Muslim in Suffer

Bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem. Assalamu\’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh!

Memperingati Tragedi Bom Bali, Pembantaian Muslimin di Tobelo-Galela dan Pesantren Walisongo

Posted by musliminsuffer on October 20, 2008

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

Memperingati Tragedi Bom Bali, Pembantaian Muslimin

di Tobelo-Galela dan Pesantren Walisongo

Oleh Ir. H. Muhammad Umar Alkatiri

Tanggal 12 Oktober 2002, tepat satu tahun lebih satu bulan lebih satu hari setelah peristiwa 11 September 2001 (atau biasa dikenal dengan sebutan WTC 911 yang terjadi di Amerika Serikat), terjadi ledakan dahsyat di Bali. Tiga tahun kemudian, 01 Oktober 2005, terjadi lagi ledakan di pulau yang sama dengan titik lokasi kejadian berbeda.

Bila diperhatikan jarak Bom Bali pertama dengan kedua berselang tiga tahun, ada yang mengkhawatirkan jangan-jangan di tahun 2008, khususnya di bulan Oktober ini, akan terjadi ledakan serupa di pulau yang sama. Namun Alhamdulillah, sampai saat tulisan ini dibuat, kejadian seperti tahun 2002 dan 2005 itu tidak terjadi.

Bali sejak awal 1970-an telah menjadi pulau pariwisata. Namun, industri pariwisata yang berkembang di Bali sama sekali tidak bertitik tolak dari eksotika budaya Bali, tidak sekedar menjual keindahan Bali dengan segala kehidupannya yang bernapaskan Hindu. Tetapi, pariwisata di Bali adalah industri yang menjajakan seks bebas, drug, narkoba, perjudian, dan segala bentuk maksiat lainnya. Di samping itu, industri pariwisata di Bali tidak menghormati tempat-tempat suci umat Hindu Bali. Contohnya, laut menuju Pulau Serangan dengan Pura Sakenan warisan Danghyang Nirartha ditimbun investor, sehingga orang Bali tidak lagi bisa berkunjung untuk menjalani ritual ke Pura Sakenan. Selain itu, di seberang Pura Tanah Lot dibangun lapangan golf dan hotel mewah Nirwana Resort.

Ironisnya lagi, kontribusi dunia pariwisata terhadap upaya pemeliharaan tempat-tempat suci orang Hindu di Bali, amat tidak signifikan. Barangkali, inilah hasil yang dipetik dari diterapkannya pluralisme dan toleransi ala Bali sejak 1970-an.

Bahkan di Bali ada café khusus yang hanya boleh dimasuki wisatawan asing. Untung saja di café tersebut pada pintu masuknya tidak tertulis pesan berupa: Khusus Turis Mancanegara, Pribumi dan Anjing Dilarang Masuk! Dari Bali, seharusnya kita sudah bisa melihat dan merasakan betapa harga diri bangsa kita direndahkan, dengan alasan menghormati tamu (turis mancanegara) yang menyumbangkan devisa. Anak-anak bangsa kita menjadi pelayan bagi turis-turis mancanegara yang sebagian besar di negara asalnya hanya berasal dari kelas sosial rendahan, seperti sopir truk dan sejenisnya.

Kalau tragedi Bom Bali merupakan reaksi sebagian orang atas nama mujahid Islam terhadap kasus pembantaian di Tobelo-Galela (dan Maluku pada umumnya), juga merupakan reaksi terhadap aksi pembantaian di Pesantren Walisongo (dan Poso pada umumnya), mengapa Bali yang dijadikan pilihan? Bukankah di Bali penganut agama Kristen-Katholik hanya minoritas belaka? Bukankah di Bali mayoritas penduduknya beragama Hindu?

Kalau yang dijadikan alasan adalah melawan Amerika, mengapa korban yang jatuh kebanyakan warga Australia? Pada Bom Bali pertama, korban terbesar berasal dari Australia, dan hanya sekitar 7 orang saja yang warga negara Amerika Serikat. Pada Bom Bali kedua, dari 20 korban tewas, lima belas di antaranya adalah warga negara Indonesia; sedangkan dari seratus lebih korban luka-luka, sebagian besar (atau sekitar 67 orang) berasal dari Indonesia. Warga negara Amerika Serikat yang luka-luka hanya empat orang.

Kalau yang dijadikan alasan adalah melawan Amerika dan sekutunya, seharusnya ledakan bom itu di sana: di Amerika, di Australia, di Inggris, dan sebagainya. Bukan di Bali!

Mengapa Bali? Apakah karena para pelaku Bom Bali itu begitu ‘terkesan’ dengan sikap orang Bali yang sedikit-sedikit gemar mengumbar ancaman kosong berupa akan memisahkan diri dari NKRI? Apakah ini menunjukan bahwa orang Bali tidak loyal kepada NKRI, sehingga perlu diberi ‘pelajaran’ menurut pandangan para pelaku Bom Bali? Wallahu’alam.

Mengumbar ancaman

Masih ingat ketika orang Bali pada Januari 2000 turun ke jalan dan mengumbar ancaman akan memisahkan diri dari NKRI, ‘hanya’ karena AM Saefudin mempertanyakan agama Megawati yang –sebagaimana diberitakan The Jakarta Post– terlihat sedang bersembahyang di salah satu Pura di Bali?

Megawati yang beragama Islam bersembahyang di Pura, tentu merupakan sembahyang politik. Artinya Megawati telah dengan sengaja mempolitisasi sembahyang (ritual agama Hindu) untuk kepentingan politiknya, yaitu dalam rangka mencari simpati masyarakat Bali untuk memilih partainya.

Berdasarkan logika akal sehat, seharusnya masyarakat Hindu di mana pun berada –terutama yang berada di Bali– marah kepada Megawati, karena ritual keagamaannya dimain-mainkan oleh politisi. Namun kenyataannya, orang Bali justru marah kepada AM Saefudin, dan bahkan mengumbar ancaman mau memisahkan diri dari NKRI. Ancaman serupa itu juga terjadi di tahun 2006 dan 2008 demi menolak RUU APP yang kini menjadi RUU Pornografi.

Orang Bali menolak RUU APP (atau RUU Pronografi), dengan alasan demi menjaga keragaman dan kesatuan yang ada pada bangsa Indonesia, sekaligus untuk melawan pemaksaan kehendak kelompok Islam karena RUU Pornografi itu dinilai membawa aspirasi agama tertentu (Islam). Benarkah demikian?

Faktanya, pada semester kedua tahun 2006, terjadi kasus pemaksaan mengucapkan salam dengan tata cara agama Hindu terhadap anggota DPRD Bali beragama Islam (dari PPP), sebagaimana dilakukan oleh I Made Kusyadi dari Fraksi PDIP. Kusyadi ketika itu berdalih, bahwa salam Hindu sedang diperjuangkan anggota DPD asal Bali menjadi salam nasional. Alasan ini jelas mengada-ada, karena sejauh ini tidak ada satu bentuk salam dari agama tertentu yang sedang diperjuangkan menjadi salam nasional. Tindakan Kusyadi merupakan bentuk nyata dari politisasi agama, dan menunjukkan bahwa politisi kader PDIP itu belum dewasa, cenderung sektarian dan arogan.

Kalau Bali benar-benar memisahkan diri dari NKRI, apakah akan lebih baik lagi keadaannya? May be yes, may be no. Soalnya, pada saat masih menjadi bagian dari NKRI saja, orang Bali seperti koeli di kampungnya sendiri. Bagaimana kalau mereka berpisah dari NKRI? Apalagi, ketergantungan Bali terhadap orang-orang di luar Bali begitu tinggi. Pelaku bisnis di Bali, sebagian besar berasal dari luar Bali. Termasuk pelaku bisnis di kaki lima dan pasar tradisional, sebagian berasal dari luar Bali (terutama Jawa dan Lombok). Bahkan, untuk memenuhi keperluan ritualnya, pasokan janur, telur bebek (itik), kelapa dan berbagai kembang dipasok dari Jawa Timur. Jika Bali berpisah dari NKRI, jangan-jangan nasibnya tidak lebih baik dari Timor Timur (Timor Leste).

Pada harian BERITA KOTA edisi 17 Maret 2006 (halaman 5), seorang putra Bali yang berdomisili di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, menuliskan opininya berjudul Bali Bukan Pulau Maksiat, sebagai berikut:

BAGI mereka yang masih ingat pelajaran sekolah dasar (SD), khususnya tentang Bali, pastilah masih terngiang dengan istilah Subak, yaitu sistem pengairan sawah berjenjang khas Bali yang menjadi salah satu nilai tambah orang Bali.

Pada dasarnya masyarakat Bali adalah agraris sekaligus artistik. Sawah dan kesenian adalah ciri khas Bali.

Sebelum Orde Baru lahir, Bali mulai mengalami penjajahan kultural, yang menggeser kebiasaan masyarakatnya dari bertani dan berkesenian menjadi pelayan orang asing dengan kedok pariwisata.

Neokolonialisasi yang dialami rakyat Bali justru dianggap sebagai berkat terselubung, baik oleh petinggi agama Hindu, tokoh adat, maupun rakyat pada umumnya. Karena faktor dolar, maka penjajahan bentuk baru ini justru dinikmati dan disyukuri karena dapat menjadi sumber pendapatan utama kawasan Bali.

Rakyat Bali yang sudah tergadaikan harga dirinya ini, masih pula bersikap sombong, yaitu gemar menebarkan ancaman mau memisahkan diri. Padahal, jika Bali lepas dari NKRI, akan semakin leluasa dijadikan obyek eksploitasi dan perbudakan oleh bangsa asing. Sekian dasawarsa telah membuktikan bahwa masyarakat Bali sangat mudah ditaklukkan (dijajah), setidaknya berupa penjajahan kultural melalui pariwisata.

Pariwisata yang lekat dengan maksiat, memang kawasan yang mudah mendatangkan uang. Tanpa kerja keras, dolar mengalir deras. Masyarakat Bali seperti artis muda yang sedang laris, uang datang dengan mudah sehingga lupa diri dan hidup berfoya-foya.

Kelak, Bali akan memasuki usia tua dan sakit-sakitan sehingga tidak diminati turis. Misalnya, akibat diterjang bencana alam yang dahsyat atau penyakit kotor yang mematikan sebagai dampak negatif dari industri pariwisata.

Bagi para tetua Bali, kerinduan akan Bali yang agraris adalah kerinduan yang tak mungkin terwujud. Kini, masyarakat Bali lebih senang dan bangga menjadi pelayan orang asing, lebih senang hidup dan menjadi bagian dari industri maksiat. Padahal, asal-muasal Bali bukanlah Pulau Maksiat tapi Pulau Dewata. (Putu Yasa, Pasar Minggu, Jakarta Selatan)

Namun demikian, memang sangat pantas bila orang Bali marah kepada Ali Ghufron bin Nurhasyim alias Mukhlas, Amrozi bin Nurhasyim, Imam Samudra alias Abdul Azis, dan Ali Imron bin Nurhasyim alias Ale. Mungkin orang Bali menghendaki agar eksekusi mati atas diri mereka segera dilaksanakan.

Tapi, mohon dimengerti juga bila ada orang Bali yang justru ‘berterimakasih’ kepada mereka, karena sakit hatinya terlampiaskan. Sakit hati yang timbul karena salah seorang anak mereka pernah menjadi korban pengidap paedophilia. Sakit hati yang ditimbulkan oleh rasa kesal dan benci karena tempat-tempat suci mereka diinjak-injak turis asing. Sakit hati yang timbul karena anak-anak mereka menjadi kurir narkoba, pengguna narkoba, dan sebagainya.

Orang Bali yang bersikap seperti itu memang amat sangat sedikit sekali alias minoritas. Nah ini merupakan kesempatan bagi para pendukung minoritas seperti Gus Dur untuk membela mereka. Soalnya, Gus Dur khan selama ini selalu mencitrakan diri sebagai pendukung minoritas, antara lain Ahmadiyah. Pada 4 Mei 2008, ketika sejumlah wartawan bertanya mengapa ia membela Ahmadiyah, Gus Dur mengatakan, “Karena mereka kaum minoritas yang perlu dilindungi dan saya tidak peduli mengenai ajarannya.” (lihat tulisan berjudul Gus Dur Bela Ahmadiyah Berdalih karena Minoritas edisi May 8, 2008 1:10 am).

Tak berapa lama kemudian, Gus Dur pun mendapat penghargaan dari Mebal Valor, sebuah LSM (lembaga swadaya masyarakat) yang berbasis di Los Angeles. Siapa tahu kali ini pun Gus Dur bisa mendapat hadiah serupa setelah membela minoritas Bali yang justru ‘berterimakasih’ kepada Amrozi cs karena telah melampiaskan rasa sakit hatinya. Untuk lebih afdholnya, Gus Dur juga sebaiknya membela Amrozi cs, karena mereka itu juga minoritas. Faktanya, mayoritas penduduk Indonesia berprofesi sebagai petani dan nelayan, hanya sedikit saja (minoritas) yang berprofesi sebagai pelaku pemboman. “Belain mereka juga dong, Gus…”

Bom Bali Pertama

Bom Bali Pertama yang terjadi pada hari Sabtu tanggal 12 Oktober 2002, sekitar pukul 23.10 WITA, selain menelan 202 korban jiwa, juga menyebabkan sekitar 350 orang lainnya mengalami luka-luka berat dan ringan. Ketika itu, terjadi tiga ledakan sekaligus, dua diantaranya terjadi di jalan Legian, Kuta (Bali), satu lainnya di Renon dekat Konsulat AS (jalan Raya Puputan).

Ledakan yang terjadi di jalan Legian, khususnya di Paddy’s Pub dan Sari Club, menyebabkan kedua bangunan tersebut porak poranda, dan beberapa bangunan di sekitarnya rusak berat dan ringan. Menurut cacatan pihak kepolisian, korban terbesar berasal dari Australia (sekitar 83 orang), diikuti dengan Indonesia (sekitar 37 orang), WN Inggris (sekitar 28 orang). Untuk mengenang tragedi ini, dibuat sebuah ‘bangunan bersejarah’ yang diberi nama Monumen Ground Zero di Legian, Kuta, Bali.

Dari kasus Bom Bali Pertama ini, aparat kepolisian menetapkan tersangka utama yang terdiri dari 4 orang, yaitu Ali Ghufron bin Nurhasyim alias Mukhlas (kelahiran Tenggulun, Solokuro, Lamongan, Jawa Timur tanggal 02 Februari 1960), divonis Hukuman Mati; Amrozi bin Nurhasyim (kelahiran Tenggulun, Solokuro, Lamongan, Jawa Timur tanggal 05 Juni 1962), divonis Hukuman Mati; Imam Samudra alias Abdul Azis (kelahiran Serang, Banten tanggal 14 Januari 1970), divonis Hukuman Mati, dan Ali Imron bin Nurhasyim alias Ale (kelahiran Tenggulun, Solokuro, Lamongan, Jawa Timur tanggal 02 Januari 1979), divonis Penjara Seumur Hidup. Persidangan atas diri mereka sudah berlangsung sejak 12 Mei 2003.

Genap setahun setelah terjadinya tragedi Bom Bali pertama, 12 Oktober 2003, diadakan peringatan, yang tidak hanya berlangsung di Bali, tetapi antara lain di Inggris. Bisa dibaca, korban Bom Bali pertama dari Inggris menduduki peringkat ketiga setelah Australia dan Indonesia, yaitu mencapai 28 orang korban. Sedangkan warga negara Amerika yang menjadi korban mencapai 7 orang (peringat ke-4).

Di Inggris, Menteri Luar Negeri Jack Straw (kala itu) bergabung bersama sekitar 800 orang di Gereja St Marin, London, memperingati satu tahun tragedi Bom Bali. Peringatan setahun Bom Bali kala itu diorganisir Kelompok Korban Bom Bali (BBVG) di Inggris. Mereka selain menyanyikan himne, pembacaan puisi, menaburkan mawar putih, juga menyalakan lilin-lilin di halaman gereja, serta menerbangkan sebanyak 202 balon sebagai representasi dari korban yang meninggal. Tidak hanya Jack Straw, acara itu juga dihadiri oleh Duke of Kent sebagai wakil Ratu Inggris, dan Menteri Kebudayaan Tessa Jowell.

Pada peringatan tahun keempat tragedi Bom Bali pertama, Pangeran Charles (putra mahkota kerajaan Inggris) meresmikan tugu peringatan di St James Park, Westminster, London, Kamis (12 Okt 2006). Peresmian itu diawali dengan pembacaan sambutan oleh Menteri Negara urusan Budaya Media dan Olahraga Tessa Jowell, yang antara lain mengatakan bahwa tugu peringatan tersebut merupakan ungkapan rasa kepedihan dan kesetiakawanan.

Setiap tahun, tragedi Bom Bali pertama ini diperingati tidak hanya di sekitar Monumen Ground Zero yang terletak di Legian, Kuta, tetapi juga di kantor Konsulat Australia di Denpasar. Menjelang malam 12 Oktober 2008, sekitar 100 peselancar melaksanakan peringatan serupa di Pantai Kuta, mereka melaksanakan kegiatan Peddel for Peace (dayung untuk perdamaian), pelepasan tukik dan burung merpati serta perenungan perdamaian di Pantai Kuta.

Di sekitar Monumen Ground Zero pada 12 Oktober 2008 lalu, peringatan ini ditandai dengan pemasangan lilin di sekitar monumen. Ketika itu tampak hadir Gubernur Bali I Made Mangku Pastika, yang pernah menjabat sebagai Ketua Tim Investigasi peristiwa Bom Bali Satu. Sejak pagi keluarga korban dan masyarakat maupun wisatawan asing yang sedang berada di Bali menyempatkan diri mengunjungi monumen ini untuk berdoa ataupun meletakkan karangan bunga.

Dari tragedi Bom Bali pertama ini, tidak hanya berdiri sebuah monumen, tetapi juga berdiri sebuah lembaga bernama Yayasan Paguyuban Isana (Istri Suami Anak) Dewata, yang diketuai oleh Raden Supriyo Laksono (alias Sony). Melalui paguyuban ini, pemerintah memberikan tunjangan kepada keluarga korban sampai tahun ketiga setelah peristiwa ledakan terjadi. Setelah itu, sejumlah ekspatriat asal Australia yang membentuk yayasan bernama Kuta International Disaster Scholarship (KIDS), berperan membantu kelangsungan hidup dan pendidikan anak-anak korban bom Bali. Setiap anak dipenuhi keperluannya, seperti uang komite, SPP, buku, sepatu, dan perlengkapan lainnya. Bantuan berupa uang dari KIDS diberikan setiap enam bulan sekali, dan akan berlangsung sampai anak-anak tersebut lulus kuliah.

Bom Bali Kedua

Sedangkan Bom Bali Kedua terjadi pada hari Sabtu, tanggal 01 Oktober 2005, sekitar jam 23:00 waktu setempat, di tiga lokasi sekaligus, yaitu di Kafe Menega (Jimbaran, Bali), Kafe Nyoman (Jimbaran, Bali), dan Raja’s Bar & Rest (di Kuta Square). Dari tragedi yang menewaskan 20 orang ini, sebagian besar korban (15 orang) berasal dari Indonesia, selebihnya warga negara Australia (4 orang), serta 1 warga negara Jepang.

Rabu 01 Oktober 2008, peringatan Bom Bali Kedua digelar di halaman Konsulat Australia di Bali, di Jl Mpu Tantular, Denpasar. Peringatan ini dihadiri oleh Konjen Australia Bruce Cowled, Konjen Jepang Eiichi Suzuki, Gubernur Bali Made Mangku Pastika, serta sekitar 20 korban dan keluarga korban Bom Bali Kedua asal Australia dan Indonesia ini, diliputi suasana hening diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan lagu Kebangsaan Australia. Kemudian diikuti dengan membacakan nama korban yang meninggal. Kemudian, satu per satu para konjen, korban dan keluarganya meletakkan bunga di altar.

Di bekas Raja’s Bar & Rest, peringatan Bom Bali Kedua berlangsung setiap tahun. Lokasi itu kini bernama Raja’s Kafe, dan menjadi toko pakaian. Karyawan Raja’s duduk melingkar, menyalakan lilin sambil memanjatkan doa.

Pada Bom Bali Kedua digunakan jenis bom melayang, yaitu bom bunuh diri yang dimasukkan ke dalam tas punggung, kemudian diledakkan, sehingga menghancurkan pelakunya. Sebenarnya pada kasus Bom Bali Pertama, modus ini juga dipraktekkan, yaitu di lokasi Paddy’s Café.

Oleh karena itu, pelaku utama Bom Bali Kedua ini, pada mulanya tidak bisa diidentifikasi, karena ia hancur bersama dengan bom yang dibawanya. Seiring perjalanan waktu, berhasil diidentifikasi salah satu pembawa bom melayang ini diduga bernama Salik Firdaus. Meski demikian, dari kasus ini berhasil ditetapkan empat terdakwa, yaitu Abdul Azis, Dwi Widiyarto, dan Anif Solchanudin, dan Mochamad Cholily. Tiga yang pertama dituntut Jaksa Penutut Umum (JPU) 10 tahun penjara, sedangkan Cholily dituntut lebih berat yaitu 15 tahun penjara karena terlibat langsung dalam bom Bali II.

Bila dibandingkan dengan peringatan Bom Bali Pertama, yang kedua memang kurang semarak. Mungkin karena jumlah korban tewas yang terjadi pada tragedi Bom Bali Kedua ‘hanya’ 20 orang, itu pun sebagian besar orang Indonesia sendiri. Namun demikian, masih mending bila dibandingkan dengan kasus lain yang korbannya seratus persen orang Indonesia (mayoritasnya Muslim), sebagaimana terjadi pada kasus pembantaian di Tobelo (Desember 1999-Januari 2000), dan Pesantren Walisongo (28 Mei 2000).

Meski korban pembantaian yang terjadi di Tobelo-Galela dan Pesantren Walisongo jumlahnya jauh lebih banyak dari korban Bom Bali Pertama, namun hingga kini tidak ada monumen peringatan yang didirikan di lokasi tersebut. Bahkan mungkin tidak ada paguyuban atau lembaga bantuan yang menyantuni korban di lokasi tersebut.

Bagaimana seandainya di lokasi-lokasi tempat berlangsungnya pembantaian terhadap umat Islam didirikan monumen berisikan nama-nama korban, dan dibaca setiap tahun, untuk mengingatkan kepada kita betapa kejamnya orang Kristen dan Katholik. Selain nama-nama korban, akan lebih lengkap lagi bila pada monumen peringatan itu diabadikan juga nama tokoh-tokoh yang terlibat pembantaian, termasuk Tibo cs tentunya.

Tragedi Pembantaian di Tobelo

Tobelo merupakan sebuah kota kecamatan di Maluku Utara. Tragedi pembantaian Tobelo merupakan rangkaian kasus Ambon Berdarah yang terjadi sejak 19 Januari 1999. Kasus Tobelo sendiri berlangung mulai 24 Desember 1999 hingga 7 Januari 2000. Menurut catatan Tim Investigasi Pos Keadilan Peduli Ummat, 688 orang tewas dan 1.500 dinyatakan hilang.

Tragedi pembantaian di Tobelo ini, bermula ketika Sinode GMIH (Gereja Masehi Injil di Halmahera) mengkoordinir pengungsian umat Kristen ke Tobelo, yang jumlahnya mencapai 30.000 orang, yang dilakukan secara bertahap, sejak pertengahan November hingga awal Desember 1999. Puncaknya, pada Jumat 24 Desember 1999 malam (menjelang Hari Natal 25 Desember 1999) dengan beberapa buah truk, telah diangkut ratusan warga Kristen dari Desa Leleoto, Desa Paso dan Desa Tobe ke Tobelo. Dengan alasan untuk pengamanan gereja. Warga Kristen yang diangkut tersebut menggunakan atribut lengkap (seolah-olah mau perang), seperti kain ikat kepala berwarna merah, tombak, parang dan panah.

Mengetahui gelagat yang kurang baik dari warga Kristen tersebut, umat Islam Tobelo mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Saat itu umat Islam sedang dalam suasana menjalankan ibadah shaum ramadhan. Akhirnya pada 26 Desember 1999, pecahlah pembantaian yang dikesankan adanya kerusuhan, konflk horizontal. Padahal, sebelumnya tidak ada konflik apa-apa. Tragedi ini konon dipicu oleh adanya persoalan sepele berupa pelemparan batu terhadap rumah milik Chris Maltimu seorang purnawirawan polisi. Rupanya pelemparan terhadap rumah Chris Maltimu itu dijadikan trigger untuk aksi pembantaian yang sudah dirancang sebelumnya.

Menurut Ode Kirani, warga muslim dari desa Togoliwa, kecamatan Tobelo, Halmahera, pada 27 Desember 1999, saat warga desa sedang menjalankan ibadah puasa, tanpa diduga sebelumnya ribuan masa kristen yang berasal dari desa tetangga (antara lain, Telaga Paca, Tobe, Tomaholu, Yaro, dan lain-lain) menyerang desa Togoliwa di saat subuh. Akibat serangan mendadak tersebut ribuan warga muslim di desa tersebut menemui ajal. Kebanyakan dari mereka terbunuh saat berlindung di masjid. (Ambon, Laskarjihad.or.id 16 03 2001).

Rabu, 29 Desember 1999, di Mesjid Al Ikhlas (Kompleks Pam) tempat diungsikanya para ibu dan anak-anak, terjadi pembantaian terhadap sekitar 400 (empat ratus) jiwa. Menurut penuturan saksi mata, ada korban yang sempat jatuh dicincang dan dijejerkan kepala mereka di ruas jalan. Ada juga beberapa wanita yang dibawa ke Desa Tobe (sekitar 9 KM ) dari Desa Togoliwa, kemudian dikembalikan dalam keadaan telanjang. Modus operasi yang dilakukan oleh kelompok merah mula-mula melakukan pemboman kemudian dilanjutkan dengan pembakaran, sehingga tidak ada satu pun yang lolos dari sasaran mereka.

Menurut sebuah sumber, total korban di Tobelo dan Galela mencapai 3000 jiwa, 2800 di antaranya Muslim. Namun demikian, angka yang diakui Max Marcus Tamaela yang kala itu menjabat sebagai Pangdam Pattimura adalah 771 jiwa. Meski angka itu masih jauh dari kenyataan, namun masih jauh lebih banyak dibanding dengan angka yang diakui Gus Dur yaitu ‘hanya’ lima orang saja.

Ketika pembantaian Tobelo terjadi, Gus Dur menjabat sebagai Presiden RI. Bila menurut penglihatannya korban Tobelo-Galela hanya lima orang saja, kita harus maklum. Karena, pertama, Gus Dur itu pembela kaum minoritas. Kedua, penglihatannya memang terganggu. Kala itu, Menkopolkam dijabat oleh Wiranto, dan Panglima TNI dijabat oleh Widodo AS. Sayangnya, posisi mereka saat itu tidak bisa memperbaiki kualitas penglihatan Gus Dur terhadap kasus pembantaian umat Islam di sana. Padahal mereka juga beragama Islam.

Hajjah Aisyah Aminy, SH, yang kala itu menjabat sebagai anggota Komnas HAM, menyesalkan sikap aktivis LSM yang selama ini dikenal sebagai pejuang keadilan masyarakat, namun membisu ketika umat Islam yang jadi korban. Aisyah juga menyesalkan sikap media massa yang kurang antusias memberitakan peristiwa di Maluku itu. Tapi kalau yang mati adalah teman mereka sendiri, meski hanya satu orang seperti Munir, mereka heboh bukan main dengan membawa-bawa alasan pelanggaran HAM sampai ke hadapan Bush segala.

Bila kita mendasarkan pada angka yang diakui Tamaela, yaitu 771 jiwa, jumlah itu pun masih jauh lebih banyak dari korban Bom Bali Pertama dan Kedua. Apalagi bila ditambah dengan korban pembantaian yang dilakukan Tibo cs terhadap warga pesantren Walisongo, jumlah koran Bom Bali secara keseluruhan masih jauh lebih kecil. Namun perhatian dunia, kalangan LSM, kalangan pers, dan pemerintah Indonesia sendiri, kurang hirau bahkan cenderung mengabaikan korban Tobelo-Galela dan Poso (termasuk warga Pesantren Walisongo)

Pembantaian Di Pesantren Walisongo

Pembantaian terhadap warga Pesantren Walisongo, merupakan rangkaian dari kekejaman serial yang terjadi di Poso. Kasus Poso sendiri sudah terjadi sejak 25 Desember 1998, di saat-saat umat Islam sedang menjalankan ibadah Shaum Ramadhan 1419 H. Sedangkan pembantaian terhadap warga pesantren Walisongo, berlangsung pada hari Minggu tanggal 28 Mei 2000. Hidayatullah.com dalam salah satu laporannya menuliskan:

Puluhan warga Pesantren Walisongo itu dibariskan menghadap Sungai Poso. Mereka dihimpun dalam beberapa kelompok yang saling terikat. Ada yang tiga orang, lima, enam atau delapan orang. Para pemuda digabungkan dengan pemuda dalam satu kelompok. Tangan mereka semua terikat ke belakang dengan kabel, ijuk, atau tali rafiah yang satu dengan lainnya saling ditautkan.

Sebuah aba-aba memerintahkan agar mereka membungkuk. Secepat kilat pedang yang dipegang para algojo haus darah itu memenggal tengkuk mereka. Bersamaan dengan itu, terdengar teriakan takbir. Ada yang kepalanya langsung terlepas, ada pula yang setengah terlepas. Ada yang anggota badannya terpotong, ada pula badannya terbelah. Darah segarpun muncrat. Seketika itu pula tubuh-tubuh yang tidak berdosa itu berjatuhan ke sungai.

Bersamaan dengan terceburnya orang-orang yang dibantai itu, air sungai Poso yang sebelumnya bening berubah warna menjadi merah darah. Sesaat tubuh orang-orang yang dibantai itu menggelepar meregang nyawa sambil mengikuti aliran sungai. Tidak semuanya meninggal seketika, masih ada yang bertahan hidup dan berusaha menyelamatkan diri. Namun regu tembak siap menghabisi nyawa korban sebelum mendapatkan ranting, dahan, batang pisang, atau apapun untuk menyelamatkan diri.

Itulah salah satu babak dalam tragedi pembantaian ummat Islam di Poso, Sulawesi Tengah beberapa waktu lalu. Warga Pesantren Walisongo merupakan salah satu sasaran yang dibantai. Di komplek pesantren yang terletak di Desa Sintuwulemba, Kecamatan Lage, Poso ini tidak kurang 300-an orang yang tinggal. Mulai dari ustadz, santri, pembina, dan istri pengajar serta anak-anaknya.

Tidak satupun orang yang tersisa di komplek pesantren itu. Sebagian besar dibantai, sebagian lainnya lari ke hutan menyelamatkan diri. Bangunan yang ada dibakar dan diratakan dengan tanah. Pesantren Poso hanya tinggal puing-puing belaka.

Dari tragedi pembantaian ini, aparat menetapkan tiga tersangka utama Fabianus Tibo (saat itu berusia 60), Dominggus da Silva (saat itu berusia 39), dan Marinus Riwu (saat itu berusia 48). Ketiganya menjalani hukuman mati secara serentak pada tanggal 22 September 2006, Jumat dinihari pukul 01.45 WITA. Eksekusi mati dilaksanakan di Desa Poboya, Palu Selatan oleh tiga regu tembak Brimob Polda Sulawesi Tengah.

Sebelum dieksekusi mati, Tibo cs pernah mengungkapkan peranan 16 tokoh penting Poso dan keterlibatan Majelis Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) yang berpusat di Tentena –kota kecil di tepian Danau Poso– secara langsung dalam kerusuhan Poso. Sayangnya, hingga kini mereka yang memegang jabatan di Majelis Sinode tidak pernah diperiksa polisi.

Sebuah lembaga penegakan syari’ah pada hari Rabu tanggal 14 Desember 2005, pernah mewawancarai Fabianus Tibo di Lembaga Pemasyarakatan Fetobo, dan mentranskrip pernyataan Tibo perihal keterlibatan orang-orang penting di belakang tragedi pembantaian Poso, sebagai berikut:

Supaya bapak-bapak bisa tahu bahwa inilah yang sebenarnya. Kenapa dari dulu semua pengacara kami tutup, tidak bisa kami mengungkapkan semuanya, kami tidak boleh bicara.

Sampai di kantor pengadilan pun tidak bisa kami berbicara, selalu ditekan terus. Kenapa? Karena mereka takut, karena ada yang kami akan ungkapkan semuanya itu.

Jadi, saya ingin ungkapkan, supaya bapak-bapak tahu, kenapa saya harus berada di Poso.

Karena Yanis Simangunsong, mungkin bapak-bapak sudah tahu itu nama 16 orang, Yanis Simangunsong yang datang ke Beteleme, waktu itu belum Kabupaten, masih Kecamatan Lepo. Jadi, Yanis datang ke rumah saya dia katakan, “Om, Gereja dengan Suster, Pastur, dengan anak sekolah di sana orang Islam akan bunuh semua.”

Lalu saya katakan, “Bahasamu itu kamu bisa bertanggungjawab, kalau tidak benar saya lapor polisi.” Dia katakan, “Ya, kalau om percaya atau tidak ya terserah. Tetapi saya yang katakan itu benar.”

Apa yang terjadi? Karena dia provokasi seluruh orang yang ada –sekarang sudah kabupaten ya– di Kabupaten Morowali, mulai dari Beteleme Kolongale sampai Wuku (?). Dimana di situ ada umat Kristen, di situlah Yanis Simangunsong provokasi, sehingga di sana hampir tejadi di pasar Beteleme waktu itu, karena dengan provokasinya, sehingga apa, Islam yang ada di pasar Beteleme ketakutan yang lain lari.

Selain Yanis Simangunsong, beberapa nama yang termasuk ke dalam 16 tokoh penting yang berperanan penting terhadap terjadinya pembantaian di Poso, sebagaimana disebutkan Tibo adalah: L Tungkanan, Eric Rombot, Mama Wanti, Luther Maganti, Drs. J. Santo, J. Kambotji, Drs. Sawer Pelima, Pendeta Renaldy Damanik, Paulus Tungkanan, Angki Tungkanan, Lempa Deli, Yahya Patiro (mantan Sekab Poso). Mantan Bupati Poso dua periode (1974-1984) Letkol Purn Drs. R.P.M.H Koeswandhi, Sth yang kini berdomisili di Jakarta, diduga ikut bermain api dan memanaskan situasi.

Tibo cs juga pernah menyebut beberapa nama yang disebutnya dengan panggilan “jenderal” seperti jenderal H, jenderal R dan jenderal T. Jenderal H menurut pengakuan Tibo cs berperan sebagai aktor intelektual di balik pertikaian berdarah di Poso. Sebagaimana dikatakan oleh Kaditserse Polda Sulteng (ketika itu) Superintendent Andi Ahmad Abdi, sesuai pemeriksaan terhadap Tibo dkk, ia membenarkan nama “H” disebut-sebut sebagai salah seorang konseptor penyerangan kantong-kantong permukiman muslim di lima kecamatan dalam wilayah Kabupaten Poso, termasuk di Kota Poso sendiri (lihat Antara 9 Agustus 2000, juga Kompas 10 Agustus 2000).

Dukungan Untuk Tibo cs dan Tekanan Vatikan

Sebelum akhirnya dieksekusi, Tibo cs mendapat dukungan luas dari dalam dan luar negeri. Semula, pelaksanaan hukuman mati atas Tibo cs direncanakan berlangsung Sabtu dinihari, tanggal 12 Agustus 2006 pukul 00.15 waktu setempat. Namun karena adanya surat tekanan Vatikan itu, eksekusi mati ditunda hingga 22 September 2006. Sebagaimana diakui Wakil Presiden Muhamad Jusuf Kalla, bahwa pada 12 Agustus 2006 ada surat dari Paus Benediktus XVI dan surat dari sejumlah uskup yang meminta Tibo cs tidak dieksekusi.

Faktanya, menjelang eksekusi mati Tibo cs memang banyak bermunculan berbagai suara yang berusaha menghalang-halangi dilaksanakannya ekesekusi mati bagi Tibo cs yang secara sadis dan biadab telah membantai komunitas Muslim Poso, khususnya warga Pesantren Walisongo Desa Sintuwulemba, Kecamatan Lage. Mereka memposisikan Tibo cs seolah-olah sebagai korban kesesatan hukum, korban kesesatan peradilan, sehingga dengan lantang mereka menyuarakan penolakan eksekusi mati atas Tibo dkk. Mereka sama sekali tidak pernah menyinggung para korban yang telah dibantai secara sadis, terencana, dan biadab.

Aloys Budi Purnomo, Rohaniwan dan Pemimpin Redaksi Majalah INSPIRASI yang berpusat di Semarang, mengungkapkan isi hatinya berupa opini, bahwa “…Kasus yang menjerat Tibo cs memang penuh dengan kontroversi ketidakadilan. Mereka menjadi korban peradilan yang sesat. Mereka menjadi tumbal ketidakadilan dan proses hukum yang inskonstitusional…” (Kompas, Sabtu, 23 September 2006).

Tokoh intelektual umat Katolik Indonesia Frans Magnis Suseno saat mengunjungi Tibo dkk di Lembaga Permasyarakatan Kelas II A Palu (pertengahan April 2006) mengatakan, pemerintah Indonesia tidak boleh gegabah mengeksekusi Tibo dkk karena saat ini banyak pertimbangan yang muncul yang menunjukkan adanya kemungkinan bahwa Tibo dkk tidak bersalah. Frans juga mengatakan, aparat hukum tidak dapat melakukan eksekusi hanya karena semua prosedur hukum telah dijalani oleh Tibo dkk.

Gus Dur salah satu tokoh sepilis (sekulersime, pluralisme agama, dan liberalisme), bersuara sama dengan Theo Sambuaga (tokoh Golkar) dan Pendeta Nico Gara dari Universitas Kristen Indonesia (UKI) Tomohon. Mereka antara lain mengatakan, Tibo cs merupakan saksi mahkota, bila dieksekusi, maka mata rantainya putus. Theo Sambuaga menambahkan, jika Tibo sudah dieksekusi, sedangkan novum itu betul bahwa mereka bukan dalang kerusuhan Poso, akibatnya akan sangat fatal dari segi hukum dan penegakan hak asasi manusia (HAM). Oleh karena menurut Akbar Tandjung, sebaiknya eksekusi terhadap Tibo dan dua kawannya ditunda demi kepentingan mengungkap aktor intelektual yang sebenarnya dalam peristiwa kerusuhan Poso. Aktor intelektual yang dimaksud adalah sejumlah 16 nama yang pernah dinyatakan secara sepihak oleh Tibo sebagai aktor utama.

Mereka sama sekali tidak pernah berada di sisi korban yang telah dianiaya sedemikian rupa. Pernahkah mereka menyantuni para janda korban pembantaian Tibo dkk? Sama sekali tidak! Ini menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang mendukung kekejaman, mendukung kebiadaban, mendukung perbuatan barbar, mendukung upaya-upaya yang berorientasi disintegratif.

Cobalah perhatikan, mereka yang dulu menolak hukuman mati terhadap Tibo cs dengan dalih “kematian merupakan hak Tuhan” dan berbagai dalih lainnya, sudah bisa dipastikan tidak akan bersuara apa-apa ketika rencana eksekusi mati terhadap pelaku Bom Bali direalisasikan. Justru, mereka cenderung mendorong pemerintah secepatnya melaksanakan eksekusi tersebut. Bahkan ada yang secara emosional berpendapat, “bila perlu termasuk keluarganya sekalian dihukum mati.” Standar ganda seperti itu memang perilaku khas mereka, orang-orang yang sok demokratis, orang-orang yang sok humanis, dan sok moralis. Hipokrit.

sumber : http://www.nahimunkar.com/?p=161#more-161

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

38 Responses to “Memperingati Tragedi Bom Bali, Pembantaian Muslimin di Tobelo-Galela dan Pesantren Walisongo”

  1. nata said

    siapapun dia yang menulis hal tentang kerusuhan tobelo, jangan jadi orang yang sok tau dengan keadaan ayang suda terjadi.
    kalau jetel, jangan tulis kebongan dan kemunafikan.
    tulis aja kenyataan yg terjadi.

    kerusuhan tobelo itu tanggal 26 desember 1999.
    hey bodok. jangan cuman bisa untuk memperkaru suasana dengan tulisan munafik ini.

    jadi orang jangan goblok kaya gini.
    orang seperti kamu yg sering memutar balikan fakta seharusnya di tembak mati.
    memangnya kamu ada waktu kerusuhan di tobelo?????…..
    hey bodok.
    jangan asal bacot’ya.
    aaaaaaaaaaaaaaaaaannnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnnggggggggggggggggggggggg

  2. Anda ini manusia atau binatang sih, kok sepertinya nggak punya aturan dan etika … na’udzubillahi min dzaliq!

    Sepertinya ini orang yg selalu sembunyi and ngumpet seperti katak dlm tempurung.

    Anak2 dan wanita muslim yg dikumpulkan dlm masjid, yg jumlahnya sekitar 800, kemudian diberondong senapan otomatis sampai tumpas habis oleh teroris kristen tobelo itu, beritanya sdh tersebar luas dan juga disertai bukti photo2. Juga silahkan baca buku2 spt :
    1. Menyulut Ambon, S. Sinansari Ecip
    2. laskar Mujahidin, Rustam kastor

    Belajarlah jadi manusia, jangan cuma senang jadi binatang jorok dan suka kubangan air kotor saja.

    Ternyata memang benar firman Allah swt berikut ini :

    bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem

    Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.

    Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.

    Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.

    Dan orang-orang kafir berkata: “Al Qur’an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad, dan dia dibantu oleh kaum yang lain”; maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kelaliman dan dusta yang besar.

    Dan berkatalah orang-orang kafir kepada orang-orang yang beriman: “Ikutilah jalan kami, dan nanti kami akan memikul dosa-dosamu”, dan mereka (sendiri) sedikit pun tidak (sanggup), memikul dosa-dosa mereka. Sesungguhnya mereka adalah benar-benar orang pendusta.

    Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit.

    Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman.

    Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman.

    -muslim voice-

  3. haike said

    Untuk NATA, kalo gitu kamu tahu yang sebenarnya terjadi?

  4. haike said

    Untuk NATA, kalo gitu kamu tahu yang sebenarnya terjadi?
    Bicara begitu yakin kalo artikel di atas semua salah.

  5. john said

    woi anjing2..
    orang2 kayak lw semua tuh cinta perang
    pke datangin laskar jihad sgala..
    JIHAD(JIWA JAHAD)
    ini ambon…!!!
    dulu kampung gw bs dbilang manis..
    karena bnyak orng2 kyk lw yang provokatorin
    spya bwt ambon jd tmbah ancur..
    fuck orng2 kyk lw!!!!!
    maluku bersatu
    salam-serani

  6. Ambon, 19 Januari 1999 ….Lebaran Tak Terlupakan.. .

    Hari itu adalah hari yang sangat saya nantikan, pagi-pagi benar kami sudah bangun, mandi dan menggunakan pakaian baru dan bersih. Sholat Id kami tunaikan di depan rumah, bersalam-salaman dengansemua tetangga. Dan moment yang hampir ‘tak bisa diungkapkan’ adalah ketika memohon maaf pada Ibu, ayah dan saudara dengan dada yang berguncang penuh sesak, menahan emosi dan air mata. Tapi Ibu selalu bilang, ’sejak kamu lahir Ref, mama selalu memaafkan apa yang kamu lakukan dan akan lakukan’. Tanpa kamu minta maaf pun Mama sudah memaafkanmu. Tak ada lagi yang bisa saya lakukan kecuali memeluk Ibu selama mungkin dan mencium pipi, kening dan rambutnya.

    Setelah itu kami pun berangkat ke Kota Ambon, janjian dengan ayah yang berangkat dari Tawiri kemudian bersilaturahim dengan besan, saudara, handai taulan dan kerabat. Suasana pada hari itu memang beda dari biasanya. Berbeda dengan lebaran yang lalu, kali ini terlihat kosentrasi masa dimana-mana, disepanjang jalan Tulehu – Ambon. Bahkan kosentarasi masa itu menumpuk dan menimbulkan tanda tanya dalam diri saya sampai peristiwa itu terjadi. Fakta yang menguntungkan pada waktu itu adalah, ternyata terjadi perbedaan waktu shalat ied antara tulehu dan Ambon. Jika di Tulehu Ied dimulai jam 6 kurang dengan khotbah yang pendek. Di Masjid Al-Fatah Ambon, shalat ied dimulai jam 7 dengan khotbah yang cukup lama. Jadi ketika kami sekeluarga sampai di Kota Ambon, masih dalam keadaan shalat Ied, dan kami memutuskan parkir di depat masjid Al-Fatah sambil menunggu Ayah.

    Tak berapa lama ketika sholat usai, atas permintaan Ibu kami langsung menuju ke rumah seorang besan di dekat Al-Fatah. Namun pada saat itulah tersiar khabar bahwa telah terjadi pembakaran dan amuk masa dimana-mana, hampir di seluruh penjuru kota dan desa. Kami terjebak di rumah mertua, dan hanya kami satu-satunya muslim disana karena selebihnya Kristen. Namun ‘orang sekampung kristen’ itu melindungi Kami, dan meminta orang-orang Kristen yang lain tidak menyerang kami. Ketika suasana agak reda, Kami dijemput oleh segerombolan tentara dan diungsikan ke Masjid Al-Fatah. Betapa memerikan pemandangan sepanjang jalan. Penuh dengan mayat-mayat yang hampir semuanya muslim, mereka dalam keadaan masih menggunakan perlengkapan shalat, memeluk anaknya dan semuanya masih tergeletak hampir disepanjang lorong, jalan dan got. Hari ini Kota Ambon banjir darah, dan bau mayat ada dimana-mana, Anyir!. Jiwa saya sangat bergetar, dan yang terpikir, dimana Ayah? Dimana Ayah? Ibu berusaha tenang namun saya dan kakak sangat panik. Dan yang lebih panik lagi. Adik perempuan saya, Elida Yanti pada waktu itu dalam perjalanan Tulehu – Ambon. Saya berjalan disepanjang jalan kota, menyelusuri sepanjang jalan, melihat setiap jenazah di kamar jenazah, membalikan yang tergeletak di jalan dengan seksama, bergetar dan berharap tidak ada ayah dan adik peremuan saya diantara jenazah-jenazah itu. Lelah, panik dan pasrah, namun tak ada pilihan kecuali mencari jawaban tentang kepastian kondisi ayah dan adik, karena ketika dihubungi per telepon ke rumah tak ada jawaban.

    Rupanya ‘keadaan tenang’ pada hari itu hanya berlangsung sesaat. Siang itu meletus kerusuhan yang jauh lebih besar, dan saya berlari ke mesjid menemui Ibu. Dan Alhamdulillah bersama Ibu adik perempuan saya telah ada bersama beliau. Saya menangis karenanya dan kini tugas saya hanyalah mencari tahu keadaan Ayah. Namun kondisi yang genting memaksa saya untuk tidak dapat melakukan apa-apa, kecuali tetap di Masjid Al-Fatah, melindungi Ibu dan adik perempuan saya. Malam itu keluar fatwa Jihad dari Majelis Ulama Indonesia Ambon dan Imam Besar Masjid Raya Al-Fatah. Jadi diwajibkan bagi setiap laki-laki untuk berjihad, karena telah terjadi penyerangan dan saling serang hampir diseluruh penjuru. Pada waktu itu terlihat mayat begitu banyaknya digotong, ada yang hidup tapi dalam kondisi tidak utuh lagi. Ada yang tangannya terpotong, ada yang matanya terusuk dan bahkan ada yang gila karena kehilangan keluarga.

    Malam itu, kali pertama saya menjadi manusia seutuhnya, belajar bertanggung jawab dan berperang. Ketika fatwa itu keluar, semua wanita dikumpulkan di tengah masjid, diluar berkumpul semua laki-laki tua dan muda, bersenjatakan apa saja dan siap berperang. Waktu itu saya memegang senjata berupa tombak besi, dan berpatroli keliling kota. Kadang harus berhadap-hadapan dengan segerombolan orang, bertempur tanpa rasa takut mati, karena Ibu-Ibu kami telah mengikhlaskan kami mati di jalan ALLAH. Setiap hari satu demi satu teman mati syahid, kering rasanya air mata ini menangis kehilangan. Pagi tadi kita baru shalat bersama, sahur bersama, siangnya sudah terdengar dia gugur di medan perang. Ada yang siangnya baru berpelukan dan bersalaman. Sejam kemudian dia mati dipelukan karena kehabisan darah karena tombak yang bersarang dipunggungnya.

    Pada waktu itu, yang ada dalam pikiran saya hanyalah bertahan dan berjuang. Bukankah ini adalah kesempatan syahid di Jalan ALLAH? Semua teman-teman saya ketika dikuburkan tak lagi dimandikan, karena ALLAH telah memberikan mereka syurga. Dan saya melihat jelas, betapa syuhada itu mati dengan tersenyum, seakan-akan mereka telah melihat syurga seperti yang dijanjikan ALLAH. Setiap kembali ke masjid, saya lihat Ibu dalam keadaan berdoa, ruku dan sujud. Beliau selalu memberikan semangat untuk tidak pernah takut! JANGAN TAKUT REF! Bukankah ganjarannya sangat setimpal dijanjikan ALLAH? Jangan pikirkan Mama karena Demi ALLAH! Mama sangat ikhlas. Tak ada cita-cita yang lebih tinggi kecuali mati sebagai seorang syahid. Lalu adakah yang lebih mulia dari itu? Pada hari itu saya berbicara di hadapan ALLAH, bahwa jiwa dan raga saya telah saya pasrahkan padaNYA. Sejak itulah hampir setiap hari saya maju ke medan perang, bertempur membela keyakinan yang saya yakini. Namun ada sebuah catatan yang hingga kini masih tertoreh di hati, bahwa saya tidak pernah membenci manusia kecuali karena perilakunya. Dan saya tidak pernah membenci orang karena agamanya, karena sedari dulu saya tahu bahwa semua agama itu baik. Jadi perilaku seseorang tidak bisa diidentikkan dengan agama yang dia anut. Apa buktinya? Ketika terjebak di rumah keluarga besan, kami dilindungi oleh Kaum Kristen, Selamatnya adik saya juga karena dilindungi oleh sekelompok pemuda kristen bahkan mereka mengantarkan adik saya ke masjid, dan yang ketiga ayah saya di Tawiri yang notabene satu-satunya muslim di desa itu jiwa dan hartanya dijaga oleh Kalangan Kristen. Jadi apakah agama bisa mewakili perilaku? Mungkin tidak sepenuhnya benar.

    Keajaiban – Kejaiban di Bulan Syawal

    Banyak keajaiban dan keanehan yang saya alami. Pada setiap pertempuran bahkan berhadap-hadapan dengan musuh, saya selalu selamat seperti ada yang menjaga. Hal yang paling beratpun paling terluka di tangan dan punggung akibat sabetan parang. Namun tak seberapa sakitnya, dibanding apa yang saya lihat terjadi pada teman-teman lain yang syahid. makan yang saya makan pun dari sisi kelayakan dan hiegenis juga sangat buruk, dan lebih sering tidak makan karena saya lebih mengutamakan anak-anak dan perempuan. Adik perempuan saya turut berjuang, mempersiapkan segala seusatunya, bahkan maju ke medan tempur. Kami berdua sering makan makanan yang basi, bahkan kami tak jarang makan daun-daunan yang kami petik dari langsung dari pohonnya, bahkan bunga pun kami makan. Tapi inilah bagian kebesaran ALLAH. Kami berdua tak pernah sakit perut, bahkan tumbuh rasa saling menyayangi dan kesadaran persaudaraan yang begitu dalam hingga kini.

    Banyak sekali keajaiban lain yang hingga kini masih menyisakan pertanyaan. Pada suatu saat, saya terbaring lelah di pelataran mesjid bersama adik perempuan saya. Tiba-tiba beduk berbunyi dan kumandang azan bergema, padahal waktu shalat belum masuk. Rupanya pada malam itu Masjid Al-Fatah diserang oleh beribu orang dari empat penjuru mata angin, dari darat dan laut. Pada hari itulah saya merasa bahwa itulah hari terakhir saya hidup didunia, mengingat keadaan yang lemah, dan jumlah musuh yang jauh lebih besar dengan peralatan yang lengkap. Dengan tombak ditangan, saya ciumi adik saya itu dan memintanya menemui Ibu, dan sampaikan pesan bahwa betapa saya sangat menyayangi beliau sebagai pesan terakhir. Malam itu saya maju ke barisan paling depan, tepat di depan pagar masjid bersama pemuda-pemuda berani lainnya. Dan dari dalam masjid, terdengar takbir bergemuruh membelah langit… Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…La Ilaha Illallahu Allah Akbar…Allahu Akbar Walillah Ilham… berulang bergema, bergemuruh yang menjadi mesiu bagi kami menghadapi musuh yang menyerang. Serangan malam itu sangat dasyat, mereka persis didepan Masjid, berusaha menaiki pagar menyerang penuh dendam, marah dan murka. Namun ketika semuanya ‘berjuang pasrah’ menengadahkan tombak, parang atau apa saja, menahan serangan agar tak bisa menerobos hingga ke dalam Masjid yang berisikan perempuan-perempuan , diantara Ibu dan adik perempuan saya. Namun entah kenapa, tiba-tiba tanpa diketahui sebabnya, semua penyerang itu tiba-tiba lari terbirit-birit seperti dikejar setan, dan saya terdiam masgul. Ada apa gerangan? Apakah ini taktik? Atau…..

    Dari beberapa mereka yang tertangkap, terungkap bahwa mereka melihat beribu-ribu tentara berkuda berjubah putih mengelilingi Masjid dan balas menyerang mereka tanpa rasa takut dan pedang terhunus. Hampir seratus orang yang tertangkap berkata sama. Masya ALLAH, rupanya ALLAH telah menunaikan janjinya, menurunkan bala tentara dari langit. Keajaiban lain yang tidak terlupakan adalah ketika tiba-tiba dari kejauhan saya melihat ada bola api yang sangat besar menuju ke Masjid, namun entah kenapa sebelum menyentuh Masjid, Bola api itu kembali keasalnya. Rupanya ALLAH benar-benar menjaga balatentaranya. Sejak itu saya tidak lagi pernah menjadi pengecut, dan tidak pernah mengenal rasa takut terhadap siapapun di dunia. Peristiwa demi peristiwa teah mengajarkan saya menjadi laki-laki pemberani.

    -muslim voice-

  7. john said

    Damai Tak Tergoyahkan di Wayame

    KANES Amanupunnjo (34) masih menjadi ketua pemuda di desanya saat konflik meletus di Kota Ambon, 19 Januari 1999. Konflik komunal itu dipicu perkara sepele, perkelahian antara seorang sopir dan pemuda di Batu Merah.

    TIBA-tiba saja perkelahian itu berubah menjadi konflik yang meluas antara komunitas Muslim dan Kristen di Ambon. Hari itu juga korban tewas mulai berjatuhan, rumah-rumah dibakar, bendera merah dan putih dikibarkan secara terpisah. Dari Kota Ambon sore itu konflik meluas ke hampir seluruh wilayah di Pulau Ambon dan merembet ke seluruh wilayah Maluku.

    Situasi genting itu direspons dengan cepat oleh Kanes dan para pemuda di Desa Wayame. Desa itu terletak di kilometer delapan jalan raya yang menghubungkan Bandar Udara Pattimura menuju Kota Ambon. Malam setelah kerusuhan meletus di Ambon, Kanes dan para pemuda mengumpulkan seluruh warga di Wayame, baik yang Muslim maupun Kristen. Raja dan tokoh-tokoh agama didatangkan. Malam itu juga mereka sepakat untuk saling melindungi dan tidak saling menyerang. Konflik di Pulau Ambon tidak boleh dibawa masuk ke Wayame.

    Kesepakatan itu diperkuat sumpah tokoh Muslim, Abdurachman Marasabessy, yang diucapkan di Gereja Wayame. Di pihak Kristen, Pendeta John Sahalessy mengucapkan janji di masjid. “Saya menyatakan sikap dan bersumpah di atas mimbar gereja. Tidak ada manfaat saling membunuh. Lebih baik saling memaafkan daripada terjadi pertumpahan darah dan hidup saling terpisah,” kata Abdurachman Marasabessy.

    Desa Wayame merupakan sebuah keajaiban di Maluku. Sejak konflik meletus di Ambon pada 19 Januari 1999 sampai kerusuhan yang dipicu aksi pengibaran bendera Republik Maluku Selatan (RMS) 25 April 2004, gelombang kekerasan dan konflik tidak pernah menjamah Wayame. Warga Muslim dan Kristen di desa ini tetap bisa hidup berdampingan meski api konflik berkobar di hampir seluruh pelosok di Ambon. Bahkan, pada saat konflik berkobar dengan sengit di seluruh penjuru Maluku, Wayame tetap tak tersentuh. Pernah sebuah bom yang diletakkan di pintu rumah seorang warga meledak. Peristiwa itu segera ditangani dan tidak melebar ke mana-mana.

    DALAM kondisi normal, desa ini selalu dilewati mereka yang mendarat di Bandar Udara Pattimura di Desa Laha dan melanjutkan perjalanan menuju Kota Ambon. Dari Bandar Udara Pattimura hanya dibutuhkan waktu 15 menit dengan kendaraan bermotor. Kala keadaan tidak normal, dari Ambon desa itu hanya bisa dijangkau dengan perahu cepat. Bagi warga Kristen, mereka harus bertolak dari pangkalan perahu cepat di Benteng atau Tapal Kuda. Bagi warga Muslim, mereka harus bertolak dari pangkalan perahu cepat di Batu Merah atau Pasar Lama.

    Wayame hampir-hampir tak berbeda dengan desa-desa lain di Pulau Ambon. Daerah itu merupakan desa pelabuhan yang berbukit, dengan luas 33.158 meter persegi dan dihuni sekitar 3.100 jiwa. Di desa induk, di pinggir pantai terdapat kampung Muslim dan Kristen. Di gunung terdapat dua dusun yang telah puluhan tahun lalu dibuka warga yang berasal dari Sulawesi Selatan. Dua dusun itu merupakan pemasok utama sayur-mayur untuk penduduk Kota Ambon.

    Desa Wayame memang dipergunakan sebagai kilang pasokan minyak Pertamina. Desa itu juga menjadi Markas Kompi C Batalyon Infanteri 733 Masariku. Namun, itu bukan alasan utama mengapa Wayame tak pernah tersentuh konflik. Di Maluku, kantor-kantor pemerintah, sekolah, pasar, pos-pos aparat, sampai gudang senjata tidak terlepas dari sasaran kemarahan.

    “Kami bersikap keras. Persoalan di luar wilayah Wayame tidak boleh dibawa masuk ke Wayame,” kata Kanes.

    Aturan yang berlaku di Wayame sangat keras. Setiap orang yang datang ke desa itu harus tunduk pada aturan mereka. Bagaimanapun, Wayame berada di tengah wilayah konflik. Karena itu, warga desa diberi tahu, apabila mereka pergi ke luar desa, risiko harus mereka tanggung sendiri. Saat bepergian ke luar desa, mereka diminta mengambil jalur “aman”. Warga Muslim dianjurkan melalui jalur Muslim, warga Kristen melalui jalur Kristen.

    Begitulah kenyataan di Ambon. Apabila ada warga desa itu yang menjadi korban di luar desa, tidak boleh persoalan dibawa ke desa. Apalagi jika ada warga yang ikut berperang. Ia tidak disambut sebagai pahlawan. Jika tewas, mayatnya tidak boleh dibawa pulang dan dikubur di desa. “Dalam kerusuhan 25 April kemarin ada yang hilang di Kota Jawa, tapi orangtua korban juga tidak bikin persoalan,” kata Kanes.

    DAMAI di Wayame bukanlah hanya kesepakatan di atas kertas, tapi juga kerja keras. Pada saat-saat genting, warga berkumpul bisa sampai empat kali dalam satu minggu. Tempat pertemuan pun bergantian. Di balai desa, masjid, atau gereja. Pertemuan itu sekaligus menjadi tempat bagi kedua komunitas untuk belajar bagaimana menghormati tempat ibadah dan simbol-simbol yang disucikan oleh agama lain. Pertemuan itu pun bukan sekadar basa-basi, tetapi justru untuk membahas situasi yang terjadi dan mengklarifikasi isu yang silih berganti bertiup.

    Pertemuan-pertemuan itu lalu dilembagakan. Dibentuklah Tim Dua Puluh, yang terdiri atas 10 wakil warga Muslim dan 10 wakil warga Kristen. Mereka yang dipercaya untuk mengklarifikasi isu yang beredar di masyarakat sekaligus menyelesaikan persoalan yang muncul dalam hubungan antarkomunitas. Bila ada isu akan ada penyerangan warga dari desa lain, 10 wakil warga dari komunitas agama yang sama bertugas melakukan pengecekan. Bila isu bohong, dilacak sumbernya. Bila ternyata sumbernya warga di desa itu, ia akan diberi peringatan keras. Sekali lagi berbuat serupa bisa-bisa ia kena bogem atau babak-belur oleh warga seagama atau malah ia diusir dari desa.

    Laskar Jihad pernah membuat markas di Wayame. Baik komunitas Muslim maupun Kristen di desa itu bisa menerima karena para anggota laskar mau mengikuti aturan yang ada di situ. Lagi pula, pos Laskar Jihad di desa itu lebih diarahkan pada kerja-kerja sosial.

    “Kami tak tergantung pada posko di Masjid Al Fatah maupun Gereja Maranatha. Semua informasi dari sana difilter di sini,” kata Marasabessy.

    Wayame juga tidak mengizinkan kelompok-kelompok yang akan melakukan penyerangan melalui desa itu.

    Tokoh-tokoh Desa Wayame pernah mencoba menularkan keberhasilan desa itu ke desa-desa tetangga, tetapi tidak berhasil. Mereka pernah melakukan pendekatan ke Desa Hative Besar yang mayoritas penduduknya Kristen. Mereka menyarankan agar dua dusun Muslim di desa itu jangan disentuh sedikit pun. Namun, desa itu gagal melindungi dua dusun tersebut sehingga kemudian balik menjadi sasaran penyerangan. Di Desa Poka- Rumah Tiga, tokoh-tokoh Desa Wayame juga mengadakan pendekatan. Namun belum sempat ada kesepakatan, desa itu keburu diserang.

    Institusi adat di Wayame masih berjalan erat. Raja memiliki peran yang penting dalam masyarakat. Ia diangkat menjadi kepala desa. Raja Wayame DA Hunihua yang beragama Kristen memiliki hubungan persaudaraan dengan Raja Hitu dan Waka yang beragama Islam. Ikatan tradisional itu menjadi salah satu faktor yang mendukung perdamaian di Wayame.

    Namun, menurut sosiolog, Tonny Parela, institusi adat dalam konteks masyarakat adat memang merupakan katup keamanan. Akan tetapi, dalam masyarakat multikultural dan multietnik, peran itu bisa berjalan atau sebaliknya. Di Wayame, institusi adat diperkuat dengan keterlibatan tokoh-tokoh masyarakat melalui Tim 20 dan pertemuan-pertemuan warga.

    “Sebagai manusia, masyarakat Wayame punya naluri yang menginginkan keamanan dan kedamaian. Tinggal ada atau tidak kelompok orang atau institusi yang mau bekerja untuk mengelola kebutuhan itu,” kata Parela. (P Bambang Wisudo)

  8. Silahkan baca buku “Menyulut Ambon : Kronologi Merambatnya Berbagai Kerusuhan Lintas Wilayah di Indonesia”, S. Sinansari Ecip, hal 75 :

    Oleh sebagian masyarakat, pertikaian keduanya (Yopie dan Salaim) pada Maret-April 1998, dianggap sebagai pemicu kerusuhan di Ambon dan sekitarnya. Namun pembela Salim, yaitu Munir Kairoti membantahnya. Ketika Salim diburu Yopie, lemparan batu ke rumah-rumah warga Batu Merah sudah berlangsung di beberapa tempat. Pada waktu terjadi baku lempar batu, tiba-tiba dua rumah di Kampung Mardika terbakar. “Naif kalau Salim dituduh sebagai pemicu. Peristiwa itu sendiri hanya sebagai penyulut karena di balik itu ada skenarionya,” kata Munir.

    Pembela Yopie, John Lopuhaa berkata bahwa dalam skala yang lebih luas, kerusuhan Ambon bukan bersumber dari kasus Salim-Yopie. Dia mengakui, hal tersebut masih kabur.

    Tapi yang jelas, hari itulah yaitu 19 Januari 1999, adalah hari pecahnya kerusuhan. Pada saat kelompok kristen menyerang dan mambantai umat islam Ambon yang sedang melaksanakan sholat Idul Fitri. Sungguh biadab dan buas seperti binatang.

  9. john said

    Presiden Habibie sudah memvonis bahwa umat kristen yang salah dalam kasus Ambon. Tetapi hal ini dibantah oleh tim advokasi gereja Maluku Sammy Waileruny. Hingga kini memang laporan-laporan tentang penembakan jemaah di mesjid di Ambon masih simpang siur. Data kalangan wartawan Islam berbeda dari data kalangan wartawan Kristen. Laporan pihak kepolisianpun lain. Ada yang mengatakan para korban ditembak di dalam mesjid. Polisi mengatakan di luar mesjid. Pihak polisi juga mengatakan korban-korban itu sempat dibawa ke mesjid, dan karena itu ada darah yang tercecer di mesjid. Berdasarkan bahan dari Ambon dan Jakarta, berikut rangkuman redaksi di Hilversum:

    Mantan Mendagri Rudini kemarin mengusulkan agar di Ambon ditarik suatu garis demarkasi antara wilayah Islam dan Kristen. Pihak PPP juga sudah menganjurkan agar kalangan Muslim bertahan di Ambon karena Ambon adalah wilayah Indonesia. Partai Keadilan di lain pihak khawatir kalangan internasional akan ikut campur dalam masalah Ambon dengan mulai mengirim senjata serta sukarelawan.

    Ambon, Aceh dan Timor Timur memang bisa menjadi Libanon-Libanon Indonesia, kata seorang pengamat dari Bugis. Ia melihat bagaimana orang-orang Bugis saat ini sudah sangat emosional. Belasan ribu orang Bugis, Buton, dan Makasar yang pulang kampung hanya pergi untuk menitipkan anak istri mereka, lalu kembali lagi ke Ambon dengan membawa serta ayah atau saudara laki-laki mereka untuk berperang di Ambon. Orang-orang yang tadinya anti Habibie, jika berbicara mengenai Ambon segera berubah sikap.

    Orang-orang di Sulawesi Utarapun menjadi gelisah. Baik yang Islam maupun Kristen sekarang sama-sama menjaga tempat ibadah masing-masing. Tetapi dengan kedatangan seribu pelarian dari Ambon, situasinya bisa merubah, mengingat komposisi kekuatan di Manado sama halnya dengan Ambon, yaitu kekuatan kedua belah pihak, Muslim maupun Kristen sudah berimbang, sama kuat.

    Kalau pada awalnya Ambon mengisahkan cerita pilu bahwa satu kampung Kristen yang terdiri dari 20 rumah diserbu 2000 orang sehingga 40 perempuan dan anak-anak terbunuh, bahkan di antaranya seorang perempuan yang hamil delapan bulan, maka tiba di Sulawesi ceritanya sudah terbalik. Orang-orang Minahasa dan Sangir yang merupakan mayoritas di Sulawesi Utara mendengar kabar-kabar burung bahwa ratusan perempuan Minahasa dan Sangir dibantai di Ambon, begitu seterusnya. Sejak bulan Desember para provokator di Manado sudah memancing-mancing kemarahan umat Kristen dengan membawa peti mati di depan gereja Katolik yang berisi patung dan membakarnya di sana. Hal ini dilaporkan seorang pengurus partai Murba. Tembok-tembokpun tidak luput dari tulisan-tulisan yang memancing kemarahan umat Kristen. Tetapi berkat kewaspadaan rakyat Manado pancingan-pancingan itu tidak mempan, dan ketenangan di Manado juga tidak terusik. Namun jika sampai ribuan pelarian dari Ambon tiba di Manado apakah ketenangan itu masih bisa dipertahankan? Demikian tanya seorang pengamat. Keadaan yang kian meresahkan di Indonesia Timur itu pun sekarang mulai merambat ke pulau Kalimantan, khususnya Kalimantan Barat.

    Luka sudah membekas di hati rakyat Ambon, Buton, Bugis, dan Makasar . Di Kalimantan hal itu dirasakan rakyat suku Madura, Melayu dan Dayak. Ini tidak bisa hilang dalam waktu singkat, ujar seorang tokoh Bugis. Dalam hubungan itu ia menyesalkan kebijakan sementara pemimpin di Jakarta yang ingin bereksperimen dengan mendirikan suatu negara Islam. Bagi Indonesia jalan satu-satunya adalah memantapkan suatu negara sekuler, ujarnya. Sekarang teman-temannya baru sadar akan kesalahan mereka, tetapi nasi sudah jadi bubur. ‘Mereka sudah sadar bahwa repot membawa-bawa agama dalam politik’, katanya. Sekarang mereka juga mengatakan tidak ingin negara agama. Tadinya, mereka mengatakan sebentar lagi kita akan berkuasa. Tinggal selangkah lagi, kata mereka. Sekarang mereka baru menyadari bahwa tidak gampang menguasai Indonesia yang heterogen ini. Indonesia bukan Jawa, katanya.

    Tapi sementara itu elit politik Jakarta terus saja berlomba-lomba ingin mensukseskan pemilu. Semua sibuk menghitung-hitung persentase kemenangan mereka. Dengan siapa mereka harus beraliansi atau berkoalisi. Padahal siapa yang masih mau mendaftarkan diri untuk pemilu di Ambon atau di propinsi-propinsi lain yang rusuh? Di Jakarta saja banyak yang ragu-ragu mau mendaftarkan diri atau tidak. Bahkan ada anggota PDI Perjuangan yang bertanya “kalau Megawati menang, apakah semuanya akan beres?” Demikian pula pendapat seorang anggota PAN yang berkata, “Apabila Amien Rais yang menang dengan siapa ia akan berkoalisi? Apakah kersuhan di Ambon akan mereda setelah pemilu?
    diambil dari :
    http://www.geocities.com/CapitolHill/4120/ambon3.html
    mengapa kalian sngat menginginkan negara agama
    maka dari itu banyak dari kami yang ingin melepaskan diri
    seperti timor leste,papua,ambon,manado,NTT karena kami merasa di anak tirikan…
    dijakarta kami ditekan.. gereja2 kami ditutup oleh organisasi2 yang biadab… saya saksi yang melihat bagaimana salah satu gereja ditutup dan saya juga merekamnNya… mreka selalu berteriak “olloh hu akkbar” ..
    apakah anda diajarkan untuk slalu mengasihi musuh anda?? jika iya mengapa kalian berjihad yang mengatasnamakan TUHAN?? tidakkah kalian tahu bahwa jangan menyebut nama TUHAN dengan sembarangan..

    • Kadang saya heran, apa anda orang kristen tdk pada ngaca? Lihat dan sadari wajah jahat umat kristen sendiri, sebelum mengumpat dan mencaci maki dan selalu mengeluh atas perlakuan orang lain? Apakah anda umat kristen sdh memperlakukan umat agama lain dg patut dan saling menghormati?

      Apa kontribusi anda untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia tercinta ini? Dari sejarah yg saya tahu pahlawan perjuangan kemerdekaan kok gak ada ya yg orang kristen! Barangkali karena penjajahnya beragama kristen, jadi mengkhianati para pejuang kemerdekaan adalah halal bagi anda! Memang terlihat gak ada nasionalisme sama sekali, sedikit2 mengancam mau sparatis dan memisahkan diri. memangnya apa kontribusi kamu dlm perang kemerdekaan melawan penjajah?

      Siapa ya si westerling yg membantai rakyat tak berdosa Indonesia sampai puluhan ribu orang itu?

      Lalu si teroris kristen tibo cs, bagaimana mereka begitu biadab dan keji membantai 400 lebih umat agama tertentu di pesantren Walisongo?

      Bagaimana dg pengrusakan masjid2 di Maluku dan Flores?

      Bagaimana bisa United Snake of America (USA) dg biadab dan buas menginvasi dan membantai “1,284,105” rakyat Irak yg tak berdosa?

      Bagaimana bisa sesumbar agama yg penuh dg cinta kasih, saat terjadi kekalahan islam di Spanyol, ternyata sampai tak tersisa sama sekali umat islam di sana, ini namanya genice?

      Apalagi dg msjid2-nya yg jumlahnya ratusan dibakar dan dihancurkan tanpa sisa?

      -muslim voice-

  10. john said

    bodok e… tw apa kmong soal amboN???
    Lubang PuQ deng kamong png artikel bodo-bodo tu??cukiiiimai..

    • Dari pikiran dan ajaran yg jorok, kotor dan jahat. Maka yg keluar dari mulutnya pun jorok, kotor dan jahat penih iblis!

      Terlihat khan, siapa yg tdk bisa menerima kenyataan dan menipu diri sendiri. Cara anda mempermalukan intelektual anda sendiri, membuat orang lain tertawa terbahak-bahak.

      [1] 2:6, Al-Baqarah
      SESUNGGUHNYA ORANG – ORANG KAFIR , SAMA SAJA BAGI MEREKA , KAMU BERI PERINGATAN ATAU TIDAK KAMU BERI PERINGATAN , MEREKA TIDAK JUGA AKAN BERIMAN .

      [2] 2:19, Al-Baqarah
      ATAU SEPERTI ( ORANG – ORANG YANG DITIMPA ) HUJAN LEBAT DARI LANGIT DISERTAI GELAP GULITA , GURUH DAN KILAT ; MEREKA MENYUMBAT TELINGANYA DENGAN ANAK JARINYA , KARENA ( MENDENGAR SUARA ) PETIR , SEBAB TAKUT AKAN MATI . DAN ALLAH MELIPUTI ORANG ORANG YANG KAFIR .

      [3] 2:24, Al-Baqarah
      MAKA JIKA KAMU TIDAK DAPAT MEMBUAT ( NYA ) , DAN PASTI KAMU TIDAK AKAN DAPAT MEMBUAT ( NYA ) , PELIHARALAH DIRIMU DARI NERAKA YANG BAHAN BAKARNYA MANUSIA DAN BATU YANG DISEDIAKAN BAGI ORANG – ORANG KAFIR .

      [4] 2:26, Al-Baqarah
      SESUNGGUHNYA ALLAH TIADA SEGAN MEMBUAT PERUMPAMAAN BERUPA NYAMUK ATAU YANG LEBIH RENDAH DARI ITU . ADAPUN ORANG – ORANG YANG BERIMAN , MAKA MEREKA YAKIN BAHWA PERUMPAMAAN ITU BENAR DARI TUHAN MEREKA , TETAPI MEREKA YANG KAFIR MENGATAKAN : ” APAKAH MAKSUD ALLAH MENJADIKAN INI UNTUK PERUMPAMAAN ? ” . DENGAN PERUMPAMAAN ITU BANYAK ORANG YANG DISESATKAN , DAN BANYAK ORANG YANG DIBERINYA PETUNJUK . DAN TIDAK ADA YANG DISESATKAN ALLAH KECUALI ORANG YANG FASIK .

      [6] 2:34, Al-Baqarah
      DAN ( INGATLAH ) KETIKA KAMI BERFIRMAN KEPADA PARA MALAIKAT : ” SUJUDLAH KAMU KEPADA ADAM , ” MAKA SUJUDLAH MEREKA KECUALI IBLIS ; IA ENGGAN DAN TAKABUR DAN ADALAH IA TERMASUK GOLONGAN ORANG – ORANG YANG KAFIR .

      [7] 2:39, Al-Baqarah
      ADAPUN ORANG – ORANG YANG KAFIR DAN MENDUSTAKAN AYAT – AYAT KAMI , MEREKA ITU PENGHUNI NERAKA ; MEREKA KEKAL DI DALAMNYA .

      [8] 2:41, Al-Baqarah
      DAN BERIMANLAH KAMU KEPADA APA YANG TELAH AKU TURUNKAN ( AL – QURAN ) YANG MEMBENARKAN APA YANG ADA PADAMU ( TAURAT ) , DAN JANGANLAH KAMU MENJADI ORANG YANG PERTAMA KAFIR KEPADANYA , DAN JANGANLAH KAMU MENUKARKAN AYAT – AYAT KU DENGAN HARGA YANG RENDAH , DAN HANYA KEPADA AKU – LAH KAMU HARUS BERTAKWA .

      [10] 2:90, Al-Baqarah
      ALANGKAH BURUKNYA ( HASIL PERBUATAN ) MEREKA YANG MENJUAL DIRINYA SENDIRI DENGAN KEKAFIRAN KEPADA YANG TELAH DITURUNKAN ALLAH , KARENA DENGKI BAHWA ALLAH MENURUNLAN KARUNIA – NYA KEPADA SIAPA YANG DIKEHENDAKI – NYA DIANTARA HAMBA – HAMBA – NYA . KARENA ITU MEREKA MENDAPAT MURKA SESUDAH ( MENDAPAT ) KEMURKAAN . DAN UNTUK ORANG – ORANG KAFIR SIKSAAN YANG MENGHINAKAN .

      [11] 2:91, Al-Baqarah
      DAN APABILA DIKATAKAN KEPADA MEREKA : ” BERIMANLAH KEPADA AL – QURAN YANG DITURUNKAN ALLAH ” . MEREKA BERKATA : ” KAMI HANYA BERIMAN KEPADA APA YANG DITURUNKAN KEPADA KAMI ” . DAN MEREKA KAFIR KEPADA AL – QURAN YANG DITURUNKAN SESUDAHNYA , SEDANG AL – QURAN ITU ADALAH ( KITAB ) YANG HAK ; YANG MEMBENARKAN APA YANG ADA PADA MEREKA . KATAKANLAH : ” MENGAPA KAMU DAHULU MEMBUNUH NABI – NABI ALLAH JIKA BENAR KAMU ORANG – ORANG YANG BERIMAN ? ” .

      [12] 2:98, Al-Baqarah
      BARANG SIAPA YANG MENJADI MUSUH ALLAH ; MALAIKAT – MALAIKAT – NYA , RASUL – RASUL – NYA , JIBRIL DAN MIKAIL , MAKA SESUNGGUHNYA ALLAH ADALAH MUSUH ORANG – ORANG KAFIR .

      [13] 2:102, Al-Baqarah
      DAN MEREKA MENGIKUTI APA YANG DIBACA OLEH SYAITAN – SYAITAN PADA MASA KERAJAAN SULAIMAN ( DAN MEREKA MENGATAKAN BAHWA SULAIMAN ITU MENGERJAKAN SIHIR ) , HANYA SYAITAN – SYAITAN ITULAH YANG KAFIR ( MENGERJAKAN SIHIR ) . MEREKA MENGAJARKAN SIHIR KEPADA MANUSIA DAN APA YANG DITURUNKAN DUA ORANG MALAIKAT DI NEGERI BABIL YAITU HARUT DAN MARUT , SEDANG KEDUANYA TIDAK MENGAJARKAN ( SESUATU ) KEPADA SEORANGPUN SEBELUM MENGATAKAN : ” SESUNGGUHNYA KAMI HANYA COBAAN ( BAGIMU ) , SEBAB ITU JANGANLAH KAMU KAFIR ” . MAKA MEREKA MEMPELAJARI DARI KEDUA MALAIKAT ITU APA YANG DENGAN SIHIR ITU , MEREKA AKAN DAPAT MENCERAIKAN ANTARA SEORANG ( SUAMI ) DENGAN ISTERINYA . DAN MEREKA ITU ( AHLI SIHIR ) TIDAK MEMBERI MUDHARAT KEPADANYA DAN TIDAK MEMBERI MANFAAT . DEMI SESUNGGUHNYA MEREKA TELAH MEYAKINI BAHWA BARANG SIAPA YANG MENUKARNYA ( KITAB ALLAH ) DENGAN SIHIR ITU , TIADALAH BAGINYA KEUNTUNGAN DI AKHIRAT , DAN AMAT JAHATLAH PERBUATAN MEREKA MENJUAL DIRINYA DENGAN

      -muslim voice-

  11. john said

    anda yang bodoh…
    anda bilang benci kelakuan orangnya
    tp tidak agamanya,,,
    mengapa anda selalu menyudutkan kristen..??
    slalu bilang klo itu orang kristen yg melakukan…
    dia orangnya…bukan agama dari negaranya… dasar bodoh… orang yang berintektual rendah… kampungan,,,
    slalu berperang mengatasnamakan TUHAN… binatang..
    berarti TUHANMU itu Tuhan yang pembunuh tidak mempunyai rasa kasih!!!!!
    mbuat negara yang berbentuk syariat islam..
    itulah penyebab dari peperangan…
    hidup agamaMU itu egois,,,
    orang2 radikal
    tidak mau berbaur dengan agama lain…
    fanatik!!!!
    TERORRIS…

    • Benar khan!

      Dari pikiran dan ajaran yg jorok, kotor dan jahat. Maka yg keluar dari mulutnya pun jorok, kotor dan jahat penuh iblis!

      Apakah si teroris tibo cs, bukan atas nama agama saat membantai 400 lebih orang islam di pesantren Walisongo Poso? Kenapa tibo cs musti diberkati dulu sebelum membantai umat islam Poso?

      Lalu ngapain kamu orang2 selalu ngancam akan sparatis/pisah dari NKRI, kalau bukan selalu karena pikiran keagamaan yg picik itu?

    • taik hidung said

      gimanaya cara portugis nyebarin agamanya kepada nenek moyang you?you runut…jesus ngga ada urusan ama orang indonesia timur.cuma pada bani israel…ingat itu

  12. john said

    bodoh…
    ini perang antara 2 pihak…
    mengapa hanya satu pihak yang dsudutkan??
    Dimanakah pelaku bom-bom dan teror-teror poso? Dimanakah pelaku pemenggalan kepala tiga siswi?
    anda tau amrozi cs??
    kalo sudah tau saya tdk repot mnjelaskannya lagi…
    dia berperang mengatasnamakan islam…
    apa itu yang disebut agama islam..
    tibo cs diberkati agar dia selamat dengan keadaanNya bukan untuk membantai..
    anda ini bodoh sekali…

    • he he he …

      Siapa bung yg menyatakan perang? Apakah Indonesia dlm keadaan perang? Apakah umat islam menyatakan perang kepada kristen? pakai otaknya ha ha ha …

      Bayangkan, 400 orang islam lebih di pesantren Walisongo Poso, anak2 – laki2 – perempuan; tanpa ampun disembelih dan dan bantai tanpa ampun. Apakah tibo cs diberkati oleh gereja untuk membantai orang lain, unbelieveble!

      Siapa yg telah dijatuhi hukuman mati dg ditembak, tibo cs khan! Berarti siapa teroris di Poso, tibo cs khan! Bukan umat islam!

      Bahkan pendeta damanik ditangkap karena mobil kijangnya penuh dg senjata api, tapi kok gak diproses ya, karena tekanan amerika dan vatikan?

  13. john said

    hahaha…
    anda itu cuma pendengar yang bodoh dan menulis artikel ini untuk membuat provokasi tapi tak pernah melihat bagaimana konflik yang terjadi..
    mengapa hanya tibo cs saja… bagaimana dengan laskar jihad??
    mengapa sang ketua jafar umar thalib tak ditangkap??
    harusnya dia yang disebut TERRORIS…
    mengapa laskar jihad datang tapi tak ada satupun kesatuan yang mencegah…
    bahkan mereka malah memasoki persenjataan…

    Pada dasarnya, tiga kesatuan tentara dan satu kesatuan polisi telah mengambil bagian
    dalam pembunuhan besar-besaran itu, yakni pasukan-pasukan Kostrad, Brawijaya, Kopassus
    dan Brimob. Keterlibatan Kopassus tidak begitu kentara sebagaimana tiga kesatuan lain,
    yang telah didokumentasikan dengan baik oleh para jurnalis asing. Para tentara Kopassus
    sering menyamarkan dengan menggunakan jubah Arab dan jenggot palsu sebagai ciri Lasykar
    Jihad, atau menggunakan kaos-kaos Lasykar Maluku sebagai ciri dari milisi Kristen.

    Beberapa orang dari mereka ditangkap sebelum mencapai Ambon, sebagaimana terjadi ketika
    empat orang tentara Kopassus berambut panjang ditahan di atas kapal KM Lambelu, pada 5
    Agustus 2000, kira-kira 70 orang perwira Kopassus dilihat oleh para jurnalis dan para
    relawan kemanusiaan meninggalkan Ambon dengan menumpang pesawat terbang militer
    Hercules, dengan mendorong sebuah peti kayu besar yang berisi perlengkapan mereka ke
    dalam pesawat terbang. Mereka memakai seragam loreng, lengkap dengan lencana
    Kopassusnya. Kehadiran para anggota Kopassus di Ambon itu sudah diketahui oleh para
    jurnalis sejak Januari 1999.

    Kehadiran Kopassus di antara Lasykar Jihad dapat disimpulkan dari ketrampilan tempur
    mereka yang khas — seperti menembak dan melempar granat dari dalam drum minyak yang
    kosong yang digelindingkan oleh anggota Lasykar Jihad ketika menyerang kampus UKIM
    (Universitas Kristen Indonesia Maluku) — atau dengan kelaziman dari para penembak
    gelap, yang sering bertindak secara tenang dan berhati-hati untuk menetapkan jumlah
    korban yang setara bagi kedua komunitas, dalam setiap konfrontasi antaragama. Memang
    tembakan kepala yang fatal tidak merupakan monopoli anggota Kopassus, dan telah
    dikuasai pula oleh pasukan-pasukan khusus Angkatan Darat memiliki waktu dan kesempatan
    yang lebih lama untuk mengembangkan keterampilan yang mematikan ini selama masa tugas
    mereka di Timor Lorosa’e dan berkat latihan bersama para penembak jitu SAS di Australia.

    sumber :
    http://roysianipar.wordpress.com/2008/10/06/orang-orang-jakarta-di-balik-tragedi-maluku/
    saya tekankan sekali lagi
    ini negara beragama bukan NEGARA AGAMA
    saya mau tanya…
    mengapa kalian berjihad yang mengatasnamakan TUHAN?? tidakkah kalian tahu bahwa jangan menyebut nama TUHAN dengan sembarangan.. apalagi berperang atas nama TUHAN

    • o … maaf, ternyata IQ anda gak nyampek ya … duh kasihan!

      anda RMS ya?

      Saya tanya sekali lagi, menurut hukum yg masih berlaku di Indonesia dan resmi dianut di Indonesia:

      SIAPA YANG TELAH DIJATUHI HUKUMAN MATI KARENA MEMBANTAI 400 ORANG LEBIH PADA KASUS KONFLIK POSO?

      jawab itu saja dulu, gak usah teriak2 sampai berbusa-busa kayak orang mabok!

  14. john said

    ini perang antr 2 pihak…yang trjadi dikota itu biarlah mreka sendiri yang mnyelsaikan masalh tsbut…
    ngpain pke datng laskar jihad sgala….
    bukan mmperkeruh tapi malah bwt hancur…
    sya malu dgn anda utk jwb ptnyaan sya sja pke sgala mkir..
    dgn mnyelah mbuat ptanyaan yg baru…wkkwkwkwk
    dasar telmi..

    • Apakah Indonesia dlm keadaan perang waktu itu? TIDAK!

      Apakah umat islam di pesantren Walisongo Poso, bersiap dan menyatakan perang waktu itu? TIDAK!

      Tapi gerombolan teroris laskar kristen kelelawar hitam, yg dipimpin oleh tibo cs, yg menyerbu pesantren Walisongo yg tak bersiap senjata apapun; kemudian membantai 400 lebih umat islam Walisongo atas berkat dari gereja!!!

      Umat islam tidak pernah mengirimkan laskar mujahidin ke Poso, tapi laskar teroris kristen kelelawar hitam yg dipimpin oleh tibo cs-lah yg ada di Poso. Jadi justru kristen-lah yg membentuk laskar pembantai bernama kelelawar hitam, yg didatangkan dari flores atau timor.

      Buktinya si teroris tibo cs berasal dari flores, ngapain dia kok memimpin laskar teroris kelelawar hitam di POSO????

      Kirain IQ kamu diatas atau minimal sama dg anak SD, ternyata jauh melorot sampai dengkul.

      Itulah kalau kurang pergaulan dan gagap teknologi!

  15. john said

    baca artikel dulu y mas… wkkwkwkwkwk
    tibo cs itu sudh lama di poso… bukankahlaskar jihad
    makanya mas baca artikel jgn setengah2 y…
    jwb dulu donk ptanyaan dari saya itu…
    bingung y mw jawab apa??? wkwkwkwkw
    ne sya kasih tw :
    Rabu, 02 Agustus 2000, @08:08 WIB

    Palu — Ini dia ‘orang yang paling dicari’ setelah Tibo. Usai
    menyerahkan diri ke Polsek Beteleme, Senin (31/7) sore, dengan
    kawalan ketat Resimen I Brimob, Bogor, Selasa (1/8) siang,
    Dominggus tiba di Mapolda Sulteng, Palu. Melihat sosoknya dari
    dekat, gambaran seorang pembunuh segera membayang. Bagaimana
    tidak, kulitnya legam, bicaranya tegas namun singkat,
    tatapannya dingin. Dan, yang paling seram, pembawaannya cuek,
    bahkan sedikit terkesan angkuh. Dijumpai di ruang kerja
    Wakapolda Sulteng, sosok kekar dengan wajah sangar itu,
    bertutur tentang siapa ia sesungguhnya. Berikut kutipannya:

    Bagaimana Anda bisa ditangkap?
    Menurut saya, ini bukan penangkapan. Tapi, saya datang
    menyerahkan diri untuk cari jalan yang bagus. Jadi, apa yang
    bengkok, harus diluruskan kembali.

    Soal pembunuhan sejumlah orang, apa saudara yang lakukan?
    Itu bukan pembunuhan, itu korban peperangan Pak!

    Terus siapa yang lakukan?
    Oh, itu banyak. Itu massa.

    Massa dari mana?
    Ya, antara Kelompok Merah dan Putih. Istilahnya korban perang.

    Apa yang mendorong Anda ikut kasus ini?
    Oh, itu spontanitas.

    Apakah ada orang yang diajak?
    Tidak ada.

    Anda dibayar?
    Tidak ada. Sama sekali tidak. Ini spontanitas.

    Siapa yang ajak Anda untuk berperang?
    Tidak ada yang ajak.

    Ada kerjasama dengan Tibo?
    Tidak ada.

    Selama ini tidak ada komunikasi dengan Tibo?
    Sering komunikasi. Tapi, sekali-sekali di lapangan saja.

    Sebelum menyerahkan diri, tinggal di mana?
    Saya tinggal di sekitar Desa Jamur Jaya.

    Apakah Anda pindah-pindah?
    Tidak. Saya tinggal di satu tempat saja.

    Nama lengkapnya?
    Dominggus

    Nama lain?
    Cuma itu saja, Dominggus.

    Berapa umurnya?
    33 tahun.

    Lahir di mana?
    Timor. Di Maumere.

    Pekerjaannya?
    Mekanik.

    Di mana?
    PT. Inco International. Di Sulawesi Selatan.

    Sejak kapan di Desa Jamur Jaya?
    Sejak tahun 1991.

    Sudah kawin?
    Belum. Masih bujangan.

    Berapa orang yang Anda bunuh atau yang berduel dengan Anda?
    Oh, kalau jumlah orang saya tidak tahu.

    Kalau yang berhadapan dengan Anda dan jatuh jadi korban, berapa?
    Tidak ada.

    Kalau mayat-mayat yang ada di Pesantren Wali Songo itu, Anda tahu?
    Iya, saya tahu.

    Yang membunuh mereka?
    Ya, massa.

    Kelompok Putih atau Merah?
    Merah.

    Apakah di atas Anda, ada pimpinan yang lain?
    Tidak ada.

    Kapan Anda menyerahkan diri?
    Kemarin. (Senin, 31/7-red)

    Jam berapa?
    Lima sore.

    Apa ini karena Anda mendengarkan anjuran Tibo untuk menyerahkan diri?
    Iya. Itu juga karena jalan yang terbaik.

    Sebelum kerusuhan, apakah Anda sering berhubungan dengan Tibo?
    Tidak ada.

    Ketemunya waktu kerusuhan.
    Iya.

    Tinggalnya sama dengan Tibo?
    Iya. Satu desa. Tapi, tempat kerjanya lain-lain. Saya di Selatan
    (Sulawesi-red), dia di Tengah. Saya di Soroako.

    Di PT. Inco itu?
    Iya.

    Sebelumnya berdomisili di mana?
    Di Soroako

    Bukan di Beteleme?
    Bukan. Cuma saya punya kebun di trans, di Desa Jamur Jaya.

    Anda sekolah di mana?
    Saya tidak ada sekolah.

    Sejak kapan bekerja di PT. Inco?
    Sejak tahun 1991.

    Kalau di Sulawesi Selatan sejak kapan?
    Sejak tahun 1985.

    Ketemu Tibo kapan?
    Sesudah dia kerja di Tamaco.

    Kapan itu?
    Lama sekali. Mungkin 10 tahun lalu.

    Jika Anda dinyatakan bersalah, Anda siap dihukum?
    Oh, itu tunggu dulu, Pak! Karena ini spontanitas.

    Sejak kapan Anda terlibat di Poso?
    Sejak hari Selasa (23/5), yang ada pembakaran gereja itu.

    Konon Anda kebal senjata tajam?
    Enggak. Manusia ndak kebal parang. Cuma kuasa Tuhan ada.

    Anda memimpin satu kelompok?
    Tidak. Ini spontanitas, tidak ada pemimpin.

    Sejak kapan diangkat jadi panglima?
    (Sayang, ketika Dominggus tengah berpikir untuk menjawab
    pertanyaan ini, Wakapolda menghentikan wawancara). ***
    sumber :
    http://media.isnet.org/poso/index.html

    jgn baca artikel yg sepihak mas…

    • Memang kalau menghadapi orang dg IQ payah gini …. capek deh!

      Itu wawancara siapa, kok gak nyambung sama sekali, dasar …

      Tahu gak itu pengakuan dominggus yg menyatakan bahwa pihak merah yg menyerang dan membantai … dasar dogol. baca lagi tuh pembelaannya hua hua hua …

      Okey, saya tanya … apakah si teroris tibo asli orang POSO? Tidak khan!

      Pada konflik POSO, laskar pasukan teroris apa yg ada di sana? Laskar kristen Kelelawar Hitam!

      Jadi pada konflik POSO tsb, yg adalah laskar teroris kelelawar hitam yg membantai 400 lebih umat islam pesantren Walisongo. Dan salah satu pimpinan gerombolan teroris kelelawar hitam adalah tibo yg asalnya dari Flores. Bagaimana?

      Saya tanya sekali lagi, menurut hukum yg masih berlaku di Indonesia dan resmi dianut di Indonesia:

      SIAPA YANG TELAH DIJATUHI HUKUMAN MATI KARENA MEMBANTAI 400 ORANG LEBIH PADA KASUS KONFLIK POSO?

      Dan lagi kenapa otak kerusuhan yg berjumlah 20 orang lebih (menurut pengakuan tibo) kok gak usut tuntas ya !

      Juga pendeta damanik yg ketahuan bawa senjata puluhan di dlm mobil kijangnya kok gak diproses ya!

  16. john said

    eh bodoh anda tidak menonton berita y…
    bagaimana dia waktu disidang lalu….
    payayayahhhh….
    itu bukan pembantaian tapi peperangan…. begoo
    masa ssama anak kecil aja dikasih petanyaan ga djawab2
    malah nyelah truzz….wkwkwkwkwkwkwkwk

    • Sudah gak usah banyak ngomong, jawab saja ini :

      Saya tanya sekali lagi, menurut hukum yg masih berlaku di Indonesia dan resmi dianut di Indonesia:

      SIAPA YANG TELAH DIJATUHI HUKUMAN MATI KARENA MEMBANTAI 400 ORANG LEBIH PADA KASUS KONFLIK POSO?

      Dan lagi kenapa otak kerusuhan yg berjumlah 20 orang lebih (menurut pengakuan tibo) kok gak usut tuntas ya !

      Juga pendeta damanik yg ketahuan bawa senjata puluhan di dlm mobil kijangnya kok gak diproses ya!

  17. john said

    hahaha…anda sepertinya tidak tau… atw sok ttw…
    itu peperangan mas… bodoh skali anda…
    namanya jg mayoritas… jd yg minoritas slalu ditekan…
    dengan hanya menangkap tibo cs saja… tetapi dimna pelaku2 bom poso??? sengaja y dihilangkan y jejaknya….
    mas qo ga dijawab2… bingung y???? wkwkwkwkw

    • nah siapa yg kelabakan dan ngeles terus sekarang?

      ini pertanyaan saya dari awal kok gak berani jawab!

      Saya tanya sekali lagi, menurut hukum yg masih berlaku di Indonesia dan resmi dianut di Indonesia:

      SIAPA YANG TELAH DIJATUHI HUKUMAN MATI KARENA MEMBANTAI 400 ORANG LEBIH PADA KASUS KONFLIK POSO?

      Dan lagi kenapa otak kerusuhan yg berjumlah 20 orang lebih (menurut pengakuan tibo) kok gak usut tuntas ya !

      Juga pendeta damanik yg ketahuan bawa senjata puluhan di dlm mobil kijangnya kok gak diproses ya!

      Jelas2 umat islam di pesantren tanpa senjata dan tdk ada persiapan, kok dibantai disertai pemberkatan gereja!

      ayo gak usah macem2, jawab pertanyaan2 saya tsb!

  18. john said

    ini peperangan.. yang mengakibatkan terbunuhnya orng2 trsbut… kalian ini bodoh sekali… sudah jelas2
    sedang bertikai…
    ptanyaan kalian semakin ngawur…
    orang2 tersebut diberkati keadaanNya…
    agr tidak terjadi apa2 dengn keadaan mreka..
    anda tidak bisa mencerna jwwaban2 dari saya y…
    apa ptanyaan saya sngaja disela dgn menjwb ptanyaan anda tsb… wkwkwkwk
    jwab dunk???
    saya sudah mnjwb boZZZ perang…

    • ngerti bahasa indonesia gak!

      bisa diskusi gak!

      nyambung gak jawaban kamu dg apa yg saya tanyakan!

      Saya tanya sekali lagi, menurut hukum yg masih berlaku di Indonesia dan resmi dianut di Indonesia:

      SIAPA YANG TELAH DIJATUHI HUKUMAN MATI KARENA MEMBANTAI 400 ORANG LEBIH PADA KASUS KONFLIK POSO?

      Dan lagi kenapa otak kerusuhan yg berjumlah 20 orang lebih (menurut pengakuan tibo) kok gak usut tuntas ya !

      Juga pendeta damanik yg ketahuan bawa senjata puluhan di dlm mobil kijangnya kok gak diproses ya!

      Jelas2 umat islam di pesantren tanpa senjata dan tdk ada persiapan, kok dibantai disertai pemberkatan gereja!

  19. oki said

    hehehe…si john ko…

  20. dewan vatikan said

    kami dewan gereja sedunia menyatakan john yg mewakili kami kalah telak.dan di nyatakan bodoh sebodoh-bodohnya.diharap john kembali duduk kebangku sd kembali…….bikin malu pihak gereja….

  21. Syiah said

    Kasus ambon, poso dan sampit memang sudah di rencanakan sedemikian mungkin, karena pemerintahan Indonesia tidak jelas yang seharusnya terbaik adalah didirikannya Syariat Islam, semua agama akan dilindungi bila negara ini menjadi syariat Islam.. Betul ga?

  22. Paus Paulus Benedictus said

    Eh John jangan bikin malu,dongo.Kita ni udah malu punya kitab porno.Punya umat suka bantai orang.John,kamu IQ jongkok,jgn ngomong smbarangan.Kita ni punya kitab bible,tapi gak ada yg asli,gak ada yg hafal…sampe gue tua kayak gini,gue gak apal2 tu kitab….

  23. pembela islam said

    fuck orang israel ma orang jristen ..BIADAD KALIAN SEMUA <BIARKAN ALLAH YANG MEMBALAS NYA KELAK …JAHANAM KAO KRISTEN!!!!!!!!!!!!!!!

  24. Kita hidup dalam lingkaran setan iblis islam dengan ajaran Al Quran ciptaan Muhammad bin Abdulah, kita hgarus mengenal mushu kita islam karena dalam Al Quran Surah 8 ditekankan dalam buku ibvlis ciptaan manusia Muhammad untuk saling membunuh ini adalah perintah iblis yang telah memakai islam sebagai alat permuhuhan didunia ini.

    Oleh sebab itu diwajibkan selalu waspada untuk mengenal musuh kita didunia ini ialah islam yang ingin menguasai dunia. Kita harus waspada dan siap berperang melawan ajaran setan melalui agama ciptaan Muhammad sipenipu pembohong besar dari keturunan ular ular beludak bangsa Arab….islam agama yang paling biadab dengan perintah untuk membunuh demi islam diperluaskan didunia ini, inilah musuh kita.

    Dimana mana saja islam akan muncuk disitu pasti ada permusuhan dan pembantaian…kuasa setan besar yang sudah menguasai islam agama biadab. Mengapa kita selalu berhadapan dengan islam dan tidak dapat hidup perdampingan dengan mereka…?

    Jawabannya selidi Al Quran ciptaan Muhammad nabi palsu yang ingin menguasai dunia dengan jalur pembunuhan dan harus tunduk pada ajaran setan melalui agama biadab islam.

    • Sebenarnya kalau melihat tulisan sampah anda ini, bisa menunjukkan seberapa jongkok IQ anda dan seberapa bebal otak anda!

      Tapi karena anda berani menulis ini, dan kalau memang anda gentlemen itu kalau tidak penakut dan pengecut, coba tunjukkan dan buktikan mana ajaran islam dan al-qur’an yg anda tuduh dan lecehkan sebagai ajaran setan iblis itu?!?!?!?!?

      Mari kita bandingkan dengan umat kristen anda, mari lihat sejarah dari awal:
      1. Bagaimana biadabnya pasukan crusader perang salib membantai dan menumpas orang2 tak berdosa di yerusalem; padahal pasukan mujahidin islam saat menang perang tidak ada pembantaian biadab balasan!
      2. Bagaimana biadabnya keuskupan, negara2 kristen kepada para ilmuwan seperti galileo dsb!
      3. Bagaimana biadabnya pasukan kristen saat mereka menguasai kembali spanyol; dg bengis mereka membantai dan menumpas orang2 islam baik wanita, orang tua, anak2 dan bahkan bayi yg tak beerdosa!
      4. Bagaimana biadabnya armada penjajah kristen dg semboyan gold-glory-gospelnya, menjajah menjarah dan membantai penduduk negri yg mereka jajah selama 500 thn era penajajahan eropa ke afrika asia dan amerika!
      5. Bukankah Hitler adalah kristen yg taat, berapa puluh juta rakyat tak berdosa dibantai olehnya dan perang yg dimulai oleh hitler!
      6. Bagaimana dg mussolini dan penjahat perang bengis kristen lainnya di masa itu!
      7. Bagaimana inggris, belanda, spanyol, portugal, belanda, perancis, italia dan negara kristen lain membantai dan menghancurkan budaya bangsa lain, berapa ratus juta nyawa tak berdosa dibantai!
      8. Bagaimana dg Amerika terrorist yg menjatuhkan 2 bom atom kepada penduduk yg tak berdosa!
      9. Kemudian amerika teroris, menjajah dan menghancurkan bangsa vietnam, ratusan ribu rakyat tak berdosa terbantai!
      10. Kemudian dg biadab amerika teroris menginvasi Irak dan Afghanistan, membantai 1 juta lebih rakyat tak berdosa!

      BAGAIMANA … AJARAN MANA YG SETAN DAN IBLIS, DAN UMAT MANA YG LEBIH TERORIS?!?!?!?

      Coba jelaskan, bagaimana ajaran kitab suci di bawah ini kok isinya biadab dan kejam:

      TUHAN mendengarkan permintaan orang Israel, lalu menyerahkan orang Kanaan itu; kemudian orang-orang itu dan kota-kotanya ditumpas sampai binasa. Itulah sebabnya tempat itu dinamai Horma. [Bilangan 21]

      Maka sekarang bunuhlah semua laki-laki di antara anak-anak mereka, dan juga semua perempuan yang pernah bersetubuh dengan laki-laki haruslah kamu bunuh. Tetapi semua orang muda di antara perempuan yang belum pernah bersetubuh dengan laki-laki haruslah kamu biarkan hidup bagimu. [Bilangan 31]

      maka bunuhlah dengan mata pedang penduduk kota itu, dan tumpaslah dengan mata pedang kota itu serta segala isinya dan hewannya. [Ulangan 13]

      Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai.” [1 Samuel 15]

      LALU, DIMANA AJARAN CINTA KASIH DAN PERDAMAIAN ITU?!?!?!?

  25. ummu azkia said

    Subhanalloh, akhi smoga Alloh memberikan pahala yang besar kepada mu dan kepada kaum muslimin yang berjihad di sana, saat ana baca ttg keajaiban pasukan berkuda memakai baju putih itu ana langsung merinding…., memang benar Alloh tentu tidak akan meninggalkan hambaNya…, teruslah berjuang di jalan Alloh…, tapi ana ttp kasihan sm muslimin disana, kalo bisa umat muslim di ambon dan poso pindah aj sini ke bogor dan jakarta disni alhamdulilaah aman dan syi’ar Islam bgitu kuat dan persaudaraan diantara kaum muslimin sangat erat…

  26. hamdan said

    subhanalloh walhamdulillah walaa ilaa ha illallalloh wallohu akbar,bahagialah kalian para syuhada ambon dan posodi syurganya alloh,bagi kaum muslimin yang ada disana,semoga senantiasa dilindungi oleh alloh swt dari segala mara bahYA.amiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: