Muslim in Suffer

Bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem. Assalamu\’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh!

Toleransi atau Relativisme Pluralisme

Posted by musliminsuffer on May 19, 2009

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

Kamis, 14 Mei 2009 pukul 23:17:00

Toleransi atau Relativisme Pluralisme

Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi
Direktur INSISTS

Meskipun tahun 2005 Ma jelis Ulama Indone sia telah mengharamkan paham Pluralisme Agama, promosi paham ini ke te ngah umat Islam masih terus dilakukan. Berbagai media di gunakan untuk menyebarkan paham ini. Bahkan, sebagian kalangan kemudian memasukkan Pluralisme Agama ke da lam kurikulum dan materi pendidikan. Apa sebenarnya paham ini, dan bagaimana umat Islam harus menyikapinya?

Sebenarnya, paham Pluralisme Agama la hir dari doktrin pluralisme. Di Barat plura lisme memiliki akar yang dapat dilacak jauh kebelakang, tapi yang paling dominan adalah akar nihilisme dan relativisme Barat postmodern. Dari berbagai kamus, pluralis me dapat bermakna dua hal: pertama, pengakuan terhadap kualitas majemuk atau toleransi terhadap kemajemukan, kedua doktrin yang berisi a) pengakuan terha dap kemajemukan prinsip tertinggi, b) per nyataan tidak ada jalan untuk menyatakan kebenaran yang tunggal atau kebenar an satu-satunya tentang suatu masalah c) ancaman bahwa tidak ada pendapat yang benar, atau semua pendapat itu sama benarnya. d) teori yang seirama dengan relativisme dan sikap curiga terhadap kebenaran (truth). e) pandangan bahwa disana ti dak ada pendapat yang benar atau semua pendapat adalah sama benarnya. (no view is true, or that all view are equally true). (Li hat, The Golier Webster Int. Dictionary Of The English Language; Oxford Dictiona ry of Philosophy; Oxford Advanced Lear ners’ Dictionary of Current English).

Jadi, dari makna pluralisme saja sudah ter dapat ide yang mencurigai kebenaran atau paham relativitas kebenaran. Pluralisme dalam pengertian pertama adalah toleransi, dimana masing-masing agama, ras, suku dan kepercayaan berpegang pada prinsip masing-masing dan menghormati prinsip dan kepercayaan orang lain. Pluralis me dalam arti kedua sudah tidak berpegang pada suatu dasar apa pun. Masyarakat harus menerima kenyataan bahwa di sana tidak ada kebenaran tunggal. Artinya semua benar; atau masyarakat tidak boleh memiliki keyakinan bahwa agama dan kepercayaan mereka itu benar atau paling benar. Bahkan dalam satu pengerti an pluralisme mengajarkan bahwa sebenarnya kebenaran itu tidak ada.

Doktrin pluralisme
Sebenarnya wacana pluralisme kita tidak bisa lepas dari pemikiran Barat postmodern. Sebab menurut Akbar S. Ahmed, dalam bukunya Postmodernism and Islam, postmodernisme diwarnai oleh doktrin pluralisme. Selain itu postmodernisme selalu menjadikan fundamentalisme sebagai musuh utamanya dan cara menghadapinya adalah menebar pluralisme. Doktrin utamanya adalah nihilisme dan relativisme. Jadi target utama pluralisme, sebenarnya adalah agama dan kepercayaan. Sebab, begitu seseorang berbicara masalah plura lisme secara sosiologis, ia otomatis membahas teologi atau agama juga.

Diantara tokoh pendukung paham pluralisme adalah Peter Ludwig Berger, seorang sosiolog Amerika dan juga teolog Lutheran. Dalam bukunya, The Desecularization of the World, ia menyatakan bahwa se kularisasi telah gagal, sebab praktek keagamaan ternyata justru bertambah subur dan desekularisasi malah dominan. Oleh sebab itu dalam The Social Construction of Reality ia mengusulkan gantinya, yaitu pe nyebaran paham pluralisme.

Berger beralasan bahwa meskipun agama masih sebagai faktor sosial yang kuat, namun pluralisme dan dunia yang global telah mengubah pengalaman keberagamaan individu. Pluralisme yang dihidupkan, disebarkan dan diperkuat oleh globalisasi itu menjadi fakta kehidupan sosial dan kesadaran individual. Pada tingkat ins titusional, agama tidak lagi punya otoritas. Dan dalam masyarakat demokrasi liberal dimana kebebasan beragama dijamin, agama tidak bisa lagi menjadikan negara sebagai sandaran. Sejalan dengan kapitalisme otoritas itu seperti pasar, siapa saja bebas memiliki otoritas. Bahkan masyarakat akan lebih kuat menganut doktrin pluralisme daripada menganut suatu aga ma, tegas Berger.

Lebih ekstrim dari Berger, Diana L.Eck dalam The Challenge of Pluralism, tegastegas menyatakan bahwa pluralisme bukan sekedar toleransi antar umat beragama, tidak pula sekedar menerima pluralitas (diversity). Dan dalam bukunya From Diversity to Pluralism ia “membayangkan” bahwa pluralisme adalah “peleburan” agama-agama menjadi satu wajah baru yaitu realitas keagamaan yang plural. Pada pemikiran Diana ini, nampak sekali muatan relativismenya. Sebab ia juga menyarankan agar agama-agama bersedia membuka diri dan menerima kebenaran yang ada pada agama lain. Alasannya karena setiap agama mengandung porsi kebenaran. Ini jelas sekali menunjukkan bahwa Diana sependapat dengan ide bahwa semua agama itu sama benarnya dan tidak ada agama yang lebih benar dari agama lain.

Dari definisi dan penjabaran singkat diatas, pluralisme sudah mengandung makna relativisme. Jadi klaim bahwa pluralisme adalah sebuah doktrin sosial ternyata menyentuh aspek teologis. Maka dari itu pluralisme dan pluralisme agama, seperti yang akan dijelaskan berikut ini, ternyata tidak beda. Kecuali jika ada yang memahami pluralisme hanya sertingkat toleransi.

Pluralisme Agama
Paham pluralisme agama terdiri dari dua aliran besar yaitu teologi global (global theology) atau teologi dunia (world theolo gy) dan Kesatuan Transenden Agamaagama (transcendent unity of religions). Yang pertama dicetuskan oleh John Hick dan Wilfred Cantwell Smith, sedangkan yang kedua oleh Fritjhof Schuon.

Yang pertama yaitu teologi global berambisi untuk menyelesaikan masalah yang di hadapi proyek globalisasi Barat. Pendekatan yang dipakai aliran teologi global terhadap agama-agama pertama-tama bersifat sosiologis, kultural dan ideologis. Bersifat sosiologis dan kultural karena agama-agama yang ada di dunia ini harus disesuaikan dengan kondisi sosial budaya masyarakat modern yang plural. Ideologis sebab ia telah menjadi bagian dari program ge rakan globalisasi yang jelas-jelas memasarkan ideologi Barat.

Akibatnya, menurut Malcom Walter globalisasi yang datang bersama dengan kapitalisme ini malah membawa kekuatan baru yang menghapus otoritas agama, politik, militer dan sumber kekuatan lainnya. Karena kenyataannya gerakan globalisasi ini telah membawa ideologi baru yang bertujuan agar semua menjadi terbuka dan be bas menerima ideologi dan nilai-nilai ke budayan Barat seperti seperti demokrasi, Hak Asasi Manusia, feminisme /gender, libe ralisme dan sekularisme. (Dr.Amir al-Roubaie “Globalisasi dan Posisi Peradaban Islam”, dalam Jurnal pemikiran dan peradaban Islam ISLAMIA, Edisi 4, 2004 )

Jadi globalisasi Barat itu seakan-akan berdiri di depan semua agama dan memberi instruksinya: ikut globalisasi Barat atau tertinggal dan ditinggal. Posisi seperti inilah yang disampaikan oleh Peter Berger. Se mua penganut agama, katanya, hanya ada tiga pilihan: menolak pluralisme, menarik diri daripadanya atau terlibat dengannya. Semua pilihan memiliki kesulitan dan resiko masing-masing, tapi hanya dengan terlibatlah sesuatu agama akan menjadi sejalan dengan demokrasi liberal.

Setelah menggunakan pendekatan sosiologis, kultural dan ideologis aliran ini menggunakan pendekatan filosofis, terutama nya doktrin relativisme. Doktrin relativisme kebenaran digunakan oleh John Hick dan juga Diana L Eck untuk melebur batas agama-agama (ekslusivisme). Dalam bukunya An Interpretation of Religion Hick menyatakan bahwa kebenaran itu relatif yang absolute hanya Tuhan dan manusia tidak pernah mampu memahami Tuhan. Apa yang dipahami manusia mengenai Tuhan hanyalah bersifat relatif.

Selain itu Hick juga mendadopsi teori Copernican Revolution yaitu yang merevo-lusi prinsip geosentris menjadi heliosentris. Jika Copernicus memindahkan pusat gravitasi dari bumi ke matahari maka Hick memindahkan pusat gravitasi teologi dari agama-agama kepada Tuhan (Religioncen tredness to God centredness). Kalau dulu setiap agama menjadi pusat yang dikelilingi Tuhan, maka kini diubah: Tuhanlah yang dikelilingi agama-agama. Artinya dari banyak agama-banyak tuhan, menjadi banyak agama satu Tuhan.

Berbeda dari Hick yang mengusung globalisasi, doktrin kesatuan agama-agama Schuon menebarkan ide bahwa agama dibagi menjadi dua: tingkat eksoterik (lahiriyah) dan esoterik (batiniyah). Pada tingkat eksoterik agama-agama mempunyai Tu han, teologi, ajaran yang berbeda. Namun pada tingkat esoterik agama-agama itu menyatu dan memiliki Tuhan yang sama yang abstrak dan tak terbatas.

Doktrin pluralisme agama ini kini disebarkan kedalam wacana pemikiran Islam. Banyak cendekiawan yang keliru memahami dan memaknai Pluralisme Agama. Ada yang memahami doktrin dan mempunyai agenda tersendiri untuk menyebarkan paham ini. Ada sebagian yang kemudian mencari-cari pembenaran paham ini dengan menyalahartikan ayat-ayat al-Quran dan hadits Nabi tertentu. Tapi, ada juga yang tidak memahami doktrin ini dan terbawa oleh wacana umum.

Jadi prinsip pluralisme ala Peter L Berger, Diana L. Eck atau lainnya atau doktrin pluralisme agama a la John Hick dan Schuon tidak berbeda. Pluralisme bu kan prinsip mengenai toleransi, tapi rela -tivisme kebenaran yang mengajarkan bahwa “semua agama adalah sama-sama jalan yang sah menuju Tuhan yang sama”. Karena paham ini membawa konsekuensi yang sangat serius pada ajaran keimanan Islam, maka sangat tepat jika para ulama memberikan penilaian yang tegas.

source: http://republika.co.id/koran/155/50225/Toleransi_atau_Relativisme_Pluralisme

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

2 Responses to “Toleransi atau Relativisme Pluralisme”

  1. Saya pikir sikap menjadi pluralis tak senaif itu. Ia bisa menjadi jalan keluar bagi kebuntuan. Saya pernah mengalaminya. Baca pengalaman saya di sini:

    http://kalipaksi.com/2007/08/20/dialog-pluralisme-di-angkasa-manokwari/

    Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: