Muslim in Suffer

Bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem. Assalamu\’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh!

Islam Liberal dan Kaum Musyrikin Mekkah

Posted by musliminsuffer on May 13, 2009

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

Islam Liberal dan Kaum Musyrikin Mekkah

Written by Administrator

Saturday, 03 November 2007

::
Sebelum kebangkitan Muhammad saw. sebagai utusan Allah swt., masyarakat Makkah setidaknya menyimpan dua ideologi; Pertama sisa agama Ibrahim yang masih mempertahankan tawhid (keesaan Allah swt) atau lebih populer dengan sebutan “al-hanifiyah”, dan Kedua, kaum musyrikin yang terkenal dengan ideologi paganismenya. Mereka mempertuhan batu dan benda. Namun ketika mereka menyembah berhala dari patung-patung itu, tidaklah serta merta bahwa mereka tidak meyakini adanya Tuhan. Dari pengakuan sebagian mereka, bahwa patung-patung itu mereka sembah sebagai perantara (mediator) yang menghubungkan antara mereka dengan Allah. Begitulah keyakinan mereka seperti disebutkan Allah dalam Alquran : “Dan tidaklah kami menyembah mereka melainkan untuk mendekatkan kami kepada Allah.”

Kepercayaan mereka tidak sebatas pada pengakuan adanya Tuhan saja. Kaum musyrikin Makkah juga percaya bahwa Allah adalah Tuhan yang menciptakan alam semesta. Hal ini juga tergambar dari pemberitaan Allah dalam Alquran : “Jika engkau tanyakan kepada mereka siapa yang menciptakan langit dan bumi, niscaya mereka menjawab : Allah.” Kepercayaan mereka ini dalam bahasa `Aqidahnya ialah “Tauhid Rububiyah“, yang berarti keyakinan pada Allah sebagai pencipta alam, yang menghidupkan, mematikan, dan yang memberi rezeki. “.”

Tetapi dalam kondisi seperti ini mereka masih dicap sebagai kafir dan musyrik. Sebab mereka tidak mengilahkan Allah swt dalam `ubudiyah. Mereka tidak tunduk kepada aturan yang ditetapkan oleh Allah. Mereka tidak menjadikan Allah sebagai al-Hakim dan al-Syari` (pembuat hukum dan legislator). Mereka membuat cara, ajaran, dan nilai sendiri dalam mendekatkan dirinya kepada Allah dengan cara membuat tuhan-tuhan kecil untuk memperantarai mereka dengan Allah. Mereka lebih patuh kepada peraturan yang mereka buat sendiri untuk menggantikan hukum yang telah diturunkan Allah. Tauhid inilah (Tauhid Uluhiyyah) yang membedakan seorang mukmin dengan musyrik.

Bencana besar yang menimpa umat Islam dewasa ini adalah terperosok dalam kemusyrikan yang mungkin tak disadari akibat keawaman. Anda jangan mengira bahwa musyrik itu hanya orang yang menyembah Tuhan dengan cara ritual agama di luar Islam. Atau orang yang percaya kepada roh-roh halus dan meminta bantuan kepada kekuatan ghaib seperti jin dan syaitan. Atau orang yang menyimpan ilmu hitam. Bukan itu saja yang disebut musyrik. Tetapi tidak kalah dari apa yang disebutkan itu, adalah musyrik dalam soal pemikiran. Seseorang yang meyakini kebenaran pemikiran orang kafir yang bertentangan dengan ajaran Islam, juga sudah menjadi musyrik. Orang yang menerima ajaran Karl Marx, Lenin, Darwin, dan pemikir-pemikir barat lainnya, sebenarnya sudah menjadi musyrik. Karena pemikiran mereka itu tidak berbeda dengan faham, aliran, atau dalam bahasa Alqurannya disebut millah.

Di zaman modern ini banyak kaum intelek kita yang terkagum-kagum dengan pemikiran yang datang dari barat, untuk menggantikan Islam. Jika ditelusuri, awalnya dari sejak masuknya penjajah ke negeri-negeri muslim. Imperialis barat, bukan hanya merampas kekayaan alam negeri-negeri muslim, tetapi juga merampas akidah mereka, mencuci otak mereka, menghapus identitas mereka, menghilangkan rasa kebanggaan pada jati diri mereka. Untuk kalangan tertentu, program imperialis itu boleh dibilang berhasil. Mereka itu betul-betul membeo dan mengekor ke barat, bukan hanya dalam soal-soal teknologi yang masih bisa ditolerir, tetapi sampai ke pemikiran, opini, paradigma, bahkan sampai budaya, seperti cara berpakaian, cara makan, dan sejenisnya.

Pada awal kemerdekaan banyak sekali kaum terpelajar kita –terutama mereka yang pernah dididik di barat- termakan oleh faham sekularisme. Agama (Islam) dituduh biang keterbelakangan, kemiskinan, dan kekebodohan. Pendidikan ala barat dengan segala kurikulum dan perangkatnya memang membentuk pola berpikir manusia yang sekuler. Kenapa barat bisa menjajah (tentu dalam bahasa mereka tidak disebut menjajah, tetapi bahasa-bahasa yang menipu, seperti membangun, membantu mencerdaskan, atau dalam bahasa arabnya mereka sebut “isti`mar” (membangun) padahal yang tepat ialah “istikhrab” (menghancurkan)- adalah karena mereka meninggalkan agama. Kenapa umat Islam menjadi terjajah? Dalam pandangan mereka karena masih mempercayai kebenaran agama sebagai doktrin untuk mengatur kehidupan, atau karena terlalu fanatis (berpegang) pada agama.

Setelah bangsa-bangsa muslim itu merdeka, doktrin berikutnya, kenapa negara-negara barat itu bisa maju dalam teknologi, pembangunan dan kehidupan masyarakatnya? Itu disebabkan karena mereka memegang teguh sekularisme ; memisahkan negara dari agama. Jadi, jika bangsa-bangsa muslim ingin maju seperti barat, maka tidak ada jalan lain, kecuali harus meninggalkan agama, sebagaimana halnya barat. Faham ini berkembang sedemikian rupa, sejalan dengan agenda pemerintah di negeri-negeri muslim. Dimana penguasa-penguasa itu memang anak asuh kaum imperialis barat; dididik di barat, bahkan hidup juga di barat, bergaul dengan orang barat dan cara hidupnya juga kebarat-baratan. Bila mereka ingin mempertahankan identitas dirinya, apalagi keyakinan akidahnya, mereka akan dituduh terbelakang, tidak modern, dan tidak dapat mengikuti perkembangan zaman.

Kekuasaan adalah sarana yang sangat efektif untuk menyebarkan sebuah faham, terlepas benar atau salah faham tersebut. Ketika penguasa menganut faham sekularisme (walaupun dalam bahasa sehari-sehari, faham itu seolah-olah ditolak), maka dengan mudah faham ini menyebar ke masyarakat melalui penanaman kurikulum pendidikan, pengaruh media massa, bahkan birokrasi.

Dalam tataran pemikiran, ada sekelompok cendekiawan yang gigih menyebarkan faham-faham barat itu melalui buku, tulisan di media massa, diskusi dan ceramah di kampus. Bahasa-bahasa yang mereka gunakan biasanya bahasa-bahasa yang memukau, dan menjanjikan sesuatu yang baru nan indah, jika umat Islam bisa keluar dari keislamannya, sebagaimana barat meninggalkan agamanya.

Umpamanya, sudah tidak mungkin lagi mempraktekkan ajaran Islam itu secara harfiyah sebagaimana pada masa Rasul atau masa-masa sahabat dahulu. Bukankah kita sekarang sudah berada pada zaman globalisasi yang dunia ini sudah menjadi kecil, ibarat kampung. Interaksi budaya yang sedemikian kental tak lagi bisa dihindari. Jika kita berkeras untuk mempraktekkan ajaran Islam, bukankah berarti kita akan tersisih dari pergaulan internasional?

Juga mereka sering mempertanyakan model Islam yang mana yang ingin diterapkan dalam dunia modern ini, apakah model Pakistan, model Saudi Arabia, Iran, Afghanistan, atau yang mana? Pertanyaan mereka itu lebih bernada sinis ketimbang mencari tahu model penerapan yang ideal.

Inferiority Complex

Efek buruk yang ditimbulkan oleh penjajahan ialah sikap mental terjajah. Merubah sikap mental ini bukan suatu yang mudah. Bila ia telah terwariskan oleh suatu generasi, untuk membersihkannya bisa memakan waktu dua generasi itupun bila pembersihan itu dilakukan secara serius. Sayyed Qutub menyebut efek psikologis ini dengan istilah “al-inhizam al-Nafsy“.(inferiority complex) Pengaruh yang ditimbulkannya antara lain ialah keterkaguman pada bangsa penjajah dan melihat apa yang ada pada dirinya semuanya buruk dan rendah. Pada gilirannya menimbulkan sikap jiwa suka meniru apa saja yang ada di pihak penjajah. Apa saja yang muncul, baik berupa model pakaian, penampilan, potongan rambut, hingga model pemikiran, akan ditiru dan dijiplak oleh orang-orang yang bermental terjajah tadi. Sekularisme lahir dan menampakkan hasilnya di barat, maka bangsa-bangsa di Timur berlomba-lomba menerapkan sekularisme. Bila di barat lahir sosialisme dan marxisme, maka di Timur orang-orang yang bermental budak tadipun gigih menuntut sosialisme dan marxisme. Bila di barat lahir liberalisme dan mereka yakini sebagai ideologi yang dapat memakmurkan hidup, maka budak-budak barat itupun juga berlomba-lomba meneriakkan liberalisme. Bahkan yang lebih parah, mereka di sini membungkus liberlisme dengan pakaian agama. Mereka sebut “Islam Liberal.” Beberapa waktu silam ideologi marxis digandrungi oleh sekelompok anak muda yang sedang bersemangat menuntut perubahan, lalu semua yang ada ini harus diruntuhkan, namun dengan alternatif yang tidak lebih baik dari sistem yang diruntuhkan. Kemudian mereka membungkus marxisme dengan baju agama. Mereka sebut “Islam Kiri”. Mungkin merasa barang jualannya tidak laku-laku dan tidak mendapat pasaran, mereka merubah merek. Barangkali mereka baru terpikir belakangan bahwa “kiri” dalam masyarakat Islam itu adalah simbol kotoran. Masuk ke W.C mendahulukan kaki kiri. Memegang sesuatu yang kotor seperti membasuh kotoran, gunakan tangan kiri. Makan dengan tangan kiri adalah syaitan. Merekapun lama-lama merasa juga bahwa ide dan ajaran yang dibawanya, bila mempertahankan simbol “kiri”, akan dikesankan orang Islam sebagai ide/ajaran yang kotor. Akhir-akhir ini mereka menghusung label “Islam Liberal”. Barangkali namanya lebih keren, karena ideologi liberalisme paling tidak untuk sementara orang menarik, menjanjikan perubahan dengan demokrasi. Sebenarnya inti faham/ajaran yang mereka teriakkan itu semuanya sama, sejak dari sekularisme, post-modernisme, pembaruan Islam, Islam kiri, Islam Liberal, dan esok entah apa lagi, hakikatnya sama, bajunya saja yang berubah. Yakni sebuah pengingkaran terhadap nilai-nilai Ilahiyah dan ajaran Islam yang telah diturunkan Allah swt untuk menata kehidupan manusia di alam. Penyimpangan itu berawal dari pengekoran terhadap barat akibat keterkaguman pada barat dan segala produknya, terutama produk pemikiran. dari orang-orang yang bermental budak. Namun mereka lupa, apapun merek yang mereka pakai untuk membuat simbol ajaran dan filsafatnya, bau busuknya pasti akan tercium oleh umat Islam, paling tidak oleh kalangan intelektualnya.

Perguruan Tinggi Islam menjadi target barat

Dalam mempropagandakan ideologi sekulernya, Barat menempuh segala cara dan menerobos segala lapangan. Tak saja pendidikan yang terkesan sekuler, seperti Perguruan Tinggi umum, faham sekuler juga disusupkan ke Perguruan-perguruan Tinggi Islam yang sehari-harinya mengkaji Alquran, Hadits, Fiqh, pemikiran, dan lain-lain. Bahkan akhir-akhir ini bukan hanya Perguruan Tinggi, hingga ormas-ormas besar Islam tak luput menjadi sasaran sekulerisasi mereka. Tokoh-tokoh muda dari beberapa ormas besar Islam mereka besarkan, mereka populerkan, hingga akhirnya kekuatan mereka tersebar dimana-mana. Fenomena ini bukan terjadi secara kebetulan. Akan tetapi, sesuatu yang sudah diprogram dengan baik dan direncanakan dengan matang. Sehingga sekulerisme tidak hanya menembus dunia pendidikan sekuler, juga memasuki kawasan Islam. Dengan begitu, bagian ummat yang tadinya diharapkan sebagai benteng pertahanan Islam, juga dapat tersekulerkan oleh mereka. Cara-cara mereka sungguh rapi dan halus tetapi menghasilkan sebuah produk yang cukup menakjubkan.

Mereka mengawali dengan kerjasama di bidang Pendidikan dan Penelitian; dengan pemberian beasiswa untuk belajar di negara-negara barat, sarang orientalis Yahudi dan Kristen Fundamentalis. Barat sudah lama membaca mentalitas orang-orang Timur yang terkagum-kagum pada barat. Belajar ke Barat melahirkan kebanggaan tersendiri dalam kejiwaan orang-orang Timur. Hal ini dimanfaatkan orientalis dengan berkedok ilmiah dan penelitian. Dengan mudah mereka mendoktrin peneliti-peneliti muda yang belajar di universitas-universitas mereka dengan faham dan ideologi mereka. Mahasiswa yang tadinya di negerinya masih punya sedikit kebanggaan pada Islam, dan keteguhan pada prinsip atas dasar Quran dan Hadits, digoyahkan keyakinannya, dibuat menjadi ragu dan akhirnya menisbikan segala ideologi.

Prinsip-prinsip yang mereka tanamkan dengan berkedok penelitian dan ilmiah tadi, di antaranya : Kebenaran tidak bernilai mutlak, akan tetapi relatif. Kebenaran tidak satu tetapi banyak, tergantung dari sudut mana ia dilihat. Sesuatu yang benar menurut sekelompok orang bisa saja dipandang salah oleh kelompok lain. Demikian pula halnya agama. Agama tertentu dipandang benar oleh pemeluknya, tetapi belum tentu benar oleh pemeluk agama lain. Jadi kebenaran agama tidak bernilai mutlak. Kemudian, setiap informasi tidak ada yang kebal kritik. Semuanya bisa dipertanyakan (baca : diragukan) kebenarannya. Bila kaidah ini diterima, maka pada gilirannya, wahyu yang merupakan informasi dari Allah-pun perlu dipertanyakan kebenarannya. Sebuah sikap yang tidak berjarak dengan kekafiran. Celakanya, kaidah tersebut hanya mereka gunakan ke luar (melihat Islam, sumber-sumber dan ajarannya), tidak mereka gunakan ke dalam ideologi mereka sendiri. Padahal jika mereka gunakan ke intern mereka, semua keyakinan, ideologi dan agama mereka, akan hancur berkeping-keping dan sama sekali tidak mengandung asas rasionalnya. Karena sumber-sumber keyakinan mereka sama sekali tidak dapat lagi dipertanggung jawabkan validitasnya, apalagi rasionalitasnya.

Juga, bila anda ingin melihat sesuatu dengan jernih, anda harus keluar dulu dari bagian yang dilihat. Jadi, bila anda ingin mengetahui secara obyektif apakah Islam itu benar atau tidak, maka anda harus keluar dulu dari Islam. Atau paling tidak anda harus menghilangkan segala macam rasa keberpihakan kepada Islam. Kalau tidak demikian, maka analisa anda tetap dinilai subyektif dan tidak jernih. Sikap ketidak berpihakan kepada agama Allah ini banyak lahir dari sarjana-sarjana produk barat. Sebuah sikap yang tidak menggambarkan keimanan orang muslim.

Begitu pula dengan prinsip “kebebasan berpendapat” yang mereka agung-agungkan. Siapa saja boleh mengatakan apa saja dan berpendapat apa saja. Jadi tidak ada sesuatu yang tabu, tidak ada koridor yang harus dijaga. Tidak ada batas yang tak boleh dilanggar. Jika ini diterima, maka konsekuensinya, maka seseorang bebas mengingkari apa saja yang diajarkan Islam walaupun itu sudah merupakan sesuatu yang pasti (qath`i), konon lagi yang zhonni dalam pandangan mereka. Seseorang sah-sah saja –menurut konsep berpikir barat- menolak bahwa jilbab itu wajib, tidak percaya bahwa azab kubur itu memang ada, kawin antar agama itu tidak dilarang, syari`ah itu tak perlu diterapkan, dan ajaran-ajaran agama lainnya. Segalanya bebas dilabrak hingga apa yang populer di kalangan Ulama sebagai “Ma `Ulima minad-Dini Bidh-Dhoruroh.” (sesuatu yang mesti diketahui dalam agama sebagai prinsip).

Mereka sering menisbikan pendapat Ulama atau ijtihad. Apa saja pendapat Ulama yang tidak sesuai dengan selera mereka atau selera masa kini, langsung mereka vonis bahwa itu hanya sekadar pendapat Ulama masa lalu yang belum tentu relefan untuk diterapkan pada masa kini. Mereka lupa bahwa Ulama masa lalu untuk sampai ke tingkat ijtihad, harus melalui jenjang dan tingkatan keilmuan, yang jika dibandingkan dengan kualitas keilmuan mereka saat ini yang nilainya nol. Mereka tidak banyak mengetahui tentang Alqur’an, tidak mengerti Hadits, apa lagi kitab-kitab turas (klassik), tetapi mau mengharungi samudera luas. Akhirnya merekalah yang tenggelam dalam lautan hawa nafsu dan keangkuhan. Salah seorang dari mereka mengusulkan agar pelaksanaan ibadah haji dibuat bertermin (bertahap). Setahun itu dibagi menjadi tiga kali haji. Sebuah pendapat yang ngawur mencerminkan kejahilan orangnya. Dahulu ada yang mau merombak hukum waris. Akhir-akhir ini ada yang mau merombak total terjemahan ayat-ayat Alquran.

Juga mereka sering menisbikan Hadits yang dalam pandangan mereka adalah ketentuan yang zhanny (tidakpasti). Karena ketidakpastian itu, tidak persoalan jika nash itu ditinggalkan. Bahkan nash yang qath`i pun sering mereka labrak, dengan alasan bahwa dalam memberikan interpretasi atas nash itu terbuka peluang yang lebar. Apa yang ada selama ini tak lebih sekadar pendapat Ulama yang tidak bernilai mutlak. Mereka selalu mengulang-ulang, bahwa memang benar ayat-ayat Alqur’an itu qath`i, tetapi tafsir atas ayat itu sudah tidak qath`i lagi, akan tetapi zhanny. Dengan begitu membuka peluang seluas-luasnya bagi mereka untuk berbicara apa saja menurut selera dan hawa nafsu mereka atas nama Qur’an.

Beginilah cara-cara orientalis merusak pemikiran peneliti-peneliti muslim yang belajar ke barat, khususnya yang mengambil bidang kajian “Islamic Studies”, “Studi Oriental” “Studi Timur Tengah”, “Studi Kawasan”, dan yang sejenisnya. Bagi mahasiswa, biasanya sudah langsung terperangkap dalam kaidah-kaidah itu. Ditolak susah, diterima agak berat. Tapi, akhirnya lebih cenderung diterima, karena efeknya lebih ringan, ketimbang melawan arus pemikiran si professor.

Ketika mereka kembali ke tanah air, pola berpikir seperti yang ditanamkan oleh gurunya itu, mereka bawa kembali ke kampusnya dan mereka ajarkan, bahkan mereka kembangkan dengan inovasi-inovasi baru. Sehingga tak jarang ada “doktor-doktor” tamatan barat yang pikiran-nya lebih liberal dari orientalis sendiri. Artinya, seorang orientalis mungkin belum sampai meragukan masalah-masalah agama seperti yang diragukan dan diingkari oleh muridnya. Mereka ini mengajarkan faham itu kepada mahasiswanya di tanah air. Mereka menghasilkan para sarjana dan para doktor pula di Perguruan Tinggi dalam negeri. Mereka yang mendapat doktor di dalam negeri ini tadi kembali ke daerahnya menjadi dosen-dosen di Program Pascasarjana atau Program S1 di Perguruan Tingginya, mereka juga melakukan hal yang sama, menyebarkan hal serupa kepada mahasiswanya, memahami Islam dengan pola orientalis. Sehingga dengan cara yang sistemik, faham sekuler dan pemahaman tentang Islam menurut pola orientalis itu menyebar tidak terasa dan dengan cepat. Mereka yang menjadi mahasiswa tadi setelah sarjana, juga menyebarkan faham serupa ke masyarakat. Karena mereka akan menjadi rujukan di masyarakatnya, sebab mereka tamatan Perguruan Tinggi Islam dan mengajarkan bidang studi Islam. Lalu, seperti apa pemahaman Islam di Indonesia pada masa mendatang, bila agenda barat itu berjalan mulus tanpa hambatan? Ini adalah tanggung jawab penyelamatan Islam dan ummatnya di negeri ini dalam menghadapi arus orientalisme dan pemikiran-pemikiran merusak.

Barat ketakutan pada Islam

Salah satu sikap mental yang diderita oleh barat ialah ketakutan pada Islam dan ummat Islam yang berpegang pada Islam. Sejak berakhirnya Perang Salib, pihak barat senantiasa menyimpan rasa takut pada agama yang satu ini. Karena dalam keyakinan mereka, Islam ini adalah agama yang menyimpan potensi dahsyat, mampu menggerakkan ummatnya untuk melawan kekuatan apa saja. Ini tidak pernah ada pada ajaran agama lain. Kemajuan teknologi persenjatan modern tidak terlalu ampuh untuk menaklukkan umat Islam. Hal ini dipahami betul oleh kalangan barat. Perang Salib mereka jadikan sebagai bahan pelajaran yang berarti. Sebab itu mereka benar-benar mewaspadai Islam, khususnya umat Islam yang nampak berpegang pada ajarannya. Biarpun ummat Islam mati-matian memberi pengertian bahwa Islam adalah agama pembawa rahmat bagi seluruh alam, namun tetap saja pola pikir barat itu tidak berubah. Karena bagi barat, bukan mereka yang dituntut untuk mengerti Islam, karena yang satu ini tidak akan pernah ada dalam benak mereka. Apa yang ada selama ini hanya sebatas retorika dan basa-basi saja. Bagi barat adalah bagaimana ummat Islam yang harus mengerti tentang barat. Artinya, ummat Islam itu harus menyesuaikan dirinya dengan budaya, pola pikir, dan tatanan hidup barat. Itu yang mereka tuntut. Sebelum ini berhasil, semua upaya dialog, diskusi, tukar pikiran, saling pengertian, itu semua hanya sebatas retorika belaka. Target mereka, tak lebih dan tak kurang, ummat Islam harus mengikuti cara barat. Karena mereka adalah guru peradaban manusia. Semua bangsa-bangsa di dunia ini adalah murid yang harus mendengar apa kata guru. Budak yang harus patuh sama tuannya. Kalau kita menggunakan pendekatan Alquran, maka itulah yang sudah disinyalir oleh Allah melalui firmanNya : “Mereka tidak akan senang kepadamu, sebelum kamu mengikuti agama (millah) mereka.” (Al-Baqarah 120).

Jika ada satu dua dari orang-orang di barat yang bisa diajak bicara dan mau mengerti tentang Islam dan ummatnya, itu tentu tidak mewakili filsafat hidup orang barat secara umum.

Di dunia Islam, ketakutan pada Islam ini juga ada. Tentunya dari mereka yang sudah diasuh oleh barat tadi, lama menyusu kepada barat. Sehingga walaupun secara fisik atau lahiriyah (seperti identitas atau kartu tanda pengenal) masih tertulis Islam, tetapi pola pikir, falsafah hidup, way of life, dan mental, semuanya sudah mirip persis seperti orang barat. Apa yang dinilai oleh barat baik, dia juga katakan baik. Apa yang dinilai oleh barat itu buruk, ekstrim, dan menakutkan, dia juga akan ketakan seperti itu. Kendatipun yang dinilai tadi itu adalah agamanya sendiri dan saudaranya. Sampai ke tingkat itu barat berhasil mengikis kepribadian mereka, meruntuhkan identitas mereka, menghancurkan rasa bangga pada jatidiri dan agama mereka.

Mereka ini tak boleh dibiarkan hidup terombang-ambing. Mereka perlu diberi suntikan ruhani agar kembali kepada kesadarannya bahwa mereka adalah umat Islam yang memiliki acuan dalam hidup, mempunyai kerangka dalam berfikir, dan panutan dalam beraktifitas. Menyampaikan teguran kepada mereka atau kritik adalah sebuah kewajiban yang tak bisa ditangguh-tangguhkan demi melaksanakan prinsip Amar Ma`ruf dan Nahyu Munkar.

Wallahu Bima Ta`maluna Bashir.


DR. Daud Rasyid MA.
updated   10092002

http://daudrasyid.com/index.php?option=com_content&task=view&id=14&Itemid=29

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: