Muslim in Suffer

Bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem. Assalamu\’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh!

Sebutan Kiyai

Posted by musliminsuffer on July 18, 2008

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

Sebutan Kiyai
vikar

Gelar Kiyai, KH, Kiai atau kiyahi semakin membudaya di Indonesia yang sangat diidentikkan dengan islam. Di satu sisi, gelar tersebut dapat dijadikan kebanggaan sebagai alat dan sarana dalam penyiaran islam, di sisi lain, gelar tersebut pun dapat dijadikan sebagai senjata penghancur islam, untuk itu perlu kiranya saya tulis sedikit tentang gelar kiyai tersebut agar tidak terjadi kesalahfahaman antara islam dan muslim.

Pengertian Kiyai

Dalam buku “Kiai Penghulu Jawa, Peranannya di Masa Kolonial”, oleh Drs H Ibnu Qoyim Isma’il MS menjelaskan sebagai berikut:

“Di tengah perkembangan masyarakat Indonesia pada umumnya dijumpai beberapa gelar sebutan yang diperuntukkan bagi ulama. Misalnya, di daerah Jawa Barat (Sunda) orang menyebutnya “Ajengan”, di wilayah Sumatera Barat disebut “Buya”, di daerah Aceh dikenal dengan panggilan “Teungku”, di Sulawesi Selatan dipanggil dengan nama “Tofanrita”, di daerah Madura disebut dengan “Nun” atau “Bendara” yang disingkat “Ra”, dan di Lombok atau seputar daerah wilayah Nusa Tenggara orang memanggilnya dengan “Tuan Guru”.

Khusus bagi masyarakat Jawa, gelar yang diperuntukkan bagi ulama anatara lain “Wali”. Gelar ini biasanya diberikan kepada ulama yang sudah mencapai tingkat yang tinggi, memiliki kemampuan pribadi yang luar biasa. Sering pula para wali ini dipanggil dengan “Sunan” (Susuhunan) seperti halnya para raja. Gelar lainnya ialah “Panembahan”, yang diberikan kepada ulama yang lebih ditekankan pada aspek spiritual, juga menyangkut segi kesenioran, baik usia maupun “nasab” (keturunan). Hal ini untuk menunjukkan bahwa sang ulama tersebut mempunyai kekuatan spiritual yang tinggi.

Selain itu, terdapat sebutan “Kiai”, yang merupakan gelar kehormatan bagi para ulama pada umumnya. Oleh karena itu, sering dijumpai di pedesaan Jawa panggilan “Ki Ageng” atau (Ki Gede), juga “Kiai Haji”.

Gelar Kiai sebenarnya cukup terhormat. Namun di zaman kini, banyak para Kiai yang sangat diragukan gelarnya lantaran lakon Kiyai yang sebenarnya tidak sesuai dengan gelar kehormatan itu bahkan brutal dan bertentangan dengan nilai-nilai islam, seperti memperkosa muridnya, menjilat penguasa ataupun sebagai provokator terhadap ummat. Akibatnya malah merusak citra islam itu sendiri, sehingga perlu kiranya dipertanyakan kembali, apa sebenarnya Kiyai itu, dan apa pula kriterianya.

Untuk menjawab pertanyaan semacam itu, di samping sudah kita ketahui uraian di atas, perlu pula kita simak jawaban yang muncul dari kalangan ulama sendiri tentang julukan Kiai itu. Di antaranya apa yang dikemukakan oleh Prof.Dr.Hamka dalam menjawab pertanyaan orang tentang Kiyai Dukun. Di dalam hal ini Hamka menulis:

“…kami menyerukan kepada penanya dan saudara-saudara yang berminat agar kiranya carilah Kiyai-kiyai yang benar-benar mengerti soal agama Islam dengan aneka rangkaian ajarannya, di antaranya tentang ayat-ayat yang boleh dijadikan do’a-doa untuk menolak penyakit, lalu pelajari sehingga bisa jadi tabib untuk diri sendiri. Karena kalimat Kiyai itu bukanlah artinya semata-mata untuk orang yang benar-benar telah mengerti Agama Islam dengan segala cabangnya.

Ada Kiyai berarti Guru Agama Islam yang telah luas pandangannya.

Ada Kiyai berarti pendidik, walaupun pendidik Nasional. (Kalau yang dimaksud Hamka itu misanya Ki Hajar Dewantara, maka biasanya disebut Ki, bukan Kiyai, tetapi sebutan Ki itu kadang juga sama dengan Kiyai, seperti Ki Dalang itu sama dengan Kiyai Dalang).

Ada Kiyai berarti Pak Dukun.

Di Kalimantan, Kiyai (sebelum perang) berarti “District-hoofd” (Wedana).

Di Padang (sebelum perang), Kiyai artinya “Cino Tuo” (Orang Tionghoa yang telah berumur).

Gamelan Sekaten di Yogya bernama Kiyai Sekati dan Nyi Sekati.

Dalang yang ahli disebut Ki Dalang, atau Kiyai Dalang.

Bendera Keramat yang dikeluarkan setiap ada bala bencana mengancam dalam negeri Yogyakarta bernama Kiyai Tunggul Wulung.

Meskipun Hamka mampu menjelaskan kegunaan kata Kiyai seperti tersebut di atas, namun dia terus terang mengungkapkan, “kami tidak tahu dari Bahasa apa asalnya kata Kiyai. Tetapi kami dapat memastikan bahwa kata itu menyatakan “Hormat” kepada seseorang. Cuma kepada siapa penghormatan Kiyai itu harus diberikan, itulah yang berbeda-beda menurut kebiasaan suatu negeri dan daerah.

A. Di seluruh pulau Jawa yang terdiri dari tiga suku besar, yaitu Jawa, Sunda, dan Madura ditambah dengan Palembang, kata Kiyai digunakan untuk menghormati seseorang yang dianggap Alim, Ahli Agama dan disegani.

B. Di Kalimantan Selatan (Banjarmasin dan sekitarnya) sebelum perang, gelar Kiyai adalah pangkat yang tertinggi bagi Ambtenaar Bumiputera. Sama dengan pangkat Demang di Sumatera. Ada Kiyai kelas I, kelas II dan ada yang disebut Asisten Kiyai yang sama dengan Asisten Demang.

C. Di Sumatera Barat, yaitu di kota-kota yang banyak didiami orang Cina (Padang, Pariaman, Padang Panjang, Bukittinggi, Payakumbuh) dan pesisir Selatan, gelar Kiyai diberikan kepada Cina yang telah tua dan dihormati. Biasanya janggut beliau dipanjangi. Di tahun 1916 telah didapati seorang Cina tua di kampung Cina Padang Panjang disebut orang Kiyai Makh Thong.

D. Kata-kata ini terdapat juga di Thailand (Siam), Ulama yang besar-besar dihormati di sana dalam kalangan orang Islam dalam menyebutnya (Guru Kriyai).

Setelah kita mengetahui penjelasan Hamka itu, perlu disebutkan pula di sini bahwa masih ada pula sebutan Kiyai untuk hal-hal lain, di antaranya adalah keris atau tombak di Kraton Solo, bahkan Kiyai itu untuk menjuluki kerbau. Di Kraton Solo Jawa Tengah ada kerbau yang disebut Kiyai Slamet, yaitu kerbau yang dianggap keramat oleh orang-orang (yang tentu saja batil menurut Islam). Kebo (kerbau) yang dijuluki Kiyai Slamet itu dilepaskan secara bebas ke mana-mana setiap malam 1 Muharram, yang disebut tanggal satu Syuro. (Bulan Muharram di Jawa disebut Syuro, mungkin karena di dalam bulan Muharram itu ada hari yang penting pada hari kesepuluh, namanya “Asyura”, hari kesepuluh Muharram, yang dalam Islam termasuk hari disunnahkannya puasa). Hingga kerbau yang dinamai Kiyai Slamet itu ke mana saja tidak diusik, bahkan sampai memakan dagangan sayuran dan sebagainya pun tidak diapa-apakan, karena menurut kepercayaan “takhayul” (yang menyimpang dari Islam), kerbau itu ketika makan dagangan tersebut dianggap justru akan “ngrejekeni” (memberi rizki atau memberkahi). Jadi Kiyai yang berupa kerbau itu telah dianggap sebagai makhluk keramat, yang tentu saja hal itu merupakan satu jenis penyimpangan yang nyerempet-nyerempet kemusyrikan.

Siapakah yang berhak memberi dan dijuluki Kiyai?

Hamka pun tidak menentukan, siapa yang berhak menjuluki dan dijuluki Kiyai terhadap aneka macam tersebut di atas. Hamka menjawab pertanyaan orang yang ingin tahu, siapa yang berwenang menjuluki Kiyai, sebagai berikut:

“Nampaknya tidak ada suatu ketentuan tentang siapa yang berwenang memberikan gelar Kiyai. Apabila telah bisa disebut Kiyai, lekat sajalah gelar itu. Lantikannya yang tertentu tidak ada. Oleh sebab memberi gelar Kiyai itu tidak ada peraturannya yang tertentu dan hanya menurut kesukuan orang saja dan diterima masyarakat, maka dipanggil orang Kiyai juga menurut kebiasaan orang Jawa.”

Jawaban Hamka itu dikemukakan pada tahun 1963. Pada tahun-tahun itu dan sebelumnya, ulama Jakarta atau Betawi biasanya disebut dengan Guru, misalnya Guru Mughni di Kuningan Jakarta, Guru Marzuki di Jatinegara, Guru Udin (Zainuddin) di Kalibata Pulo, Guru Amin di Kalibata dan sebagainya. Baru belakangan terbiasa menyebut ulama dengan nama Kiyai yang kadang-kadang disingkat jadi KH (Kiyai Haji) di antaranya Kiyai Abdullah Syafi’i, menurut orang kampung Bali (Matraman) sebutannya Kiyai Duloh, yang kemudian terkenal lewat radionya-As-Syafi’iyah, demikian pula Kiyai Thahir Rahili dengan radionya At-Thahiriyah di Kampung Melayu, kedua-duanya memiliki pesantren dan perguruan Islam. Selanjutnya ulama Betawi juga disebut Kiyai, di antaranya Kiyai Syafi’i Hazami, yang memang ulama terkemuka di kalangan masyarakat Betawi. Hanya saja sebutan Kiyai belum tentu lekat pula pada ulama Betawi. Contohnya, seorang ulama alumni Timur Tengah, yang kitab-kitabnya di antaranya tentang Madzhab Imam Syafi’i menjadi rujukan di Universitas Al-Azhar Mesir, yaitu Dr HA Nahrawi Abdus Salam (rumahnya dekat Masjid Al-Munawar Jl Raya Pasr Mingu Pancoran Jakarta Selatan) jarang disebut Kiyai. Bahkan lebih sering dipanggil Doktor saja.

Dari sini bisa difahami bahwa sebutan Kiyai untuk ulama sebenarnya di kalangan kaum Betawi kurang membudaya. Hanya saja dalam perkembangannya sebutan Kiyai itu memasyarakat pula sejak pemerintahan Soeharto yang sejak awal tampak menonjolkan budaya Jawa terutama yang berbau Kejawen, hingga nama ruangan-ruangan di gedung DPR/MPR pun diganti dengan nama dari bahasa Jawa Kuno atau bahkan Sansekerta dari India atau Hindu. Misalnya ruang Wirashaba dan sebagainya yang sulit dimengerti oleh masyarakat. Maka istilah Kiyai untuk sebutan ulama pun yang asalnya hanya dipakai di Jawa lalu dinasionalkan atau menjadi istilah nasional. Dan tampaknya budaya “munduk-munduk” (sangat hormat bahkan takut) terhadap Kiyai yang budaya itu merata di Jawa rupanya menular pula kepada masyarakat selain Jawa, termasuk Betawi, Sulawesi selatan dan daerah lainnya, sehingga julukan Kiyai itu tidak ditolak oleh ulama yang dijulukinya.

Setelah julukan Kiyai itu memasyarakat pula di masyarakat selain Jawa, termasuk pula Betawi, lalu tumbuh gejala, keturunan Kiyai yang kemudian mengimami masjid atau apalagi memimpin pesantren maka disebut Kiyai pula, walaupun ketika bapaknya dulu masih hidup, si anak Kiyai itu tidak pernah disebut Kiyai muda, tetapi begitu bapaknya wafat, maka dia langsung dipanggil atau suka dipanggil dengan sebutan Kiyai, walaupun dari segi keilmuan maupun kegiatannya berjama’ah ke masjid tidak sebanding dengan bapaknya.

Kenyataan yang terjadi di Jawa, sangat berbeda dengan di daerah lain. Di Jawa gelar kiai sangat mudah didapatkan, bahkan ada juga yang menggelari diri sendiri yang kemudian gelar tersebut sah sebagai gelarnya karena kebiasaan orang sekeliling memanggilnya denga gelarnya, ataupun didapati melalui warisan dari orang tuanya tanpa memperhatikan mutu yang ada. Di daerah lain hal ini sangat berbeda meski gelar tersebut telah membudaya, seperti halnya di Sulawesi Selatan gelar kiyai haruslah memenuhi kriteria yang ada, dengan kata lain, untuk mendapatkan gelar tersebut, masyarakat dan ulama setempat memberikan kriteria yang harus dipenuhi, barulah ia digelari kiyai, seperti kiyai H. Ambo Dalle dan yang lainnya. Perbedaan ini dengan jelas dapat dilihat dari jumlah kiyai yang ada di pulau Jawa yang jumlah kiyainya hampir sama dengan jumlah penduduknya, sedangkan di daerah lain, jumlah kiyainya masih bisa dihitung dengan sepuluh jari.

Mengapa sebagian Kiyai Munafik

Untuk menjawab pertanyaan ini, tentunya kembali kepada pribadi masing-masing baik orang yang bergelar kiyai maupun masyarakat itu sendiri dalam memahami makna gelar tersebut. Karena dalam islam, semua orang akan mempertanggungjawabkan gelar, julukan dan panggilannya di hadapan Allah SWT. Jika seorang yang digelari kiyai, namun sikap dan perbuatannya bertentangan dengan nilai-nilai islam, bisa saja dia mengartikan gelar kiyai yang ada di bahunya sebagai kerbau yang bebas untuk berbuat atau sebagai power untuk menundukkan masyarakat. Hal ini pun bukan berarti kesalahan sepenuhnya ada pada diri kiyai, melainkan kesalahan itu pun ada pada masyarakat sendiri yang terlalu mengagung-agungkan gelar kiyai, karena gelar tersebut bisa diibaratkan seperti halnya hantu, jin dan sebagainya. Manakala masyarakat dan orang-orang mengagung-agungkan dan sangat percaya pada hantu, jin dan setan, maka dengan sendirinya hantu dan jin semakin dekat dan nyata bagi mereka.

Berbeda halnya dengan orang-orang yang menyadari gelar yang mereka pakai dan akan mempertanggungjawabkannya kelak dihadapan masyarakat maupun Tuhan. Pasti dengan sendirinya tanda-tanda ketakwaannya akan menghalanginya untuk menggunakan gelar tersebut apabila belum siap untuk mempertanggungjawabkannya, namun apabila pengetahuannya yang luas serta cukup dalam mengemban gelar, dengan sendirinya gelar tersebut akan benar-benar melekat pada diri dan segala perbuatannya sebagai kudwa hasanah kepada orang lain, itulah yang berhak dan digelari oleh masyarakat sebagai kiyai yang islami.

Sebagian ulama bahkan tidak menggunakan gelar kiyai padahal pengetahuannya sangat luas bahkan telah menulis berbagai buku baik dalam tafsir dan lainnya, maka sangat baguslah orang-orang yang konsisten, dan tidak mau disebut atau menyebut dirinya Kiyai. Sebagaimana Hamka, Prof Dr H Mahmud Yunus dan lain-lain, mereka adalah ulama terkemuka dan menulis tafsir serta kitab-kitab Islam namun tidak disebut Kiyai, serta tidak menyebut dirinya Kiyai. Walaupun secara keilmuan maupun akhlaknya, mereka adalah ulama, alim agama.

Bukan berarti menafikan pengetahuan kiyai-kiyai yang lain, melainkan ketakwaan dan buah keimanan mereka yang harus dipertanyakan. Amerika dan negara maju lainnya adalah sumber ilmu pengetahuan, namun hidayah dari pengetahuan itulah yang diragukan. Seandainya para ulama yang kini digelari Kiyai itu ikhlas mencopot gelar Kiyainya dan tak mau lagi disebut Kiyai, maka biar sekalian ketahuan bahwa Kiyai yang masih rela disebut Kiyai adalah Kiyai Dukun saja. Namun karena hal tersebut telah mendarah daging, maka yang perlu digarisbawahi bahwa kiranya ulama-ulama Indonesia perlu kiranya menentukan kriteria dan syarat-sayarat mutlak yang harus dipenuhi oleh orang yang dijuluki kiyai agar kiranya lebih nampak perbedaan yang jelas antara kiyai dan ulama dan tidak mencemarkan nama baik islam. Ataupun kesadaran masyarakat dalam memanggil dan menggelari seorang sebagai kiyai kiranya harus lebih mengetahui lebih dalam tentang sesorang yang akan dipanggil dan digelari kiyai.

sumber : http://clearblogs.com/tulis/7799/Mengapa+Kiyai+Munafik%3F.html

===

-muslim voice-
______________________________________________

BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: