Muslim in Suffer

Bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem. Assalamu\’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh!

Surat Terbuka Warga Mustika Jaya Perihal Keberatan terhadap HKBP

Posted by musliminsuffer on September 20, 2010

bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful

=== News Update ===

Jum’at, 17 September 2010 16:44:07

Surat Terbuka Warga Mustika Jaya Perihal Keberatan terhadap HKBP

BEKASI – Peristiwa penusukan oleh sekelompok orang terhadap jemaat dan pendeta Huria Kristen Batas Protestan (HKBP) pada Minggu lalu (12/9) telah menyita perhatian publik. Masyarakat terbelah menyikapi insiden tersebut. Ada yang langsung mengecam, ada yang bersikap berhati-hati sebelum mengeluarkan sikap, dan tentu ada pula yang tidak mau tahu atas persoalan tersebut.

Redaksi Rakyat Merdeka Online, menerima e-mail bersifat surat terbuka dari salah seorang warga Mustika Jaya, Bekasi tempat keberadaan gereja HKBP itu, Rahmat Siliwangi. Surat ini sengaja kami publikasi agar menambah data pembanding bagi para pembaca. Tentu sebagai media independen dan terbuka, Redaksi Rakyat Merdeka Online, juga akan memuat bila ada dari pihak HKBP yang membantah isi surat di bawah ini.

Berikut kutipan lengkap dari surat terbuka Rahmat.

SAYA warga mustika jaya, Bekasi hanya ingin sharing kenapa sebenarnya kami sulit untuk menerima kehadiran warga HKBP di daerah kami. Dua puluh tahun lalu seorang warga Batak mulai menjadikan rumah tinggalnya sebagai tempat kebaktian. Kami warga perumahan Mustika Jjaya dapat menerima karena kami sangat menghargai toleransi dan kebebasan dalam memilih keyakinan.

Namun makin lama kami biarkan semakin banyak warga Batak yang sering mondar mandir di perumahan kami. Bahkan perilaku mereka yang tadinya hormat kepada warga sekitar menjadi arogan dan mau menang sendiri. Selain itu dalam aktifitas sehari hari mereka mulai tidak menghormati tetua warga dan warga asli Mustika Jaya, Bekasi. Seakan–akan tanah dan daerah ini milik mereka. Bahkan dalam acara–acara keluarga, mereka sangat mengganggu ketentraman kami sebagai warga asli.

Ini bukan masalah agama. Karena di tempat kami ada juga warga yang non muslim selain Kristen HKBP.

Warga selain muslim pun mulai keberatan dengan perilaku dan cara–cara warga HKBP dalam sosial kemasyarakatan. Kesimpulan kami bersama warga–warga non muslim selain jemaat HKPB, jemaat HKBP cenderung kasar, sembrono, tidak tahu diri, tidak tahu malu, menyebalkan, cara bicaranya keras dan sangat arogan.

Setalah sepuluh tahun kami biarkan, jika ada acara, mereka mulai mendominasi akses jalan kampung dan mereka mulai berani terang–terangan melakukan indimidasi terhadap warga sekitar yang keberatan dengan pola tingkah dan perilaku hidup mereka seperti mabuk, menggoda wanita–wanita dan putri–putri kami, mulai mengganggu tatanan adat masyarakat asli dan hukum yang berlaku.

Selain itu jika ada acara makan–makan, mereka mulai berani memotong babi dan anjing di sekitar kampung Mustika. Bahkan bau daging–daging itu sampai tercium kemana–mana. Mereka mulai berani keliling kampung dengan bernyanyi–nyani dengan suara dan logat khas batak.

Pemaksaan cara mereka inilah yang membuat kami sangat kesal dengan tingkah pola mereka. Bahkan mereka mulai berani mendirikan lapo–lapo tuak yang selalu memicu keributan disekitar daerah Mustika Jaya.

Kemudian, kami warga sekitar, baik itu muslim dan non muslim non HKBP sering mengadakan pertemuan untuk membahas keberadaan warga HKBP (meskipun sebagian besar hanya datang setiap hari Minggu). Kesimpulan dan kesepakatan warga, kami takut jika ini dibiarkan akan merubah tatanan masyarakat kami dari berbagai lintas agama dan suku lain selain Batak.

Perilaku mereka akan mengubah tatanan kemasyarakatan yang tadinya saling menghormati, toleran, sopan santun, menjadi arogan, mau menang sendiri, mabuk–mabukan dimana saja. Dan makan dengan makanan yang bagi kami sangat menjijikan. Seperti bakar babi dan anjing.

Dan kami pun mulai melaporkan ke Pemerintah Kota Bekasi mengenai keberadaan mereka sesuai apa adanya. Kami juga meminta Pemkot Bekasi bahkan Kepolisian dan Babinsa di daerah kami untuk berkata apa adanya dan menyelidiki secara langsung perilaku warga HKBP.

Karena yang kami sampaikan bukanlah omong kosong maka setelah hampir dua puluh tahun kami menderita dengan perilaku HKBP, oleh Pemkot Bekasi kegiatan jemaat mereka dianggap liar. Dan gereja di rumah seorang warga pun disegel oleh Pemkot Bekasi. (Tentunya dengan hasil penyelidikan selama waktu yang cukup dengan melibatkan Kepolisian dan Koramil setempat).

Jadi maksud saya membuat surat ini pada dasarnya bukan masalah didirikan gereja atau tidak dirikan gereja yang menjadi pokok permasalahan. Tapi yang akan mendirikan gereja di tempat kami adalah jemaat Huria Kristen Batak Protestan, yang menurut teman saya juga beragama Kristen tapi dari suku lain (Jawa, Maluku, Irian, NTT) mereka juga kurang suka dengan kelompok ini (HKBP). Karena di dalam persatuan gereja–gereja Kristen pun, selalu membuat masalah–malsalah tatanan sesuai pola arogansi kesukuan Batak mereka.

Saya hanya bisa berharap, surat saya ini bisa menjadi informasi pembanding dan pertimbangan yang objektif apakah apa yang saya sebutkan dengan perilaku mereka diatas itu salah atau mengada–ada. Khusus untuk teman–teman wartawan jika Anada ingin objektif silahkan survey warga Mustika Jaya Bekasi apakah yang saya sampaikan di atas benar atau tidak.

Dan saya surat saya ini juga ditujukan Warga HKBP untuk bercermin terhadap perilaku mereka, berperilakulah seperti manusia, kalau ingin dihormati dengan sebenarnya hormatilah tatanan masyarakat sekitar. Kita ini orang timur, “Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.” Kalau tidak
dimanapun anda berada kalian tidak akan pernah diterima oleh suku manapun!

Kami takut jika mereka jadi bermukim di Mustika Jaya, tatanan kehidupan sosial kami berubah, kami takut anak–anak kami menjadi para pemabuk, keras kepala, kekerasan meningkat, kejahatan meningkat, sekali lagi kami bukan tidak mau menerima umat kristiani. Yang tidak kami terima mereka ini HKBP.

Salam,

Agustus 2010,
Mustika Jaya Bbekasi

Rahmat Siliwangi

Sumber: http://www.rakyatmerdeka.co.id/news.php?id=4062

http://pustakalewi.net/?mod=berita&id=6881

===

-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW

4 Responses to “Surat Terbuka Warga Mustika Jaya Perihal Keberatan terhadap HKBP”

  1. deHasY said

    TANGGAPAN :

    Saya bisa mengerti bagian dimana orang Batak dinilai kasar dan arogan dikarenakan logat bicara orang Batak yang sangat khas. Saya kira semua orang Batak pernah mendengar perndapat itu, dan kami memakluminya. Tapi sebenarnya kita harus sadar, antara “terdengar kasar” dengan “bermaksud kasar” ada perbedaan mendasar. Sebagai orang Batak yang tinggal di Banten, lucunya saya juga mendengar komentar yang sama dari orang Sunda Bandung mengenai logat bicara orang Sunda Banten yang bagi kami biasa saja, tapi dinilai arogan, keras, dan kasar serta sok jagoan. Konyolnya lagi pendapat warga Banten tentang orang Madura yang juga kurang lebih sama atau antara orang Betawi dengan orang Sunda misalnya yang dinilai genit dan suka bercanda seronok alias cunihin. Begitu juga warga Betawi yang dinilai suka bicara kasar, ngotot dan petantang petenteng mentang mentang penduduk asli Masih banyak contoh lain yang bisa kita kemukakan disini. Dan kami bisa mengerti itu karena kami merasakan juga stereotype yang sama padahal itu bukanlah kearoganan ataupun kesombongan. Itu murni cara bicara yang tidak ada hubungannya dengan kearoganan. Tidak ada sangkut pautnya logat bicara seorang Banten dengan kejagoannya dia bersilat lagak jawara misalnya. Kami mengerti banyak faktor yang membuat mereka begitu tanpa harus memandang bahwa semua orang dari suku mereka pasti begitu.

    Saya tidak mendapat alasan kuat dari pendapat Anda ini : “mereka yang tadinya hormat kepada warga sekitar menjadi arogan dan mau menang sendiri”…” dalam aktifitas sehari hari mereka mulai tidak menghormati tetua warga dan warga asli Mustika Jaya, Bekasi”…”Seakan–akan tanah dan daerah ini milik mereka” Bagaimanakah kami harus hormat kepada warga sekitar? Haruskah kita bersalam-salaman terus setiap ketemu? Atau haruskah kami meminta ijin setiap kami lewat? Mestikah kami mencium tangan tetua warga setiap berpapasan? Saya pikir sekedar menyapa atau bilang permisi itu sudah cukup sopan. Kalaupun ada yang tidak menyapa, itu bukan berarti tanah anda menjadi hak milik mereka bukan?

    Saya heran anda tidak mengerti bagaimana orang Batak mulai berdatangan ke rumah yang dijadikan gereja. Itu dikarenakan mereka adalah pendatang seperti halnya kami mengerti bagaimana di kampung kami banyak suku Jawa atau Minang atau Aceh atau Melayu dan mereka mendirikan masjid lantas berdatangan untuk beribadah. Itu karena kami mengerti mereka tinggal berjauhan dan ditempat mereka tidak ada masjid. Saya tidak memandang mereka yang mondar-mandir mau beribadah ke masjid tanpa menyapa opung kami sebagai sesuatu yang arogan.

    Saya tidak mendapat bukti kuat dari pendapat Pak Rahmat : “Setalah sepuluh tahun kami biarkan, jika ada acara, mereka mulai mendominasi akses jalan kampung dan mereka mulai berani terang–terangan melakukan indimidasi terhadap warga sekitar yang keberatan dengan pola tingkah dan perilaku hidup mereka seperti mabuk, menggoda wanita–wanita dan putri–putri kami, mulai mengganggu tatanan adat masyarakat asli dan hukum yang berlaku. Bisa dijelaskan apa bentuk intimidasi tersebut? Saya pikir menggoda wanita bukanlah perilaku orang Batak saja. Kita semua juga pernah mendapat pengalaman itu, putri saya juga sering digoda penduduk bukan pendatang. Pemuda mereka pun sering mabuk-mabukan bahkan memakai narkoba. Apakah itu menjadi stereotype kami terhadap warga asli? Hanya karena beberapa orang dari mereka genit, mabuk-mabukan dan memakai narkoba lantas semua warga asli memang bejat? Ada yang aneh dari pernyataan anda disini. Anda menyamaratakan stereotype yang di suku manapun ada pelakunya.

    Mengenai makan dan memotong babi, sekedar info, sebelah rumah saya adalah seorang haji yang tiap Idul Adha memotong puluhan kambing. Anda bayangkan bau feses dan kencing yang dikeluarkan binatang itu sampai ke rumah saya. Apa saya merasa terintimidasi? Saya memaklumi hal itu sebagai bagian yang harus dipikul bersama sebagai warga negara heterogen dimana semua kepentingan publik dapat bersinggungan. Saya tidak mengerti bagaimana bau daging bisa membuat hal itu sebagai suatu hal yang menghina dan dinilai arogan atau tidak tahu diri. Pengalaman anda itu kami rasakan juga dikampung kami dan kami tidak memandangnya sebagai hal yang negatif. Tentu saja pandangan negatif ini ada karena Islam mengharamkan hal itu. Sama halnya kami memandang negatif muslim yang bangga berpoligami di kampung kami bahkan mempropagandakan hal itu sebagai budaya timur. Jelas ini lebih berbahaya dari sekedar makan daging babi atau anjing. Ini juga merusak tatanan sosial yang ada disana, juga mersuak mental dan moral generasi muda dan jelas ada hubungannya dengan ajaran Islam. Tapi apakah kami melarang masjid berdiri? Kan tidak.

    Yang saya tidak mengerti adalah bagian ketidaksukaan anda terhadap “tindak-tanduk” orang Batak berakibat dengan tidak diberikannya ijin mendirikan gereja. Saya amat sangat bingung kalau anda menghubungkan kearoganan, kekasaran, kesembronoan, ketidaktahu dirian, ketidak tahu maluan, dan sikap menyebalkan kami dengan ijin beribadah. Padahal anda sendiri menyatakan bahwa banyak non muslim yang bukan Batak berpendapat sama dengan anda. Jadi bukan gereja yang jadi masalah.

    Bagaimana mungkin kami bisa membina kerabat kami yang kasar, sembrono, tidak tahu diri, tidak tahu malu, menyebalkan, cara bicaranya keras dan sangat arogan itu jika tidak membina kerohanian mereka? Saya amat sangat yakin bahwa Pak Rahmat mengerti, bahwa fungsi rumah ibadah juga memiliki fungsi edukasi atau pembinaan.

    Jelas sekali kalau Bapak Rahmat Siliwangi hendak membelokkan masalah pembangunan gereja dengan mengait-ngaitkannya kepada stereotype negatif orang Batak. Jelas sekali Pak Rahmat melebih-lebihkan kalau semua kekerasan dan kejahatan yang terjadi disana itu hanya dan oleh orang Batak saja. Kalau boleh saya menyimpulkan pendapat Anda, karena perilaku orang Batak sudah paling buruk di bumi ini lah maka tidak pantas untuk beribadah, maka tidak boleh mendirikan gereja. Entah apa bapak mengerti, bahwa ini tidak nyambung bahkan terkesan dicari-cari. Pernyataan Anda bahwa banyak warga non muslim pun merasa tidak suka dengan perilaku negatif orang Batak diatas sebenarnya sudah menjelaskan bahwa hal itu tidak berhubungan dengan agama.

    Sebagai orang Batak, saya mengerti ada banyak ketidak sempurnaan dalam perilaku orang Batak. Kami mengakui sebagai manusia kami tidak sempurna. Sebagaimana saya juga mengerti ketidaksempurnaan warga muslim di kampung kami atau dimanapun. Tapi itu bukan berarti kami melarang mereka beribadah dengan melarang mereka mendirikan masjid. Sama halnya saya tidak begitu yakin bahwa setiap warga Mustika Jaya adalah calon penghuni surga berhati malaikat yang berakhlak mulia tanpa ada cela.

    Salam.

    Tuhan Yesus Mengasihi Anda.

    Jephanya Manalu

    • NAH, SEKARANG JAWAB PERTANYAAN SAYA, JAWAB DENGAN JUJUR YA!

      Anda bilang: “Bagaimana mungkin kami bisa membina kerabat kami yang kasar, sembrono, tidak tahu diri, tidak tahu malu, menyebalkan, cara bicaranya keras dan sangat arogan itu jika tidak membina kerohanian mereka? Saya amat sangat yakin bahwa Pak Rahmat mengerti, bahwa fungsi rumah ibadah juga memiliki fungsi edukasi atau pembinaan.”

      Kenapa anda dan teman-teman anda dalam rencana membangun rumah ibadah tidak mematuhi aturan pemerintah yang berlaku?

      Kenapa anda dan teman-teman anda dalam rencana membangun rumah ibadah memilih daerah ciketing bekasi yang jelas-jelas mayoritas umat islam di situ?

      Kenapa anda dan teman-teman anda dalam rencana membangun rumah ibadah harus menipu dan memanipulasi tanda tangan warga?

      Kenapa anda dan teman-teman anda dalam rencana membangun rumah ibadah, sudah jelas-jelas tidak mendapat ijin di lokasi itu masih ngotot dan berlagak bak preman tapi ngomongnya anda-lah yg tertindas?

      Kenapa anda dan teman-teman anda dalam rencana membangun rumah ibadah, sdh diberi tempat alternatif tetap saja memakai lahan tsb dan memanipulasi opini publik?

  2. leo said

    Saudara yang terkasih, mungkin pernyataaan ini sedikit banyak bisa menjawab apa yang menjadi pernyataan saudara rahmat siliwangi,
    Saya bisa mengerti bagian dimana orang Batak dinilai kasar dan arogan dikarenakan logat bicara orang Batak yang sangat khas. Saya kira semua orang Batak pernah mendengar perndapat itu, dan kami memakluminya. Tapi sebenarnya kita harus sadar, antara “terdengar kasar” dengan “bermaksud kasar” ada perbedaan mendasar. Sebagai orang Batak yang tinggal di Banten, lucunya saya juga mendengar komentar yang sama dari orang Sunda Bandung mengenai logat bicara orang Sunda Banten yang bagi kami biasa saja, tapi dinilai arogan, keras, dan kasar serta sok jagoan. Konyolnya lagi pendapat warga Banten tentang orang Madura yang juga kurang lebih sama atau antara orang Betawi dengan orang Sunda misalnya yang dinilai genit dan suka bercanda seronok alias cunihin. Begitu juga warga Betawi yang dinilai suka bicara kasar, ngotot dan petantang petenteng mentang mentang penduduk asli Masih banyak contoh lain yang bisa kita kemukakan disini. Dan kami bisa mengerti itu karena kami merasakan juga stereotype yang sama padahal itu bukanlah kearoganan ataupun kesombongan. Itu murni cara bicara yang tidak ada hubungannya dengan kearoganan. Tidak ada sangkut pautnya logat bicara seorang Banten dengan kejagoannya dia bersilat lagak jawara misalnya. Kami mengerti banyak faktor yang membuat mereka begitu tanpa harus memandang bahwa semua orang dari suku mereka pasti begitu.

    Saya tidak mendapat alasan kuat dari pendapat Anda ini : “mereka yang tadinya hormat kepada warga sekitar menjadi arogan dan mau menang sendiri”…” dalam aktifitas sehari hari mereka mulai tidak menghormati tetua warga dan warga asli Mustika Jaya, Bekasi”…”Seakan–akan tanah dan daerah ini milik mereka” Bagaimanakah kami harus hormat kepada warga sekitar? Haruskah kita bersalam-salaman terus setiap ketemu? Atau haruskah kami meminta ijin setiap kami lewat? Mestikah kami mencium tangan tetua warga setiap berpapasan? Saya pikir sekedar menyapa atau bilang permisi itu sudah cukup sopan. Kalaupun ada yang tidak menyapa, itu bukan berarti tanah anda menjadi hak milik mereka bukan?

    Saya heran anda tidak mengerti bagaimana orang Batak mulai berdatangan ke rumah yang dijadikan gereja. Itu dikarenakan mereka adalah pendatang seperti halnya kami mengerti bagaimana di kampung kami banyak suku Jawa atau Minang atau Aceh atau Melayu dan mereka mendirikan masjid lantas berdatangan untuk beribadah. Itu karena kami mengerti mereka tinggal berjauhan dan ditempat mereka tidak ada masjid. Saya tidak memandang mereka yang mondar-mandir mau beribadah ke masjid tanpa menyapa opung kami sebagai sesuatu yang arogan.

    Saya tidak mendapat bukti kuat dari pendapat Pak Rahmat : “Setalah sepuluh tahun kami biarkan, jika ada acara, mereka mulai mendominasi akses jalan kampung dan mereka mulai berani terang–terangan melakukan indimidasi terhadap warga sekitar yang keberatan dengan pola tingkah dan perilaku hidup mereka seperti mabuk, menggoda wanita–wanita dan putri–putri kami, mulai mengganggu tatanan adat masyarakat asli dan hukum yang berlaku. Bisa dijelaskan apa bentuk intimidasi tersebut? Saya pikir menggoda wanita bukanlah perilaku orang Batak saja. Kita semua juga pernah mendapat pengalaman itu, putri saya juga sering digoda penduduk bukan pendatang. Pemuda mereka pun sering mabuk-mabukan bahkan memakai narkoba. Apakah itu menjadi stereotype kami terhadap warga asli? Hanya karena beberapa orang dari mereka genit, mabuk-mabukan dan memakai narkoba lantas semua warga asli memang bejat? Ada yang aneh dari pernyataan anda disini. Anda menyamaratakan stereotype yang di suku manapun ada pelakunya.

    Mengenai makan dan memotong babi, sekedar info, sebelah rumah saya adalah seorang haji yang tiap Idul Adha memotong puluhan kambing. Anda bayangkan bau feses dan kencing yang dikeluarkan binatang itu sampai ke rumah saya. Apa saya merasa terintimidasi? Saya memaklumi hal itu sebagai bagian yang harus dipikul bersama sebagai warga negara heterogen dimana semua kepentingan publik dapat bersinggungan. Saya tidak mengerti bagaimana bau daging bisa membuat hal itu sebagai suatu hal yang menghina dan dinilai arogan atau tidak tahu diri. Pengalaman anda itu kami rasakan juga dikampung kami dan kami tidak memandangnya sebagai hal yang negatif. Tentu saja pandangan negatif ini ada karena Islam mengharamkan hal itu. Sama halnya kami memandang negatif muslim yang bangga berpoligami di kampung kami bahkan mempropagandakan hal itu sebagai budaya timur. Jelas ini lebih berbahaya dari sekedar makan daging babi atau anjing. Ini juga merusak tatanan sosial yang ada disana, juga mersuak mental dan moral generasi muda dan jelas ada hubungannya dengan ajaran Islam. Tapi apakah kami melarang masjid berdiri? Kan tidak.

    Yang saya tidak mengerti adalah bagian ketidaksukaan anda terhadap “tindak-tanduk” orang Batak berakibat dengan tidak diberikannya ijin mendirikan gereja. Saya amat sangat bingung kalau anda menghubungkan kearoganan, kekasaran, kesembronoan, ketidaktahu dirian, ketidak tahu maluan, dan sikap menyebalkan kami dengan ijin beribadah. Padahal anda sendiri menyatakan bahwa banyak non muslim yang bukan Batak berpendapat sama dengan anda. Jadi bukan gereja yang jadi masalah.

    Bagaimana mungkin kami bisa membina kerabat kami yang kasar, sembrono, tidak tahu diri, tidak tahu malu, menyebalkan, cara bicaranya keras dan sangat arogan itu jika tidak membina kerohanian mereka? Saya amat sangat yakin bahwa Pak Rahmat mengerti, bahwa fungsi rumah ibadah juga memiliki fungsi edukasi atau pembinaan.

    Jelas sekali kalau Bapak Rahmat Siliwangi hendak membelokkan masalah pembangunan gereja dengan mengait-ngaitkannya kepada stereotype negatif orang Batak. Jelas sekali Pak Rahmat melebih-lebihkan kalau semua kekerasan dan kejahatan yang terjadi disana itu hanya dan oleh orang Batak saja. Kalau boleh saya menyimpulkan pendapat Anda, karena perilaku orang Batak sudah paling buruk di bumi ini lah maka tidak pantas untuk beribadah, maka tidak boleh mendirikan gereja. Entah apa bapak mengerti, bahwa ini tidak nyambung bahkan terkesan dicari-cari. Pernyataan Anda bahwa banyak warga non muslim pun merasa tidak suka dengan perilaku negatif orang Batak diatas sebenarnya sudah menjelaskan bahwa hal itu tidak berhubungan dengan agama.

    Sebagai orang Batak, saya mengerti ada banyak ketidak sempurnaan dalam perilaku orang Batak. Kami mengakui sebagai manusia kami tidak sempurna. Sebagaimana saya juga mengerti ketidaksempurnaan warga muslim di kampung kami atau dimanapun. Tapi itu bukan berarti kami melarang mereka beribadah dengan melarang mereka mendirikan masjid. Sama halnya saya tidak begitu yakin bahwa setiap warga Mustika Jaya adalah calon penghuni surga berhati malaikat yang berakhlak mulia tanpa ada cela.

    Salam.

    • NAH, SEKARANG JAWAB PERTANYAAN SAYA, JAWAB DENGAN JUJUR YA!

      Anda bilang: “Bagaimana mungkin kami bisa membina kerabat kami yang kasar, sembrono, tidak tahu diri, tidak tahu malu, menyebalkan, cara bicaranya keras dan sangat arogan itu jika tidak membina kerohanian mereka? Saya amat sangat yakin bahwa Pak Rahmat mengerti, bahwa fungsi rumah ibadah juga memiliki fungsi edukasi atau pembinaan.”

      Kenapa anda dan teman-teman anda dalam rencana membangun rumah ibadah tidak mematuhi aturan pemerintah yang berlaku?

      Kenapa anda dan teman-teman anda dalam rencana membangun rumah ibadah memilih daerah ciketing bekasi yang jelas-jelas mayoritas umat islam di situ?

      Kenapa anda dan teman-teman anda dalam rencana membangun rumah ibadah harus menipu dan memanipulasi tanda tangan warga?

      Kenapa anda dan teman-teman anda dalam rencana membangun rumah ibadah, sudah jelas-jelas tidak mendapat ijin di lokasi itu masih ngotot dan berlagak bak preman tapi ngomongnya anda-lah yg tertindas?

      Kenapa anda dan teman-teman anda dalam rencana membangun rumah ibadah, sdh diberi tempat alternatif tetap saja memakai lahan tsb dan memanipulasi opini publik?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: