Muslim in Suffer

Bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem. Assalamu\’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh!

Liberalisasi Islam Untuk Apa?

Posted by musliminsuffer on May 12, 2009

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

Liberalisasi Islam Untuk Apa?

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

*Tulisan ini disunting (diedit) dari makalah yang telah disampaikan di Wisma Nusantara Kairo Mesir. Pada tanggal 11-16 September 2005, Hartono Ahmad Jaiz (penulis Buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia serta buku Ada Pemurtadan di IAIN dan sejumlah buku lainnya) berkunjung ke Mesir, dalam rangka menggelar diskusi publik bertema Liberalisasi Pemikiran Islam di Indonesia: Mitos atau Realitas? Acara ini merupakan kerja sama antara Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, dengan empat organisasi mahasiswa Indonesia di Mesir: PCI NU (Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama), PCI Muhammadiyah, Pwk Persis (Perwakilan Persatuan Islam), dan PCI Al-Washliyah. Hartono ditemani oleh Tohir Bawazier (Direktur Pustaka Al-Kautsar) dan Nur Ihsan (Redaktur Pustaka Al-Kautsar).

Dari Mesir, Hartono dan rombongan (minus Nur Ihsan) melanjutkan perjalanan ke Jeddah, yang ternyata diminta oleh anggota ICMI Jeddah untuk bedah buku Ada Pemurtadan di IAIN. Perjalanan itu dilanjutkan dengan melaksanakan ibadah umroh, dan kembali ke tanah air 24 September 2005. (Redaksi).

Liberalisasi agama yang kemudian menjadi pluralisme agama sebenarnya bukan dari Islam. Tidak memiliki akar teologi dalam Islam dan tidak pula akar kultur. Bahkan liberalisasi agama itu sendiri asalnya adalah liberalisi di bidang social politik, kemudian liberalisasi ekonomi. Akhirnya agama (bukan Islam) dipaksa untuk diliberalkan, pada akhirnya Islam pun dijadikan sasaran pula.

Liberalisasi agama harus bermuara pada terciptanya suatu tatanan sosial yang menempatkan semua agama pada posisi yang sama dan sederajat, ‘sama benarnya dan sama relatifnya. Orang menyebutnya sebagai ‘pluralisme agama’. (Lihat artikel Melacak Pluralisme Agama, Hidayatullah.com, Kamis, 12 Agustus 2004, Ditulis Anis Malik Toha, Phd. (Dosen Ilmu Perbandingan Agama pada International Islamic University, Malaysia).

Peringatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jauh-jauh sebelum adanya peristiwa yang tidak sesuai dengan harapan Islam, telah memperingatkan bahwa ada penyeru-penyeru di pintu-pintu jahannam. Imam An-Nawawi menjelaskan hadits Nabi:

( دُعَاة عَلَى أَبْوَاب جَهَنَّم مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا ) قَالَ الْعُلَمَاء : هَؤُلَاءِ مَنْ كَانَ مِنْ الْأُمَرَاء يَدْعُو إِلَى بِدْعَة أَوْ ضَلَال آخَر كَالْخَوَارِجِ وَالْقَرَامِطَة وَأَصْحَاب الْمِحْنَة .

Penyeru-penyeru di pintu-pintu jahannam. Barangsiapa menyambut (seruan) mereka ke jahannam itu maka para penyeru itu melemparkannya ke dalamnya. Para ulama berkata, mereka (penyeru-penyeru) itu adalah orang dari kalangan umara’ (pemimpin) yang mengajak kepada bid’ah dan kesesatan lainnya seperti Khawarij, Qaramithah, dan Ashabul Mihnah/ Mu’tazilah.[1]

Kontroversi faham liberal menyangkut Islam

Kontroversi Faham Islam Liberal, dilihat dari sebagian lontaran-lontaran mereka, bisa dikelompokkan dalam tiga tujuan:

1. Mengenai amputasi terhadap Islam dengan cara-cara sekulerisasi.

2. Menyangkut penolakan diterapkannya syari’at Islam.

3. Mengenai Penyamaan agama-agama

A. Amputasi terhadap Islam

Kutipan:

Nurcholish menulis: “Apologi bahwa Islam adalah al-Din bukan agama semata-mata, melainkan juga meliputi bidang lain, yang akhirnya melahirkan apresiasi ideologis-politis totalier, itu tidak benar ditinjau dari beberapa segi. Pertama ialah segi bahasa. Di situ terjadi inkonsistensi yang nyata, yaitu perkataan al-Din dipakai juga untuk menyatakan agama-agama yang lain, termasuk agama syirk-nya orang-orang Quraisy Makkah. Jadi arti kata itu memang agama; karena itu, Islam adalah agama.”[2]

Tanggapan:

Cara membolak-balik istilah lewat bahasa semacam itu, sering menjadikan orang yang tidak faham, menjadi bingung. Namun bagi yang faham, justru bisa mengatakan, seperti kata Pak Rasyidi, pemikiran semacam itu berbahaya karena pemikirannya sederhana.

Memang berbahaya, karena logikanya sangat sederhana. Islam itu al-Din, sedang al-Din itu digunakan untuk nama-nama agama lain, yang semua agama lain itu dia anggap tidak mengatur negara. Jadi Islam juga tidak ada urusannya dengan negara.

Coba dilihat di Al-Qur’an, apakah artikel Nurcholish yang dimuat di buku Kurzman itu benar. Ternyata di Al-Qur’an, kata al-Din itu ada yang artinya undang-undang. Yaitu dalam Surat Yusuf ayat 76:

مَا كَانَ لِيَأْخُذَ أَخَاهُ فِي دِينِ الْمَلِكِ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ. (يوسف: 76).

“…Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut dinil Maliki (undang-undang Raja), kecuali Allah menghendakinya.” (QS 12/ 76).

Di sini kata din artinya adalah undang-undang. Dan itu kaitannya adalah untuk menghukum saudara Yusuf yang di dalam kantongnya terdapat sukatan Raja.

Dalam Mukhtashor Tafsir At-Thobari dijelaskan: Tidaklah Yusuf untuk menghukum saudaranya itu dalam hukum raja dan kesultanannya, karena tidak ada dalam hukum raja itu untuk menjadikan pencuri jadi budak, tetapi ini adalah hukum yang ada dalam syari’at Ya’qub. Tetapi kami (Allah) berbuat demikian padanya dengan kehendak Kami.[3]

Dalam Tafsir itu din diartikan hukm (hukum) dan syari’ah (jalan/ hukum). Jadi, pengembalian kepada bahasa seperti yang diinginkan Nurcholish pun, tidak sesederhana yang dia lontarkan, dengan cara memukul rata atau menggeneralisir alias main gebyah uyah, menganggap bagai garam semuanya asin. Karena ternyata, kata al-Din di Al-Qur’an tidak hanya berarti agama –ritual, tetapi ada juga yang maknanya undang-undang yang berkaitan dengan kekuasaan.[4]

Dalam kasus ini, tidak semudah perkataan orang bahwa masalahnya hanyalah beda penafsiran, yang seakan penafsiran sejauh apapaun tetap sah-sah saja. Bisa dikategorikan sebagai beda penafsiran, namun sebagaimana bedanya penafsiran yang sah bahwa Mekkah itu adalah kota suci di Arab yang di sana ada Baitullah dan Masjidil Haram, dengan penafsiran yang tidak sah yaitu penafsiran Gato Loco bahwa Mekkah itu artinya mekakah (mengangkang), yaitu wanita jika mengambil posisi bersetubuh (bahasa Jawa: Mekakah)[5]

B. Penolakan Diterapkannya Syari’at Islam

1 Ali Abdul Razik (di Mesir):

a. Ali Abdul Razik menetapkan bagi dirinya suatu madzhab, katanya: “Sebenarnya pewalian Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam atas segenap kaum mukminin itu ialah wilayah risalah, tidak bercampur sedikitpun dengan hukum pemerintahan.” Ini cara berbahaya yang ditempuhnya, melucuti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari hukum pemerintahan. Anggapan Syekh Ali itu bertentangan dengan ayat:

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ. (النساء: 105).

Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan (membawa) kebenaran, supaya engkau menghukum antara manusia dengan apa yang diperlihatkan (diturunkan) Allah kepadamu itu.” (QS An-Nisa’: 105).

b. Syekh Ali menganggap tugas Nabi hanya menyampaikan syari’at lepas dari hukum pemerintahan dan pelaksanaannya. Kalau anggapannya itu benar, tentulah ini merupakan penolakannya terhadap semua ayat-ayat hukum pemerintahan yang banyak terdapat dalam Al-Qur’anul Karim dan bertentangan dengan Sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam yang jelas dan tegas.

c. Ia mengingkari kesepakatan (ijma’) para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengangkat seorang Imam dan bahwa menjadi kewajiban bagi umat Islam untuk mengangkat orang yang mampu mengurus permasalahan agama dan dunia.

d. Ia tidak mengakui kalau peradilan itu suatu tugas syari’at. Ia beranggapan bahwa pemerintahan Abu Bakar Shiddiq dan pemerintahan Khulafaur Rasyidin sesudahnya tidak agamis. Ini justru kelancangan Syekh Ali yang tidak agamis.[6]

2 Nurcholish Madjid

Kutipan:

“…sudah jelas, bahwa fikih itu, meskipun telah ditangani oleh kaum reformis, sudah kehilangan relevansinya dengan pola kehidupan zaman sekarang. Sedangkan perubahan secara total, agar sesuai dengan pola kehidupan modern, memerlukan pengetahuan yang menyeluruh tentang kehidupan modern dalam segala aspeknya, sehingga tidak hanya menjadi kompetensi dan kepentingan umat Islam saja, melainkan juga orang-orang lain. Maka, hasilnya pun tidak perlu hanya merupakan hukum Islam, melainkan hukum yang meliputi semua orang, untuk mengatur kehidupan bersama.” (Artikel Nurcholish Madjid di buku Wacana Islam Liberal).

Tanggapan:

Tuduhan bahwa fiqh telah kehilangan relevansinya, itu adalah satu pengingkaran yang sejati.

Dalam kenyataan hidup ini, di masyarakat Islam, baik pemerintahnya memakai hukum Islam (sebut saja hukum fiqh, karena memang hukum praktek dalam Islam itu tercakup dalam fiqh) maupun tidak, hukum fiqh tetap berlaku dan relevan. Bagaimana umat Islam bisa berwudhu, sholat, zakat, puasa, nikah, mendapat bagian waris, mengetahui yang halal dan yang haram; kalau dia anggap bahwa fiqh sudah kehilangan relevansinya? Hatta di zaman modern sekarang ini pun, manusia yang mengaku dirinya Muslim wajib menjaga dirinya dari hal-hal yang haram. Untuk itu dia wajib mengetahui mana saja yang haram. Dan itu perinciannya ada di dalam ilmu fiqh.

Sangat disayangkan, realitas yang belum hilang sama sekali dalam kenyataan, telah diingkari oleh Nurcholish Madjid. Teman sejawat Nurcholish Madjid dalam hal keliberalan, atau istilahnya waktu itu “Islam kontekstual”, yaitu Pak Munawir Sjadzali –yang pernah dijuluki sebagai trio pembaruan (Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, dan Munawir Sjadzali) di tahun 1985-1990-an–, Pak Munawir telah berpayah-payah membuat kompilasi hukum Islam dari kitab-kitab fiqh Islam sekitar (26 kitab) dengan mengumpulkan para rektor, dosen, dan para ulama se-Indonesia untuk membuat kompilasi hukum Islam selama 2 tahun-an, dengan mengadakan studi banding ke berbagai tempat. Ternyata kini upaya Menteri Agama Munawir Sjadzali MA itu diingkari mentah-mentah oleh Nurcholish Madjid. Memang kompilasi hukum Islam itu hanya mengenai hukum keluarga (ahwalus syahsyiyah) yaitu hukum waris, hibah, sedekah, nikah , talak, dan rujuk. Namun pelaksanaan dalam pengadilan agama yang telah disahkan lewat undang-undang peradilan agama, tetap merujuk kepada hukum fiqh Islam.

Kenyataan yang masih ada di depan mata pun diingkari oleh Nurcholish Madjid. Dan setelah mengadakan pengingkaran, lalu dia nyatakan:

Kutipan:

“Maka, hasilnya pun tidak perlu hanya merupakan hukum Islam, melainkan hukum yang meliputi semua orang, untuk mengatur kehidupan bersama.”

Tanggapan:

Ungkapan Nurcholish Madjid itu tidak usah manusia yang menjawab, tetapi kita serahkan kepada Allah SWT yang telah berfirman:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ(50).

Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maaidah/ 5: 50).

Agaknya pantas kita mengingat pepatah:

Anak di pangkuan dilepaskan

Beruk di hutan disusukan

Hukum Islam yang jelas dari Allah SWT, mau dia buang, sedang hukum rimba yang belum ketahuan juntrungannya mau diterapkan. Ini secara akal sudah menyalahi akal sehat. Sedang secara keyakinan sudah mengingkari hukum Allah SWT.[7]

3 Pernyataan Sukidi, staf Paramadina di Jakarta:

“Baik jihad maupun crussade adalah komoditas simbol-simbol agama untuk tujuan dan kepentingan politik murahan berjangka pendek.” (Republika, 14 /1 2002). Tulisan itu lalu dibantah oleh Fauzan Al-Anshari alumni IAIN Yogya, di Republika Jum’at 18/1 2002, berjudul “Jihad dalam Perspektif Syari’ah –Pelajaran untuk Sukidi–.

Ada (orang-orang JIL seperti Ulil Abshar Abdallah dari NU –Nahdlatul Ulama dan lain-lain) yang mengkhawatirkan kalau syari’at Islam diberlakukan maka akan ada yang tertindas (yang tertindas pertama kali adalah kaum perempuan, menurut mereka) dan sebagainya. Itu adalah tuduhan-tuduhan yang justru oleh pendahulunya, yakni Snouck Hurgronje saja tidak demikian.

Allah SWT memperingatkan:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا(36). (الأحزاب: 36)

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak pula bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang aturan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Al-Ahzaab/ 33: 36).

Ibnu Katsir menjelaskan, ayat ini umum dalam seluruh perkara. Dan demikian pula bahwa apabila Allah dan Rasul-Nya telah menghukumi dengan sesuatu maka tidak ada kebolehan bagi seseorang untuk menyelisihinya, dan tidak ada pilihan (lain) bagi seseorang di sini, dan tidak ada pendapat dan tak ada perkataan. Sebagaimana Allah tegaskan:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا(65).

“Maka demi Tuhanmu mereka pada hakekatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka suatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS An-Nisa’: 65).

Dan di dalam Hadits:

” لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ “

“Salah seorang diantara kalian tidak beriman sehingga hawa nafsunya mengikuti wahyu (agama) yang aku bawa.”[1]

Oleh karena itu Allah sengit terhadap yang menyelisihi hal itu, maka Dia berfirman:

وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا(36).

“Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Al-Ahzaab/ 33: 36).

Sebagaimana firmanNya:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ(63).

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih.” (QS An-Nuur/ 24:63).[2]

Meskipun ayat-ayat dan hadits telah memperingatkan setegas itu, namun masih ada keterangan lain yang menjelaskan keadaan, sebagaimana firman Allah SWT:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا . (النساء: 61).

“Bila kepada mereka dikatakan, marilah kembali kepada hukum yang diturunkan Allah dan kepada hukum Rasul, maka engkau lihat orang-orang munafiq itu menghalang-halangimu sekeras-kerasnya.” (QS An-Nisa’/ 4:61).

C. Menyamakan agama-agama

Abdul Munir Mulkhan, tokoh Muhammadiyah dan unsur pimpinan di IAIN (kini UIN) Sunan Kalijaga Jogjakarta menulis tentang “Sinkretisasi Etika Kemanusiaan Agama-agama, Mencari Solusi Konflik” di antaranya sebagai berikut :

“Oleh karena itu kesalehan keagamaan harus memungkinkan semua orang lain yang berbeda kepemelukan agama untuk bisa masuk surgawinya, karena perbedaan lebih sebagai “takdir” sosial dan “takdir” kealaman. Pengalaman otentik manusia ialah kesadaran diri tiba-tiba sudah menjadi Jawa, Sunda, Batak, Betawi, Banjar, Melayu, Madura, Dayak, Bugis, Papua, dan etnis lain. Pengalaman otentik keagamaan ialah ketika manusia menyadari tiba-tiba sudah menjadi Kristen, Islam, Hindu, Budha, dan lainnya. Seseorang yang secara sadar mengubah dirinya menjadi Kristen, Islam, atau agama lain, adalah sebuah kelangkaan, kecuali para nabi dan rasul.”

Lalu Mulkhan juga mengatakan: “Akhirnya kita sendirilah para pemeluk semua agama-agama di dunia, yang harus bertanggung jawab tentang bagaimana agama-agama yang kita peluk dan Tuhan-Tuhan yang kita percaya itu mau kita tafsirkan. Jika kita semua tetap mengabaikan kepentingan bersama dan hendak menguasai wilayah surgawi bagi diri sendiri, belum tentu nanti kita akan kerasan tinggal di surga karena kesepian dan sendirian terasing dari diri sendiri.” (Tulisan Abdul Munir Mulkhan di Kompas, 14 Desember 2001, kemudian diucapi rasa keprihatinan oleh Husein Umar di Media Dakwah, Januari 2002, kenapa ada tokoh pucuk pimpinan Muhammadiyah yang pikirannya seperti itu).

Komentar:

Mulkhan telah berbicara tentang agama dan surga semau pikirannya. Dia tidak bisa membedakan suku bangsa dan agama. Padahal, tidak pernah orang mengubah dirinya untuk beralih jadi suku bangsa lain untuk meraih surga. Dan tidak pernah ada keterangan Allah bahwa seseorang dimasukkan surga atau neraka itu karena dia dari suku bangsa tertentu. Tidak pernah pula Allah menegaskan bahwa suku bangsa tertentulah yang benar. Sedang mengenai agama, jelas Allah menegaskan:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ.

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS Ali Imran/3:19).

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ(85).

“Dan barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS Ali Imran/ 3: 85).

Tuduhan-tuduhan keji

Dari segi materi agama, coba kita kaji sejenak, bagaimana orang-orang Ahli Kitab telah bertingkah. Berikut ini sederet bukti:

Orang-orang Yahudi menuduh Nabi Sulaiman telah murtad karena menyembah berhala. (lihat Kitab Raja-raja I, pasal 11 ayat 5).

Orang-orang Yahudi menuduh Nabi Harun as telah membuat berhala anak sapi lalu menyembahnya. Sebagaimana mereka sebutkan dalam Kitab Keluaran Pasal 32 ayat 1. Padahal sebenarnya itu adalah perbuatan As-Samiri. Nabi Harun telah mengingkarinya dengan keras sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.

Orang-orang Yahudi menuduh Nabi Ibrahim telah menyerahkan istrinya, Sarah, kepada Fir’aun untuk mengharapkan kebaikan darinya. Sebagaimana mereka sebutkan dalam Kitab Kejadian Pasal 12 ayat 14.

Orang-orang Yahudi menuduh Nabi Luth meminum khamr sampai mabuk lalu berzina dengan putrinya. Sebagaimana mereka sebutkan dalam Kitab Kejadian pasal 19 ayat 30.

Orang-orang Yahudi juga menuduh Nabi Ya’qub mencuri. Sebagaimana mereka sebutkan dalam Kitab Kejadian pasal 31 ayat 17.

Orang-orang Yahudi juga menuduh Nabi Dawud berzina lalu lahirlah Nabi Sulaiman dari hasil perzinaan tersebut. Hal ini mereka sebutkan dalam Kitab Samuel II pasal 11 ayat 11.

Orang-orang Nasrani menuduh seluruh nabi-nabi Bani Israel sebagai pencuri dan perampok, sebagaimana persaksian Yasu’ kepada mereka. (Injil Yohannes pasal 10 ayat 8).

Orang-orang Nasrani menuduh kakek Nabi Sulaiman dan Nabi Dawud, bernama Faridh dari keturunan Yahudza bin Ya’qub, sebagai keturunan zina. Sebagaimana disebutkan dalam Injil Matius pasal 1 ayat 10.

Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid dalam kitabnya, Al-Ibthaal, berkomentar: “Itulah umat yang dimurkai dan umat penganut faham trinitas yang sesat, menuduh nabi-nabi Allah dengan sangat buruknya, yang membuat kulit ini merinding mendengarnya. Dan mereka menisbatkan tuduhan-tuduhan itu pada kitab-kitab suci yang diturunkan Allah, Taurat dan Injil.

Hal itu adalah sebuah kekufuran, dapat ditetapkan dari dua sisi: Menisbatkannya kepada wahyu dan berbohong terhadap para nabi dan rasul. Lalu bagaimana mungkin penyatuan kaum muslimin muwahhidin (bertauhid) yang mengagungkan para nabi dan rasul dengan umat yang kafir dan tidak beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan Allah, rasul dan nabi-Nya?[3]

Faham pluralisme menganggap semua agama itu sama, tujuannya sama, semua mengajarkan kebaikan, semuanya masuk surga, sama dan sejajar, paralel, dan kita tidak boleh memandang agama lain dengan kacamata agama kita sendiri. Dengan tawaran yang tampaknya toleran, adil, humanis, dan sesuai dengan kondisi itu, si Muslim yang awam yang telah terseret ke penawaran ini sebenarnya adalah masuk ke jerat yang mencopot keimanan si Muslim itu secara suka rela tanpa merasa kehilangan. Sehingga, sebenarnya fahamnya telah berbalik dari faham fitrah Islami menjadi faham yang membuang Islam dan mengakui semua agama itu sama. Dan itulah titik temu dari faham pluralisme yang dicanangkan oknum Nasrani, John Harwood Hich dalam bukunya God and the Universe of Faiths (1973), dan faham tokoh sufi/ tasawuf Ibnu Arabi yang mencanangkan Wihdatul Adyan, penyatuan agama-agama, disamping faham bikinan Ibnu Arabi yang terkenal dengan sebutan wihdatul wujud, satunya wujud alam dengan Tuhan.

Dalil-dalil menjawab ahli tasykik (membuat keragu-raguan)

Untuk menjawab golongan tasykik (menyebarkan keragu-raguan) itu, perlu disimak ayat-ayat, hadits, sirah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang riwayatnya otentik.

Kalau semua agama itu sama, sedang mereka yang beragama Yahudi, Nasrani, dan Shabi’in itu cukup hanya mengamalkan agamanya, dan tidak usah mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka berarti membatalkan berlakunya sebagian ayat Allah dalam Al-Qur’an. Di antaranya ayat:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ(28).

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk seluruh manusia.” (As-Saba’: 28).

قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا.

“Katakanlah (hai Muhammad): Hai manusia! Sesungguhnya aku utusan Allah kepada kamu semua.” (Al-A’raaf: 158).

Apakah mungkin ayat itu dianggap tidak berlaku? Dan kalau tidak meyakini ayat dari Al-Qur’an, maka hukumnya adalah ingkar terhadap Islam itu sendiri. Kemudian masih perlu pula disimak hadits-hadits.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

285 حَدِيثُ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي كَانَ كُلُّ نَبِيٍّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى كُلِّ أَحْمَرَ وَأَسْوَدَ وَأُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمُ وَلَمْ تُحَلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ طَيِّبَةً طَهُورًا وَمَسْجِدًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ صَلَّى حَيْثُ كَانَ وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ بَيْنَ يَدَيْ مَسِيرَةِ شَهْرٍ وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ *.

285 Diriwayatkan daripada Jabir bin Abdullah al-Ansari r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Aku diberi lima perkara yang tidak pernah diberikan kepada seorang Nabi pun sebelumku. Semua Nabi sebelumku hanya diutus khusus kepada kaumnya saja, sedangkan aku diutus manusia yang berkulit merah dan hitam yaitu seluruh manusia. Dihalalkan untukku harta rampasan perang, sedangkan hal itu tidak pernah dihalalkan kepada seorang Nabi pun sebelumku. Disediakan untukku bumi yang subur lagi suci sebagai tempat untuk sujud yaitu shalat. Maka siapa pun apabila tiba waktu shalat walau dimana saja dia berada hendaklah dia mengerjakan shalat. Aku juga diberikan pertolongan secara dapat menakutkan musuh dari jarak perjalanan selama satu bulan. Aku juga diberikan hak untuk memberi syafaat. (HR Al-Bukhari 1/ 86 dan Muslim II/ 63, 64).

Mungkin golongan tasykik (pembuat keragu-raguan) masih berkilah, bahwa ayat-ayat dan hadits tentang diutusnya Nabi Muhammad untuk seluruh manusia ini bukan berarti Yahudi dan Nasrani sekarang baru bisa masuk surga kalau mengikuti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kilah mereka itu sudah ada jawaban tuntasnya:

حَدَّثَنِي يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ قَالَ وَأَخْبَرَنِي عَمْرٌو أَنَّ أَبَا يُونُسَ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ * . (رواه مسلم).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, tidaklah seseorang dari Ummat ini yang mendengar (agama)ku, baik dia itu seorang Yahudi maupun Nasrani, kemudian dia mati dan belum beriman dengan apa yang aku diutus dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka.” (Hadits Riwayat Muslim bab Wujubul Iimaan birisaalati nabiyyinaa shallallahu ‘alaihi wasallam ilaa jamii’in naasi wa naskhul milal bimillatihi, wajibnya beriman kepada risalah nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam bagi seluruh manusia dan penghapusan agama-agama dengan agama beliau).

Konsekuensi dari ayat dan hadits itu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pengemban risalah yang harus menyampaikan kepada umat manusia di dunia ini, maka terbukti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendakwahi raja-raja yang beragama Nasrani dan bahkan raja atau kaisar beragama Majusi. Seandainya cukup orang Yahudi dan Nasrani itu menjalankan agamanya saja dan tidak usah memasuki Islam, maka apa perlunya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengirimkan surat kepada Kaisar Heraclius dan Raja Negus (Najasi) yang keduanya beragama Nasrani, sebagaimana Kaisar Kisra di Parsi (Iran) yang beragama Majusi (penyembah api), suatu kepercayaan syirik yang amat dimurkai Allah SWT.

Sejarah otentik yang tercatat dalam kitab-kitab hadits menyebutkan bukti-bukti, Nabi berkirim surat mendakwahi Kaisar dan raja-raja Nasrani maupun Majusi untuk masuk Islam agar mereka selamat di akhirat kelak. Bisa dibuktikan dengan surat-surat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang masih tercatat di kitab-kitab hadits sampai kini. Di antaranya surat-surat kepada Raja Najasi di Habasyah (Abesinea, Ethiopia), Kaisar Heraclius penguasa Romawi, Kisra penguasa Parsi, Raja Muqouqis di Mesir, Raja al-Harits Al-Ghassani di Yaman, dan kepada Haudhah Al-Hanafi.[4]

Surat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Kaisar Heraclius.

بِسْم اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى هِرَقْلَ عَظِيمِ الرُّومِ سَلَامٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّي أَدْعُوكَ بِدِعَايَةِ الْإِسْلَامِ أَسْلِمْ تَسْلَمْ يُؤْتِكَ اللَّهُ أَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ فَإِنْ تَوَلَّيْتَ فَإِنَّ عَلَيْكَ إِثْمَ الْأَرِيسِيِّينَ وَ ( يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَنْ لَا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ ) .

Artinya:

Bismillaahir Rahmaanir Rahiem

Dari Muhammad hamba Allah dan utusan-Nya

Kepada Heraclius pembesar orang Romawi.

Salam sejahtera semoga dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk Allah.

Setelah ucapan ini, maka sesungguhnya saya mengajak Anda dengan ajakan Islam. Masuklah Anda ke dalam agama Islam, maka Anda akan selamat, dan Allah akan memberikan pahala dua kali kepada Anda. Apabila Anda menolak, maka Anda akan menanggung dosa-dosa orang-orang Arisiyyin (ada yang mengartikan: penganut Arianisme, ajaran Arius, uskup Iskandariyah 256-336M, pen).

Wahai Ahli Kitab, marilah (berpegang) dalam satu kalimat (ketetapn) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah, dan tidak kita persekutukan dia dengan sesuatu pun, dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (Al-Bukhari IV/57 dan Muslim ii/ 90-91, alenia terakhir adalah bagian ayat 64 Surat Ali ‘Imran).

Dalam surat itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan, Apabila Anda menolak, maka Anda akan menanggung dosa-dosa orang-orang arisiyyin (pengikut). (Ada yang memaknakan Arianisme –ajaran Arius, uskup Iskandariyah 256-336M–, pen). Perlu diketahui Arianisme adalah ajaran Arius (256-336M), seorang ahli ilmu agama bangsa Libia, Uskup di Iskandariah, mengajarkan bahwa sebelum penciptaan umum, Tuhan telah menciptakan dan melahirkan seorang putera, makhluk yang pertama, tetapi tidak abadi dan tidak sama dengan Sang Rama (Ensiklopedi Umum, hal. 79). Kepercayaan itu menurut Islam jelas syirik, orangnya disebut musyrik, suatu dosa yang paling besar karena menyekutukan Allah SWT.

Bagaimana bisa dikatakan bahwa orang-orang ahli kitab sekarang pun akan masuk surga nantinya seperti yang didakwakan oleh sebagian ahli tasykik (membuat keraguan) padahal Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menyurati Kaisar Heraclius sejelas itu? Kalau Heraclius yang Nasrnai itu tidak mau masuk Islam, maka akan menanggung dosa orang-orang Arisiyyin, yaitu kepercayaan yang menurut Islam adalah musyrik. Dan karena Nasrani itu termasuk ahli kitab, maka masih ditawari pula untuk menjalankan yang sama dengan Islam:

Wahai Ahli Kitab, marilah (berpegang) dalam satu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah, dan tidak kita persekutukan dia dengan sesuatu pun, dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami aadalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).”

Ajakan itupun kalau diikuti, berarti mengikuti ajakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yakni

mempercayai Nabi terakhir yang mengajak Kaisar kepada kalimatun sawaa’ (kalimat yang sama) itu. Dan risikonya, kalau ajakan itu diikuti, berarti ambruklah sistem kepasturan dan kerahiban di dalam tatacara ahli kitab. Dengan ambruknya sistem kependetaan, kepasturan, dan kerahiban itu hapus pula segala sabda-sabda dalam kitab-kitab maupun aturan-aturan yang mereka bikin-bikin. Yang ada justru ajaran murni di antaranya adalah khabar tentang akan adanya utusan Allah yang bernama Ahmad yaitu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dari sini tidak bisa mengelak lagi kecuali mengikuti ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam alias masuk Islam.[5]

Bagaimana persoalan agama-agama lain dianggap gampang seperti itu, sedangkan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) telah Allah SWT kecam dan dinyatakan kafir:

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ(32).

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka. Dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun al-kaafiruun (orang-orang kafir) tidak menyukai.” (QS At-Taubah/ 9:32).

Tentang ucapan Abdul Munir : “…belum tentu nanti kita akan kerasan tinggal di surga karena kesepian dan sendirian terasing dari diri sendiri” yang dimuat di koran Katolik Kompas jelas menunjukkan bahwa dia ragu-ragu bahkan bertentangan dengan ayat Al-Qur’an. Karena Allah SWT telah berfirman mengenai penghuni surga, mereka tidak ingin pindah dari surga:

إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا(107)

خَالِدِينَ فِيهَا لَا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلًا(108).

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal, mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah daripadanya.” (QS Al-Kahfi/ 18: 107-108).

Perkataan yang telah meragukan dan bahkan bertentangan dengan ayat Al-Qur’an itu sangat membahayakan bagi diri orang yang mengatakannya, bahkan bisa membahayakan bagi orang lain yang terpengaruh dengannya. Maka wajar kalau sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengancam masuk neraka atas orang yang hanya gara-gara ia mengucapkan satu perkataan.

حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ يَنْزِلُ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ .

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, ia berkata: Aku telah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Adakalanya seorang hamba mengucapkan satu kalimah (satu kata) yang menyebabkan dia tergelincir ke dalam Neraka yang jarak dalamnya antara timur dan barat. (Hadits ruiwayat Al-Bukhari dan Muslim).

2236 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَقَ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عِيسَى بْنِ طَلْحَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لَا يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِي بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِي النَّارِ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ *.

Diriwayatkan dari Abi Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Sesungguhnya orang laki-laki pasti berkata dengan satu perkataan ia pandang tidak apa-apa (tetapi) mencemplungkannya ke dalam neraka (selama) 70 musim/ tahun.” (HR At-Tirmidzi, ia katakan ini hadits hasan gharib dari arah ini).

Demikianlah macam-macam orang yang menolak syari’at Islam. Mereka tidak segan-segan menabrak ayat ataupun hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kesimpulan

Pendapat-pendapat liberal yang bertentangan dengan Islam bisa dikategorikan sebagai berikut:

Sekulerisme yang mengamputasi Islam hingga Islam dianggap tidak ada urusan dengan urusan dunia termasuk negara.

Menolak diterapkannya syari’at Islam, padahal penerapannya itu merupakan konsekuensi adanya kepemelukan Islam bagi kaum Muslimin yang meyakini Al-Qur’an yang mewajibkan berhukum dengan hukum Allah di kalangan manusia, dan itu ada jaminannya secara hak asasi manusia maupun undang-undang dasar negara.

Menyamakan Islam dengan agama-agama lain. Ini secara nash (ayat dan hadits) jelas bertentangan, sedang secara bukti ilmiah bertentangan pula.

Kekhawatiran-kekhawatiran yang disampaikan para penolak diterapkannya syari’at Islam, sebenarnya merupakan hal yang mengada-ada. Sebab Al-Qur’an diturunkan untuk menghukumi di kalangan manusia itu ditegaskan oleh Allah SWT tidak akan mencelakakan. (Lihat QS Thoha: 2). Sedang diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada seluruh manusia itu justru untuk rahmat bagi seluruh alam. Maka orang-orang yang khawatir kalau syari’at Islam diterapkan, itu pada dasarnya bertentangan dengan ayat Al-Qur’an. Apabila dia seorang muslim maka terkena peringatan ayat:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنزلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا (61)

“Bila kepada mereka dikatakan, marilah kembali kepada hukum yang diturunkan Allah dan kepada hukum Rasul, maka engkau lihat orang-orang munafiq itu menghalang-halangimu sekeras-kerasnya.” (QS An-Nisa’/ 4:61).

Wallahu a’lam bisshowaab. (Selesai alhamdulillah).


[1] HR Ad-Dailami 5 halaman 153, nomor 7791.Hadits ini dishahihkan oleh Imam An-Nawawi dalam kitab Hadits Arba’in bagian terakhir, lihat pula Fathul Bari juz 13 halaman 809.

[2] Tafsir Ibnu Katsir, juz 3, halaman 645

[3] Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid, Al-Ibthaalu Linadhariyyatil Khalthibaina Diinil Islaami wa Ghairihi minal Adyaan, Darul ‘Ashimah, Riyadh, cetakan pertama 1417H, halaman 76-77.

[4] Ustadz Hartono A Jaiz dkk, Kematian lady Diana Mengguncang Akidah Umat, Darul Falah, Jakarta, cetakan I, 1418H, halaman 44-46.

[5] Hartono Ahmad jaiz, Tasawuf Pluralisme dan Pemurtadan, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, cetakan 2, Des 2001, halaman 87-88.

source: http://www.nahimunkar.com/liberalisasi-islam-untuk-apa-1-dari-2-tulisan/

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: