

Pada poin dari pernyataan JAI (Jemaat Ahmadiyah Indonesia) disebutkan bahwa kalimah Syahadat Jemaat Ahmadiyah sama dengan kalimah Syahadat umat Islam pada umumnya, yaitu:

َ أ شْهَدُ أَنْ لاَ إلَهَ إلاَّ اللَّهُ وأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

Artinya: “Aku bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah.”

Pada kenyataannya, meskipun redaksi kalimat Syahadatnya sama, akan tetapi orang yang dimaksud dalam kalimat syahadat tersebut berbeda. Nama MUHAMMAD dalam syahadat tersebut menurut para pengikut/tokoh Ahmadiyah adalah Nabi/Rasul mereka, yaitu Mirza Ghulam Ahmad yang lahir di India, sebagaimana tercantum dalam buku Memperbaiki Kesalahan, karya Mirza Ghulam Ahmad, yang dialih bahasakan oleh H.S. Yahya Pontoh, dan diterbitkan oleh Jemaah Ahmadiyah cabang Bandung, tahun 1993, pada halaman 5 tertulis:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

“Dalam wahyu ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutku Muhammad dan Rasul_” (Kitab Tadzkirah halaman 97).

Di sinilah umat Islam banyak tertipu dengan syahadatnya orang-orang Ahmadiyah, sehingga umat Islam menganggap bahwa yang dimaksud “Muhammad” dalam syahadat Ahmadiyah adalah Muhammad bin Abdullah yang lahir di Makkah Al Mukarramah. Padahal, yang dimaksud Muhammad_ dalam syahadat Ahmadiyah adalah Ahmad, yaitu Mirza Ghulam Ahmad dari India yang menjadi Nabi Jemaat Ahmadiyah.

(Untuk lebih jelasnya, silahkan membaca referensi otentik yang terdapat di kantor LPPI , Jakarta). (M Amin Djamaluddin, Kebohongan Terbaru Ahmadiyah, LPPI Jakarta, cetakan 1, 2008, halaman 24-25).

Jadi kalau toh Ahmadiyah mendirikan agama baru lagi, sedang modalnya itu adalah bahan-bahan pokok yang ada di Islam, kemudian diubah-ubah maksudnya, maka tetap saja menodai Islam. Sehingga orang yang menyuruh agar Ahmadiyah mendirikan agama baru tersendiri itu lebih buruk ketimbang menyuruh orang yang sudah jelas-jelas mencuri bahan-bahan penting dari satu bangunan gedung, kemudian didirikan gedung tersendiri pakai bahan hasil curian itu, maka tetap saja hasil curian. Ini tetap tidak dapat dibenarkan.

Tiga: Suruhan agar Ahmadiyah membuat agama baru tersendiri, dan diiringi dengan ungkapan, nanti kita hidup berdampingan secara damai; itu sangat bertentangan dengan Islam. Karena Allah pun ketika mempersilakan siapa yang mau kafir maka kafirlah itu sifatnya adalah ancaman, bukan mempersilahkan, apalagi diembel-embeli secara dami segala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا(29)

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. (QS Al-Kahfi/ 18: 29).

Imam Ibnu Katsir menyatakan, penggalan ayat ini ( وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir) termasuk ancaman keras. Oleh karena itu Dia berfirman:

إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا

Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka.

Orang-orang zalim dalam ayat ini, menurut Ibnu Katsir, adalah orang-orang yang kafir terhadap Alah, Rasul-Nya, dan kepada kitab-Nya. (Tafsir Ibnu Katsir, Surat al-Kahfi ayat 29).

Dengan demikian, mempersilahkan orang Ahmadiyah untuk membuat agama sendiri dan kita akan hidup berdampingan dengan mereka dengan damai adalah sangat bertentangan dengan Al-Qur’an yang mengancam siapapun yang kafir telah disediakan neraka bagi mereka.

Mungkin orang akan berkilah, masalah nereka kan urusan Allah.

Kilah itu sangat tidak menggunakan akal. Sebagaimana orang berbuat jahat, kelak yang akan memasukkan ke neraka juga Allah, tetapi apakah boleh, kita menyarankan agar orang berbuat jahat kemudian kita ucapi “dan berbuat jahatlah kamu asal tidak menjahati saya, maka kita hidup berdampingan dengan damai.” Tentu saja itu adalah saran menjerumuskan!

Empat: Dalam hal agama, sudah ada contoh nyata bahwa kita berlepas diri dari agama apapun selain Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ(6)

Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku“. (QS Al-Kafirun: 6).

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. (QS Al-Mumtahanah/ 60: 4).

Imam Ibnu katsir menjelaskan, maksudnya permusuhan dan kebencian di antara kami dan kalian telah ditetapkan mulai sekarang, selama kalian tetap pada kekafiran kalian, sedang kami selama-lamanya melepaskan diri dari kalian dan membenci kalian. (Tafsir Ibnu katsir, Surat Al-Mumtahanah/ 60: 4).

Ibrahim ‘alaihis salam mengatakan bahwa antaranya dengan kaumnya yang ingkar itu telah terjadi permusuhan dan saling benci membenci selama-lamanya. Ibrahim menyatakan akan tetap menantang kaumnya itu sampai mereka meninggalkan perbuatan syirik itu. Jika mereka telah beriman barulah hilang permusuhan itu. (Al-Qur’an dan Tafsirnya, Departemen Agama RI, 1985/ 1986, jilid X, halaman 102).

Contoh yang dikemukakan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah jelas, yaitu yang dilakukan Nabi Ibrahim Alaihis Salam beserta pengikutnya terhadap kaum kafir. Kenapa justru kini ada orang-orang yang membuat saran yang sangat berbeda jauh dengan yang telah dicontohkan dalam Al-Qur’an? Bagaimana kalau Ahmadiyah kemudian benar-benar mendirikan agama baru dengan mengikuti saran penjerumusan itu? Na’udzubillah. Orang yang memberi saran itu akan dimintai pertanggungan jawab. Apakah punya hak untuk itu? Dan ternyata tidak. Setelah tidak, maka terkena lah dia ancaman hadits:

وَمَنْ سَنَّ في الإسْلامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيهِ وِزْرُهَا ، وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ ، مِنْ غَيرِ أنْ يَنْقُصَ مِنْ أوْزَارِهمْ شَيءٌ )) ((1)) رواه مسلم .

Dan siapa yang membuat jalan keburukan dalam Islam maka dia mendapatkan dosanya dan dosa orang yang mengerjakannya setelahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun. (HR Muslim).

Imam an-Nawawi dalam syarah Shahih Muslim mengatakan, hadits ini memperingatkan agar menghindar dari menciptakan kebatilan-kebatilan dan keburukan-keburukan.

Keburukan mana yang lebih besar dibanding membuat agama baru? Kenapa berani-beraninya menyarankan agar membuat agama baru?

Oleh karena itu, sadarlah wahai umat Islam, jangan sampai ada saran semacam itu. Dan kalau sudah terlanjur, maka mestinya harus dicabut, dan bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat atau taubatan nasuha.

Adapun orang Ahmadiyah, maka lepaskanlah keyakinan batilmu. Masuklah Islam, maka kami akan bersaudara dengan kalian. Bila tidak, maka bagi kami telah ada teladan yang baik dari Nabi Ibrahim ‘alaihis salam itu tadi. Sekian.

sumber : http://www.nahimunkar.com/?p=61#more-61

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

McCain’s “Spiritual Guide” Wants America to Destroy Islam

Posted by musliminsuffer on May 20, 2008

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

McCain’s “Spiritual Guide” Wants America to Destroy Islam

You may have heard of Rev. John Hagee, the McCain supporter who said God created Hurricane Katrina to punish New Orleans for its homosexual “sins.” Well now meet Rev. Rod Parsley, the televangelist megachurch pastor from Ohio who hates Islam. According to David Corn of Mother Jones, Parsley has called on Christians to wage war against Islam, which he considers to be a “false religion.” In the past, Parsley has also railed against the separation of church and state, homosexuals, and abortion rights, comparing Planned Parenthood to Nazis.

John McCain actively sought and received Parsley’s endorsement in the presidential race. McCain has called Parsley “a spiritual guide,” and he hasn’t said whether he shares Parsley’s vicious anti-Islam views. That’s because the mainstream media refuses to ask. And so, we’ve taken matters into our own hands, joining Mother Jones to present the truth about McCain’s pastor.

Since the media won’t question McCain about his deeply bigoted pastor, it’s up to you to call attention to this issue. Make McCain’s pastor problem a major story by forwarding this video to your family, friends, and colleagues.

We can’t let McCain get away with aligning himself with a religious leader who’s called for an all-out war on Islam, someone who draws no distinctions between Muslims and violent Islamic extremists. Now is the crucial time to act.

This video is also available onYouTubeQuicktime.

source : http://bravenewfilms.org/blog/38133-mccain-s-spiritual-guide-wants-america-to-destroy-islam?utm_source=rgemail

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Misperceptions about Muslims : Islam teaches that war is sometimes justified and necessary but it is not a religion of violence

Posted by musliminsuffer on May 20, 2008

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

Misperceptions about Muslims : Islam teaches that war is sometimes justified and necessary but it is not a religion of violence

Posted By Alia Hogben

May 17, 2008

In Canada, even though there is a general lack of knowledge about religions other than Christianity -such as Buddhism, Hinduism, Confucianism or Sikhism – the mistrust and fears about Islam exceed any hostility felt against any of these religions.

Judaism and Christianity have their own historical issues, but Islam, even though it is viewed as one of the Abrahamic religions, does not fare well in the public’s perception.

This negative perception has increased since the terrorist attacks of Sept.11, 2001, and even though this was the action of a few Muslims, all Muslims have been tarnished because of it. It has been further exacerbated by the rhetoric and actions of the American government. The rhetoric of the “Axis of Evil” with attacks on Muslim majority countries such as Iraq and Afghanistan has conflated Islam, Muslims and politics.

It would be dishonest not to acknowledge that some Muslims are adding to the stereotyping, but the blanket blaming of all Muslims is hard to overcome. As comparisons, the recent incidents of polygamous Mormons, or the sexual abuse of children by Catholic priests, or the abuse of aboriginal children in residential schools, has not led to any condemnation of all Mormons or all Christians or all Catholics. This same sane approach is missing for Muslims.

One of the misperceptions is that Islam is a religion of violence. But Islam is not the only religion that teaches that war is sometimes necessary and justified. Other religions also openly discuss war. In the Old Testament, there is mention of righteous anger and God tells Jews to wage war against the Canaanites. The Catholic church had St. Augustine of Hippo, who initiated the theory of the “Just War” in the fourth century, and Hinduism’s great Song of the God, the Bhagavad Gita, is about duties that include making war when it is necessary.

All religions agree that peace should be pursued first and that there are limitations and conditions to wage wars, but some wars are seen as just and necessary. Islam has strict directions that women and children must be protected and trees, fields and crops must not be damaged in a battle.

Unfortunately, it is Islam and Muslims who are seen as violent with the focus on ‘jihad.’ Both the West and some Muslims have created such a mess of this that few know the central message of Islam.

Islam does address the reasons for wars. It is permissible to fight in the defence of one’s country, one’s religious community or injustices against the vulnerable. This permission to fight is always tempered with many limitations, along with the message that to forgive or desist is better.

As there were several battles between the fledgling community of Muslims and the tribes around Mecca and Medina, there are passages in the Qur’an about fighting and battles.

The directions are clear about the right to defend oneself but that to go out looking for fights is not allowed.

“Fight in God’s cause against those who wage war against you, but do not commit aggression, for God does not love aggressors … fight against them until there is no more oppression.”

And again.

“Permission to fight is given to those against whom war is being wrongfully waged … those who have been driven from their homelands … if God had not enabled people to defend themselves against one another, all monasteries and churches and synagogues and mosques – in all of which God’s name is abundantly extolled – would surely have been destroyed.”

As for those who died in battle the Qur’an states: “Do not think of those who have been slain in God’s cause as dead. Nay, they are alive! With their Sustainer have they their sustenance … no fear need they have nor shall they grieve … ”

Please note that there is no mention of virgins awaiting suicide bombers.

This permission to fight is seen as specific to the context of seventh century Arabia, but the principles are applicable for all times. What is often forgotten is that fighting is against oppression and aggression of others. It is not to be initiated merely because a people or a country decides to do so.

It bears repeating that, over the centuries, too many countries and peoples have used religion to justify wars for political or economic gains, but this has nothing to do with the faith itself. What is occurring now also has more to do with material greed, power and totalitarianism than with wars of defence or wars against injustices. For example, Laura Bush’s comment after Sept. 11, 2001, that the United States was “freeing Muslim women” in Afghanistan by attacking the country to oust the Taliban was correctly met with cynicism.

To many of us believers, the message of Islam that we love is expressed in these verses.

“Those who spend freely whether in prosperity or in adversity, who restrain anger, and pardon all men, verily God loves those who do good.”

“Indeed if any show patience and forgive, that would truly be an exercise of courageous will and resolution in the conduct of affairs.”

“The good deed and the evil deed are not alike. Repel the evil deed with the one that is better, then lo, he with whom you share enmity will become as though he was a bosom friend.”

During these times of violence and retaliation, Muslims and non-Muslims need to be reminded of the Qur’anic verses that demand kindness, restraint and balance.

It degrades Islam if we only focus on battles and wars, and not on living our daily lives with love and compassion.

Alia Hogben is a social worker and executive director of the Canadian Council of Muslim Women.

source:

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Petition To UN Security Council (60th anniversary of Nakba Palestine May 15th 2008)

Posted by musliminsuffer on May 20, 2008

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

Petition To UN Security Council (60th anniversary of Nakba Palestine May 15th 2008)

Dear Sir/Mdm,
15 May 2008 marks the 60th anniversary of the Nakba, the grave catastrophe of 1948 in which Zionist militant forces invaded and destroyed more than 500 Palestinian villages through massacre and intimidation, causing not less than 700,000 Palestinians to become refugees. It is an account of human tragedy: the destruction of families, a civilization, culture and identity.

The Palestinian people are not only Muslims; the internally displaced population and that which has been displaced subsequent to the illegal formation of Israel is composed of a multi-religious and in some sense multi-racial population. It is a problem impacting all of humanity, not merely Jews and Muslims.

On this day, our hearts go out to all the Palestinians and we stand in solidarity with them in mourning the Nakba of 1948; we support their resistance of the Israeli occupation of historic Palestine; we strongly codemn the 1967 territorial expansion which continues to facilitate the expansion of the Zionist colonial agenda until today.

Petition made by Nusantara Committee for Justice and Peace (NADI), Penang and Jakarta-based NGO :

Petition to the members of the UNSC

Dear Members of the United Nations Security Council,

We are deeply shocked at the indifference of the Security Council to the holocaust in the making in Gaza as a result of the policies and actions taken by Israel, and supported by the United States and the European Union, against 1.5 million Palestinians living there.

In April 2006, after Hamas’s victory in the fairest and freest democratic elections held in the Arab world, the US and EU, not only suspended all international aid to the Palestinian Authority (PA) government, but also prevented any other aid reaching it. Israel refused to hand over taxes collected on behalf of the PA government. The US and the EU colluded with Israel to impose a cruel economic blockade on the helpless Palestinians under Israeli occupation.

In the summer of 2006, Israel carried out massive sustained bombing attacks on Gaza which destroyed roads, bridges, sewage treatment facilities, water purification and electrical power plants. Also hundreds of civilians were killed or seriously injured.

After Hamas’s recent take over of Gaza, the economic blockade has been further tightened which has increased unemployment, poverty and hunger to unprecedented levels. Israeli strangulation of Gaza is leading to the collapse of its economy.

UN Secretary General Ban Ki-Moon has urged Israel to open all border crossing points into Gaza. He said: “If what is left of Gaza’s economy is allowed to collapse, poverty levels already affecting two-thirds of households will rise further, and the people of Gaza will become near totally aid dependent.”

Recently, Hardad-Zervos of the World Bank warned: “The pillars of Gaza’s economy have weakened over the years. Now, with a sustained closure on this current scale, they would be at risk of virtually irreversible collapse. A solution must be reached very soon, if not immediately… ” He said that 3,190 businesses were closed in the last month alone, leaving more than 65,000 people unemployed. Unemployment could reach the unprecedented level of 44 percent.

In furtherance of its plan to provoke a revolt against the Hamas government, the Israeli cabinet has, a few days ago, voted to declare the occupied Gaza strip ‘hostile entity’ and threatened to cut off the supply of fuel and electricity which are essential human needs. This, like the economic blockade and the bombing attacks on civilian targets, is clearly in violation of the UN Charter and international law. But, sadly, except for a meek statement from the Secretary General, the Council has done nothing to stop Israel’s trashing of international law and civilized norms.

The collective punishment of the people of Gaza by Israel is reminiscent of the Nazi treatment of the Jews during the Second World War. Professor Richard Falk, a Jew and a leading expert on international law, does not think that it is ‘an irresponsible overstatement to associate the treatment of Palestinians with the criminalised Nazi record of collective atrocity.’

In an article for the Turkish newspaper ZAMAN, Falk wrote: “The entire population of Gaza is treated as the ‘enemy’ of Israel and little pretext is made in Tel Aviv of acknowledging the innocence of this long victimised society. To persist with such an approach under present circumstances is indeed genocidal, and risks destroying an entire Palestinian community that is an integral part of an ethnic whole. It is this prospect that makes appropriate the warning of a Palestinian holocaust in the making, and should remind the world of the famous post-Nazi pledge ‘never again.’

The Charter of the United Nations promises that the United Nations is ‘determined’ to save succeeding generations from the scourge of war, to reaffirm faith in fundamental human rights of nations large and small, to establish conditions under which justice and respect for obligations arising from treaties and other sources of international law can be maintained and to promote social progress and better standards of life in larger freedom. Thus the United Nations was created with the hope that it will promote international peace, end colonialism and improve the economic and social well-being of billions of people steeped in poverty and facing marginalization as a result of hundreds of years of colonial oppression and exploitation.

Unfortunately, particularly since the ending of the Cold War, the Council has become a tool for the promotion of the foreign policy interests of the United States of America. It is now a weapon in the hands of the richest and most powerful nation to bully, oppress and exploit the poor and weak nations. For example, sanctions are imposed on Iran for enriching uranium, which is permitted under international law, while Israel goes unpunished for Judaising East Jerusalem through ethnic cleansing and imposing collective punishment on the Palestinian population, which are crimes against humanity and a violation of the UN mandate.

Many believe that it is the hypocrisy and double standard practiced by the US and EU with regard to the Palestinian-

Israeli conflict, and your acquiescence in Israel’s contemptuous violation of the UN Charter, Security Council resolutions and international law that is pushing the victims of oppression and their supporters to seek violent paths to end their oppression.

The UN Charter has mandated to you the responsibility for maintaining international peace and security. Inaction on your part to check Israel’s rogue behaviour will inevitably lead to more violence, armed conflicts, terrorism and probably war. Therefore we urge you to adopt a resolution under Chapter 7 of the Charter:

1. Calling on Israel to rescind its cabinet decision to declare Gaza a hostile entity and not to interfere with the supply of food, electricity, water and fuel to Gaza residents.

2. Calling on Israel to lift the economic blockade of the Occupied Palestinian Territory, end the siege of Gaza, and implement the findings and recommendations of the International Court of Justice.

3.Calling on Israel to immediately halt all settlement building and expansion activities in the occupied Palestinian territory.

4.. Calling on all parties for the immediate cessation of military operations and all acts of violence, terror, provocation, incitement and destruction between the Israeli and Palestinian sides, including extrajudicial executions, bombardment against civilian areas, air raids and the firing of rockets.
5.. Calling upon Israel, the occupying Power, to scrupulously abide by its obligations and responsibilities under the Geneva Convention relative to the Protection of Civilian Persons in Time of War, of 12 August 1949, in the Occupied Palestinian Territory, including East Jerusalem;
6.. Calling upon Israel to comply with all its legal obligations as urged by the International Court of Justice in its advisory opinion.

7.. Calling on Israel to ensure that medical and humanitarian organizations are granted unhindered access to the Palestinian civilian population at all times and of allowing the severely injured a speedy exit outside the Occupied Palestinian Territory for needed treatment, and emphasizes also the importance of the implementation of the Agreement of Movement and Access of November 2005.

Signed by:

[To collect 100,000 signatures including prominent intellectuals, political leaders and religious leaders]

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Airport body scanners – ‘virtual strip searches’

Posted by musliminsuffer on May 20, 2008

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

Airport body scanners

‘virtual strip searches’

Date: April 19 2008


Dan Weikel, Los Angeles

TRAVELLERS at Los Angeles and New York airports will be searched using a new scanner that peers through their clothes and creates an image of the person’s body, federal officials announced.

The sophisticated technology, called millimetre wave imaging, might prove to be a more effective way to check travellers for guns, knives, bombs and dangerous materials than pat-down searches. But it has raised questions by privacy and civil rights advocates, who say the screening process is invasive and amounts to a virtual strip search.

“I don’t think people are really aware of just how accurate and detailed the images are of their naked body,” said Peter Bibring, a staff lawyer for the American Civil Liberties Union in Los Angeles. “We need to make sure there are good safeguards. The temptation is great not to follow procedures when a celebrity or someone well known is involved.”

Millimetre wave pictures are white and dark gray. Although somewhat fuzzy, they are detailed enough to reveal such features as breasts and body anomalies.

Transportation Security Administration (TSA) officials said the agency planned to buy at least 30 more devices this year for other airports. It unveiled the “whole body imaging” machine at the Delta Airlines terminal at the Los Angeles airport on Thursday.

Another millimetre wave machine was rolled out at John F. Kennedy International Airport in New York. The devices, part of a pilot program involving major airports, are being tested under actual conditions.

“This will allow us to enhance our security at LAX (Los Angeles airport),” said Nico Melendez, a TSA spokesman. “Imaging devices are not a brand new security tool, but they are a brand new security tool for airports.”

Travellers randomly selected for secondary screening will go through the scanning device, which uses electromagnetic waves to create an image from energy reflected from the human body. The device costs about $US150,000 ($A160,000).

If passengers don’t want to go through the scanner, they can opt for other screening measures, including pat-down searches. Signs in the checkpoint area will advise travellers of this option. During the process, a person walks into a large portal and assumes two positions for the scan. A three-dimensional image later appears on a computer screen checked by a security official in a separate location. The process takes a minute or two.

To protect a person’s privacy, officials said that security officers review the images in a booth about 20 metres away and are unable to see the passenger in question. The faces of those scanned are blurred, and the images cannot be stored, copied or printed, officials said.

According to the TSA, about 80% of travellers scanned during recent tests at Sky Harbour International Airport in Phoenix opted for the imaging machine instead of a pat-down search. Mr Melendez said there have been no complaints from passengers since testing began at Sky Harbour late last year.

Civil-rights and privacy advocates say the images are detailed depictions of the naked human body and should be tightly controlled to prevent them from being posted on the internet, sold to tabloid publications or misused in other ways.

LOS ANGELES TIMES

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Unbelieveable! “al-Qaeda” Dismisses Conspiracy Theories, Defends Israel, Attacks Iran and Hizbollah!

Posted by musliminsuffer on May 20, 2008

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

Unbelieveable! “al-Qaeda” Dismisses Conspiracy Theories, Defends Israel, Attacks Iran and Hizbollah!

Joe Quinn
Sott.net

Tue, 22 Apr 2008 14:51 EDT

Ever since the 9/11 attacks, Sott.net, along with many others commentators (including US government officials), have repeatedly stated that “al-qaeda” is a fabricated enemy. That it is used to justify the Ziocon’s military rampage though the Middle East while simultaneously terrorising the folks back home.

In the past 7 years the world public has repeatedly been treated to bogus missives from “al-Qaeda leaders” that strangely echo the Islamophobic claims of the leaders of the Western world.

Every time a member of the US or Israeli government expounded on the “Muslim terror threat to freedom and democracy everywhere”, soon afterwards “al-Qaeda” obligingly popped up with a new video or statement in which they threatened freedom and democracy.

As the massive holes in the US government’s official story of the 9/11 attacks continue to widen, and sites like Sott.net continue to point to the real culprits in Tel Aviv and Washington DC, disembodied internet voices that US government officials “believe to be that of Osama bin laden”, set the record straight and claim responsibility. In spite of such strenuous efforts to fool the entire world, fewer and fewer people are buying the terror hysteria, and recently the desperation on the part of the Ziocons has begun to show.

On April 22, the CIA/Mossad chose to have Mr. Magoo stand-in and “al-Qaeda number 2” “al-Zawahiri”, do something which, until now, was almost unthinkable.

Al-Qaeda accuses Iran of 9/11 lie

BBC News
22/04/2008

Image
Leave Israel alone! Or I’ll attack Iran!

Al-Qaeda’s deputy leader, Ayman al-Zawahiri, has blamed Iran for spreading the theory that Israel was behind the 11 September 2001 attacks.

In an audio tape posted on the internet, Zawahiri insisted al-Qaeda had carried out the attacks on the US.

Allow me to translate this into common parlance for you:

“Don’t believe those crazy conspiracy theorists who point to the massive inconsistencies in the official story! Take it from me, arch-Muslim terror boogeyman al-Zawahiri, it was “al-Qaeda” WE DID IT! It was NOT Israel! You must support your glorious leaders in the White House and Israel in their continued murder and butchery of innocent Muslims of the Middle East! You must support them in their attempts to find a justification for attacking Lebanon and Syria and Iran and murdering millions of Iranian and Lebanese and Syrian civilians! Remember! It was NOT Israel!!”

He accused Iran, and its Hezbollah allies, of trying to discredit Osama Bin Laden’s network.

Correspondents say the comments underline al-Qaeda’s increasing public hostility towards Iran.

In a two-hour audiotape posted on an Islamist website, Osama Bin Laden’s chief deputy responded to questions posted by al-Qaeda sympathisers.

In response to a question about persistent rumours in the Middle East that Israel was involved in the 9/11 attacks, Zawahiri said the rumour had begun on the Hezbollah television station, Al-Manar.

“The purpose of this lie is clear – [to suggest] that there are no heroes among the Sunnis who can hurt America as no-one else did in history, he said.

“Iranian media snapped up this lie and repeated it.”

Sunni fears

Zawahiri went on to criticise Iran for co-operating with the US in its 2001 invasion of Afghanistan, that helped to oust the Taleban.

“Iran’s aim here is also clear – to cover up its involvement with America in invading the homes of Muslims in Afghanistan and Iraq,” he said.

This is the second verbal attack on Iran, a predominantly Shia Muslim country.

Earlier this month, in an audiotape marking the fifth anniversary of the fall of Iraq’s leader Saddam Hussein, the al-Qaeda deputy accused Iran of planning to annexe southern Iraq and the eastern part of the Arabian peninsula.

BBC security correspondent Rob Watson says such messages appear designed to play on Sunni fears throughout the region of growing Iranian influence, and to present al-Qaeda as the best bulwark against Tehran.

Now, you may be wondering why a “worldwide Islamic terror group” is defending Israel against “9/11 conspiracy theories” and threatening another Muslim nation. You may also be thinking that al-Zawahiri’s words closely resemble the Bush government’s demand that we should “never entertain outlandish conspiracy theories about the 9/11 attacks”. You will however remain in your state of bewilderment up until the point that you make the leap of logic to the obvious conclusion: that “al-Qaeda” is actually a fully controlled US/Israeli government asset and is dragged out every so often to provide the “reality” of “Islamic terrorism”.Is it so hard to consider the idea that, since the 9/11 attacks were the casus belli for an expansion of empire that was planned many years beforehand, that those who are waging the war were most probably behind the 9/11 attacks?

At this late stage in the war-on-terror farce, anything that comes from “al-Qaeda” can safely be taken, almost word for word, as the policy, intentions or desires of the Ziocons. From its original role as an excuse to attack Muslim nations of the Middle East, today “al-Qaeda” is being used as an actual arm of the US/Israeli/British military-industrial complex. With “al-Zawahiri’s” recent verbal attacks on Iran, it is quite possible that the US, British and Israeli military and civilian intelligence agencies will begin to stage large-scale attacks within Iran (or on Iranian assets in the Middle East) and have “al-Zawahiri”, in the form of some disembodied voice on the internet, claim responsibility.

From a manufactured war on Islamic terrorism to an equally manufactured war between Islamic peoples of the Middle East, and all of it hinged upon a truly outrageous fantasy called “al-Qaeda”.

source: http://www.spiderednews.com/911_I.htm?url=@http://www.sott.net/articles/show/154367-Unbelieveable-al-Qaeda-Dismisses-Conspiracy-Theories-Defends-Israel-Attacks-Iran-and-Hizbollah

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Unraveling the Myth of Al Qaida

Posted by musliminsuffer on May 20, 2008

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

Unraveling the Myth of Al Qaida

Global Research, January 13, 2008

The myth of “al Qaida” is built on an expansive foundation of many half-truths and hidden facts. It is a CIA creation. It was shaped by the agency to serve as a substitute “enemy” for America, replacing the Soviets whom the Islamist forces had driven from Afghanistan. Unknown American officials, at an indeterminate point in time, made the decision to fabricate the tale of a mythical worldwide network of Islamic terrorists from the exploits of the Afghan Mujahedeen. The CIA already had their own network of Islamic militant “freedom fighters,” all that was needed were a few scattered terrorist attacks against US targets and a credible heroic figurehead, to serve as the “great leader.”

The really tricky part of creating a mythical terrorist monster out of an incomplete truth is laying-out the facts behind your mythical story without revealing the whole truth about your part in its creation. In order to explain away the billions of dollars worth of weapons and training that went into the operation, they chose a rich jihadi, a Saudi millionaire named Osama bin Laden, who had been a faithful recruiter and business agent of the Mujahedeen. He was painted as the sole financier of the entire enormous operation that was centered in Pakistan and Afghanistan. Bin Laden may not even have known that he was playing a part in a deceitful CIA global drama until after the fact. It is more likely that his history was chosen many years later to serve as the legacy of “al Qaida,” than it is that he was a brainwashed tool of the spy agency all along.

The story of bin Laden is the story of the secret CIA/ISI insurgent camps in Pakistan and Afghanistan. According to Prof. Michel Chossudovsky, Osama was 22 years old in 1979, when he was trained in a CIA sponsored guerilla training camp near Peshawar, Pakistan.

“Bin Laden family was put in charge of raising money for the Islamic brigades. Numerous charities and foundations were created. The operation was coordinated by Saudi intelligence, headed by Prince Turki al-Faisal, in close liaison with the CIA. The money derived from the various charities was used to finance the recruitment of Mujahedeen volunteers. Al Qaeda, the base in Arabic was a data bank of volunteers who had enlisted to fight in the Afghan jihad. That data base was initially held by Osama bin Laden.” http://www.globalresearch.ca/index.php?context=va&aid=7746

Researcher Kurt Nimmo writes:

“The database of Islamic fighters that was collected by the program was labeled n Arabic, ‘Q eidat ilmu’ti’aat’, which is the exact translation of the English word database. But the Arabs commonly used the short word ‘Al Qaida” which is the Arabic word for ‘base.'” http://www.lookingglassnews.org/viewstory.php?storyid=3569

In 1989, the US, under George Bush Sr. moved to abandon Afghanistan, making preparations to attack Saddam Hussein long before he had ever moved against Kuwait in 1991. As far as Bush knew, the spy agency had obeyed his orders to abandon the Afghan tribal bloodbath and civil war, but the CIA knew better than the Commander-In-Chief. This fit in well with a deceitful Secretary of Defense, who had also believed that he knew better than his boss, (as evidenced by Cheney ordering his underling Paul Wolfowitz to draw-up an alternative foreign policy, known as the “Defense Planning Guidance”). The covert foreign policy of Reagan and Carter had became even more secret, as control of the camp network was submerged even deeper into the bowels of the secret world of the CIA.

The CIA did not pull out of the jihadi program after the Soviet withdrawal, leaving it solely in the ISI’s hands. There is a massive trail of evidence which proves that all the Islamist extremists who were trained under this program, to undermine Kashmir, Bosnia, Chechnya, Kosovo, Egypt, the US and England, were not all Pakistan’s doing. This has always been a CIA program. The attempt to pretend that we were washing our hands of it, was to give “plausible deniability” to the President of the United States, that he had ordered an end to the effort. CIA appeared to comply, as they covertly ignored the position of their old boss and set their own foreign policy. The ensuing Kashmiri conflict, started in 1989 by American and Pakistani trained forces, was an act of war against India. Which part of the Executive Branch was responsible for the new plan? Who this a presidential decision, or was it a rogue agency that decided on its own to turn the Islamists against us, manipulating the Islamists into openly kill 3000 Americans on 9/11? Whose plan were the Islamists and the covert planters of explosives executing on that new day of infamy?

Pakistanis seethed with anger at the US for abandoning them in the mess we had made; they were only doing what America had demanded of them.

“Many in the ISI loathe the United States. They view America as an unreliable and duplicitous ally, being especially resentful of the 1990 sanctions, which came one year after the Soviets pulled out of Afghanistan. Furthermore, the ISI is dominated by Pashtuns, the same tribe that is the Taliban‘s base of support across the border in Afghanistan. Partly because of its family, clan, and business ties to the Taliban, the ISI, even more than Pakistani society in general, has become increasingly enamored of radical Islam in recent years.” [Slate, 10/9/2001]…

On October 12, 1999 the ISI installed the government of Pervez Musharref, in a coup d’etat, removing Nawaz Sharif out of fear that he might give-in to American pressure and stop supporting the Taliban.

http://www.cooperativeresearch.org/context.jsp?item=a101299pakistancoup

After the withdrawal of the Soviets in 1989, the camps kept churning out highly-skilled terrorists, to foment other armed insurgencies in places like Kashmir (lasting until the war with India in 1999). The CIA/ISI camps were terrorist factories, as they kept turning out successive armies of paramilitary units and skilled terrorists. They trained many of the Bosnian fighters in 1992 and 1995, Chechens in 1994 and 1996, Taliban in 1995 and 1996, and the Kosovo Liberation Army in 1998-99. Former honor students of the camps went on to attempt to kill Benazir Bhutto in 1993 (Yousef and KSM), bomb the World Trade Center the first time (Yousef). Gulbuddin Hekmatyar was an agent of chaos, who immediately set about destabilizing the victorious Mujahedeen in Afghanistan by firing rockets at Kabul, igniting the Afghan civil war. Mullah Omar received satellite intel from the CIA, revealing to him the location of a hidden convey of Soviet trucks loaded with weaponry, giving him the upper hand in the civil war.

According to India’s Embassy, Pakistan’s terrorism network consisted of :

“38 terrorist training centres from where recruits were regularly sent on “jehad” missions to Kashmir and other parts of the world…Facts and figures about Pakistan’s role in fostering terrorism in India compiled by Indian security forces are as follows: Number of terrorist camps in Pakistan 37; number of terrorist camps in Pakistan-occupied Kashmir 49; number of Pakistan-run terrorist camps in Afghanistan: 22; total number of hardcore terrorists operating in Jammu and Kashmir: 2300; total number of foreign mercenaries operating in Jammu and Kashmir: 900; number of Pakistan terrorists killed by Indian security forces: 291; number of Indian civilians killed by Pakistan terrorists: over 29,000…Harkat-ul-Ansar, Al-Badr, Lashkar-e-Toiba and Tehreek-ul-Mujahideen, all associated with terrorist financier Osama bin Laden.”

http://www.indianembassy.org/press/New_Delhi_Press/September_1999/Pak_Terrorism_Network_Sept_15_1999.htm

In the early years, the camps produced two terrorist superstars, Ramsey Yousef and Ali Mohamed. While Yousef did spread his talents and skills liberally throughout the Muslim world, it was Ali who made the terrorists more skilled and successfully instigated many large terrorist attacks. As an officer in the Egyptian military, he had served in the same unit as the assassins who killed Anwar Sadat. He later moved about freely in the world of Islamist radicals at the al-Farouq mosque and al Qaida recruitment center in Brooklyn, which had produced El-Sayeed Nosair, the killer of Rabbi Meir Kahane, brought the “blind sheikh” together with bin Laden and his Islamic “charities,” as well as Osama’s spiritual mentor, Sheikh Abdullah Azzam.

As an American Special Forces trainer, Ali acquired specialized skills and combat training programs, which he taught in the camps. Under the name “Abu Mohamed al-Amriki,” he offered Zawahiri a CIA bribe of $50 million to attempt to overthrow the Egyptian government in 1998. He did the groundwork for the plot to blow-up two American embassies in Africa and at least one attempt to assassinate Qaddafi. Ali Mohamed is the linchpin in the plot to fabricate the al Qaida super-enemy. It will be the task of future historians to determine whether he was manipulating al Qaida for the CIA or playing the CIA for al Qaida – perhaps both answers are correct.

The CIA/ISI camps, organized by Ali, the trainer, were a source of instruction for nearly every terrorist attack upon the West. Graduate Ramsey Yousef and “the blind Sheikh” were instrumental to the first World Trade Center bombing, while Yousef’s uncle Khalid Sheikh Mohammed was the brains behind the successful second bombing. Their associate, CIA pawn Gulbuddin Hekmatyar, was instrumental in turning the successful Afghan revolution into a civil war and keeping it going. He was also a key player in the Taliban resurgence against the US. The Philippine Abu Sayyaf terrorist organization trained 300 men at these camps. The London 7/7 terrorists and the “shoe bomber” all visited these camps before their attacks. Oklahoma City bombing suspect Terry Nichols allegedly came into contact with some of this group (possibly in the same area as Ramsey Yousef, at a time when both were there) on his visits to the Philippines before the OKC attack. It is rumored on the Internet that Saudi intelligence told the FBI that Saddam Hussein had commissioned Pakistanis to bring down the Murrah Building. The infamous dark-skinned “John Doe No. 2” might have been a Pakistani. He was described as a Middle Eastern type.

After Clinton took over from Bush, he rediscovered the Islamist Network. Parts of the hidden program begin to resurface. According to author Yossef Bodansky (director Congressional Task Force on Terrorism and Unconventional Warfare), in 1993,

“Clinton began a covert operation with Saudi Arabia, Iran and Pakistan, to send money and arms to Bosnia-Herzegovina…complicity in the delivery of weapons from Iran to the Muslim government in Sarajevo…involvement with the Islamic network’s arms pipeline elements of Al Qaida in Albania.”

http://www.srpska-mreza.com/Bosnia/bodansky2.html

“Some of these actions were under direct command of Al Qaida “number two” Ayman al-Zawahiri, who oversaw the program to smuggle weapons and mujahedeen though Croatia into Bosnia. This secret program was later duplicated with the Kosovo Liberation Army, and again in nearby Macedonia, as well as in Chechnya.”

http://www.amazon.com/Bin-Laden-Man-Declared-America/dp/0761535810

Clinton also is alleged to have used these Al Qaida offshoots against Egypt, after President Mubarak opposed Clinton’s use of force against Iraq in February 1998. Some of these Islamists, again led by Zawahiri, had tried to assassinate Mubarak in 1995.

The Islamist foreign policy of the United States did not end with Bill Clinton, or even with the 9/11 attacks. Bush is playing the same card throughout the Muslim world, as we see him apply the “El Salvador option” (adapted from the Islamist program) to every situation claimed to be caused by “elements associated with al Qaida.” We are hiring and training gangs of Sunni mercenaries to start wars throughout the Muslim world. Either we hire them openly, like the “Awakening” group in Iraq, semi-secretly, like the PAJEK Kurds hired to hit Iran and the Fatah al-Islam in Lebanon, or back them super-secretively, like elements of the Pakistani Taliban, whom we mislabel as “al Qaida.”

Our own spy agency is behind the killing of thousands of American soldiers and civilians all over the world. They are also responsible for continued Afghan opium production, as it has always served as the primary funding source for CIA paramilitary operations there. The poppies funded the original Pakistani camps and their current resurgence. Much of the poppy fields and most of the camps lie within a sixty-mile radius of Peshawar. This is the zone of instability that overlaps the northernmost regions of Pakistan bordering Kashmir, the epicenter of the massive October 2005 earthquake that further devastated the people.

Within this sixty-mile radius lies the infamous Tora Bora “fortress,” bin Laden’s redoubt, where his forces made their last stand in Afghanistan. It was built on the Kabul River, near the Swat Valley, the site of the original camps and the current Pakistani/Taliban battles, set-off by Musharref’s meeting of US demands. Tora Bora is part of the Darunta Camp complex [34°28’00″N 70°22’00″E], the former location of Al-Badr I military base near Jalalabad. According to Internet sources, bin Laden allegedly took possession of this facility directly from the CIA, upon his return from Sudan in 1996. At the time of the US invasion of Afghanistan, American media sources were hyping Tora Bora as a super fortress, equipped as an underground city, even having its own hydroelectric plant. This underground facility would have had to have cost at least a billion dollars to construct. They released this artist’s rendition to the public as US bombers were dropping everything they had on it. disputed the fortress story

http://www.edwardjayepstein.com/2002image/netherpopup.gif

The satellite photos below are supposed to be from the Darunta site, matching closely the level of complexity attributed to the facility during the battle, which the media quickly denied as hype, after our troops failing to get bin Laden there, preferring to show instead, a bunch of primitive caves.

http://www.globalsecurity.org/military/world/
afghanistan/images/ik_darunta_tunnel_overview_an_s.jpg

The following map pinpoints the large helipad used to supply Darunta–

http://maps.google.com/maps?
f=q&hl=en&geocode=&time=&date=&ttype=&q=Darunta+afghanistan&sll=34.116797,70.
217421&sspn=0.004299,0.009334&ie=UTF8&ll=34.490499,70.372066&spn=0.01712,0.037336&t=k&z=15&iwloc=E&om=0

The ongoing offensive in the Swat zone of instability began when Pakistan agreed to US demands to assault the “Red Mosque” Islamic compound in Islamabad. The storming of the compound ignited an uprising in the Northwest Provinces by followers of Lal Masjid cleric Abdul Aziz. The Islamists had become more and more successful at their attempts to spark the building democratic-revolution, emboldening Pakistani lawyers to mount large protests, threatening to sweep Musharref and his US allies away. Musharref has escalated the confrontation with the Islamists by supporting the ISI attempt to blame one of them, Baitullah Mehsud, for the assassination of Benazir Bhutto.

One-hundred seventy-five miles south of the Swat Valley war zone, around the town of Wana, Mehsud has stood with al Qaida and the foreign Taliban against local Islamists, headed by Maulvi Nazir, who has been waging war to evict al Qaida foreigners (mostly Uzbeks) and Afghan Taliban from his territory. The al Qaida flocked to the area in 2001 after being driven from the Kandahar area in Afghanistan, which adjoins northwest Baluchistan. Nazir has followed the same pattern that we have seen the people adopt in Iraq, where Sunnis turn against al Qaida because of their brutal attacks to force harsh Sharia law upon them. After Nazir could stand no more, he gathered together 900 of his friends from the “local Taliban,” to drive the mostly Uzbeki al Qaida from South Waziristan. The government provided aid to Nazir’s fight, but when government forces tried to actively fight alongside the defending Waziri, it felt the combined retaliation of both sides.

Recently, nine of Nazir’s representatives to upcoming peace talks with the government were killed in rocket attacks, blamed on Uzbekis who were connected to Mehsud. The attack was probably another part of the ISI disinformation campaign to turn local Islamists against Mehsud’s Taliban, designed to trigger more of the anti-Uzbeki attacks. After the attack, Nazir issued a deadline for all of the Mehsud to leave the area. The Waziri are expected to attempt to drive the Mehsud tribesmen northward of Wana, into the Kurram Agency, which has a large Shiite population. This area will have to become the focus of CIA/ISI secret plans to foment religious war against the Shia, supporters of Iran, by driving the Sunnis and Shiites together. Kurram adjoins the area of Tora Bora, on the edge of the large circular zone of instability. Baitullah Mehsud has also been linked to attacks upon Shiites in the Kohat area. Other reports from the area claim that Mehsud is marked for assassination by a government death squad.

http://www.topnews.in/pak-agencies-devise-strategy-kill-baitullah-mehsud-210441

Wana sits squarely on the trail used by Islamic fighters traveling from the Swat region to the heated battlefield in Southeastern Afghanistan, on the northern edge of the Baluch region. This is the border area between the multinational Pashtun and Baluch tribes. The Taliban are primarily a Pashtun movement. It appears that the goal of the US is to use these inter-tribal hostilities to erase the borders of the two countries. In 2005, al-Qaeda and the Taliban took over this area, “transforming Baluchistan from a logistics center to an operational base.”
http://www.jamestown.org/terrorism/news/article.php?articleid=2369909

The sparsely populated Baluch area is also home to Pakistan’s huge reserves of natural gas, the chosen route for the India-Iran gas lines, and several nuclear research and delivery sites.

http://www.fas.org/nuke/guide/pakistan/facility/pakistan-fac3.gif

Recent attacks by Jundallah terrorists into Iran came from this region.

The recent attempt to blame Taliban leader Baitullah Mehsud for the assassination of Benazir Bhutto is a textbook example of the Pakistani ISI duplicity in the region. Even while government spokesmen finger Mehsud for the hit, other ISI operatives and journalists (Pakistani neocons) are spreading rumors, alleging his involvement with the anti-America/Musharref resistance.

“To neutralise that strategic blunder, the ISI operatives are trying to present Pakistan and Pakistan army as a target of the US aggression. Of course they are the primary targets of the US. But Musharraf definitely is not. To indirectly generate sympathies for Musharraf, the ISI analysis try to explain how Pakistan military is being strategically sabotaged, forgetting the fact that this has nothing to do with the US plans against Musharraf because Musharraf is the key facilitators of all anti-Pakistan plans by the neocons and warlords in Washington. The ISI attempt to parade Abdul Rashid Ghazi, Baitullah Mehsud, and the Maulana of Swat as ISI agents just doesn’t hold water…If Al-Qaeda is in fact fighting for the US against Pakistan, what is all this fuss about the ‘war on terrorism’ on the part of Mush and his cronies in Islamabad?”

http://usa.mediamonitors.net/content/view/full/48555

The author of that commentary may have been more of a prophet than he realized, when he asked if al Qaida was fighting for the United States. Hasn’t it been said, that the best place to hide something is to put it in plain sight? Rumors created by ISI liars may be more factual than that which they proffer as truth. By starting a whispering campaign to tell the truth about their intentions they know that it won’t be believed, because of its source. Known liars like Bush and Musharref, speaking honestly about their intentions, cover the truth with their dishonest reputations.

In the northern quadrant of this zone is the critical Swat Valley region, the focal point of the ongoing military offensive. In this jihadi stronghold, we find al Qaida Uzbeks again fomenting rebellion. “Radio Mullah,” otherwise known as Maulana Fazlullah of Swat, works diligently to broadcast his fundamentalist Wahabbi/Taliban values, backed up by 500 well-armed followers, including Uzbek fighters. He is the son-in-law of Maulana Sufi Mohammad, founder of the Tehreek-e-Nifaz-e-Shariat-e-Mohammadi (TNSM – Movement for the Enforcement of Islamic Laws). Here hardcore Taliban, al Qaida, TNSM and other organizations await the promised arrival of the American Special Forces, planning to repel them just as they have successfully done with the Pakistani Army. Also within this same circle lies a large percentage of Pakistan’s nuclear development and delivery systems.

The escalating drama that is planned for this region, dreamed-up by the sick mind of Dick Cheney and his pals from the dark side over at CIA, is now set to play out in the planned Frontier Corps. The insane notion of training still more paramilitary units to fight the old ones is a continuation of the same tragedy that has played-out in this cursed region for thirty years or more. The plan is to use Special Forces to train new Islamists and to stage attacks that will hopefully ignite an intra-Taliban war, or, even better, an Iraqi-type religious civil war. Either scenario will open a path to American bombers heading through the back door into Iran.

source: http://www.globalresearch.ca/index.php?context=va&aid=7787

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Posted in Uncategorized | 4 Comments »

Shoot, Kill, Lie, Repeat: America’s New Moral Universe

Posted by musliminsuffer on May 20, 2008

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

Shoot, Kill, Lie, Repeat: America’s New Moral Universe

Chris Floyd , Empire Burlesque
8death_in_fallujah4.jpg

May 9, 2008

Tell me that this doesn’t sound like something out of a history of Nazi tactics in World War II:

The rules [of engagement]t explicitly allowed the killing of unarmed Iraqis under certain circumstances…Specifically, the snipers were allowed to shoot unarmed people running away from explosions or firefights….Of course, it’s not unusual for innocent people to run from explosions.

Didier, who has since been promoted to captain, said that “if that individual makes contact with you and then breaks contact of their own accord and disarms themselves while they are breaking contact, they are still an engageable target because they are not wounded, nor did they surrender.” He explained, “They are only breaking contact so that they can engage coalition forces at a later time.” In court, Sgt. Anthony Murphy, one of the snipers who was responsible for a questionable kill, testified that he interpreted this order about breaking contact so they can engage at a later time as: “Engage fleeing local nationals without weapons.”


In other words, if an innocent, unarmed Iraqi runs away to seek safety from a suicide bombing, a missile attack or a gunfight — which any human being would instinctively do — then he is fair game to be killed by an American sniper.

The excerpt above comes from a story in Salon.com, “Killing by the Numbers,” about an “elite” U.S. sniper squad that murdered a captured, unarmed civilian in cold blood. A more detailed excerpt follows below, but I’d like to deal briefly with one ancillary aspect first.

The story expands to talk more generally about the sniper program in Iraq, and is careful — overly careful — to emphasize that the snipers responsible for so many “questionable kills” are operating in very stressful conditions: sleep-deprived, sweltering in deadly heat, surrounded by potential “hostiles,” at constant risk of attack. All true, of course, but it prompts this simple question: What the hell are they doing there in the first place? Why are they squatting and sweltering in “hides” in a foreign land, looking to kill people who never attacked the United States?

Yes, it is entirely understandable that a soldier subjected to nerve-wracking, physically tormenting conditions might fail to act with reason, patience, judgment and prudence. But is this supposed to be some kind of excuse for crimes committed within the context of a larger crime: a war of aggression, the military invasion and occupation of a foreign country without any provocation? Surely many of the Nazi atrocities were committed by men under unbearable mental and physical strain as well. So what? Were they absolved of their crimes? And more importantly — were their leaders absolved for instigating the larger crime that engendered these atrocities?

For as the story also shows, the “questionable kills” by American snipers derive largely from the murderous “rules of engagement” they are given by their superiors — and by the anxiety of their officers to produce big “kill numbers” to appease the bloodlust — and PR needs — of the thugs in the White House and their “counterinsurgency genius,” David Petraeus.

But let’s return to the story of how a sniper squad murdered Genei Nesir Khudair al-Janabi, an Iraqi vegetable farmer, almost one year ago, after he stumbled upon their “hide” on the banks of the Euphrates.

(Continued after the jump)

From Salon.com:
Sandoval, who had been woken by the sound of the Iraqi’s approach, motioned toward Vela’s gun. Taking the signal, Vela pointed the 9 mm pistol at the farmer’s face.

Sandoval woke up Redfern. Redfern and Vela waved the Iraqi into the hide, forced him down on his stomach and put the corner of the plastic poncho over his head. Vela stood over the man with the pistol, while Redfern ran his hands over Khudair’s shoulders, arms, sides, back and chest in a cursory search. No weapons.

Vela woke Hensley and told him an unarmed Iraqi was in the hide. Hensley stood up, walked over to the Iraqi — and from a standing position dropped a knee into his back with the full force of his body.

Khudair threw his head back, gasping for wind. “Staff Sgt. Hensley grabbed him by the mouth,” Vela testified, “and told him to shut up or he was going to kill him.”

Hensley wrapped parachute cord around the Iraqi’s hands and Redfern dragged him deeper into the snipers’ hide…. Vela said Hensley sat down on the berm for a moment. He then got up and radioed their superior officer, Didier. Hensley reported that he had spotted an Iraqi nearby armed with an AK-47. But Vela couldn’t see anyone who matched that description. Vela alerted Hand, who was fading in and out of sleep on a nearby berm, that Hensley “might have seen something.” Then Hensley ordered Vela to retrieve his pistol from Sandoval in the pump house….

Sandoval peered around the pump house wall to look into the hide. Khudair was still there. Vela was sitting on his rear, with one leg cocked up and an elbow resting on his knee, holding the pistol in one hand.

Inside the hide, Hensley radioed Didier a second time, saying an insurgent was moving closer to their position. Hensley asked permission to do a “close kill” to avoid being compromised.

Vela then looked around, but still didn’t see any armed insurgent. “I was just really confused about what he was saying,” Vela testified.

Hensley untied the Iraqi. “I thought we were going to let him go,” Vela told the Army court.

“Are you ready?” Hensley allegedly asked Vela.

Hensley stepped aside. “Shoot,” he said.

Vela claimed during testimony that he doesn’t remember pulling the trigger. “It took me a second to realize that the shot had come from the pistol and it was in my hand.”

Hensley radioed to Didier that the snipers had killed an insurgent. Meanwhile, the Iraqi’s body convulsed. Hensley “kind of laughed” at the spectacle, according to Vela. Hensley then “[punched] the guy in the throat, and said, ‘Shoot him again,’ which I did.”

Vela testified that after he shot the man for the second time, Hensley pulled an AK-47 out of his rucksack and placed it on the body. The snipers then agreed on a story about the shooting consistent with Hensley’s radio calls…

Sandoval was charged with murder for the deaths on April 27 and May 11, but convicted only of planting command wire in connection with the April 27 killing. He served about a month and a half in prison. The Army charged Hensley with three murders for the shootings of April 14, April 27 and May 11. He was convicted of planting a weapon, for placing the AK-47 next to Khudair, and insubordination. He was sentenced to time served and busted down to sergeant.

On February 10, 2008, however, Vela was sentenced to 10 years in a military prison for the murder of Khudair.


It goes without saying that the officers who put these men in this situation — not to mention the civilian “leaders” in Washington who instigated the mass murder in Iraq — suffered not the slightest adverse consequence of this crime, for which they bear the primary responsibility.

However, it is unlikely that the scapegoat — and murderer — Vela will ever serve his whole term for his part in the crime. The case of a Marine squad who kidnapped and murdered an Iraqi man in Hamdania is instructive on this point, as AP reported this week:

A Marine from Camp Pendleton who was sentenced to 15 years in the brig for killing an Iraqi civilian had his term reduced by four years, the man’s attorney said Wednesday.

Rich Brannon, the civilian lawyer for Lawrence G. Hutchins III, said the reduction came after he appealed for clemency to Lt. Gen. Samuel T. Helland, Hutchins’ commanding general. “I was pleased to see a reduction, but I would like to see more,” Brannon told The Associated Press in a phone call from North Carolina.

Hutchins, of Plymouth, Mass., was the leader of an eight-man squad accused of kidnapping Hashim Ibrahim Awad, 52, from his home in April 2006, then marching him to a ditch and shooting him to death. The killing took place in Hamdania, a small village in Al Anbar province.

Hutchins was sentenced Aug. 3 after being convicted of murder, conspiracy to commit murder, making a false official statement and larceny. He had been charged with premeditated murder, but premeditation was removed from the verdict, meaning Hutchins no longer faced a mandatory life sentence.

All eight squad members — seven Marines and one Navy corpsmen — were initially charged with murder and kidnapping, but four lower-ranking Marines and the sailor cut deals with prosecutors in exchange for their testimony and received sentences ranging from one to eight years in prison.

Other Marines were acquitted of murder but convicted of lesser charges and freed after their courts-martial.


When even the scapegoats escape justice, what possible hope can there be that the perpetrators and abettors of the Nazi-like war crime in Iraq will ever pay the price — or even suffer the slightest trouble — for their monstrous outrage?


source: http://www.uruknet.info/?p=m43888&hd=&size=1&l=e

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

The historic wronging of Palestine

Posted by musliminsuffer on May 20, 2008

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

The historic wronging of Palestine

DAVID MORRISON, Palestine Think Tank
truman-ben-gurion.jpg

May 10, 2008

WRITTEN BY DAVID MORRISON (art by Carlos Latuff)
The state of Israel came into existence 60 years ago on 14 May 1948. In the months before and after this declaration, Jewish forces drove around 750,000 Palestinians from their homes. Over 500 villages were emptied of their Palestinian population and most of them were destroyed so that those expelled had no homes to return to.

Anybody who doubts that ethnic cleansing took place on this scale should read The Ethnic Cleansing of Palestine by Israeli historian, Ilan Pappe. In it, he describes Plan Dalet (D in Hebrew), which set out the areas to be cleansed and the methods to be employed by Zionist forces in carrying out the cleansing. Here is a sample of the latter:

“These operations can be carried out in the following manner: either by destroying villages (by setting fire to them, by blowing them up, and by planting mines in their debris) and especially of those population centres which are difficult to control continuously; or by mounting combing and control operations according to the following guidelines: encirclement of the villages, conducting a search inside them. In case of resistance, the armed forces must be wiped out and the population expelled outside the borders of the state.”

The plan was approved by the Zionist leadership on 10 March 1948, and put into operation immediately.

* * * *

The Zionist movement to establish a homeland for Jews in Palestine began in Europe in the late 19th century, when Palestine was part of the Ottoman Empire. It was given impetus by the Balfour Declaration in 1917, which stated that Britain viewed with favour “the establishment in Palestine of a national home for the Jewish people” and undertook to use its “best endeavours” to bring it about. The Declaration also made the incompatible commitment that “nothing shall be done which may prejudice the civil and religious rights of existing non-Jewish communities in Palestine”. At that time, the “existing non-Jewish communities” constituted around 90% of the population.

During World War I, Britain also promised to recognise an Arab state in the Middle East, in exchange for Arab assistance in overthrowing Ottoman rule. However, Britain made a conflicting agreement with France – the Sykes-Picot Agreement – for joint control of the Middle East. So, instead of the promised Arab state, Britain and France balkanised the Middle East into a series of states under their control. Britain was granted a mandate to administer Palestine by the newly formed League of Nations. The mandate incorporated the Balfour Declaration’s commitment to a homeland for the Jews in Palestine.

Under British rule, the Jewish colonisation of Palestine gathered pace and by the mid 1930s Jews made up nearly 30% of the population compared with around 10% twenty years earlier. As the unlimited extent of the colonisation became evident, Arab opposition rose and led to the Arab Revolt from 1936-39, in which around 5,000 Arabs, and 400 Jews, were killed.

In 1937, the Peel Commission set up by Britain proposed for the first time the partition of Palestine and the establishment of a Jewish state. Arab opposition led to the proposal being dropped and to Britain severely restricting further Jewish immigration into Palestine in 1939. This restriction continued throughout World War II at a time when Jews were desperate to escape Nazi persecution in Europe.

In 1947, Britain announced its intention to give up the mandate and to withdraw from Palestine on 15 May 1948. The newly formed UN set up a commission which recommended another partition scheme. This was endorsed by the UN General Assembly in resolution 181 passed on 29 November 1947 by 33 votes to 10, despite the opposition of the Palestinians and all Arab states. It is worth noting that, unlike UN Security Council resolutions, General Assembly resolutions are not binding on UN member states.

The partition plan divided Palestine into three parts. It was extraordinarily generous to the Jews, who at the time made up about a third of the population and owned less than 6% of the total land. Despite this, the partition plan allocated almost 56% of the land to a Jewish state, in an area in which there were about 500,000 Jews but also 440,000 Arabs. On 42% of the land, 800,000+ Arabs were to have a state with a small Jewish minority (10,000) and a small area around Jerusalem was to be under international control.

The Zionist leadership accepted the partition plan publicly, but with the clear intention of working against it, understandably so, since it was impossible to establish a Jewish state in an area where nearly 50% of the population was Arab. “Transfer” of Arabs was necessary in order to establish a viable Jewish state. That’s what happened in the months before and after the declaration of the state of Israel in May 1948. The territory allocated to the Jewish state was expanded to include more than 78% of mandate Palestine and around 750,000 Palestinians were expelled into the rest of Palestine and the surrounding Arab states, where they and their descendants live today. That is how a viable Jewish state was established in Palestine in 1948.

* * * * *

The transfer of the Arab population out of Palestine was on the agenda of the Zionist movement from an early stage – since its presence got in the way of the establishment of a Jewish state. One of the movement’s liberal thinkers, Leo Motzkin, put it this way in 1917:

“Our thought is that the colonization of Palestine has to go in two directions: Jewish settlement in Eretz Israel and the resettlement of the Arabs of Eretz Israel outside the country. The transfer of so many Arabs may seem at first unacceptable economically, but is nonetheless practical. It does not require too much money to resettle a Palestinian village on another land.” (The Motzkin Book, p 164)

David Ben-Gurion was the leader of the Zionist movement from the mid 1920s and the first Prime Minister of Israel. He told a meeting of the Jewish Agency Executive on 12 June 1938:

“I am for compulsory transfer. I see nothing immoral in it.”

It should be said that Zionist leaders were not alone in denying the Palestinians’ right to live in the land of Palestine. Here is an extract from evidence by a famous Briton to the Peel Commission in 1937:

“I do not agree that the dog in a manger [the Palestinians] has the final right to the manger even though he may have lain there for a very long time. I do not admit that right. I do not admit that a great wrong has been done to the Red Indians of America or the black people of Australia. I do not admit that a wrong has been done to these people by the fact that a stronger race, a higher-grade race, a more worldly wise race, has come in and taken their place.”

The author was Winston Churchill. In his eyes, the native peoples of America and Australia, and Palestine, were lesser breeds, whose “place” could be taken over by superior breeds.

* * * *

The Zionist project did not stop at the 1949 armistice line, the so-called Green Line. Since the Six-Day War in 1967, Israel has occupied the rest of mandate Palestine – the Gaza Strip and the West Bank, including East Jerusalem – and continued its colonising mission in these areas. Today, there are nearly 500,000 Jewish settlers on confiscated Arab land in the Occupied Territories.

Israel has ignored Security Council resolutions demanding that it cease colonising the Occupied Territories. Colonising occupied territory is contrary to the Fourth Geneva Convention, Article 49, paragraph 6 of which states:

“The Occupying Power shall not deport or transfer parts of its own civilian population into the territory it occupies.”

Shamefully, the Security Council has not taken any enforcement action – economic sanctions, for example – to compel Israel to implement these resolutions. This is in stark contrast to the Security Council’s action in respect of, for example, Iraq and Iran.

(Israel is in violation of over 30 Security Council resolutions that require action by it alone, for example, resolutions 252, 267, 271 and 298 that require it to reverse its annexation of East Jerusalem, resolution 487 that calls upon it to place its nuclear facilities under IAEA supervision, resolution 497 demands that Israel reverse its annexation of the Golan Heights that belong to Syria, as well as resolutions 446, 452 and 465 that demand it cease settlement building. The Security Council has taken no enforcement action in respect of any of these.)

* * * *

The Zionist colonisation of Palestine, undertaken with the support of the West, has brought endless suffering to the Arab people of Palestine and deprived them of the enjoyment of their land. Had it not been for the Zionist colonisation, there would be no conflict in Palestine. Yet, remarkably, the colonisers are constantly portrayed in the Western media as the victims of Palestinian aggression.

A settlement in Palestine requires a recognition that an historic wrong has been done to the Arab people of Palestine and that appropriate redress has to be made.

Source: The Village Magazine, Ireland’s Current Affairs Website. (Hat tip from Brenda at Friends of Lebanon).


source: http://www.uruknet.info/?p=m43918&hd=&size=1&l=e

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »